
Hugo berdiam saat sekeluarga itu bercanda bersama di meja makan. Sangat berbeda dengan dirinya yang kadang makan sendiri dan terasa sendiri juga walau ayahnya ikut di meja makan sembari memainkan ponsel yang katanya mengerjakan pekerjaan penting.
"Hugo, jangan melamun." Kata Marry dan langsung membuat Hugo tersenyum tipis.
"Lain kali, Ichi tidak boleh begitu pada Hugo. Kasihan, kedinginan, kan. Untung asistennya cepat bawa baju ganti." Lanjut Marry lagi dan Richi hanya diam menggoyangkan kaki di bawah meja, menatap Hugo dengan senyuman jailnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Salah saya juga karena mengganggu Richi pagi-pagi." Jawabnya mengalah.
"Sudah belajar sampai mana tentang perusahaan ayahmu?" Tanya Wiley pada Hugo.
"Saya hanya menanam saham di perusahaan ayah, Jenderal."
Richi menahan senyum mendengar panggilan Hugo pada ayahnya yang sudah berubah.
"Saham? Ayahmu yang memberikan atau...." Wiley tak melanjutkan kalimatnya.
"Saya yang membeli. Menabung uang jajan yang ayah berikan, lalu membelikannya saham di perusahaan ayah sendiri."
"Wuah, masih muda sudah paham saham." Puji Marry.
"Biasa saja. Malah kalau tidak mengerti tandanya bodoh." Celetuk Ricky lalu menyuapkan roti ke mulutnya.
"Itu artinya, kau sudah punya tabungan sendiri?" Tanya Wiley lagi.
"Benar, Jenderal."
"Wah, hebat itu. Bukan mengambil uang jajan dari perusahaan, ya." Ucap Wiley sambil melirik Ricky. Yang dilirik, tak jadi memasukkan rotinya ke mulut.
"Aku hanya mengambil gajiku, apa salahnya?" Sanggah Ricky yang merasa disindir.
"Lho, memangnya ayah menyebut namamu?" Tukas Wiley langsung dan Ricky malah mencebik.
"Hugo ternyata mandiri, ya." Puji Marry lagi.
"Sama saja, kan. Uang beli saham juga dari uang saku yang diberi ayahnya ." Celetuk Ricky lagi.
"Kau juga pakai uang ayah, tapi tidak menabung untuk beli saham." Ucap Marry membalas nyinyiran Ricky dan sukses membuatnya bungkam dengan wajah bertekuk sepuluh.
"Hugo, setelah ini kuliah di negara J, ya? Kalau begitu, Richi ikut Hugo saja."
Mendengar ucapan Marry, Hugo langsung semangat menatap Richi yang mengunyah dengan santai.
"Ichi bukannya mau lanjut militer?" Tanya Ricky pada adiknya yang duduk disebelahnya.
"Kalau Ibu boleh kasih saran, lebih baik kuliah dijurusan yang Ichi minati. Anak pasukan militer tidak harus ikut ayahnya menjadi anggota militer juga." Tukas Marry melirik Richi yang tak bergeming.
__ADS_1
"Biarkan Richi memilih, Bu." Kata Ricky lagi.
"Kalau Ichi sendiri sebenarnya minat kemana?" Tanya Wiley.
Richi melirik Hugo sebentar, "militer, yah." Jawabnya dan terdengar suara kemenangan dari Ricky.
"Hugo harus sabar menunggu, ya. Empat tahun." Kata Marry lalu memasukkan makanannya ke mulut.
"Tidak masalah, Bu. Saya akan dukung apapun keputusan Richi." Tutur Hugo sambil tersenyum, yang Richi tahu itu senyum terpaksa.
"Kalau seandainya ada perempuan lain yang Hugo suka setelah Richi di asrama, Ibu tidak apa-apa, kok. Richi juga disana pasti lupa sama kekasihnya. Namanya juga sibuk belajar sampai 4 tahun." Marry sengaja mengatakan itu untuk melihat reaksi anaknya. Sementara Wiley hanya menggelengkan kepala.
"Lembek! Baru ditinggal bentar malah suka sama orang lain." Tukas Ricky.
"Siapa tahu karena diangguri selama 4 tahun, terus ada perempuan yang pintar dan cantik di kampus Hugo, kenapa tidak?" Ucap Marry lagi. Sementara Richi menatap heran pada Ibunya yang seolah memisahkan dirinya dengan Hugo.
"Ibu kenapa, sih? Kok begitu bicaranya?" Tanya Ricky kesal.
"Hooo.. ada yang mulai setuju dengan Hugoo.." Wiley berdiri sambil membawa segelas kopinya, begitu juga Marry yang langsung bergerak mengikuti suaminya sambil senyam-senyum.
"Hei, kalau sampai itu terjadi, kau berhadapan denganku. Bukan karena aku setuju, tapi karena kau mempermainkan adikku!" Ancam Ricky yang kemudian beranjak dari tempatnya.
Hugo bingung sendiri. Padahal yang diucapkan Ibu Richi hanya prasangkanya, tetapi dibuat seolah itu benar-benar akan terjadi sehingga memojokkan dirinya.
"Chi.." Hugo menatap Richi yang sejak tadi hanya diam. Makanannya pun sudah tidak ia sentuh.
Mungkin.. karena perasaannya pada Hugo yang kian bertambah.
"Apa kau akan menyukai perempuan lain, Hugo?"
Hugo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bagaimana tidak, ucapan Ibu Richi jelas sekali hanyalah pengandaian.
"Chi, itu tidak mungkin. Kau tahu bagaimana usahaku untuk bersamamu, kan?"
"Tapi kalau itu terjadi, bagaimana??"
Hugo menarik napas panjang. Sungguh, ini hal yang paling sulit sekarang.
"Kalau kau tertarik dengan perempuan lain, bagaimana?"
"Kalau kau yang tertarik dengan laki-laki lain bagaimana?" Tanya Hugo balik.
"Itu tidak mungkin terjadi, Hugo."
"Itu juga tidak mungkin terjadi, Richi."
__ADS_1
Wajah Richi terlihat kesal. Dia tidak puas dengan jawaban Hugo sebenarnya. Tapi logikanya berkata, kalau hal semacam itu bukanlah sesuatu yang harus ia pikirkan. Jika memang Hugo berselingkuh, artinya memang Hugo bukanlah laki-laki yang baik.
Tapi perasaannya berkata lain. Bagaimana jika Hugo bersama perempuan lain? Bukankah itu akan menyakitkannya nanti? Dia tidak sanggup karena tanpa ia sadari, perasaannya sudah mendalam pada Hugo.
"Jangan dipikirkan, bukannya kau yang bilang itu masih lama? Kita masih punya banyak waktu. Percayalah, aku akan terus mendukungmu." tukas Hugo yang melihat wajah Richi tak mengenakkan.
"Apa aku kuliah bersamamu saja, ya?" tukas Richi tiba-tiba.
"Kau serius??" Hugo mulai nenarik senyuman tinggi, jika benar demikian, dia pasti akan senang sekali.
"Entahlah, aku bingung."
"Pikirkan baik-baik. Apapun keputusanmu, aku setuju dan akan terus mendukung. Sekarang..." Hugo menarik tangan Richi. "Ayo, ikut aku."
"Kemana?"
"Ikut saja."
Hugo menjalankan mobilnya, membawa Richi ke sebuat tempat yang pernah Richi ketahui adalah jalan menuju hunian Harry dan Shera waktu itu.
"Kita menemui Harry?" Tanya Richi saat mobil berhenti tepat di depan rumah rindang itu.
"Iya, ada yang ingin mereka katakan."
Richi keluar dari mobil dan Hugo menggandeng tangan gadis yang sejak tadi mood nya kurang baik.
Rumah itu tidak tertutup, tetapi tidak terlihat penghuninya.
"Permisi.."
Hugo menunggu, tak juga ada suara.
"Harry, kau di dalam?" Hugo dan Richi langsung masuk karena ia juga sudah bilang pada Harry, kalau dia akan datang pagi ini.
"Harry kau jahat sekali."
Terdengar suara Shera berteriak sambil tertawa dari dalam ruang, membuat Richi dan Hugo saling pandang.
"Sebentar lagi, sayang." Suara Harry juga terdengar.
"Ayolaah."
"Harry, hentikan. Dasar!"
Mereka berdua keluar dari kamar sambil berpelukan namun dalam keadaan kacau. Shera buru-buru menurunkan bajunya, sedangkan Harry sambil tersenyum senang mengancingkan celananya.
__ADS_1
Sejenak Richi terdiam saat otaknya mulai menyadari kalau keduanya telah melakukan hal semacam itu di dalam sana.
'Mereka.. apa melakukan itu.. Di dalam??' Tanya Richi dalam hati.