
"Aku memang sudah memikirkan untuk menikah denganmu."
"Benarkah?" Hugo langsung meraih tangan Richi dan menggenggamnya.
"Tapi... tidak sekarang."
"Tidak apa-apa. Aku menunggu sampai kau benar-benar mau bersanding denganku. Mendengarmu mau menikah denganku saja, aku sudah sangat bahagia." Ucapnya dengan nada yang halus dan lembut di telinga Richi.
Richi mengelus lembut pipi Hugo. "Aku sudah percaya padamu. Aku tahu sebenarnya kaupun bisa meninggalkan aku dengan sikap anehku ini. Tapi kau memilih tetap tinggal bahkan saat aku tidak menghubungimu dalam satu bulan. Kau malah membuatkan sesuatu yang tidak pernah aku sangka-sangka." Ungkap gadis itu.
"Aku mencintaimu. Belum pernah kurasakan hal yang seperti ini. Dan aku sangat senang saat ternyata orang yang paling kucintai adalah kau. Gadis yang sangat pantas untuk dipertahankan." Jawabnya kemudian mengecup tangan Richi yang mengelus pipinya.
Richi tiba-tiba saja teringat, bahwa bulan lalu dia mengecek cctv di masa terakhir Hugo datang. Pasalnya hidung lelaki itu mengeluarkan darah, dan tebakannya benar. Ternyata Ricky meninjunya dengan keras.
"Hidungmu masih sakit?" Tanya Richi.
Hugo mengangguk. "Sakit..." jawabnya dengan manja.
Richi mencium hidungnya. Kasihan, Richi tahu bagaimana kerasnya tenaga Ricky. Dia yakin hidung lelaki ini pasti patah.
"Aku sampai ke dokter beberapa kali untuk menyembuhkannya." Sambung Hugo lagi. "Tapi, aku tahu, aku memang pantas mendapatkan itu."
"Ricky tidak boleh melakukan itu padamu. Dia tidak tahu apa-apa."
"Itu karena aku menyakiti adik kesayangannya. Aku rasa itu masih ringan, dari pada Jenderal yang menghajarku. Mungkin aku bisa mati di tempat."
Richi tersenyum samar, lalu mencium lagi hidung Hugo. "Maafkan aku, ya. Karena aku, hidungmu jadi patah.."
"Yang ini juga sakit.." Hugo menunjuk pipinya.
Richi tahu itu hanya akal-akalan Hugo saja. Tapi dia menurutinya. Dia mencium pipi lelaki itu.
"Yang ini juga.." Kini Hugo menujuk bibirnya.
Richi menggeleng pelan, ada-ada saja tingkah Hugo, tetapi dia menurutinya.
Gadis itu mengecup bibir Hugo sekilas. Tapi Hugo tentu tidak akan membiarkan Richi menyudahinya. Dia menahan leher Richi dan melumatt bibir mungil itu. Dia mengecapnya, mengigit kecil, hingga membuat Richi membuka mulutnya. Disaat bersamaan, Hugo langsung memperdalam ciumannya.
"Erghh.." Richi mendorong tubuh Hugo. Dia langsung mengambil napas banyak.
Hugo terkekeh. "Kau suka, kan? Bagian mana yang kau suka dari tubuhku?" Tanya Hugo. Ingin mendengar kalimat-kalimat manis lagi dari bibir Richi.
"Semua aku suka."
Hugo tersenyum lebar. "Semua? Benarkah?"
"Iya. Semuanya aku suka. Matamu, bibirmu, hidungmu, dadamu, perutmu apalagi."
Hugo tersenyum-senyum tanpa bisa ia kontrol.
"Kau tidak tanya, bagian mana yang aku suka darimu?"
__ADS_1
"Tidak. Aku tahu arah pembicaraanmu pasti berbelok." Jawab Richi cepat.
"Tidak, ini serius."
"Tidak perlu. Aku tahu kau akan bilang 'iki siki bih didimi, pis ditinginki'."
"Hahahaa!" Hugo tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Richi. Gadis itu bisa menebaknya dengan benar.
"Tapi aku suka semuanya juga. Hidungmu, matamu, bibirmu yang selalu cerewet itu. Rambutmu apalagi." Tambah Hugo. Dia mengambil rambut panjang Richi lalu menempelkannya di hidungnya.
"Kau tahu apa yang lebih kusukai darimu, Hugo?"
"Apa?"
"Sikapmu yang selalu manis padaku. Pertahankan itu, ya." Richi mengacak-acak rambut Hugo.
"Kalau itu, tergantung amunisi."
CUP. Richi mengecup lagi bibir Hugo. "Bisa kita jalan sekarang? Ini sudah terlambat."
"Meluncurrr!" Hugo langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah menerima banyak sekali energi dari Richi.
...🍁...
Richi masuk ke dalam kafe. Suara lonceng di pintu membuat beberapa menoleh kearahnya. Termasuk Aron yang ada disana bersama Bella.
Richi melambaikan tangan, keduanya pun membalas.
"Siapa?" Hugo tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya.
"Itu." Richi menunjuk sepasang manusia yang duduk di meja ujung.
"Rel, cepat kesini. Ah, pas sekali ada Hugo." Clair membuka apronnya, kemudian duduk di meja dekat kasir.
"Ada apa?" Richi menggeser kursi lalu duduk bersamaan dengan Hugo disebelahnya.
"Aku dapat kabar, katanya.. Erine mengalami depresi yang membuatnya harus terus periksa ke pskiater."
"Yang benar? Hahaha. Aku senang mendengarnya." Sahut Bella dari meja sebelah.
"Ku dengar dia memang tidak suka berada satu rumah dengan orang tuanya." Sambung Olivia dari balik kasir.
Richi tak mengeluarkan sepatah katapun. Bukan senang, dia justru merasa kasihan.
"Mereka dihukum oleh ayah mereka karena dipecat dari Valiant, tentu kabar itu membuat ayahnya murka dan malu. Kudengar ayahnya mengirim pesan pada Jenderal atas permintaan maaf mengenai putrinya." Jelas Clair lagi, Informan di tim Fox.
"Apa kau menyuruhku datang hanya untuk mendengarkan ini?" Tanya Richi, tak mau membahas masalah itu lagi.
"Ya. Kupikir ini berita yang penting."
Richi menghela napas. Dia tidak peduli tapi kini matanya mengarah pada Hugo yang juga tengah menatapnya. Lelaki itu sejak tadi menggenggam tangannya dibawah meja.
__ADS_1
"Kalau aku, ayah Daren mengirimiku pesan pagi tadi melalui bodyguard-nya. Dia memintaku datang untuk makan bersama." Ujar Olivia.
"Apa Daren juga?" Tanya Hugo.
"Dia bilang hanya berdua, Daren tidak tahu."
"Kau tahu apa yang perlu kau lakukan, kan?" Richi mengingatkan Olivia, bahwa sepertinya ayah Daren punya rencana.
"Aku tahu."
"Apa perlu kami ikut?" Tawar Bella.
"Kurasa perlu. Kalian menunggu saja di mobil. Karena Oliv tidak akan bisa menggunakan earpiece atau membawa senjata. Kau akan digeledah sebelum menemui tuan Wycliff." Kata Richi memberi saran.
"Dimana kau menemuinya?" Clair membuka laptopnya.
"Gedung putih."
"Ah, berat. Kita tidak bisa memantau daerah itu." Keluh Clair, kembali menutup laptopnya.
"Artinya akan aman. Mereka tidak mungkin melakukan apa-apa padamu disana." Sahut Hugo. "Apa Daren tahu soal ayahnya yang melakukan tindak ilegal?"
"Tidak. Aku tidak ingin dia tahu dariku. Biarkan saja, lagi pula bukan urusanku."
"Good girl. Akhirnya kau bisa tidak peduli pada orang lain." Bella mengacungi jempol.
"Kalau kau merasa berat, mundur saja." Sambung Hamlet.
"Ketentuannya malam nanti. Kalau memang tuan Wycliff merencanakan sesuatu yang membahayakanku dan Bunda, aku akan berlepas diri."
"Hmmppp.." Clair menutup mulutnya dengan tangan. Perutnya terasa mual dan ia ingin muntah. "Hummppp.." Clair berlari ke belakang.
"Kenapa dia?" Tanya Olivia dengan mata yang mengikuti Clair.
"Hamil. Hahaha." Bella membuat semuanya diam menatap kearahnya. "Ups. Aku bercanda."
Clair kembali dalam beberapa menit. Dia masih memegangi perutnya yang terasa berputar.
"Ah, sial sekali. Dari pagi perutku tidak bisa diajak kompromi." Keluhnya.
"Clair, apa benar kau hamil?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Olivia yang polos, membuat beberapa pengunjung ikut menoleh ke arahanya.
"Apa?" Clair nampak tegang. Dia lalu menyadari sesuatu. "Ah iya.. aku terlambat dua minggu."
"Yahahahaha. Selamat ya, Clair. Akhirnya aku akan memiliki keponakan!!" Seru Bella kegirangan. Diikuti Olivia yang bertepuk tangan.
"Selamat ya, Clair." Richi ikut-ikutan, apalagi dia senang melihat wajah tegang Clair.
"Sialan, kau juga?!" Kesalnya pada Richi yang tertawa-tawa diatas penderitaannya.
__ADS_1