
"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja. Mereka semua pasti terjebak dan sedang berada dalam bahaya."
"Nona, tuan meminta Nona ke ruang tamu." Ucap salah satu pelayan yang menemuinya di belakang.
Richi terdiam sejenak. Untuk apa ayah memanggilnya kesana? Ada apa ini? Dia tidak bisa bernapas dengan lega sebab rasa khawatirnya pada seluruh anggota Valiant.
Dia datang ke ruang tamu, berjalan perlahan. Disana, Ibu dan Ayahnya tengah mengobrol seru dengan tamu, tanpa tahu siapa orang yang di hadapan mereka.
"Sayang, ini tuan Draw bersama putranya, Albern Fedric."
Pemuda itu berdiri lalu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Richi dengan kaku membalas uluran tangan Albern, sebab Harry sudah menceritakan tentang lelaki itu, salah satu alasan yang membuatnya keluar dari rumah.
"Dia putri kami satu-satunya, Richi Darrel Wiley."
Richi menahan napas saat Ayahnya mengenalkannya dengan nama lengkap. Richi melihat wajah Draw yang terlihat biasa saja. Benar, dia pasti sudah tahu. Itu sebabnya dia bertamu kemari. Pikir Richi.
"Apa boleh kita bicara sebentar, yah?" Pinta Richi pada Wiley. Dia ingin meminta bantuan pada ayahnya itu.
"Nanti, sayang, temani Albern dulu. Dia datang khusus untuk berkenalan denganmu." Sahut Marry.
Richi melihat ke arah Albern. Lelaki itu tampak tersenyum cerah.
Laki-laki itu tidak punya hubungan darah dengan Harry. Sebab dia adalah anak kandung istri tuan Draw bersama mantan suaminya dulu. Tetapi karena bersama Albern sejak bayi, sedikitnya tuan Draw menyayangi layaknya anak sendiri.
"Ajak ke taman, sayang." Sambung Marry lagi.
Richi tidak bisa membantah, sedangkan dia sangat ingin keluar karena masih memikirkan nasb anggota Valiant.
Apalagi alasan Albern sangat tidak masuk akal, datang malam-malam bersama ayah dan pengawalnya hanya untuk berkenalan dengan dirinya. Richi yakin, baik tuan Draw ataupun Albern pasti sudah tahu jati dirinya.
Kini Richi menatap tajam pada Saver. Orang yang mengerjai Hugo waktu itu. Richi mengira Saver mati disana karena tusukan belatinya, tapi seakan punya banyak nyawa, Saver berkali-kali selamat dari serangan Richi ataupun Ricky.
Saver tampak baik-baik saja dengan tatapan Richi. Dia terlihat menantang dengan senyum miring yang samar. Dia pasti tengah bersenang karena misinya lancar malam ini.
"Kau mau menemaniku, kan?" Tanya Albern yang sudah berdiri sejak tadi.
Richi tak menjawab, dia hanya melangkah meninggalkan ruangan itu diikuti Albern dibelakangnya.
"Apa kau punya lapangan basket? Aku dengar kau jago basket. Mau bertanding denganku?" Oceh Albern dibelakang Richi.
"Nona, mohon maaf mengganggu. Ada pesan untuk Nona " Ucap pelayan Richi.
"Tunggu diluar." Kata Richi pada Albern lalu mengikuti pelayannya.
__ADS_1
Albern berjalan sendiri menuju pintu keluar. Dia melihat sepeda motor berwarna merah metalik terparkir di depan. Dia tertarik dengan motor itu. Mengelus bodinya dengan lembut sambil menatap dengan terkesima.
"Uwaah! Keren!" Gumamnya.
"Mau mencobanya?"
Albern terkaget dan langsung berdiri tegak.
"Ah.. Apa ini milikmu?"
Richi mengangguk dan berjalan mendekat. "Aku akan membawamu keliling. Kalau kau mau, bawa saja motor ini."
Albern langsung naik dan menyalakan mesin motor sport Richi.
"Ayo, naik di belakang."
BRAK!
Richi menjatuhkan Skateboard dan kaki kanannya menginjak deck. "Aku tidak terbiasa dibonceng." Tukasnya dan langsung mengayunkan kakinya, melajukan skate board dengan satu kaki dan Albern mengikutinya.
"Kita kemana?" Tanya Albern mengiring disebelah Richi.
"Ikut saja."
Richi berhenti di taman komplek yang sudah tak berpenghuni. Tempat itu hanya ramai saat malam wekeend.
"Aku tidak sangka kau jago semuanya. Aku dengar kau juga bisa bela diri. Lalu sekarang kulihat kau menguasai skateboard juga. Luar biasa." Albern bertepuk tangan sendiri.
"Aku juga punya minus. Hanya saja kelebihanku terlalu banyak hingga menutupi berbagai kekurangan."
"Oh, ya? Memangnya apa kekuranganmu?"
"Kau penasaran?"
"Apa aku harus mendekatimu dulu supaya bisa lebih mengenalmu?" Ucapnya lalu melangkah mendekati Richi.
Richi menaikkan sebelah alisnya. "Mustahil rubah berdekatan dengan tikus."
Albern terhenti dan mengubah ekspresi wajahnya. "Kau menganggapku musuh?"
Richi tak langsung menjawab. Dia menatap wajah Albern yang Richi yakin ikut berpartisipasi dalam pemberantasan Valiant malam ini.
Matanya memerah mengingat apa yang terjadi malam ini. Apalagi belum jelas kabar dari Valiant.
"Sangat terlihat jelas." Jawab Richi dengan berani. Muak rasanya terlalu berbasa-basi. Itu bukan gayanya.
__ADS_1
"Jadi, rubah sudah menunjukkan wajahnya, ha?" Albern tersenyum miring menatap Richi yang tidak terkejut dengan ekspresi Albern.
"Ternyata kau benar Rubah." Albern tertawa pelan. "Aku sedikit heran kenapa kau memilih Rubah. Hewan kecil seperti kucing yang takut jika tersiram air. Sudah pasti terlihat sangat ringkih."
Albern memasukkan tangannya ke dalam saku celana, menaikkan dagunya menatap Richi yang lebih pendek darinya.
"Kau masuk dalam kelompok Rubah di Valiant yang selalu ikut campur urusan orang lain setiap malam hari. Rubah takut pada Anjing. Dia bahkan lebih kecil. Hanya karena dijuluki hewan licik, kau merasa lebih hebat? Tikus pun hewan licik."
Albern mengeluarkan belati lipat dari sakunya, membuat Richi heran bagaimana dia bisa lolos saat masuk ke dalam rumahnya. Apa dia membawa senjata lain?
"Ku dengar kau jago di belati. Aku jadi penasaran, karena akupun sudah lama belajar belati."
"Sudah kukatakan, aku tidak bermain dengan tikus." Jawab Richi mengelak. Dia tidak ingin berkelahi saat ini karena suasana hatinya yang memburuk.
"Ternyata kau tak sehebat kelihatannya."
Richi tidak terprovokasi. "Anggap saja begitu."
Albern malah mengerutkan alis mendengar jawaban Richi yang tak terpancing.
"Kau akan mati di tanganku." Ucapnya, lalu Richi melihat Saver yang berjalan perlahan dengan wajah tersenyum penuh kepuasan di belakang Albern.
"Nona Darrel, Nice to see you." Sapa Saver yang berdiri disebelah Albern.
"Hai, Saver. Kukira kau mati karena belatiku."
"Noway. Aku punya 9 nyawa, kau tahu."
"Jadi, karena itu kau menantangku? Sudah sisa berapa nyawamu? Aku akan membuatmu kehilangan seluruh nyawamu."
"Hahaha. Sudah dua tahun aku menunggu. Rasanya tidak bisa kuterima harus kalah dari perempuan berkali-kali. Tapi kali ini.." Saver menggelengkan kepalanya.
"Jadi, kau ingin balas dendam sekarang?"
"Tentu. Aku ingin sekali menghancurkanmu, mematahkan kedua kakimu. Juga kakak sialanmu itu."
"Kau mencariku?"
Richi menoleh pada sumber suara di sebelah Kanannya. Ricky berdiri dengan jeket kulitnya.
"Siapa yang ingin mematahkan kaki kekasihku?"
Richi menoleh ke kiri, Hugo sudah berdiri tak jauh darinya.
Dia langsung melihat kebelakangnya. Sudah ada Jonathan dan Simon disana. Ah.. Richi bisa bernapas lega. Apakah ini alasan kenapa ayah memintanya membawa Albern ke taman?
__ADS_1
TBC