
** Bacanya pake lagu Dream Me - Joy, Mark, Park Na-rae yah.. Rekomen dari Author yang ngetiknya pun pake lagu ini terus diputar sampe selesai ngetiknya🥹**
Tubuh Hugo terpental menghempas ke tiang kokoh saat bom yang tak jauh darinya meledak. Potongan batu dan serpihan kaca mengenai tubuhnya. Hugo terbatuk. Dia mengambil napas terlebih dahulu saat dadanya terasa sesak karena debu dari kehancuran bangunan itu.
Suasana ruangan semakin gelap. Dia bisa merasakan kakinya yang semakin sakit dan berat karena ada yang menimpanya.
Pandangan lelaki itu buram. Dia memejamkan mata sebentar, merasakan pelukan Richi beberapa menit yang lalu, juga ucapan manis gadis itu, betapa ia sangat senang bisa berdiri bersama Hugo. Kini gadis itu dalam bahaya, Hugo pun segera bangkit untuk menyelamatkan gadis yang sangat ia cintai itu.
Perlahan dia menyingkirkan beban yang menimpa kakinya, dengan menahan sakit, Hugo melangkah dengan terpincang.
Lelaki itu berhenti di persimpangan lorong. Dia tidak tahu harus kemana. Apalagi tidak ada tanda-tanda yang bisa ia jadikan petunjuk disana.
Terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Hugo merapatkan tubuhnya pada salah satu tembok yang hampir roboh. Dilihatnya tiga orang keluar dari sana. Hugo mengenal mereka, dan yang paling ia tahu adalah Erine.
Hugo tak bisa melawan. Sebab dia tak memegang senjata apapun. Dia menunggu sampai Erine menjauh, setelahnya Hugo pun mendobrak pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu bisa terbuka.
Lelaki itu terpaku beberapa saat ketika melihat Richi sudah menitikkan air mata di tempatnya. Gadis itu terduduk dengan mulut yang dibungkam. Salah satu sudut matanya membiru, hidungnya berdarah. Melihat kondisi gadis itu membuat darahnya mendidih.
Richi pula langsung melepaskan tangisannya saat melihat Hugo dengan kondisi berantakan berdiri di depan pintu. Lelaki itu langsung berlutut, melepaskan ikatan di mulut Richi, lalu saat hendak melepaskan ikatan tangan dan kaki Richi, dia tersadar kalau ada bom di tubuh gadis itu.
"Hugo.." panggil Richi dengan suara yang hampir habis. Dipandangnya wajah dan rambut Hugo yang terkena debu. Pelipis lelaki itu bebercak darah karena serpihan kaca. Richi mengiba. Karena dirinyalah Hugo sampai seperti itu.
"Hugo.. Pergilah.."
Hugo tengah sibuk memperhatikan detail bom. Dia menjengkali tali yang melilit. Kemudian ia mematung, saat ternyata ikatan kaki Richi berkaitan dengan pelatuk bom. Kalau Hugo membuka ikatan itu, bom akan meledak. Namun waktu di bom itu juga terus bergulir, mereka membutuhkan 28 menit lagi untuk melepaskan diri.
Hugo terdiam saat tahu bom apa yang ada di tubuh Richi. Dia tak sangka Erine memberikan Richi bom yang paling kuat seperti ini. Rahang lelaki itu mengeras saat sadar kalau dia pun belum tentu bisa menonaktifkan bom itu.
"Hugo.."
Lelaki itu mendongak. Ia bisa melihat ketakutan di mata Richi.
"Lari. Pergi dari sini."
__ADS_1
Tangan Hugo naik, dia mengelus pipi Richi yang basah. "Aku akan berusaha menyelamatkanmu."
Richi menggelengkan kepalanya. Kembali menetes air mata gadis itu. "Aku tahu, kau tidak bisa menalukkan ini." Katanya dengan suara parau. "Pergi, Hugo. Sebentar lagi tempat ini akan hancur karena ledakan yang dahsyat."
"Aku bisa menyelamatkanmu. Jangan khawatir, kita akan keluar sama-sama."
Richi kembali terisak. Untuk pertama kali, Richi bisa melihat keraguan Hugo yang biasanya mampu membuatnya percaya. Kini lelaki itupun tak bisa membuatnya yakin.
"Hugo.. selamatkan dirimu."
"Aku akan menyelamatkanmu."
"Pergilah, Hugo."
Hugo menatap mata Richi yang berair. Sorot mata itu penuh ketakutan. Takkan mungkin dia meninggalkan gadis itu.
"Aku akan berusaha, sayang. Kalaupun seandainya aku gagal, aku tidak akan meninggalkanmu." Tegas Hugo pada Richi. Lelaki itu menatapnya tajam, ingin Richi mengerti kalau dia tak bisa meninggalkannya begitu saja.
"Hugo, pikirkan masa depanmu!" Pekik Richi.
Lelaki itu kembali memeriksa bom yang melekat di tubuh Richi. Dia berusaha mencari jalan dan menelusuri perangkat yang ada di dalamnya, tanpa Hugo sadari, Erine sudah berdiri dibelakangnya.
"Kau mau mati juga?"
Pertanyaan Erine membuat Hugo menoleh kebelakang. Didapatinya Erine sudah menodongkan pistol kearah mereka.
Gadis itu kesal. Bisa-bisanya Hugo mengorbankan dirinya untuk Richi. Bisa-bisanya ia rela mati demi Richi. Namun Erine tak ingin langsung terbakar api. Dia akan mengajak Hugo untuk berdiskusi terlebih dahulu.
"Aku akan melepaskannya kalau kau memohon padaku, Hugo. Mintalah padaku dengan baik, aku akan mengabulkannya."
Hugo menatapnya datar. Dia tak ingin berpikir banyak hal saat waktu terus berjalan. Kembali Hugo menghadapkan dirinya pada Richi, dan mulai membuka paksa lapisan yang melindungi kerangka bom.
Erine semakin kesal lantaran Hugo mengabaikannya.
__ADS_1
"Hugo! Pikirkan baik-baik. Aku memberimu kesempatan. Aku memiliki kuncinya." Erine menunjukkan satu alat di tangannya. "Aku bisa menonaktifkan bom itu. Kau bisa menyelamatkan dia kalau kau memintanya padaku. Mohonlah padaku, aku akan mengabulkannya!"
Hugo tak memperdulikannya. Dia, sampai matipun takkan mau tunduk pada perempuan itu.
"HUGO! KAU AKAN MATI DISINI. APA KAU MAU MATI, HAH? AKU AKAN MEMBIARKAN KAU DAN DIA HIDUP. KAU HANYA PERLU MEMOHON PADAKU!" Teriak Erine, supaya Hugo menoleh dan meminta padanya. Tapi tak ada respon. Hugo benar-benar tak memperdulikannya.
Erine menahan air matanya. Dia sangat merasa sakit hati atas abainya Hugo pada dirinya. Rasanya ingin sekali menembaki Richi tepat dihadapan lelaki itu. Supaya dia tahu kalau nyawa kekasih sialannya itu ada di tangannya. Tapi percuma, seperti apapun dia membuat Richi lenyap, Hugo tidak pernah menoleh padanya.
"BAIK! KALAU KAU MENOLAKKU, AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MATI!! MATILAH DISINI!!" Erine keluar menutup pintu dengan amarah pada dirinya.
Richi menatap kekasihnya. Erine sebegitu mencintai Hugo sampai rela membuat dirinya seperti itu. Namun kekasihnya itu benar-benar hanya mencintainya.
Hugo bukan tak mau menyelamatkan Richi dengan memohon pada Erine. Masalahnya adalah, keyakinan Hugo bahwa Erine pun tak bisa menonaktifkan bom itu. Gadis itu hanya memegang tombol waktu yang sama dengan bom yang ada di tubuh Richi.
Hugo masih dalam fokus yang serius. Beberapa kali dia berdecak karena tak mampu menentukan kabel mana yang harus ia putuskan.
"Hugo.." Kembali Richi memanggilnya. Jika memang Hugo tak bisa melepaskan bom itu, Hugo harus pergi secepat mungkin.
"Hugo, aku tidak apa-apa. Pergilah, aku sudah menyiapkan diri untuk ini. Selama ini aku hidup ditepi jurang kematian. Hal semacam ini sudah pernah kubayangkan. Aku tidak apa-apa, Hugo. Jangan-"
"AKU YANG KENAPA-NAPA!" Pekik Hugo keras, sampai matanya memerah dan meneteskan air. Tubuh lelaki itu bergetar, tak sedetikpun ia berpikir untuk meninggalkan Richi dengan kondisi seperti ini.
"KAU PIKIR AKU BISA HIDUP DENGAN BAIK KALAU AKU PERGI DARI SINI? KAU PIKIR AKU BAIK-BAIK SAJA TANPAMU??"
Richi tak bisa berkata-kata melihat Hugo dengan amarahnya. Urat leher lelaki itu sampai terlihat. Hugo meneteskan air mata dengan mata yang menajam menatap kearahnya.
"Aku tidak bisa tanpamu. Beberapa detik memikirkan itu saja sudah membuatku tak mampu." Ucap Hugo dengan suara bergetar dan nada yang memelas. Dipeluknya Richi kuat-kuat, dia menangis.
"Maafkan aku, Hugo." Richi memejamkan matanya dibahu Hugo. Dia merasa lemah karena tak mampu melakukan apa-apa, dan malah menjadi beban bagi banyak orang termasuk Hugo yang sampai mengorbankan dirinya.
Hugo melepaskan pelukannya. Ditangkupnya kedua pipi gadis itu dengan tatapan hangat untuk meyakinkan Richi.
"Aku akan coba. Aku yakin, aku bisa. Percaya padaku, ya."
__ADS_1
Richi akhirnya mengangguk. Dia serahkan itu pada Hugo, dia pasrahkan dirinya ke tangan Hugo untuk pertama kali. Dengan kekuatan hatinya, Richi yakin Hugo mampu melakukannya.
Suara sirine dan helikopter terdengar berisik. Nampaknya Jenderal Wiley telah berhasil mengepung gedung besar itu. Entah apa yang terjadi diluar, Richi tidak tahu. Walau suara tembakan terdengar beberapa kali, Hugo tak memutuskan fokusnya. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu menyelamatkan Richi.