Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pernikahan Harry (1)


__ADS_3

"Liv.."


Richi berdiri disebelah Olivia. Gadis itu terus membersihkan gelas dari sisa air yang menempel.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Richi dengan hati-hati. Dia tidak ingin kata-katanya malah menambah suasana buruk di hati Olivia.


TAK! Olivia meletakkan gelas dengan kasar. Dia tampak tenang walau suara gelas itu membuat satu kafe menoleh pasanya.


"Rel, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku." Ucap Olivia memulai curahan hatinya.


"Ada apa, Olivia?"


Olivia mengarahkan tubuhnya pada Richi. Dia mulai menangis lalu memeluk Richi.


"Rel.. hiks.. aku.. aku.. hiks.. aku mencelakai Daren.. hiks.."


Richi mengusap lembut punggung Olivia. Dia bisa mendengar racauan gadis itu, tapi tidak memahami maksudnya.


Dari jauh, Clair dan yang lain memperhatikan. Mereka menanyakan apa yang terjadi, namun Richi hanya menggelengkan kepala tanda bahwa iapun masih belum mengerti situasi Olivia saat ini.


Olivia melepaskan pelukannya. "Rel.. aku.. harus bagaimanaa.." Tanya Olivia dengan hidung yang memerah, suaranya serak. Dia juga tampak kebingungan di tengah tangisnya.


Richi menarik kursi di dekat mereka lalu mendudukkan Olivia disebelahnya.


"Kau mencelakai Daren?" Tanya Richi mengulangi kalimat Olivia tadi.


Dia mengangguk. "Tadi malam, dia datang ke rumah. Lalu.. lalu.. dia menciumku. Refleks aku mendorongnya. Tapi ternyata, kepalanya terbentur tembok sampai berdarah."


Richi mengangguk paham. Begitu, jadi Olivia tengah khawatir sekarang?


"Tapi.. aku masih sangat sakit hati dengan perlakuannya padaku waktu itu.. hiks.." Olivia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa malu sebab menangisi laki-laki. Tapi dia juga tidak bisa menahan diri lagi. Cuma bersama Richi atau Bella dan Clair yang membuat hatinya lebih tenang.


"Take your time, Liv. Kalau memang belum sanggup, jangan dipaksa." Ucap Richi memberi saran.


Olivia di tengah sesegukannya, memberikan Richi kertas yang sudah lusuh. "Itu.. dari Daren.."


Richi mengambil kertas itu dan membukanya. Dia membaca pesan yang ditulis Daren kata demi kata, sampai tiba dimana pupil Richi melebar. Ternyata Daren sudah mengungkapkan perasaannya pada Olivia.


"Apa ini yang menjadi masalah sekarang?" Tanya Richi menahan senyum. Jelas sekali terlihat bahwa Olivia tengah galau karena perasaan yang dituangkan Daren untuknya.


"Bu-bukan.. aku hanya berpikir kalau dia akan membuatku sebagai bahan lelucon lagi." Katanya dengan nada pelan. Sesekali dia menyerot ingusnya yang hampir keluar.


"Jadi, kau tidak percaya dengan apa yang ditulis Daren ini?" Tanya Richi memastikan lagi.

__ADS_1


"Ya. Dia tidak pernah serius. Dia pikir, dia bisa mengerjaiku terus menerus. Awalnya aku berpikir, kalau aku berlebihan. Tapi, kukira itu seimbang karena dia sudah meremehkanku." Jelas Olivia. Dia mengambil tisu dan mengelap ingusnya lagi.


"Hmm.. begitu, ya. Jadi, kau tidak membalas surat ini?"


"Aku tidak menyukainya!" Tukas Olivia sambil menggebrak meja. "Tidak. Sama sekali tidak. Untuk apa aku membalasnya!" Tegas Olivia.


"Siapa yang menuduhmu suka padanya. Disini tertulis, kalau kau memaafkannya, kau bisa membalas pesannya." Richi menunjuk kalimat terakhir yang Daren tulis di kertas itu.


"Ah.." Olivia tampak canggung. Dia sudah salah bicara tadi. Nampaknya Richi menyadari sesuatu. Dia mengapitkan kedua bibirnya, berusaha untuk tidak tersenyum.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja." Celetuk Olivia yang menyadari kelakuan Richi.


"Ahahahaa. Maaf, Olivia. Tapi, kau imut sekali. Gemes!" Ucapnya yang akhirnya menyerah karena tidak tahan. "Jadi, kau tidak menyukai Daren?"


Dengan cepat Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku masih sangat malu dan merasa bodoh jika ingat masalah itu." Tukasnya.


"Ya, kalau aku jadi kau, akupun pasti akan merasa malu karena terlalu percaya diri. Hehehe."


Olivia melirik Richi dengan tajam. Kenapa gadis itu malah seperti tengah menghinanya?


"Kalau begitu, aku akan mencari pasanganmu selain Daren, ya. Kau beristirahat dulu. Tenangkan hati dan pikiran, setelah itu barulah buat keputusan."


Olivia mengangguk, kemudian Richi kembali ke tempatnya untuk menyampaikan gosip seru yang tengah menimpa salah satu sahabat terpolos mereka itu.


...🦋...


Setelah berdiskusi cukup panjang, Hugo akhirnya mengantar Richi pulang. Sepanjang perjalanan, mereka masih membahas masalah yang menimpa Olivia dan sahabat Hugo.


"Kita harus menolong mereka, sayang." Ujar Hugo dengan menatap Richi sekilas, lalu fokus lagi menatap ke arah jalan.


"Menolong bagaimana?"


"Kau ingat, dulu Daren juga yang membantu hubungan kita. Dia meneleponmu, kan?"


Richi mengangguk. Benar, Daren yang membantu menyatukan mereka waktu itu.


"Tapi Hugo, aku tidak pernah ikut campur dalam masalah orang lain. Terlebih soal cinta." Ucap Richi. "Apalagi, Daren terlihat seperti orang yang tidak suka masalahnya diikut campuri."


"Ya, kau benar. Tapi, ini soal lain. Daren pasti akan sangat berterima kasih kalau kita menolongnya." Sahut Hugo.


"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Richi bingung. Ia tak pernah tahu soal percintaan yang seperti itu.


"Apa menurutmu, Olivia menyukai Daren?"

__ADS_1


"Ya, aku sangat bisa melihat itu." Richi tiba-tiba terkikik saat mengingat raut wajah Olivia tadi.


"Kita akan membuat rencana saat pernikahan Harry." Hugo tersenyum saat muncul rencana untuk sahabatnya itu.


"Ah, apa semua anggota sudah tahu?" Tanya Richi membuka topik baru.


"Soal pengawalan pernikahan Harry?"


"Iya. Bukankah waktu itu dia meminta Valiant menjaga acaranya? Aku kira, bisa saja acara Harry akan berantakan karena dendam orang-orang padanya." Tukas Richi.


"Jangan khawatir, selain tim Valiant, Stripe juga akan berjaga disana. Kuharap mereka bisa menjaga sikap nantinya."


"Aah.. Stripe. Kenapa aku tidak yakin dengan mereka?" Ungkap Richi.


"Tetap hati-hati dan selipkan senjatamu nanti, ya.." Hugo memegang puncak kepala Richi, memperlakukan gadis itu persis seperti orang yang dia lindungi.


...🦋...


Acara yang dinantikan pun tiba. Hari dimana Shera dan Harry akan melangsungkan pernikahan dan mengucap janji cinta mereka. Suasana gedung mulai ramai. Tim Valiant pun sudah berpencar menjaga gedung dengan alat tersembunyi dibalik telinga, juga pakaian yang formal persis tamu undangan.


Berbeda dari Valiant, Stripe justru memakai kemeja serba hitam dan kacamata senada. Mereka sudah berbaris di depan gerbang, menjaga dan memperhatikan apabila mengalami keganjilan pada tamu-tamu yang datang.


"Lihat si gila itu. Mereka malah duduk santai bersama Camilla." Bisik Olivia pada Richi.


"Biarkan saja. Memangnya mereka mau apa?" sahut Clair yang mendengar ucapan Olivia.


"Aku akan menemui Shera sebentar. Bisa kalian jaga disini, kan?" kata Richi dan mendapat anggukan dari teman-temannya.


"Mau kemana?" Hugo menghampiri Richi yang akan bergerak dari tempatnya.


"Aku ingin menemui Shera."


"Baiklah. Aku juga dipanggil ayah ke ruangan Harry. Berjaga-jagalah, aku tidak begitu percaya orang-orang disini." Bisik Hugo pada kekasihnya.


"Hm. Aku akan menjaga diri." Richi tersenyum lalu pergi berjalan menuju ruang dimana Shera merias diri.


Richi berjalan melewati satu lorong. Dia tidak merasa ada apa-apa sampai langkahnya terhenti karena mendengar suara senjata dikokang. Richi mematung ditempatnya.


"Ikuti aku atau kau mati dan acara ini akan berantakan."


Suara berat itu membuat Richi menelan ludah. Dia tidak mengenal suara itu tapi Richi cukup mengerti situasi. Dia tak mungkin melawan apalagi lebih dari tiga orang mengarahkan senjata padanya, tentu berat untuk melawan.


Richi akhirnya mengikuti orang itu mengarahkannya dengan pistol yang masih mengarah ke kepalanya. Sampai di satu ruang, Richi mulai bisa melihat siapa orang yang tengah mengancamnya itu.

__ADS_1


__ADS_2