
"Aku tahu kita tidak bisa melawan mereka" suara Lexus tercekat. Dia duduk dan menunduk dalam. Sementara saudara kembarnya, Saver berdiri pada tiang pembatas balkon, menatap ke bawah gedung yang tinggi sambil sesekali menyesap rokoknya.
Mereka hanya diam disana, merenung memikirkan nasib mereka yang memilih menjadi pengkhianat demi mendapatkan harta yang lebih banyak.
"Ini semua salahmu. Kalau bukan karena kau, aku pasti masih menjadi sahabat Erhard." Keluh Lexus.
Terdengar helaan napas kasar dari Saver. Dia menatap saudaranya. "Disaat seperti ini, baru kau menyalahkanku? Selama ini kau juga senang-senang saja. Disaat hidup kita berdua bergantung pada lelaki tua sialan itu, baru kau menyalahkanku!" Pekik Saver, melempar puntung rokok ke arah Lexus.
"Kau seharusnya bisa melawan Darrel! Kau pasti tahu kelemahannya. Kau kan, satu tim dengan Keen!" Dada Lexus naik turun, emosi mulai naik ke ubun-ubunnya.
"Kau sendiri lari darinya, Sialan! Kerjamu hanya menyalahkan orang lain saja!" Pekik Saver tak mau disalahkan.
Lexus mengerjap beberapa kali, mengingat mengerikannya Darrel kalau emosi sudah menguasai dirinya.
Waktu itu, saat mereka masih berada di posisi aman tanpa ketahuan bahwa Saver berada dipihak Valiant dan Lexus menjadi tangan kanan Hugo Erhard, mereka berdua sering bertukar posisi dan menggali informasi. Tawaran yang di dapat amat menggiurkan dari tuan besar mereka. Entah apa tujuan bos besar itu, mereka tidak tahu. Yang jelas, baik Saver maupun Lexus hanya perlu memberitahu informasi penting yang didapat dari kedua organisasi besar itu.
Lalu, entah bagaimana akhirnya Keen berhasil mencium gelagat aneh dari Lexus saat menyamar menjadi saudara kembarnya. Hingga ia dijebak dan puncaknya adalah dua tahun lalu, Lexus ketahuan membocorkan informasi dan karena ketakutannya, dia menembak Keen hingga menimbulkan kemarahan Darrel yang mengejarnya dengan dua bilah pisau di tangannya.
Mimpi buruk itu takkan mungkin terlupakan, saat wajah Darrel seperti benar-benar akan memotong tubuhnya hidup-hidup hingga menjadi beberapa bagian.
Darrel menancapkan pisau tertajam pada belakang lututnya, menariknya dengan keras sampai dia tidak bisa membayangkan lagi betapa kerasnya dia bertahan dengan kaki yang terkoyak hampir ke mata kakinya. Sementara pisau yang lain berhasil menusuk purutnya dan Darrel dengan kejam mengoreknya.
"Argh.. aku tidak ingin mengingat itu." Ucap Lexus sembari menggelengkan kepalanya, berharap masa suram itu hilang dari benaknya, dia merasa beruntung masih bisa hidup karena pertolongan Harry.
"Seharusnya kau lah yang merasakan itu, bukan aku!" Pekiknya pada Saver yang tersenyum sinis.
Ya, Lexus benar. Karena dirinyalah yang berada di tim Elang bersama Keen. Sialnya, saat giliran bertukar, Lexus tertangkap basah.
Berbeda dari Valiant, Stripe lebih mudah disisipi karena Hugo Erhard benar-benar menyerahkan hampir keseluruhan kekuasaan pada Lexus, si tangan kanan.
Lalu, karena berhasil mencuci otak anggota Stripe lainnya dan memberikan harta yang didapat dari merampok, Stripe berhasil terpecah dua. Dengan begitu, nama baik Stripe benar-benar sudah hancur.
"Tidak ada cara lain, aku harus memberikan foto Keen pada mereka. Aku akan beritahu bahwa Keen dan Darrel adalah saudara kandung." Saver mengepalkan tangannya. Matanya menatap ke bawah gedung dengan tajam.
"Kau gila? Bagaimana kalau kau diincar!"
"Aku sudah diincar dari awal, selama ini aku menyembunyikannya karena berharap Valiant mau menerimaku lagi. Tapi sekarang, jika aku tidak memberikan informasi lagi, aku yang akan dibunuh." Tukas Saver dengan gundah.
Lexus berdiri dari tempatnya, wajahnya bersinar saat lampu di kepalanya menyala.
"Saver, aku ada ide.." ucapnya lalu tertawa terbahak-bahak dengan ide cemerlangnya yang bahkan belum dia ucapkan pada saudara kembarnya.
...☠️ ...
Eddy mengepalkan tangannya, baru saja ia mendapat balasan dari tuan besar kalau dia harus menangkap gadis itu dengan imbalan apapun yang dia inginkan.
"Aku harus mendapatkan gadis itu apapun ceritanya". Gumamnya, menatap kosong ke depannya.
"Bos yakin? Kita akan dihabisi Keen jika berani menyenggol anggotanya" Jason memberi pendapat lagi.
"Itu belakangan. Yang penting setelah menyerahkan gadis itu, kita langsung meminta perlindungan dan uang sebanyak-banyaknya. Siapkan 100 anggota, bawa senjata. Cek seluruh cctv dan ikuti arah mobilnya setelah keluar dari tempat ini."
__ADS_1
Jason menundukkan kepala dan melaksanakan perintah bosnya walau dalam hatinya amat menyayangkan keinginan bosnya yang mempunyai resiko besar.
Tak berapa lama, Jason menemui bosnya lagi.
"Bos, Mereka ada di hotel Bellz-air."
Eddy tersenyum sinis. "Perintahkan anggota untuk bergerak sekarang." Titahnya.
"Baik bos." Jason dengan sigap menggerakkan anggota, sementara Eddy terus tersenyum memikirkan apa yang akan dia minta dari tuan besar itu.
"Kau takkan bisa berkutik, Darrel. Jika banyak yang mengepungmu, kau takkan berkutik. Anggap saja ini bagian dari balas dendamku padamu." Gumamnya lalu tertawa lebar.
...🐥 ...
"Perhatian sekali, ya" Hugo meneguk air di depannya, dia tengah menahan rasa cemburu dan kesal yang menyatu.
Richi tak menyahut, dia menatap layar ponselnya. Sempat hampir berteriak tadi saat dengan ngototnya Harry ingin membawanya ke dokter karena alasan yang Richi buat adalah sakit.
"Bagaimana caramu mengakhiri hubungan dengannya?" Tanya Hugo masih dengan wajah kesalnya.
"Tidak tahu. Jalani saja dulu, toh waktunya tinggal beberapa hari lagi."
"Beberapa hari?"
Richi mengangguk. "Berdasarkan informasi yang didapat Bella, dia akan meledakkan gedung-gedung pada malam senin. Untunglah semua gedung sudah aman, bom sudah ditaklukkan."
"Malam senin? Itu adalah acara peresmian cabang baru ayahku."
"Yang penting sudah aman untuk rencana pengebomannya. Aku hanya ingin dia memberitahuku lokasi rahasianya, tempatnya berkumpul dengan para anggotanya." Richi mengaduk susu hangat di depannya.
Hugo mengangguk. "Ada, tapi aku sudah lama sekali tidak lihat. Biasanya ada di gedung kantor pusat. Kenapa?"
"Berdasarkan informasi, helikopter yang dipakai Harry saat itu adalah milik ayahmu."
"Apa?" Terlihat gurat bingung di wajah Hugo, itu artinya Hugo memang tidak tahu apa-apa soal itu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa aku bisa mengandalkanmu untuk urusan itu."
Hugo tak menyahut, dia seperti tengah berpikir apa yang barusan Richi katakan.
"Ayo, masih ada yang harus kuurus." Richi beranjak dari tempatnya. Kini dia punya sesuatu untuk dilakukan.
...🦍 ...
"Iya, Bu. Aku tahu. Iya, baiklah." Ricky berdiri di deretan berbagai merk minuman sambil menelepon Ibunya. Entah ada apa Mary menyuruhnya membeli beberapa minuman yang katanya ingin sekali ia coba. Padahal ada pelayan, tapi Mary hanya ingin Ricky yang membelinya.
"Hah, dasar Ibu-Ibu." Gerutunya sambil memasukkan ponsel ke saku jeketnya. Dia fokus lagi memilih apa yang dikatakan Ibunya tadi sembari membenarkan posisi topinya.
Lalu tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah kasir. Sekitar 5 orang pria bertopeng membawa senjata memporak porandakan toko. Salah satu diantara mereka mengancam kasir untuk menyerahkan uang. Sementara yang lain mengambil barang-barang di toko itu.
Beberapa orang di dalam tampak menjerit dan ketakutan, mereka juga merampas dompet beberapa pembeli di dalam.
__ADS_1
"Serahkan dompet dan ponselmu!" Dia menodongkan senjata api pada Ricky.
"Hei, cepat buka lacimu! Aku Keen dari Valiant." Mendengar itu, si kasir dengan tangan gemetar memberikan seluruh uang di dalam laci kasir.
"Kami Valiant, jangan macam-macam dengan kami!" Ucap pria yang menodongkan pistol pada Ricky.
Ricky menatap tajam. Berani benar orang-orang ini merusak citra Valiant apalagi si brengsek yang menyamar menjadi dirinya.
Ricky menggenggam dengan kuat pistol di tangan pria itu, lalu dengan cepat melepaskan pelurunya hingga berjatuhan ke bawah lantai.
Ricky berjalan melewati pria itu yang tampak terbengong.
Dia melihat pria yang menyamar menjadi dirinya dari atas hingga bawah.
Pria itu menodongkan pisau ke arah Ricky "Hei, sialan! Angkat tanganmu! Aku Keen. Jangan macam-macam dengan...Aaarghh.."
Ricky menggenggam keras pergelangan tangan pria itu hingga ia menjatuhkan pisaunya.
KRAK!
Pria itu menjerit saat Ricky mematahkan tangannya hanya dengan satu tangan.
Sontak hal itu membuat beberapa temannya mendatanginya.
"Jangan coba-coba menyamar menjadi orang lain!" Suara berat dan tatapan tajam Keen membuat pria itu gemetar.
"Aa-aahkkh. A-ampun.." pria itu tak bergerak, tangan Ricky belum terlepas darinya. Lalu tatapannya beralih ke keempat temannya yang berangsur mundur saat melihat wajah bringas Ricky.
"Hei, lepaskan dia! Atau kau kubunuh!"
Ricky semakin mencengkram tangan pria itu hingga jeritannya benar-benar memekik telinga.
"Hiaaatt.."
Ricky langsung menendang pria yang datang menghajarnya, dengan kakinya saja dia mampu menjatuhkan keempat orang itu.
Mereka berlari keluar, sementara yang satu masih di genggaman Ricky.
"Jika kau kudapati menggunakan namaku, kau akan habis ditanganku." Bisik Ricky dengan tatapan mengerikannya, membuat pria itu langsung terjatuh dan merangkak mundur.
"A-ampun.. aampun.." dia langsung bangkit dan berlari ketakutan meninggalkan hasil rampasannya.
Ricky berjongkok, mengutip uang yang berserakan.
"Terima kasih, terima kasih.." ucap sang kasir sambil ikut mengutip uang yang bertabur di lantai.
Setelah beres, Ricky menaiki motornya. Dia merogoh ponselnya saat alarm yang sudah lama tak terdengar malah muncul di ponselnya.
Dia menatap layar dengan terbelalak.
"Apa? Richi.."
__ADS_1
Ricky langsung menancap gas motornya dengan kecepatan penuh, menuju lokasi yang telah dikirimkan untuknya sebagai tanda merah, tanda bahwa adiknya sedang dalam bahaya.
TBC