
Orang tua para siswa mulai berdatangan untuk mengambil laporan hasil ujian mereka. Tak kecuali Richi. Namun karena kesibukan sang ayah dan ibunya yang punya urusan lain, Ricky-lah yang akan datang mengambil hasil ujian adiknya.
Tak mau buang kesempatan, Ricky mengenakan pakaian rapi untuk membuat dirinya tampak mempesona dihadapan para siswi.
Richi yang tengah asyik bermain pun harus terhenti saat ramai-ramai para siswi berkumpul melihat keluar.
Ricky baru keluar mobil terbaru yang ia beli beberapa hari lalu. Dia membuka kacamata dan menatap luas sekolah yang menjadi tempatnya belajar dulu.
Ricky berjalan santai dengan kesadaran penuh akan tatapan para gadis disekitarnya. Orang-orang mulai berkomentar tentang betapa kerennya mobil yang dipakai, sampai tampannya orang yang keluar dari mobil itu.
"Siapa, sih?" Tanya Richi.
"Tidak tahu, tuh. Tapi kalau dilihat dari gaya-gayanya nih, pasti cowok ganteng." Ucap Erick.
"Lanjut, lanjut." Richi memantulkan lagi bola di tangannya, melanjutkan permainan yang sempat terhenti sesaat.
Ricky berjalan ke arah adiknya. Dia terlihat sangat keren di mata orang-orang sekitarnya saat itu. Kaos hitam dan jas slimfit senada, di tambah rambutnya yang panjang sebahu itu diikat sebagian kebelakang, membuat penampilannya benar-benar manly.
Frans menghentikan permainannya saat Ricky berhenti dibelakang Richi. Dia menatap Ricky bergantian dengan Richi. Wajah kedua orang itu terlihat mirip.
"Hei, kenapa berhenti??"
Frans memberi kode pada Richi dengan menaikkan sedikit dagunya, menyuruh gadis itu untuk menoleh kebelakang.
Richi menoleh kebelakang, kakaknya sudah tersenyum lebar padanya dengan kedua tangan di pinggang.
"A-apa-apaan kau, kak.." dia melihat kakaknya dari atas sampai bawah. Richi langsung paham kenapa kakaknya yang biasa hanya mengenakan kaos tahu-tahu memakai jas.
"Ayo, ikut aku." Ricky mengapit leher adiknya dengan tangan kiri, membuat Richi mengaduh karena ditarik paksa oleh kakaknya.
"Wah, itu kakaknya Richi? Tampan sekali."
"Richi hidupnya dikelilingi cogan, ya."
"Mirip, ya??"
"Aku tidak tahu Richi punya kakak keren begitu."
"Kakaknya yang ada di cctv juga, kan?"
"Oh, kakaknya Richi yang menghajar Damian? Keren bangett!"
Komentar orang-orang mulai berdatangan lagi, bahkan ada yang mengambil foto Ricky diam-diam.
Sementara dari atas, perseteruan ketiga orang di balkon langsung terhenti.
"Ko-komander??" Bella tergagap melihat bosnya datang ke sekolah dengan pakaian rapi.
"Kakaknya Richi datang untuk ambil laporan, ya? Kalau kau, Hugo?" Tanya Daren.
"Biasalah. Diwakilin pengawalnya." Sahut Hugo dengan mata yang masih mengarah pada kekasihnya. "Kau?"
"Haha. Jangan ditanya. Kau lebih tahu, sialan." Jawab Daren sambil terkekeh.
__ADS_1
~
"Aduuh. Apa, sih. Sakit, tau!" Richi menghempaskan tangan kakaknya yang sejak tadi menggamit lehernya.
Ricky menoleh kesana kemari, seperti mencari sesuatu.
"Kenapa?"
"Ada yang cantik, tidak?" Tanyanya langsung.
"Ck. Apa, sih. Kenapa kakak yang datang? Mana ibu??"
"Katanya ibu malu setiap ambil laporan guru-guru pasti mengeluh kelakuanmu."
Richi mencebikkan bibir. Mana mungkin begitu, pikirnya.
"Awas, ya, kalau sampai nilaimu lebih rendah dari tahun lalu. Aku yang akan menghukummu." Ancam Ricky.
"Tidak usah bicara deh, kak. Aku lebih pintar dan nilaiku lebih bagus daripada nilaimu saat SMA dulu." Celetukan Richi sukses membuat Ricky menjitak jidatnya.
"Aduhhh. Gila, ya?" Pekik Richi memegangi dahinya.
"Jangan banyak bicara. Setelah ini aku akan membelikanmu ponsel baru."
"Aku belum mau pake ponsel. Nanti saja."
"Kenapa?" Tanya Ricky dengan dahi berkerut.
"Richi."
Panggilan seseorang membuat langkah Richi terhenti. Dia menoleh.
"Em.. maaf. Apa boleh aku berfoto dengan kakakmu?" Pinta seorang siswi malu-malu. Dia bersama beberapa temannya yang lain tampak senyum-senyum melihat kearah Ricky.
"Maksudnya orang ini?" Richi menunjuk kakaknya. Lelaki itu tersenyum ramah.
"Mau foto? Ayo."
Para siswi langsung kegirangan mendengar ajakan Ricky dan langsung memberikan ponsel mereka pada Richi, menyuruhnya untuk memotokan kakaknya.
Richi mendesah kesal, walau dia tetap memotretkan mereka satu persatu. Tapi nampaknya tidak habis-habis karena mereka malah berdatangan untuk antre foto.
"Ck. Fotoin sendirilah." Richi menyerahkan ponsel yang entah milik siapa pada siswi lain. Dia ogah melakukan hal tak penting itu dan memilih duduk dengan menatap kesal ke arah kakaknya yang terus tersenyum ganjen, membuat Richi ingin muntah.
Sama halnya dengan Bella, gadis itu bergidik melihat banyak siswi yang mendekati bosnya.
"Kalian karena tidak tahu saja. Kalau kalian melihat macan itu mengamuk, kuyakin tak akan ada yang berani menatapnya!" Ucap Bella yang terheran-heran sekaligus tak percaya melihat keanehan dibawah sana.
~
Richi bersandar di mobil Ricky. Sudah beberapa menit berlalu, dia masih saja menunggu sang kakak menyelesaikan foto-fotonya saat menjadi artis dadakan. Sungguh membuatnya kesal saja.
"Chi.."
__ADS_1
Hugo, dia datang membawa bucket bunga mawar merah dan menyerahkannya pada Richi. Tetapi gadis itu hanya menatap bunga itu.
"Kita belum putus, kan? Aku hanya memberi ini sebagai ucapan selamat." Ucap Hugo dengan nada lembut. "Selamat, menempati posisi kedua. Kau hebat seperti biasa."
Richi menerima bunga itu. Dia bukan kejam dan mengabaikan Hugo begitu saja. Tapi rasa kesal itu masih saja ada. Bagaimana dia lebih memilih bersama orang lain daripada Richi dengan permasalahannya. Ditambah lagi kedekatan antara Hugo dan kedua orang itu nampaknya bukan main-main belaka.
"Terima kasih." Ucap gadis itu.
"Chi, apa aku benar-benar sudah dimaafkan?" Tanya lelaki itu lagi.
Richi menatapnya. Lelaki itu pula menatap matanya dalam-dalam. Ia juga tampak khawatir entah karena apa. Richi tidak menyadari, kalau Hugo mulai tahu siapa lawannya. Aron, dia mengira laki-laki itu hanyalah orang biasa. Tetapi setelah mendegar penjelasan Daren tadi, membuat Hugo mulai ketar-ketir.
"Yaah, sudah kumaafkan."
"Tapi, kau masih terlihat marah padaku."
Richi memutar bola mata. Masih juga bertanya, padahal sudah jelas apa yang dia ucapkan kemarin, kan, soal jeket itu.
Richi menghela napas. "Aku memang masih kesal padamu. Jadi, menyingkirlah dulu karena aku perlu waktu."
"Sampai kapan, Chi? Aku tidak bisa lama-lama kau beginikan. Apa bisa sampai hari ini saja? Besok kita pacaran lagi, ya?" Pinta lelaki itu.
"Kau sendiri tahu kesalahanmu?"
Hugo mengangguk lambat. "Iya, aku sudah salah membagi waktu."
"Membagi waktu?"
"Seharusnya aku bersamamu disaat kau perlu bantuan, kan. Tapi aku malah membantu orang lain. Aku juga sudah tak lagi melatih mereka. Aku janji, apapun itu kedepannya aku akan meminta izinmu terlebih dahulu. Aku akan memprioritaskan dirimu atas apapun." Ucap Hugo dengan menunduk. Membuat Richi mulai merasa kasihan.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku." Hugo menggapai tangan Richi. Menggenggamnya dengan lembut. "Aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku, dan juga kembali padaku."
Richi membuang napasnya perlahan, tanpa suara. Sebab entah kenapa aliran darahnya malah berdesir dan terasa mendebarkan baginya mendengar lirihan Hugo.
"Kau pernah janji tidak akan putus denganku, kan?" Tanyanya lagi.
"Makanya aku bilang break. Bukan putus. Aku cuma perlu waktu dan kau juga harus memikirkan kesalahanmu. Kau mengerti, kan?" Ucap Richi dengan nada yang lembut pula.
Lelaki itu tak mau mengangguk ataupun mengiyakan ucapan Richi. "Tapi kau janji tidak dekat dengan siapapun, kan? Aku akan coba tahan kalau sehari dua hari lagi. Tapi jangan dekat dengan laki-laki manapun."
Richi menggigit bibir. Nampaknya Hugo tengah cemburu pada Aron, jelas Richi tahu.
"Ayo, pulang. Artis tampan ini sudah lelah." Ricky berdiri diantara kedua orang itu.
"Aku pulang dulu." Ucap Richi kemudian masuk ke dalam mobil.
"Ckckck. Aku tahu nasibmu saat ini diujung tanduk." Kata Ricky yang sengaja mengejek.
"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya, pahlawan kesiangan. Hehehe." Ejek Ricky lagi. Julukan baru yang ia terima, yaitu pahlawan kesiangan karena dia datang terlambat kemarin.
Ricky pun masuk ke dalam mobil masih dengan senyum mengejek pada Hugo, menancap gas mobil, meninggalkan laki-laki yang sudah mengepalkan tangannya dengan geram.
__ADS_1