Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Resmi


__ADS_3

"Kau suka pantai?"


Olivia mengangguk. "Suka sekali. Tapi jarang kesini karena.. aku harus terus bekerja."


"Kalau kau suka sekali, aku akan sering-sering mengajakmu kesini."


Olivia menoleh. "Bukannya kau mau pergi?"


"Yah, benar. Aku lupa."


Daren memandangi wajah Olivia. Gadis itu melihat ke arah ombak pantai.


"Dulu, waktu aku kecil, aku sering datang kesini bersama Richi dan Clair. Dan aku melihat itu." Olivia menunjuk villa yang mereka sewa.


"Dulu villa itu kosong. Katanya, pemiliknya membangun villa itu untuk istrinya. Setelah istrinya wafat, dia pun tak mau lagi mengurus villa itu. Lalu, timbul keinginan dalam diriku, jika aku besar nanti, aku ingin membeli dan tinggal disitu." Ucap Olivia sambil terus menatap kedepan tanpa merasa terganggu dengan tatapan Daren.


"Supaya aku bisa terus berhadapan dengan pantai. Itu sebabnya dulu aku sering mengajak yang lain untuk kesini sekedar melihat apakah villa itu masih kosong atau sudah berisi. Jika kosong, aku akan senang. Tapi beberapa bulan setelah itu, Villanya dibeli orang." Jelasnya lagi sambil tersenyum getir.


"Yah, itu cuma keinginan anak-anak. Memangnya aku bisa membeli villa itu? Hah." Terdengar helaan napas Olivia. "Entah kenapa aku suka pantai, walaupun Richi selalu menolak kalau diajak kesini."


"Suatu hari, kau pasti akan bisa membeli villa di pinggir pantai."


Olivia malah tertawa. "Ya, mudah-mudahan saja."


"Mau jalan-jalan?" Tawar Daren kemudian.


Olivia mengangguk, lalu berdiri. Diikuti Daren disebelahnya. Mereka berjalan santai di dekat ombak yang menggulung di kaki mereka. Sesekali Olivia berjongkok mengutip batu yang menurutnya unik dan lucu.


"Daren, lihat. Ini cangkang kerang. Cantik sekali.." mata Olivia membulat melihat cangkang kerang berwarna putih bersih itu.


"Buat apa, sih?" Tanya Daren penasaran sekaligus ingin tahu lebih banyak soal Olivia.


"Tidak ada. Aku hanya menyimpan sebagian. Paling juga, kalau kedapatan bunda langsung dibuang." Ucapnya sambil tertawa, kemudian mulai jalan lagi.


"Olive, kalau aku pergi nanti, kau mau kan, tetap berhubungan." Daren menatap Olivia. Gadis itu hanya menunduk sambil menendang kecil air laut yang datang ke arahnya.


"Aku pasti kesepian disana. Apalagi tidak punya teman." Lanjutnya lagi.


"Memangnya kapan kau pergi?" Tanya Olivia.


"Tiga hari lagi. Ayahku sudah membeli tiket dan akupun sudah menyusun barang."

__ADS_1


Olivia berhenti. Benarkah Daren pergi? Kenapa sepertinya mendadak sekali.


"Jangan terlalu sedih. Sampai sana nanti kau juga pasti akan lupa." Celetuk Olivia.


"Hah. Mana mungkin aku melupakan cinta keduaku."


Olivia menoleh seketika. Matanya menatap tajam pada Daren. "Cinta kedua?"


"Iya. Cinta pertamaku, Camilla. Yah, walaupun tidak berakhir baik dan perasaanku tiba-tiba saja pindah haluan dan- eh, mau kemana?"


Daren tidak sempat menyempurnakan ucapannya, karena mendadak Olivia berjalan cepat.


"Olivia, tunggu. Ada apa?" Daren berhasil meraih tangan Olivia. Gadis itu tidak mau menatapnya dan malah cemberut.


Melihat Olivia yang seperti itu, membuat Daren bertanya-tanya dan mengingat, apakah ada dari kalimatnya yang salah, sampai Olivia tiba-tiba marah sepertu ini?


"Kau kesal padaku, ya?"


"Ya, iyalah. Kau cinta pertamaku, tapi aku malah cinta kedua untukmu. Camilla pula orangnya!" Gerutu Olivia sambil menyampingkan tubuh, menolak melihat Daren.


Suasana mendadak hening. Olivia pun masih sibuk dengan rasa kesalnya sementara Daren terus tersenyum gembira merasakan ledakan dahsyat di hatinya. Ternyata dugaannya benar, Olivia juga punya rasa yang sama terhadapnya.


"K-kenapa malah senyum-senyum??"


Bukannya menjawab, Daren malah mendekat dan meraih tangan Olivia.


"Kau menyukaiku, ya? Aku cinta pertamamu?"


Olivia menganga. Barusan tadi Daren bilang apa!?


"Aku senang saat tahu bahwa kau juga menyukaiku, Olivia."


Olivia menganga. Tanpa ia sadari, ternyata dia mengutarakan perasaannya dan mengungkapkan bahwa Daren cinta pertamanya. 'Ahshitt! Aku bilang apa tadi?? Dasar Olivia gilaaaa..!!' Batin gadis itu menjerit kesal dengan kebodohannya. Dia pun menggigit bibirnya sendiri.


"Em.. apa hari ini, kita resmikan saja?"


"Resmikan apanya? Kau gila, ya!" Elak Olivia yang sebenarnya malu. Apalagi debaran di hatinya semakin meningkat.


Daren langsung menangkap tangan Olivia saat gadis itu ingin pergi.


"Kau tahu, Liv, aku sangat-sangat-sangat menyukaimu. Dan kau juga menyukaiku. Aku tahu itu. Kalau begitu, kau mau menjadi kekasihku, kan?"

__ADS_1


Olivia membatu. Bagaimanapun dia sudah mengungkapkan perasaannya dan Daren mendengar itu. Tentu lelaki di depannya ini tidak akan melepaskannya lagi. Lihatlah genggaman tangan Daren. Begitu erat karena tahu Olivia bisa saja berlari.


"A-aku.." Olivia tidak bisa berkata-kata. Apalagi jantungnya berdebar kencang membuatnya tergagap.


Melihat itu, Daren langsung memeluknya. Dengan hati yang bahagia, dia mendekap Olivia dalam pelukannya dan kali ini Olivia tidak menolak.


"Aku senang sekali. Akhirnya kita punya perasaan yang sama. Aku ingin kau tidak lagi mengingat-ingat kesalahanku, Liv. Aku akan memperbaikinya dan berusaha tidak membuatmu marah seperti waktu itu."


Perlahan tangan Olivia naik, memeluk pinggang Daren. Dia juga menyukai Daren, tidak ada salahnya memulai hubungan dengan lelaki itu, kan. Walau tiba-tiba saja perasaan Olivia tidak enak saat mengingat siapa dirinya dibandingkan Daren.


"Wah, cinta itu memang indah." Ucap Bella. Dia duduk dan mengunyah makanan ringan sambil menonton adegan mesra Olivia dan Daren di arah kiri mereka.


"Benar. Daren sampai seperti orang gila belakangan ini." Sahut Isac.


"Sebelah sana juga, sudah 20 menit berlalu tapi pelukannya tidak lepas." Kata Clair melihat ke kanan, dimana Richi dan Hugo masih dengan posisi yang sama, ikut menatap Olivia dan Daren.


"Kiri dan kanan kita indah sekali, ya." Sambung Axel.


"Kau kenapa tidak bawa pacarmu?" Tanya Bella pada Clair.


"Hah. Dia tidak akan mau kalau gengnya tidak ikut." Jawab Clair dengan helaan napas.


"Kau juga, kemana pacarmu?" Tanya Isac pada Bella.


"Jangan urusi aku. Urusi saja diri kalian yang tak laku!"


"Kami bukan tidak laku, Bel. Kami memang menjaga kewarasan sampai tamat sekolah." Jawab Isac.


"Apa? Jadi menurutmu perempuan membuatmu tidak waras. Iya??" Pekik Bella.


"Aku tidak bilang begitu, sih."


"Tidak begitu, apanya! Jelas-jelas kau bilang menjaga kewarasan!" Bella mulai menaikkan nada semakin tinggi karena kesal.


"Nah, kan. Ini nih, yang buat kita kurang waras, Xel."


Jawaban Isac membuat Axel tergelak. "Sudahlah, Isac hanya bercanda. Dia sendiri sudah dua kali nembak cewek dan ditolak. Karena yang disukainya malah menyukai Daren dan Hugo."


"Hah! Rasain!" Tukas Bella menatap sinis ke arah Isac yang hanya cengengesan saat rahasianya dibongkar.


Merekapun memilih istirahat di dalam Villa karena matahari mulai turun dan mulai menyiapkan makan malam bersama.

__ADS_1


__ADS_2