
'632WAY. Lacak sekarang Ibu dalam bahaya!' Pekik Richi dengan suara seraknya.
"Richii!!" Hugo berlari ke arah dimana Ricky dan yang lainnya berada. Dia mendengar suara Richi yang sepertinya menangis.
Richi menangis? Tidak benar. Pikiran Hugo langsung berantakan. Pasti sesuatu yang besar terjadi sampai-sampai suara Richi seperti tadi.
"Ricky!" Hugo menghampirinya. Lelaki itu masih terdiam di tempatnya.
"Kau dengar? 632Way, itu pasti nomor plat mobil yang membawa Ibumu!" Hugo mengguncangkan kedua bahu Ricky, supaya dia tersadar.
Mata lelaki itu sudah memerah dan berair. Tubuhnya menegang karena emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Suara Richi yang seperti tadi, pasti dia mengalami sesuatu yang berat. Gadis itu tidak pernah menangis dalam bertarung. Tapi, kenapa siaranya begitu parau? Apalagi earpiece di telinga Richi sudah mati. Tentu itu membuat Ricky semakin kalut.
Ricky menekan lagi tombol pada earpiece-nya. "Jo, lacak nomor yang disebutkan Richi. Cari kemana arah mobil itu berjalan dan cepat beritahu aku."
Ricky menitahkan seluruh kelompoknya untuk bersiap karena mobil mereka akan segera datang untuk menyelamatkan sang Ibu dan juga Richi.
"Hugo.." Daren, Isac, dan Axel berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi? Kami melihatmu tidak tenang sejak tadi." Tanya Axel.
"Richi diculik."
"Diculik? Oleh siapa?" Tanya Isac.
"Keluarga Draw. Ayah Harry." Jawab Hugo sambil menatap Harry di ujung sana yang tampak sangat bahagia di hari pernikahannya.
"Apa?" Mereka saling pandang, lalu Daren mengusulkan untuk mereka ikut dengan Hugo mencari Richi.
"Benar, Hugo. Kami ingin membantu." Sambung Axel dan mendapat anggukan dari Hugo. Mereka berlari menuju dimana mobil mereka terparkir.
~
Sarung hitam dikepala Richi dibuka. Richi menyipitkan mata melihati lima orang laki-laki yang tertawa nakal menatap ke arahnya.
Richi mencoba mengambil napas banyak dan berusaha mengumpulkan tenaga. Bukan hal sulit mengalahkan lima orang di dalam ruang sempit. Dia ahlinya. Hanya saja, kondisi fisiknya tak sebaik biasanya.
"Lihat. Dia tidak berdaya."
Seseorang berjongkok di Richi, dia memperhatikan Richi dengan seksama.
"Sial. Dia benar-benar cantik." Ucapnya dengan mata yang masih memandangi Richi.
"Kau tidak dengar kata tuan? Dia berbahaya. Jangan meremehkannya." Salah satu teman mereka memperingatkannya.
"Haha. Perempuan itu sekuat apa, sih? Sekuat-kuatnya perempuan, tidak akan pernah menandingi tenaga laki-laki." Tukasnya meremehkan.
"Hei.."
Lelaki itu tersenyum miring mendengar suara lirih Richi yang tampak lemah.
__ADS_1
"Kau bawa pistol?" Tanya Richi dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Hah. Melihatmu tak berdaya seperti inipun harus dengan pistol? Kau pikir kami lemah?"
Richi membuang pandangan. Mencoba mengatur tenaga kembali. Truk berjalan cepat membuat tubuhnya ikut bergoyang.
Richi menyandarkan kepalanya yang sedikit pusing akibat hantaman keras di kepalanya tadi. Tetapi dia harus segera memulihkan tenaga karena lelaki di depannya ini terlihat sangat berhasrat.
Richi membuka matanya saat laki-laki di depannya itu perlahan mengeluskan tangannya ke paha Richi.
"Hei."
Richi menggerakkan jarinya untuk menyuruhnya lelaki itu mendekat.
"Hah. Kau menyukai sentuhanku, eh?" Lelaki itu mendekatkan wajahnya, namun sial, hantaman keras mendarat tepat di rahang dan ulu hatinya. Richi menendang lelaki itu dan menghantam semua yang ada di dalam.
Evan merasakan guncangan hebat dari dalam mobil. Tentu itu tak membuatnya berpikir jernih mengingat lima laki-laki di dalam itu pasti sedang mengerjai Richi.
Evan menghentikan mobil dan keluar dari sana. Dia memandang mobil yang terus bergoyang dan sukses membuat pikirannya kacau. Tapi dia harus apa? Rasanya dia tidak punya tenaga jika harus menghadapi lima orang sekaligus.
Evan berdiri dibelakang pintu. Dia beberapa kali ingin mengetuk pintu itu tetapi tidak punya nyali yang kuat. Sampai guncangan itu terhenti dan kuat-kuat ia menggedor pintu sampai terdengar kunci yang terbuka.
Evan mundur beberapa langkah saat pintu itu sedikit terbuka, tetapi tidak memunculkan pergerakan lagi.
Dengan ragu, Evan menarik pintu dan mendapati Richi terduduk lemas di depannya.
Mata Evan membulat. Dia melihat semua teman-temannya tergeletak tak berdaya di dalam sana. Siapa yang melakukannya? Tidak ada lagi yang membuka mata kecuali gadis itu. Tapi kondisinya pun terlihat mengkhawatirkan.
"Hei, kau baik-baik saja?" Evan membantu Richi bangkit, tapi perempuan itu seperti sudah tidak mampu menopang tubuhnya. Dia duduk dengan mata yang masih mengarah ke dalam box mobil.
"Brengsek!" Seorang laki-laki ikut turun dari mobil sambil memegangi perutnya. "Berani kau.."
Tak hanya satu, diantara yang lain juga ikut keluar, membuat Richi berusaha bangkit dari tempatnya.
"Hei, tangkap dia." Titah lelaki yang wajahnya sudah hancur dengan bekas darah dibajunya. Dia menatap Evan dengan tajam seolah mempertanyakan kenapa Evan hanya diam padahal mereka diserang.
Richi mengambil pistol dari holster di pahanya dan tanpa aba-aba menembakkan peluru ke kepala dua pemuda itu sampai beberapa kali. Tentu saja itu membuat Evan langsung terduduk kaget di tempatnya.
"K-kau.. punya pistol?" Dia bertanya sebab gadis itu dari tadi tidak mengeluarkannya. Kenapa dia hanya diam sementara dia punya senjata? Evan tak habis pikir.
Richi dengan sisa tenaga mencoba mendekati box mobil dan langsung menembali lagi tiga orang di dalam, berharap semuanya langsung mati supaya tidak merepotkannya lagi.
"Hei."
Evan tersentak. Richi kini menatapnya. Apa perempuan itu juga akan membunuhnya? Dia mulai ketakutan.
"Bisa pinjam ponselmu?"
Evan langsung merogoh kantong dan memberikan ponselnya pada Richi.
__ADS_1
~
"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" Tanya Hugo pada Ricky melalui earpiece yang tersambung di telinganya.
'Baverly Hills. Semua menuju kesana sekarang!' Titah Ricky pada semua pasukan.
Ponsel Hugo berdering, dia dengan segera menangkatnya, berharap itu Richi yang mengabari. Ternyata benar. Suara napas diseberang membuat Hugo memekik.
"Richi, kau kah?? Katakan sesuatu?" Kata Hugo sambil terus menatap jalan di depannya. Tangan sebelahnya menyetir dengan kepecatan tinggi.
'Hugo..' Suara lemah itu membuat jantung Hugo berdetak lebih cepat. Dia menepikan mobilnya, lalu merapatkan ponsel ketelinganya.
"Richi, kau dimana? Katakan padaku, kau dimana??" Tanya Hugo dengan panik. Itu pasti karena Richi tidak tahu dimana dan suaranya pula terdengar sangat tidak berdaya.
Suara Hugo tentu terdengar disemua earpiece anggota Valiant. Mereka yang tengah di dalam mobil pun ikut tegang karena kepanikan Hugo.
'Jembatan Baverly..'
"Bertahanlah disana. Kami semua menuju Baverly Hills. Bertahan, Richi. Aku akan cepat kesana!"
'Hugo, dimana dia!' Pekik Ricky dari earpiece.
"Jembatan Baverly!"
Hugo langsung menancap lagi mobilnya. Di dalam mobilnya juga ada Daren dan yang lain ikut panik.
Richi menyanggah tangannya yang memegang pistol di besi jembatan. Angin kencang membuat luka di wajahnya terasa perih. Tubuhnya pula ingin ambruk karena sudah tidak kuat.
"Kau baik-baik saja?"
Richi menyerahkan ponsel Evan, lalu menatapi tubuh tak berdaya yang tergeletak di jalan dan di dalam box itu.
"Bisa aku minta bantuanmu?"
Evan mengangguk cepat. "Aku akan mengantarmu."
Richi menggelengkan kepala. "Bukan itu." Ucapnya lemah. Richi menyeret langkah sambil memegangi perutnya. Dia ingin membuat rencana untuk memudahkan pencarian ibunya yang dibawa ke rumah besar Henry Draw.
~
Hugo sampai di jembatan yang disebutkan Richi. Beberapa detik kemudian mobil-mobil Valiant juga ternyata tiba disana.
Clair dan yang lain langsung keluar dari mobil dan mengeluarkan senjata. Perlahan berjalan sambil mengamati sekitar dan beberapa tubuh yang tergeletak dengan banyak darah menetes dari box mobil.
"Richi!" teriak Hugo. Dia tidak melihat kekasihnya disana.
"Kemana dia?" Tanya Ricky.
Eline dan Eddy memeriksa lima orang yang sudah tak bernyawa itu. Terlihat tanda kekerasan di tubuh dan bekas tembak di kepala dan bagian lainnya.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Eline dan Eddy menggelengkan kepalanya.
"Richiii!" teriak Hugo. Namun tidak ada jawaban sama sekali.