
Hugo duduk di atas mejanya, menyandar pada tembok yang bersebelahan dengan jendela. Dia membuka ponsel dan membaca komentar orang-orang perihal pernyataannya kemarin.
Hugo tak bisa menahan senyum saat membaca sederet komentar orang-orang yang mendukungnya bersama Richi.
'Kenapa putus? Sayang sekali, padahal aku suka lihat kalian berdua'.
'Padahal cocok, kenapa harus pisah'.
'Richi dan Hugo, kalian sama-sama jago basket👍'
'Kalian cocok, sayang Hugo memilih perempuan anggun haha'.
'Richi itu cantik sekali. Sayang kalau bersama Hugo'
"Padahal lumayan juga pendukung kita" gumamnya lalu mengeluarkan jepitan kecil Richi. Dia bangkit dan berjalan keluar, mencari sosok Richi dari tembok pembatas.
Matanya menangkan Richi yang tengah berjalan menapaki tangga.
Hugo berjalan ke arahnya, dan mencegat jalan gadis itu saat akan masuk ke kelasnya.
Richi mendongak, melihat Hugo yang kini menatapnya.
"Ini punyamu, kan?" Hugo menyerahkan jepit rambut itu pada Richi dan dia menerimanya.
"Aku menemukannya di mobilku. Kau mencarinya waktu itu." Ucapnya lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Sebenarnya aku mengadakan pesta, tetapi karena aku tahu kau tidak suka, jadi aku tidak memberikan undangannya padamu."
Richi mengangguk, dia sudah mendapatkannya dari Daren walau tidak tahu apakah datang atau tidak.
"Baiklah kalau begitu." Hugo membalikkan badan, berjalan meninggalkan Richi yang masih melihat jepit rambut miliknya yang bahkan sudah ia lupakan.
Sementara Hugo, masuk ke dalam kelasnya dengan lesu. Padahal dia berharap Richi meminta undangan padanya, tapi gadis itu malah diam saja.
"Kau mengembalikannya?" Tanya Daren sembari menurunkan buku yang ia baca.
"Ya, aku masih punya satu lagi." Jawabnya duduk lalu menaikkan kaki di atas meja.
"Aku akan bertemu Camilla siang ini". Ucap Daren lalu mulai membaca lagi.
"Kenapa kau bilang padaku, biasanya tidak begitu."
Daren menoleh pada Hugo, "Karena mungkin dia akan meminta tolong padaku untuk kembali padamu."
"Jangan lakukan itu, lebih baik kau utarakan saja perasaanmu padanya." Tukas Hugo santai, lalu menarik senyum sebelah kanannya.
"Ka-kau?" Daren terkesiap mendengar ucapan Hugo.
"Kenapa? Kau pikir aku tidak tahu, ha?"
Daren hanya diam. Dia tidak menyangka Hugo tahu tentang apa yang ia rasa pada Camilla. Padahal jelas-jelas dia sudah menutupinya.
"Itu sangat jelas, sampai-sampai tertulis di jidatmu." Ejek Hugo. "aku tidak masalah, lagi pula aku tidak suka padanya."
"Benarkah? Kau tidak masalah kalau aku bersamanya?"
Hugo mengangguk, "ya, silakan saja. Tapi kalau aku bisa memberimu saran, cari saja yang lain. Kenapa mau bekasku?" Ledek Hugo.
"Sialan, kau!" Pekik Daren yang mendapat tawa yang lebar dari Hugo.
"Tidak, aku serius. Carilah yang lebih baik. Kau berhak mendapat yang jauh lebih baik darinya." Hugo berucap sambil menoleh pada Daren yang duduk disebelahnya, manaik-turunkan alisnya.
Daren ikut tertawa. "Kau benar. Tapi aku sangat menyukainya". Tutup Daren lalu mulai membaca lagi.
__ADS_1
...🌻...
Sepulang sekolah, Daren yang masih memakai seragamnya masuk ke sebuah Cafe Muffin tak jauh dari Oberon.
Disana, dia disambut oleh seorang pelayan laki-laki yang berdiri di belakang kasir.
"Selamat siang, silakan". Ucapnya. Lalu Daren memesan sesuatu, dan memilih meja yang berdekatan dengan kasir.
"Apa ini pesanan orang yang disana?" Tanya seorang perempuan berseragam yang sama.
"Ya, tapi biar aku saja yang antar."
"Tidak apa, serahkan padaku".
Perempuan itu membawa nampan dan meletakkannya di atas meja Daren.
"Permisi, pesanan anda, Tuan. Eh?"
Daren ikut terkesiap. "Kau?" Katanya sambil menunjuk gadis itu.
Gadis itu dengan cepat meletakkan pesanan Daren, membungkuk lalu saat akan melangkah, Daren menahannya.
"Sebentar."
Gadis itu berhenti, dalam hatinya meminta supaya lelaki itu tak mengingatnya.
Daren berdehem, menyandarkan tubuhnya ke kursi, gadis dibelakangnya tidak juga berbalik badan.
"Kau rupanya, yang meminta nomor ponselku di acara pembukaan restoran keluarga Draw." Jelasnya supaya gadis itu mengingat.
Gadis itu mundur ke belakang, "Maaf, maksud tuan apa, ya?"
Daren menatap gadis yang tertunduk itu.
"Maaf tuan, kami dilarang duduk bersama pelanggan."
"Aku yang akan bertanggung jawab. Duduk!" Perintahnya lagi dan gadis itu duduk di depannya dengan tertunduk.
Daren melihat wajah gadis yang seperti merasa bersalah, entah kenapa.
"Kau meminta nomorku, tetapi tidak menghubungiku." Ucap Daren sembari mengaduk minumannya.
"Maaf, Tuan.." Ucapnya tanpa mengangkat wajah.
"Lalu, buat apa kau memintanya?"
Gadis itu tidak menjawab. Dia terlihat ragu.
"Baiklah, kalau kau tidak menjawab, aku akan membuat kau dikeluarkan dari.."
"Tidak, jangan.. Kami bermain Truth n Dare. Aku disuruh meminta nomor anda, kalau tidak, aku akan dihukum oleh teman-temanku." Tukas perempuan itu.
"Wah, kau menjadikanku korban permainanmu."
"Maaf, tuan. Tetapi bukan saya yang menunjuk Tuan." Gadis itu meremas jarinya.
"Baiklah, aku percaya."
"Terima kasih, tuan. Apa saya boleh kembali?" Pinta gadis itu.
Daren melirik plat nama kecil yang ada di dada kiri gadis itu.
"Jadi, namamu Via?"
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. "Baiklah, Via. Apakah kau melupakan janjimu?"
Via mencoba mengingat, "janji apa, tuan?"
"Begitu? Setelah kau mendapatkannya, kau melupakan janjimu?"
Via mendelik setelah mengingat, dia hanya asal bicara supaya lelaki itu memberikan nomornya, tetapi tak disangka mereka bertemu dan dia menagihnya.
"Ba-baik, tuan. Saya akan mengabulkan permintaan tuan".
"Yang benar? Walau permintaanku yang aneh-aneh?" Tanyanya melipat tangan di dada.
"A-apa yang tuan mau?"
"Tidak sekarang, yang pertama-tama kau harus memberikan nomormu padaku." Daren menyerahkan ponselnya lalu gadis itu mengetik nomornya.
"Aku akan menyelidikimu jika kau memberi nomor yang salah". Lanjutnya lagi.
Gadis itu menyerahkan ponselnya, dan Daren menyuruhnya pergi.
"Siapa itu?" Bisik teman gadis itu padanya saat dia kembali ke belakang kasir.
Via hanya menggelengkan kepala karena dia memang tidak mengenalnya.
Tak lama, seorang gadis cantik dengan rambutnya yang panjang duduk di depan Daren.
Wajahnya lesu, dia tampak tidak bersemangat.
"Kau sudah makan?" Tanya Daren. Suaranya terdengar ke telinga Via yang mengutuk karena ternyata lelaki itu playboy.
"Aku tidak berselera." Ucapnya mulai merengek.
"Ada apa?"
Camilla menggolekkan kepalanya di atas meja. "Masa kau tidak tahu."
"Aku tidak sempat bercerita banyak dengan Hugo."
Camilla mengangkat kepalanya, matanya mulai berarir. "Dia memutuskan hubungan secara sepihak!" Katanya sambil menggubrak meja, membuat beberapa pelayan yang di dekatnya terkaget.
"Kemarin malam, aku mendatanginya karena menemukan foto-foto mesranya dengan Richi sialan itu!" Pekiknya lagi.
Via yang tengah mengelap gelas-gelas di dekat mereka, memasang telinganya.
"Daren, jujurlah. Pasti kau tahu kalau Hugo dekat dengan Richi."
"Mereka hanya teman."
"Kau bohong, bagaimana mungkin teman bisa seperti ini!" Camilla mengeluarkan foto-foto Hugo dan Richi yang tersebar di laman Web Oberon.
"Bagaimana kau menemukan ini?"
"Tentu saja aku punya mata-mata!" Pekiknya. "Aku akan menghabisi Richi sialan itu! Lihat saja. Aku akan membalas perbuatannya!"
"Hei, jangan salahkan dia. Salahkan saja Hugo."
"Kenapa Hugo? Gadis itu pasti menggodanya!"
Daren menghela napas. "Kau tidak paham juga. Hugo memang tidak pernah betah dengan satu perempuan. Kau seharusnya senang karena kaulah pacar terlamanya. Biasanya juga 3 minggu."
Mendengar itu, tangis Camilla semakin menjadi.
"Hei, berhenti. Kau membuatku seperti lelaki brengsek!" Bisik Daren saat menyadari banyak mata melihat ke arahnya.
__ADS_1