Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Raid (1)


__ADS_3

Richi melirik ponselnya beberapa kali. Entah kenapa hatinya gelisah. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak ikut campur lagi masalah Stripe pada kakaknya.


Stripe bukan kelompok sembarang. Mereka bahkan tidak pandang bulu. Mereka juga punya senjata api. Entah siapa yang berani menyokong mereka seperti itu. Seperti ada seseorang dibaliknya. Namun, tidak diketahui dengan pasti karena tidak ada yang membuka mulut walau diancam mati.


Richi tahu betul, yang kemarin dihadapinya adalah anggota-anggota bawah yang baru di latih. Masih ada atasan-atasan mereka yang lebih keras lagi.


Richi menggigit-gigit sedotan. Dia memikirkan apakah Hugo sudah selamat?


"Ichi, ada apa?" Emerald menegurnya karena termenung entah memikirkan apa.


Richi tersenyum dan menggeleng. Dia lalu menaikkan dan menekuk satu kakinya di atas kursi hingga memperlihatkan lututnya karena celana panjangnya sobek di bagian itu.


"Kak, hari ini kemana?" Richi bertanya karena dari tadi Emerald memesan tempat yang tidak jelas.


"Sebentar ya, nanti juga kau akan tahu". Ucapnya sambil tersenyum. Merahasiakan tempat yang akan mereka kunjungi di malam minggu ini.


Richi hanya mengangguk lambat. Walau dia sendiri merasa gelisahnya belum juga reda.


Dia menyandarkan punggungnya di kursi. Malam ini terlihat sangat banyak bintang bertabur. Heran juga, padahal kemarin malam juga cuacanya sama. Tapi saat bersama Hugo, bintang malah bersembunyi.


Dia mengingat Hugo lagi. 'Ah, Hugo.. Apa dia sudah lolos?' Batinnya bertanya-tanya.


...🍬...


Daren mengerahkan anggota Stripe mereka yang sempat vakum. Mereka berkumpul di satu tempat tak jauh dari Wallpox. Mereka menyusun strategi.


Walau belum jelas siapa yang menyiksa Hugo dan apa yang ada di dalam. Karena mereka juga tidak mempunyai banyak perlengkapan. Apalagi berita yang beredar, Stripe sudah banyak mengalami kemajuan.


"Sudah? Ayo, cepat bergerak!" Ucap Daren dengan suara berbisik. Mereka tidak ingin strategi mereka rusak karena ketahuan.


Daren memimpin area depan. Sedangkan Isac dan Axel akan masuk dari belakang. Langkah mereka terhenti saat mendengar sesuatu dari depan pagar kilang.


BRAK!


Satu orang pria tersungkur di tumpukan bambu. Mendengar ribut, beberapa datang dan dengan sigap seseorang membuat tiga orang lagi terjatuh bersimbah darah di bagian kepala.


"Richi?"


Dia tidak menoleh. Tangannya tengah memeriksa kantong-kantong beberapa orang itu. Dia mengantongi sesuatu saat mendapatkan hal yang diperlukan.

__ADS_1


"Lama sekali". Ucapnya pada Daren yang terbegong di tempatnya.


Richi memasang Knuckle besi di jari-jari kirinya.


"Kau pakai ini?" Tanyanya sambil mengepalkan tangan yang sudah memakai cincin knuckle pada Daren dan teman-temannya. Mereka menggeleng.


"Wah, kalian membuatku terlihat menyedihkan karena memakai senjata".


Diantara mereka, terdengar beberapa bisikan karena ternyata yang dipanggil sebagai penolong bernama Richi adalah perempuan.


"Aku tahu kau. Bukankah kau Darrel dari Valiant?" Seseorang menyeletuk.


"Benarkah?" Sahut yang lain. Mereka mulai bising di belakang.


"Sudah, simpan pertanyaanmu. Ayo, aku akan masuk dari depan. Kalian dari belakang. Tempat ini berliku dan banyak ruang. Hati-hatilah." Ucapnya lalu memakai masker wajah dan berjalan cepat menuju pintu depan kilang.


Daren dan beberapa orang mengikuti Richi. Axel, Isac dan sisanya memasuki area belakang.


Daren menarik tangan Richi yang berjalan di depannya.


"Biar aku di depan. Kau perempuan." Ucapnya lalu mendapat delikan dari Richi.


Mereka mulai memasuki ruang depan kilang. Tempat itu gelap. Lalu seseorang keluar dan terkejut saat Daren masuk. Dia menyerang Daren dengan balok kayu di tangannya. Daren dengan sigap menangkis dan menyeret belati di dada pria itu.


Richi melihat Daren dan yang lain sudah menghabisi beberapa orang yang datang menyerang hingga tidak menyisakan seorangpun untuknya. Dia melangkahi badan orang-orang yang tergeletak di atas lantai.


"Kau lihai sekali memakai belati, ya." Ucap Richi sambil berjalan mengintai menuju satu lorong.


"Itu bidangku". Ungkap Daren dengan membenarkan posisi belati di tangannya.


Richi memukul-mukul pelan jeket kulit yang ia pakai karena jaring laba-laba yang menempel.


"Aaaahhh!"


Suara teriakan terdengar.


"Hugo!" Pekik Daren memanggil. Namun Hugo tidak kunjung menjawab.


"Disana!" Richi berjalan cepat memimpin jalan. Dia membuka sebuah pintu pada ruangan gelap. Lalu muncul beberapa orang dengan kayu di tangan. Dengan sigap Richi dan yang lain melawan.

__ADS_1


Richi berjalan terus meninggalkan Daren dan teman-temannya yang masih bertarung di belakangnya. Dia menginjak genangan air hingga membuat sepatunya basah. Dia terus berjalan karena yakin suara Hugo berasal dari satu ruangan di sudut.


Daren sudah berlari kecil mengejar Richi.


"Kau berjalanlah kesana. Hugo pasti disitu". Ucap Daren melihat sekilat cahaya yang keluar dari balik pintu.


"Aku akan cover dari belakang". Sambungnya Daren pada Richi.


Dia lalu berjalan perlahan di ikuti Daren di belakangnya.


"Hiaaat!" Seorang pria berbadan besar membawa kayu besar di atas kepalanya yang akan di ayunkannya ke arah Richi. Dengan cepat, Daren menusuk belatinya di beberapa titik vital orang itu hingga terjatuh.


Mereka sampai di persimpangan lorong. Dari arah kanan datang segerombol orang yang menyerang. Daren dan yang lain melawan mereka dengan sekuat tenaga karena jumlahnya yang terlampau banyak.


Richi menendang seseorang di depannya yang menghalanginya berjalan hingga terkapar. Dia berlari ke kiri lorong, menuju ruang yang pintunya sedikit terbuka.


Richi berdiam sejenak, Lalu menunjang pintu untuk mewanti jika ada musuh di baliknya.


Pintu terbuka, Richi terbelalak melihat apa yang ada di depan matanya.


Hugo ada disana. Kedua tangannya terikat di atas papan hingga badannya tergantung dan mengayun. Kakinya pun terikat. Dia hanya memakai celana panjangnya dan tergantung tanpa baju hingga memperlihatkan banyak darah dari goretan pisau di tubuhnya.


Richi terperangah melihat kondisi Hugo yang sudah tidak berdaya. Dia lalu mencari cara untuk memenurunkan Hugo terlebih dahulu.


Hugo melihat seseorang di bawahnya tengah berusaha melepaskannya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sangat kesakitan karena tubuhnya penuh sayatan.


Richi mengambil sebuah belati yang ia dapatkan dari penjahat di depan tadi. Memotong tali penyangga pada tiang hingga Hugo terjatuh. Dengan cepat Richi memotong tali yang mengikat tangan dan kakinya.


"Hei, Hugo. Sadarlah." Suara Richi terdengar di telinganya. Dia membuka perlahan katupan mata dan menemukan Richi tengah mengambilkan jeket Hugo yang tergeletak di lantai.


Dia mendudukkan badan Hugo dan membantunya memakai jeket.


"Kau bisa berdiri?"


Hugo hanya diam. Dia memandang wajah gadis itu di depannya. Richi memakai masker untuk menutupi wajahnya. Tapi entah mengapa Hugo seperti melihat goret kekhawatiran di mata gadis itu.


"Wah, hebat sekali". Tepuk tangan di sudut ruang terdengar. Richi menoleh dan bersiaga. Dia tidak bisa melihat siapa orang disana. Karena orang itu berdiri di sisi gelap ruangan.


"Kau perempuan? Haha Tuan Hard, bukankah itu memalukan? Kau dibantu perempuan? Hahaha" Dia tertawa kuat. Lalu berjalan perlahan menembus cahaya remang dari bulan.

__ADS_1


Richi memicingkan matanya. Orang itu, dia seperti mengenalnya.


__ADS_2