
Erine memeluk lututnya yang menekuk. Dia menempelkan dahinya dan menangis sesegukan. Bahunya terguncang dan itu membuat Eline merasa kasihan padanya.
Hari sudah gelap. Tiga jam lamanya Eline mencari kembarannya tadi, ternyata ada di taman belakang kampus, menangis entah karena apa.
Eline hanya duduk mengawasinya dari jarak yang tak begitu jauh. Dia membiarkan Erine menangis, karena perempuan itu hampir tidak pernah mengeluarkan air matanya. Jika dia sampai seperti itu, artinya perasaannya benar-benar rapuh.
Tapi, ini sudah satu jam Eline duduk disana. Dia sampai digigiti nyamuk karena hanya duduk diam melihat Erine.
Tak bisa, Eline berdiri. Dia tak sanggup lagi menunggu disana. Dia juga penasaran kenapa Erine bisa menangis begitu lama. Dugaannya adalah Hugo. Sudah pasti.
Eline berdiri di depan kembarannya. Dia menatap jari kaki dan tumit Erine yang memerah. High heelsnya terjatuh dibawah. Erine pasti tidak nyaman dengan sepatunya tapi dia memaksa diri hanya untuk Hugo.
"Erine, ayo pulang."
Gadis itu mengangkat kepalanya. Lalu menunduk lagi saat melihat Eline yang ada di depannya.
"Erine, aku tidak tahu kau kenapa. Tapi ini sudah malam. Kau sendirian disini."
Erine tak peduli. Dia melanjutkan tangisnya.
Eline menghela napas. Dia duduk disebelah gadis itu.
"Ada apa, Erine? Kenapa kau sampai seperti ini?"
Erine tak menjawab. Dan hanya menghapus air matanya.
"Apa karena Hugo?"
Erine menunduk. Dia tak tahu haruskah bercerita dengan Eline atau tidak. Tapi ini membuatnya malu.
"Benar, kan, ini soal Hugo." Eline menyandarkan punggungnya ke badan bangku. "Aku sudah katakan sejak awal, kau bisa merebutnya tapi harus mengikuti caraku. Kau pikir kau bisa melakukannya dengan cara seperti itu??"
Erine tak menjawab. Yang terdengar hanya suara sesegukannya.
"Kau mau bersama Hugo kan, Erine? Kau menyukainya, kan?"
Erine mengangguk. Dia mengusap dagunya yang berair.
"Kalau begitu mulai sekarang, ikuti ucapanku dan berhentilah menangis. Aku tidak suka kau lemah seperti ini. Kau lihat aku. Aku mendapatkan kekasihku juga bukan dengan cara yang lemah sepertimu. Perjuanganku mendapatkannya perlu kau acungi jempol." Ujarnya pada Erine.
Lalu tiba-tiba ia mendesah pelan. "Yah, walaupun dia beberapa kali selingkuh, tapi aku tak bisa melepaskannya. Perasaanku tidak main-main padanya." Ucapnya kemudian dengan suara yang pelan.
"Ah, sudahlah. Pokoknya mulai besok, ikuti apa yang aku perintahkan. Mengerti??"
Erine mengangguk, lalu menurunkan kakinya untuk berdiri.
Ponsel Eline berdering. Dia mengangkatnya dengan agak malas.
Setelah menerima telepon, Eline menggandeng tangan kembarannya dan berjalan perlahan menuju dimana ia memarkirkan mobil.
"Aku akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
Erine meliriknya. Bertanya, dia hendak kemana.
"Aku harus keapartemen Virgo. Dia bilang, dia sedang bosan dan memintaku datang."
"Dia hanya memanfaatkanmu." Ucap Erine dengan suara parau.
"Aku yakin dia sebenarnya juga mencintaiku dan akan menikahiku suatu hari nanti."
"Kau sudah mengatakan itu selama dua tahun."
Eline berdecak kesal. "Yang penting aku mendapatkannya dan dia menuruti keinginanku. Titik!" Pekiknya kesal.
...🦋...
"Terima kasih, Hugo." Ucap Richi saat mereka sudah sampai di depan fakultas Richi. Gadis itu membuka seatbelt, namun ia langsung menahan tangan Hugo saat lelaki itu membuka pintunya.
"Mau kemana?"
"Mengantarmu sampai ke dalam." Jawabnya.
Richi bingung. Memangnya dia anak TK sampai diantar kedalam segala?
"Kita sudah mengumumkan hubungan kita kemarin. Jadi, aku juga ingin memperlihatkan hubungan kita di fakultasmu." Jawab lelaki itu.
"Yaa, kau benar. Tapi jangan sekarang. Aku masih ada masalah di dalam."
Hugo tak menjawab walau di hatinya ada rasa kecewa seolah Richi tak mau teman-teman lelakinya tahu.
Richi keluar dari mobil, sementara Hugo menutup kembali pintu yang sempat dibukanya.
Dia masih menatap Richi. Gadis itu dengan ceria menyapa teman-temannya. Lalu dia berjalan akrab dengan seorang laki-laki bertubuh tinggi. Apa dia yang bernama Evan? Kemarin Richi sudah menceritakan detailnya dan lelaki itu membantu. Hugo merasa berterima kasih seharusnya, tapi dia tak suka melihat keakraban itu. Apalagi mata Evan, Hugo bisa membaca pandangan sukanya pada Richi.
"Hah. Tak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti." Tukasnya lalu menjalankan mobil.
"Richi."
Andreas berlari bersama beberapa orang dibelakangnya.
"Haha. Kau hebat sekali ternyata. Aku sampai menganga melihatnya." Ucapnya langsung bahkan sebelum ia sampai tepat di dekat Richi.
"Richi, kau belajar dimana selama ini, hah? Kau seperti sudah terbiasa dengan itu." Sambung Fred.
"Kau juga, bro. Kau keren sekali." Andreas memuji Evan. "Apa kalian sudah saling mengenal?"
"Tidak." Jawab Evan cepat.
"Baiklah. Aku harus ke lokerku sebelum ke kelas." Richi berjalan lagi. Matanya memperhatikan orang-orang yang ada di koridor. Richi bisa merasakannya. Siapa yang ia lirik dan ternyata menunduk, artinya dia bagian dari kelompok yang kemarin Richi bereskan, atau mungkin anggota Virgo.
Richi terhenti di depan toilet pria. Disana ada Virgo tengah menyiksa satu orang laki-laki. Yang lain langsung mundur dan menunduk saat Richi datang.
Virgo berbalik badan saat dia menyadari beberapa temannya menatap kebelakangnya. Dia tersenyum cerah melihat Richi dengan dress kuning daisy.
__ADS_1
"Hai, beautiful girl."
Richi tersenyum samar. Matanya menatap Andrew dan yang lain dibelakang Virgo. Dengan cepat mereka menyuruh laki-laki yang sempat disiram air oleh Virgo untuk pergi.
"Kau tidak mengangkat teleponku tadi malam sampai aku merasa bosan."
"Sorry." Jawab Richi singkat.
Melihat Virgo, rasanya teman-temannya itu belum memberitahu soal kemarin.
"Richi, aku akan mengajakmu jalan-jalan siang nanti. Aku akan datang ke kelasmu."
"Virgo, apa kau mengenal Darrel?" Tanya Richi mengalihkan topik. Dia ingin tahu itu dari Virgo.
Kening Virgo berkerut. Dia menatap Richi dengan tatapan menyidik.
"Kau.. tahu Darrel?" Tanyanya balik.
"Aku hanya pernah mendengarnya. Melihat responmu, sepertinya kau mengenalnya."
"Tidak. Aku, maksudku ya. Aku mengenalnya."
"Benarkah?"
"Aku mengenal orang-orang sepertinya, tentu saja." Virgo menoleh kebelakang, tapi Andrew hanya menunduk.
"Lalu, aku dengar kau dari sebuah kelompok bernama Foldcury, apa benar?" Tanya Richi lagi.
Virgo lagi-lagi menatapnya dengan bingung. Seakan bertanya-tanya, dari mana Richi tahu soal itu.
"Kau sepertinya tahu tentang kelompok-kelompok seperti itu, sayang."
"Aku sering mendengarnya."
Virgo mengangguk-angguk sambil tertawa. "Ya, wajar kau tahu karena mereka terkenal."
Virgo berjalan mendekat, lalu menunduk, berbisik pada Richi. "Akulah Darrel, sayang."
Richi meliriknya dengan tajam. Menyamar menjadi Darrel? Apa dia tidak tahu apa arti Darrel?
"Darrel dari Foldcury? Bukannya dia dari Valiant?"
Virgo tertawa lebar. "Yaa. Haha. Kau tahu soal itu. Sebenarnya Foldcury dan Valiant itu sama saja. Hanya orang-orang mengenalnya berbeda di lain kota."
Richi mengangguk-angguk. "Begitu, ya. Baiklah aku ke kelasku dulu." Richi berjalan meninggalkan Virgo.
"Bodoh." Gumam Richi sambil berlalu pergi.
TBC
**Hei gw mau nanya dong. Sebenarnya kalian lebih suka tulisan yang baku kaya novel ini atau novel Lelaki tunanetra atau kayak di novel Syahdu yang bahasanya nonbaku. Krn gw mau nerbitin karya baru. Btw masi bingung juga akan terbit dsni apa apk ttgga**
__ADS_1