Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Valiant Mission


__ADS_3

Richi keluar dari mobilnya, dia berjalan perlahan menuju deretan mobil yang telah disediakan Ricky untuk mereka.


Dia mengenali satu, mengetuk pintu belakang mobil dan terbuka. Richi masuk ke dalam. Dan mobilpun berjalan.


"Aaaaah, aku rinduu. Akhirnya setelah dua tahun Valiant beraksi lagiii..."


Seorang perempuan mendekap erat leher Richi.


"Lepas, sialan!"


"Ah, baru jumpa sudah main maki saja!" Ucapnya sambil mendorong tubuh Richi.


"Jangan ganggu dia, pasti sedang badmood karena lelaki". Ucap Clair sambil mencoba membidik senjata ke arah Richi.


"Aku bisa melihat itu meski dengan mata satu. Katakan, apa yang terjadi pada Hugo." Lanjut Clair masih dengan membidik Richi dengan senjatanya.


"Hugo? Astaga, aku baru mendengarnya tadi di Kafeku. Aku mendengar seorang perempuan menangis lalu menunjukkan foto-fotomu dengan laki-laki yang disebut Hugo. Aku menguping, katanya dia akan membalasmu!"


"Siapa nama gadis itu, Olive?" Tanya Clair.


Olive tampak berpikir. "Milla? Ah, aku lupa."


Richi menebak pasti itu Camilla.


"Kau berhati-hatilah, sepertinya dia akan membalas sakit hatinya padamu." Ucap Olive pada Richi yang tampak diam saja duduk sambil memeluk lutut.


"Rel, apa kau datang ke pesta topeng yang dibuat Hugo?" Tanya Clair.


"Nampaknya kau tahu banyak." Ujar Richi tanpa melihat Clair yang hanya cengengesan.


"Siapa Hugo? Apa pacarnya?" Tanya Olive menyikut Clair.


"Sebentar lagi kau akan tahu!" Jawabnya sambil tersenyum licik.


"Mana Bells?" Richi mengalihkan pembicaraan.


"Kau seperti tidak tahu Bells saja! Dia masih diluar negeri. Kudengar dia akan pindah kemari dalam beberapa hari." Sahut Olive.


Mobil berdecit dan berhenti. Semua sudah siap dengan perlengkapan mereka. Juga Earpiece yang menyangkut di telinga mereka untuk mempermudah komunikasi.


"Pakai masker kalian!" Ucap Richi sambil ikut menaikkan masker yang berada di leher.


Suara perintah dari Ricky terdengar. 'Valiant, Keluar perlahan. pasukan Elang di depan, Jaguar meng-cover Elang, Rajawali arah barat, dan Sekuntum Bunga arah timur'.


Richi mengerutkan alis. "Siapa Sekuntum Bunga?"


Clair dan Olive tak menjawab dan hanya cekikikan.


"Kalian! Kenapa mengubah nama tim!"


"Sudah, cepat keluar." Ucap Clair turun dan diikuti Olive yang masih terkikik.


Mereka semua sudah berjalan sesuai arahan pemimpin mereka.


Topi, masker dan pakaian yang sama membuat mereka tak bisa dibedakan antara laki-laki dan perempuan.

__ADS_1


Mereka berhadapan dengan gedung tinggi yang usang dan gelap.


Berdasarkan informasi yang di dapat, gedung ini sudah lama terbengkalai dan diketahui sinyal Stripe di dapat dari lantai tengah dan atas.


Karena keingintahuannya yang besar, Richi mencoba mengambil alih posisi.


Richi menyentuh bahu seseorang dari kelompok Elang, "Ini aku". Bisiknya. "Pindah ke timku sekarang." Titahnya.


Lelaki itu mengangguk lalu berjalan dibelakang Clair dan Olive yang tengah mengendap ke arah kanan gedung.


Sementara Richi mengikuti langkah Ricky sebagai orang terdepan.


Mereka masuk ke lantai satu, tanpa pengamanan dan langsung menuju lantai berikutnya.


Di lantai dua, Beberapa orang tengah berkumpul disana. Dengan sigap, tim Elang menghabisi tanpa suara. Richi hanya melihat, sebab kehebatan tim ini tidak perlu diragukan.


Hingga naik ke lantai empat, penjagaan mulai diperketat oleh Stripe. Tampaknya, orang-orang di lantai empat sudah berhasil memberitahu ke lantai paling atas, lantai lima bahwa mereka disusupi sekelompok anggota.


Richi dengan cepat berlari ke lantai paling atas.


"Itu siapa?" Tanya Ricky memicingkan matanya.


"Sepertinya Nona Darrel, Komender."


"A-apa! Akh sial!" Umpatnya lalu ikut mengejar Richi.


'Simon, ambil alih perintah' Titah Ricky melalui Talky Walky sambil berlari.


"Hei, Ri.. Darrel!"


Begitu juga Ricky yang sampai, namun ruangan telah kosong.


'Elang Naik!' Titahnya lagi.


Kelompok Elang dan Jaguar sudah berada di lantai lima memeriksa peralatan yang ada disana.


Di dalam ruangan itu, begitu banyak peralatan dan akses Stripe. Ricky sempat melihat sebuah denah dan banyak komputer serta alat-alat yang bahkan tidak ia kenali.


Richi naik ke atap gedung, dia merasakan getaran dan angin kencang.


Melihat adiknya yang naik, Ricky mengikutinya.


Richi melihat seseorang naik ke Helikopter dengan cepat. Matanya terbelalak saat menangkap wajah orang itu, dia terus menatap sampai Helikopter terbang, lalu bunyi alarm tiba-tiba aktif.


"Sial! Gedung ini ada bomnya!" Pekik Ricky mulai panik.


"Valiant! keluar dari gedung dan menjauh, gedung akan meledak. Rajawali, siapkan Airbag dari sisi Kanan!" Pekik Ricky pada semua pasukannya.


Dia melihat Richi yang sejak tadi memandang ke arah Helikopter yang hampir hilang dari pandangan.


"Richi! Cepat turun. Gedung ini akan meledak!" Ricky mengguncang lengan adiknya.


"A-apa?" Ucapnya mulai tersadar.


Ricky menggandeng adiknya lari ke lantai empat dan menuju sisi kanan gedung. Dari atas, dia melihat anggotanya sudah membentangkan airbag.

__ADS_1


"Cepat Turun!" Titahnya sambil mendorong tubuh Richi, dan dia pun terjun ke bawah.


Mereka berlari dari lokasi lalu gedung lantai atas benar-benar meledak, semua merunduk hingga serpihannya mengenai mereka.


Suara sirine polisi terdengar, sepertinya ada yang menghubungi polisi.


'Perintah! Segera tinggalkan lokasi dalam dua menit!'


Mereka berlari ke arah mobil mereka yang terparkir tak jauh dari lokasi. Kecuali Richi yang sejak tadi diam di tempatnya karena pikirannya melayang, mengingat kilasan wajah orang yang naik ke atas heli.


Dia berdiri saat orang-orang sudah meninggalkan tempat, lalu matanya menangkap empat orang berada agak jauh tengah menatap atas gedung yang berasap karena ledakannya.


Richi mengeluarkan senjata dan mendekat.


Keempat orang itu terkaget dan mundur saat melihat seseorang menodongkan senjata pada mereka.


"Jangan bergerak!" Titah Richi dengan suara pelan. Matanya tertuju pada lelaki yang berada ditengah, yang juga menatap ke arahnya.


"Hugo, ayo kabur." Bisik Axel yang mulai takut melihat orang dengan pakaian dan topi hitam di depan mereka.


Richi mengokang senjata, mengarahkannya pada Hugo.


Sementara, lelaki itu tampak tenang dengan mengangkat tangannya.


"Siapa kau?" Tanya Daren.


Richi tidak menjawab, matanya terus menatap Hugo yang sejak kemarin membuatnya kesal, apalagi dengan tingkahnya barusan, tidak mengenali dirinya yang berdansa dengannya.


Richi tak berkedip, jari telunjuknya siap menekan.


"Hugo, dia akan menembak.." Isac mulai ketakutan.


'Richi! Kau dimana!'


Richi mendengar suara kakaknya yang memekik dari earpeace telinganya.


Suara sirine semakin terdengar, Richi pergi, berlari meninggalkan Hugo dan teman-temannya yang tampak lemas setelah menahan napas sejak tadi.


Richi menyandarkan tubuhnya di dalam mobil yang berjalan kencang, ia membuka masker yang sejak tadi menyesakkannya.


"Kau dari mana, sialan! Kau tidak tahu betapa paniknya kami, ha?" Umpat Olive pada Richi yang tengah mengatur napas, dia sempat gila saat melihat Hugo yang tiba-tiba muncul disana.


"Sudahlah, yang penting dia selamat." Ucap Clair menenangkan.


Sementara di tempat lain, Axel memegang jantungnya yang hampir copot.


"Hugo, kenapa tidak mencoba merebut pistolnya." Ucap Axel sambil terduduk.


"Untuk apa, Richi takkan mungkin menembakku".


"Apa? Richi!" Pekik mereka bersamaan.


"Ayo, polisi mulai mendekat!" Ucap Daren sambil menepuk bahu Hugo. Mereka berlari menjauh dari gedung dan menyelamatkan diri dari polisi yang akan menyelidiki tempat itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2