
Olivia mengerjap. Dia terbangun karena baru saja memimpikan hal konyol. Keningnya dicium oleh Daren. Aneh, mungkin karena tadi malam Olivia dicium paksa oleh Daren menyebabkan mimpi itu terjadi, tetapi terasa seperti nyata sampai-sampai Olivia mengusap-usap keningnya dan mengutuk mimpinya sendiri.
Dia berusaha memejamkan mata lagi, karena tadi malam ia tak bisa tidur hingga pukul empat pagi. Tapi tiba-tiba Olivia langsung memikirkan Daren. Dia bangkit saat tahu ternyata sudah siang. Dan seharusnya Daren pun sudah pulang.
Olivia memiringkan tubuh untuk berusaha tidur setengah jam lagi. Tetapi matanya melihat secarik kertas diatas meja kecilnya. Olivia tak ingat tadi malam ada kertas di atas sana.
Dengan malas ia meraihnya, mulai membaca perlahan sampai mata Olivia membulat sempurna. Dia terduduk di tepi tempat tidur saat membaca nama si pembuat surat, Daren.
Daren? Kapan dia masuk ke dalam kamar?? Bukankah dia tadi malam mengunci pintu?
Olivia melirik kunci pintunya yang ternyata tidak terkancing dengan benar. Astaga. Olivia menutup matanya atas kecerobohan dirinya. Dia pun membaca perlahan isi surat itu.
...'Olivia, Aku ingin meminta maaf atas semua kejadian yang telah kulakukan padamu. Aku sangat sedih saat mendengar kau tak mau memaafkanku. Apa yang bisa kulakukan padamu agar kau mau memaafkanku ?...
...Lalu, Aku tidak sempat menyampaikan suatu hal yang sangat penting untuk kusampaikan. Tapi karena sepertinya kau tidak ingin bertemu denganku, aku akan menyampaikannya disini....
...Olivia, aku menyukaimu. Aku sangat-sangat menyukaimu....
...Maaf karena aku menyampaikan ini di waktu yang tidak tepat. Karena, aku hanya ingin apa yang kurasakan padamu tersalurkan agar hatiku tenang setelah kau mengetahui apa yang tengah aku rasakan. Aku harap perasaanku jauh lebih baik setelah berhasil mengungkapkannya padamu. Maafkan aku, Olivia. Aku sangat tidak tahu diri. Walau begitu, aku harap kau memaafkanku, Olivia. Aku menunggu balasan surat ini sebagai pertanda kau memaafkanku....
...Daren.'...
Jantung Olivia berdegub sangat kencang. Kata demi kata ia telaah kembali agar tidak salah menangkap isi surat itu. Tapi, berapa kalipun ia membaca, isi dan makna yang ia tangkap tetap sama. Daren.. mengungkapkan perasaannya?
Apa benar Daren menyukainya? Lalu, apa maksudnya selama ini? Daren memperlakukan dirinya sampai seperti itu, menjadikannya bahan lelucon padahal diawal dia sangat serius. Dan sungguh, Olivia selalu mengingat hal itu karena rasa malunya yang sangat besar, sudah terlalu percaya diri saat Daren mengungkapkan perasaannya. Lalu sekarang, apa dia benar-benar suka?
Olivia menggelengkan kepala. Tidak, surat itu tidak benar. Dia meremas surat itu dan membuangnya ke sudut ruang. Bukan hal yang tepat untuk percaya lagi pada Daren.
'Jangan terus tertipu, Olivia. Dia selalu mengerjaimu.' Batinnya seolah menampar diri supaya sadar. Tidak mungkin, hal yang mustahil jika Daren benar-benar menyukainya. Bukankah itu menentang takdir seorang tuan Muda?
Olivia bangkit dari tempat tidur, dia mengambil handuk untuk mandi dan berangkat kerja. Tapi kemudian dia teringat, tadi malam Daren membantunya mengeringkan rambut dengan handuk itu.
__ADS_1
Olivia menatap gumpalan surat yang tergeletak diatas lantai. Lagi-lagi dia memikirkan sikap Daren yang selalu mengerjainya. Bodoh jika dia percaya lagi. Olivia terus menyadarkan dirinya kalau itu tidak benar.
"Olive." Bunda berdiri di depan kamar dengan wajah yang kesal.
"Apa yang kau lakukan pada Daren?"
Olivia mengerutkan dahinya. Bukannya kebalik? Seharusnya bunda bertanya, apa yang Daren sudah lakukan padanya. Bukan bertanya keadaan Daren sialan itu. Batin Olivia.
"Kepalanya berdarah, katanya terbentur tembok. Itu pasti perbuatanmu, kan? Mana mungkin dia jatuh seperti itu. Bunda dengar kok, tadi malam kau membentaknya."
Olivia menganga. Daren berdarah? "Tapi, Bun.."
"Itu bekas darahnya masih ada disana." Elisa menunjuk tembok tempat dimana Olivia mendorong tubuh Daren. Bekas Darah itu terlihat menempel di tembok. Tapi ia tak tahu kalau lelaki itu sampai berdarah begitu.
"Untung dia tidak mengadukan itu pada tuan besar. Kalau tidak, haah." Elisa membuang napas kuat-kuat. "Mungkin kau sudah masuk penjara seumur hidup!" Tukas Elisa sambil berlalu menuju dapur.
Olivia mematung, menatapi bekas darah Daren disana. Dia tidak sangka sampai seperti itu. Tapi jika diingat lagi, memang Olivia mendorongnya begitu kuat.
~
Olivia mendorong sepedanya sambil berjalan perlahan. Dia merenung, sejak kehadiran Daren tadi malam, lalu kepala Daren yang berdarah, sampai surat yang ia tinggalkan di atas nakas membuat konsentrasi Olivia teralihkan. Dia sampai enggan mengayuh sepeda dan memilih mendorong saja dari pada ia terjatuh karena terus mengkhayal.
Rasanya Olivia mulai kasihan pada Daren. Apa dia terlalu berlebihan pada lelaki itu? Tidak, lagi-lagi Olivia menggelengkan kepala. Dia tidak berlebihan, justru laki-laki itu yang sudah mempermainkan perasaannya.
Walau begitu, Daren sudah berulang kali datang ke rumah, menunggu untuk bicara padanya dan dia malah enggan menemuinya. Tapi Olivia juga belum bisa melupakan sikap Daren padanya yang sangat keterlaluan, menjadikan perasaannya sebagai candaan belaka. Dia benar-benar sangat jahat, kan?
Olivia berhenti sebentar untuk mengambil napas. Sejak tadi rasanya terlalu sesak. Dia sampai tidak bisa memikirkan hal lain selain Daren.
Terlalu sibuk dengan perasaanya sendiri, Olivia sampai tidak sadar bahwa dari jauh, dia diperhatikan oleh Daren.
Lelaki itu memandang Olivia dikursi belakang dengan kepala yang diperban. Mengetahui apa yang terjadi pada Daren, membuat ayahnya mewajibkannya jalan dengan pengawal. Tentu itu membatasi langkah Daren saat ini.
__ADS_1
Perlahan mobilnya mengikuti Olivia dengan jarak yang agak jauh. Daren melihati Olivia yang terlihat tidak konsentrasi. Ingin sekali ia menemui gadis itu. Tapi dia cukup tahu diri, Olivia bahkan sudah sangat benci padanya. Namun, Daren mulai penasaran, apakah Olivia sudah membaca suratnya? Apa reaksi Olivia? Apakah gadis itu berencana membuka blokir nomor ponsel dan membalas pesannya?
Daren membuka ponsel, tetapi tidak ada apapun dari Olivia. Bahkan nomornya masih diblokir oleh gadis itu.
Daren terus mengikuti Olivia sampai dia tiba di kedai Clair. Daren melihat mobil Hugo juga disana. Tapi dia tidak berniat masuk ke dalam demi menjaga suasana hati Olivia, dia pun menyuruh supirnya jalan dan menjauh dari kedai itu.
Richi dan yang lain tengah asyik membahas perihal pernikahan Harry dan Shera dua hari lagi. Mereka juga dibagikan dress seragam sebagai bridesmaid Shera.
Richi memperhatikan Olivia. Gadis itu mengelap gelas sambil menatap kosong ke depan. Nampaknya ada sesuatu yang membuat Olivia melamun seperti itu.
"Liv, kenapa melamun? Sini." Richi mengayunkan tangannya, mengajak Olivia untuk duduk bersama mereka.
"Iya. Nih, dapat dress dari Shera. Pagi-pagi sudah harus sampai di gedung." Sambung Bella, mengangkat paperbag milik Olivia.
Gadis itu membuka apron. Dengan lesu dia melangkah ke meja teman-temannya.
"Liv, sakit?" Tanya Richi lagi.
Olivia duduk dan menggelengkan kepala. Dia mengambil paperbag dan membuka isinya.
"Jadi, konsepnya kita berpasangan. Seperti biasa, Darrel dengan Hugo, aku dengan Simon, kau dengan Darren dan-"
"Apa?" Olivia memotong ucapan Clair.
"Kau dengan..."
Olivia mendesah kesal. Dia kembali ke belakang meja bartender dan mulai mengelap gelas lagi.
"Sudah kubilang, jangan pasangkan dia dengan Daren." Bisik Bella.
"Lalu, bagaimana?" Bisik Clair pula.
__ADS_1
"Biar aku bicara dengannya dulu." Richi berdiri dan menghampiri Olivia yang wajahnya masih tampak kesal.