Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
KERJA PAKSA


__ADS_3

"Chi, kau serius akan menikah dengan Hugo??" Greta lagi-lagi muncul disaat gosip terdengar di telinganya.


"Astaga! Aku tidak sangka kau menikah muda. Padahal kupikir kau tidak akan menikah." Lanjutnya lagi tanpa mendengar jawaban Richi.


Karena tingkah Hugo saat jam makan siang tadi, Richi jadi tidak tenang dengan berbagai pertanyaan orang-orang yang menyayangkan keputusan mereka dan dinilai terlalu dini.


Sepulang sekolah, Richi bermain basket bersama Axel, Frans, dan lainnya, sedangkan Hugo duduk sambil memainkan ponsel Richi. Dia membuka laman profil Richi dan akan mengunggah foto dirinya bersama Richi saat di dalam mobil. Seperti biasa, Hugo mengambilnya diam-diam karena Richi tidak begitu suka berfoto.


Dia dengan tersenyum senang saat berhasil mengunggahnya dengan kalimat yang dia buat sendiri.


"Aku dan Hugo, kekasihku🤍"


Tak lama, komentar berdatangan di foto itu.


'Siapa yang mengunggahnya? Bukannya Richi tengah bermain basket? Haha.'


'Hugo, kau ketahuan memainkan ponsel Richi, ya?'


'Hugo duduk di pinggir lapangan sambil bermain ponsel'


'Hugo telah bucin, pemirsaaa.'


'Apa sih, Hugo. Privasi Richi telah rusak.'


'Hugo alay, Richi tak sealay dirimu'


'Ku tidak sangka Hugo ternyata seperti ini, hahaa'


"Pada kenapa, sih? Memangnya kenapa kalau aku yang mengunggahnya??" Protes Hugo pada layar ponsel Richi.


"Hei, Hugo! Ambilkan bola di dekatmu itu!" Teriak Isac pada Hugo yang langsung memasukkan ponsel ke saku celana.


Dia mengambilnya dan dari tempatnya melempar bola ke keranjang dan BLAR! Bola masuk dari jarak jauh.


Richi memberi kode dengan dagunya untuk menyuruh Hugo masuk dalam lapangan.


"Ayo, taruhan." Tukas Daren tiba-tiba.


"Boleh saja. Richi lawan aku. Kalau kau kalah, kau harus menikah denganku." Ucapnya pada Richi yang hanya melengos mendengarnya.


Sementara perkataan Hugo itu membuat teman-temannya tertawa lebar.


"Hugo, kalau kau mau menyalurkan sesuatu, pakai saja Dita!" Ucap Axel sambil tertawa.


"Dita? Siapa?" Tanya Frans penasaran.


"Hugo punya perempuan simpanan?" Sambung Erick lagi. Mereka menatap Richi yang memantul-mantulkan bola tanpa peduli pada percakapan para lelaki itu.


"Ditangan! Hahahaha." Tawa Axel semakin menjadi-jadi saat Richi hanya mengerutkan dahi tak mengerti, sementara yang lain tertawa saat mulai paham maksud Axel.


"Hei, kau pikir pernikahan soal begitu! Kau yang anak-anak tidak akan paham!" Omel Hugo pada Axel.


"Memangnya kau paham?" Tanya Isac.


"Pahamlah. Pernikahan itu soal komitmen, tanggung jawab, juga kesetiaan." Dia melirik Richi dan mengedipkan sebelah matanya.


"Sudahlah, biarkan saja dia. Kita kembali ke taruhan tadi. Tim yang kalah akan mentraktir makan." Usul Axel.


"Terlalu murah! Kalau kalian menang, aku akan bawa kalian ke Villa Tanvorium-ku." Celetuk Hugo.


"Kau serius?" Mata Isac berbinar mendengarnya.


"Iya, tapi aku satu tim dengan Richi dan kalau kalian kalah, kalian yang traktir ke tempat-tempat indah. Setuju?"


"Setujuuu!" Teriak yang lain dan bersiap memulai pertandingan.


"Hugo, Villa apa yang kau sebutkan itu?" Bisik Richi.


"Nanti kau juga akan tahu. Kalah atau menang, aku akan membawamu kesana, Beb."


Richi menahan tawa mendengar panggilan Hugo yang kian berubah setiap harinya.


Pertandingan dimulai. Hugo, Richi, Frans dan Eric satu kelompok melawan Daren dan lainnya.

__ADS_1


Mereka tampak sangat menikmati pertandingan. Sesekali sepasang kekasih itu bercanda seakan lupa orang-orang sekitarnya.


Skor tim Hugo sudah tinggi. Richi dan Hugo yang paling dominan dalam permainan itu. Tidak diragukan, gesitnya Richi sangat berguna bagi Hugo yang selalu tepat dalam menembak dari jarak dekat maupun jauh.


"Triple point!" Teriak Frans girang saat Hugo berhasil memasukkan bola dari jauh.


"Cowokmu ini keren, kan?" Bisik Hugo pada Richi.


Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya.


Pertandingan usai, tim Daren kalah telak dari Hugo.


"Kalian mau kemana? Aku akan urus." Ucap Daren langsung membayar hutang.


"Kalah atau menang, aku akan tetap membawa kalian ke Villa-ku." Sambung Hugo dan langsung mendapatkan sorakan meriah dari teman-temannya.


"Kapan? Aku tidak sabar." Kata Frans antusias.


"Diskusikan saja, aku siap kapanpun." Jawab Hugo lalu merogoh ponsel Richi yang bergetar di saku celananya.


"Clair menelepon." Hugo menyerahkan ponsel Richi.


Gadis itu menjauh sambil mendengarkan apa yang Clair katakan dari seberang.


"Apa katanya?" Tanya Hugo mendekat.


Richi memandang tajam padanya. "Kau tidak memberitahuku?"


"Apa?"


Richi melipat tangan di dada, "jangan pura-pura tidak tahu!"


"Bukan begitu, Ricky yang tidak ingin mengajakmu." Jawab Hugo jujur.


"Aku ketua tim, bagaimana mungkin tidak ikut?"


"Ini misi terakhir dalam pengungkapan identitas tuan besar itu. Aku juga khawatir. Chi, kau tinggal saja, ya? Aku yang akan menggantikanmu." Bujuknya supaya Richi tidak perlu ikut misi malam nanti.


"Baiklah."


...🦉...


TIN!!


Olivia terperanjat dengan klakson mobil di belakangnya saat ia tengah memarkirkan sepeda.


Daren keluar dari mobil dan langsung bersandar di kap depan jeep merahnya.


Telunjuknya bergoyang menyuruh Olivia mendekat.


Gadis itu dengan kesal menurut. "Apa?" Tanyanya dengan ketus.


"Ikut aku."


"Aku sibuk." Jawab Olivia.


"Aku menawarkanmu pekerjaan ringan dan bergaji besar." Daren melipat tangan di dada. "Kalau mau, kau tidak perlu bekerja di kafe murah itu lagi.


"Tidak mau. Sudah, ya." Tanpa berpikir, Olivia menjawab dan langsung melangkah masuk dari pintu belakang kafe.


"Olive, tuan muda ganteng itu mencarimu tadi." Kata teman kerja Olivia.


Olivia berdecak mendengar kata 'ganteng' yang diucapkan temannya itu.


"Lho, kenapa datang?" Manager Olivia berdiri di ambang pintu.


Olivia mengerutkan alis mendengar pertanyaan managernya. "Saya kan, mau bekerja, pak."


"Tidak lihat ada anggota baru?"


Olivia menoleh ke arah mata Managernya memandang. Disana ada seorang perempuan tengah melayani pelanggan.


"Kamu saya berhentikan. Ini pesangonmu beberapa minggu ini."

__ADS_1


Olivia diam memandang amplop putih yang diserahkan managernya.


"Ayo, ambil. Ini sudah saya tambahi dengan bonus karena sudah menjadi karwayan yang baik."


Olivia mengambilnya dengan berat hati. "Saya salah apa ya, pak. Kenapa saya diberhentikan?"


"Saya kebanyakan karyawan. Jadi harus diberhentikan salah satunya."


"Tapi kenapa terima karyawan baru kalau memang sudah cukup?" Tanya Olivia bingung dengan alasan yang seperti dibuat-buat.


"Terserah saya, dong. Sudah, saya mau bekerja lagi." Managernya melangkah memasuki ruangannya sementara teman Olivia menenangkan gadis itu yang masih bingung.


Olivia keluar lagi. Dia terlihat lesu karena kehilangan pekerjaan paruh waktunya yang berharga.


Matanya menangkap Daren yang duduk di kap mobil sambil menatap ke arahnya.


Olivia mengeraskan rahang, dia mulai tahu perbuatan siapa memberhentikan dirinya.


"Apa maksudmu?"


"Apa?" Tanya Daren balik.


"Kau sengaja menyuruh atasanku untuk memberhentikanku, kan? Supaya aku bekerja padamu? Kau sakit hati karena aku tidak menurut perkataanmu kemarin?" Nada Olivia meninggi, dia menatap kesal ke arah Daren yang ikut menatap dingin ke arahnya.


Daren turun dari kap mobilnya. "Kau.. menuduhku melakukan itu?"


"Terlalu kelihatan! Terima kasih, tuan Daren. Anda luar biasa." Ucapnya lalu menarik sepeda dari rak parkir.


"Kalau begitu, kau bekerja saja padaku. Kerjamu tidak berat, hanya menjadi supirku."


Olivia tidak mendengarkan. Dia mulai menaiki sepedanya.


"Gajinya tiga kali lipat."


Olivia melirik sekilas pada Daren lalu mengayuh sepedanya.


Daren menggeleng tak percaya. Sungguh gadis itu sangat keras kepala. Dia mengejar Olivia. Gadis itu mengayuh agak cepat di jalan kecil sementara Daren mengendarai mobil di sebelah jalur sepeda.


TIN!


Daren menglakson, tetapi Olivia tidak peduli.


TIINNNNN!!!


Klakson panjang dan keras Daren luncurkan hingga membuat gadis itu terkejut dan oleng ke samping. Dia terjatuh.


Dengan cepat Daren keluar dari mobil, berjongkok di hadapan Olivia yang memegang lututnya yang berdarah.


Melihat itu, Daren langsung mengambil kotak P3K di mobilnya.


"Kau ceroboh sekali." Tukas Daren sembari membuka kotak obat.


"Ceroboh? Kau mengagetkanku, sialan!"


Makian Olivia sukses membuat Daren menatap tajam ke arahnya. Bukannya takut, Olivia justru lebih berani.


"Tidak perlu diobati. Ini luka kecil!" Tukasnya lalu berusaha berdiri.


Dengan cepat Daren menarik tangan Olivia hingga membuat gadis itu terduduk lagi.


"Aaakhhh!" Dia memegang pantattnya yang sakit. "Kau!!" Pekiknya geram.


"Perempuan yang merasa kuat sepertimu sebenarnya banyak beban. Kau hanya berusaha tegar." Ucapnya sambil mengelap darah yang mengalir kecil di lutut Olivia.


"Jangan sok tahu! Aku tidak punya kesedihan."


"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Kata Daren sambil fokus pada upayanya mengobati luka Olivia.


"Aku sudah mengobatimu. Sebagai balasan atas kebaikanku, mulai besok kau harus menjadi supirku. Besok aku ada acara, jadi kau harus datang ke Oberon pukul 2." Daren menutup kotak obat dan melangkah menuju mobilnya.


"Kau gila??? Kau pikir siapa yang mau diobati?? Heeiii, kau dengar aku?? Aku tidak mau!!" Teriak Olivia pada Daren yang tampak tidak peduli. Dia langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Olivia dengan segala kekesalannya.


"Aaaarrgh! Orang kaya gilaaa!!" Teriaknya dengan sangat marah.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2