
"DARREELL!!" Olivia dan yang lain berlari ke arah Richi. Sementara Ricky, dia berjalan dengan tatapan mata yang membunuh ke arah laki-laki yang tengah menangis terduduk di atas tanah.
"Kau orangnya??" Clair mencengkram kerah baju Damian sampai ia berdiri lalu menendang keras perut lelaki itu.
Damian tersungkur tepat di kaki Ricky. Dia merintih, memegangi perutnya yang terasa amat sakit.
"Kau tidak apa-apa, Rel?" Tanya Bella.
"Tanganmu kenapa?" Olivia meraih tangan Richi yang diperban.
"Hei, kau yang membuat kekacauan ini?" Tanya Aron.
"Memangnya siapa lagi??" Bentak Olivia.
"Wah, kau benar-benar ya, Darrel." Ujar Aron sambil terkikik.
Di lain tempat, Ricky menyeret Damian dan menghentakkan tubuh lelaki itu ke sebuah tembok bangunan disebelahnya. Ricky mengeraskan rahang, menekan leher Damian dengan satu tangan sampai lelaki itu meringkik dan berjinjit.
"Kau pasti sudah tahu aku kan, bajingan!" Suara Ricky pernah ia dengar saat di dalam kamar Richi, namun tak pernah seberat ini. Damian mulai kehabisan napas.
"Kalian, pergilah lihat Keen. Dia bisa membunuh anak itu." Ucap Richi menoleh ke belakangnya.
"Kau pikir kami berani?" Tukas Clair.
"Biarkan saja. Dia patut menerimanya." Sahut Bella.
"Dia tidak sadar telah membangunkan raja rimba." Sambung Olivia lagi.
"Cepat, ceritakan padaku kenapa kau bisa duluan sampai sini! Kau tidak tahu betapa repotnya aku mencari alamat ini? Sial sekali, tahu-tahu kau malah sudah membakarnya tanpa aku tahu apa di dalamnya!" Omel Aron pada Richi dengan tangan melipat di dada.
"Kau saja yang tak cerdas." Cetus Richi dengan ringannya.
"Apaa?? Kau mulai lagi, hah? Kau pikir aku mau melakukannya secara percuma? Kalau tau aku akan dihina begini, aku tidak akan menolongmu!" Aron menggerutu pada Richi panjang lebar, membuat telinga yang lain ikut panas.
Omelan Aron terhenti saat mendengar teriakan keras dari Damian. Lelaki itu terduduk di tanah dengan memegang jari-jari sebelah kanannya yang sudah di patahkan oleh Ricky.
"Sudah ku duga.." celetuk Olivia.
"Sebenarnya aku sudah menghubungi Hugo, tapi dia belum datang." Kata Clair yang spontan membuat Richi mengingat lelaki itu. Padahal dia sempat lupa.
Sementara Damian, dia terus meminta ampun pada Ricky yang sejak tadi tak memberinya kesempatan bernapas.
"A-ampun.. ampunkan aku.." Tangisan Damian terdengar kuat di telinga Olivia dan yang lain padahal jarak mereka cukup jauh.
Ricky ikut berjongkok dan menatap Damian dengan tajam. Damian pula menunduk dengan tangan yang bergetar. Kacamatanya sudah remuk akibat hantaman Ricky di wajahnya.
"Kau tahu, tak pernah ada ampun untuk orang yang sudah merusak keceriaan adikku!"
"I-iya, iya.. aku tahu.. a-aku janji.. a-akan berubah.. a-aku janji ti-tidak akan mengganggu Richi la-lagi.." Ucapnya dengan terbata-bata karena sangat takut dengan Ricky.
"Berdiri." Titah Ricky.
__ADS_1
Damian dengan sisa tenaganya, berusaha berdiri. Dia sudah sangat terlihat kacau.
Ricky yang melihatnya pun hampir tak percaya. Laki-laki yang ia hajar seperti tak punya kekuatan sedikitpun, bahkan sangat culun untuk sekedar menyukai adiknya pun rasanya tidak pantas.
"Ku rasa Damian bisa mati di tempat."
"Benar, Liv. Kita harus menghentikan Komander." Sambung Bella.
"Kau saja sana!" Tukas Clair pada Bella yang langsung mengedikkan bahu, merasa ngeri.
"Kaaak. Sudahi sajaa! Aku mau pulaaang!" Teriak Richi pada akhirnya, demi supaya Damian tidak mati. Namun apa yang dilakukan laki-laki itu? Melihat kesempatan saat Ricky berpaling darinya, Damian malah lari.
"Wah, dasar gila!" Olivia dan yang lain menggelengkan kepala karena menurut mereka, Damian terlampau berani.
BUK!
Suara keras terdengar. Damian terkapar di tempat akibat lemparan helm yang amat kuat.
"Hugo?" Mata Bella menyipit, memastikan siapa lelaki berbaju hitam di dekat rel sana.
"Benar-benar pahlawan kesiangan." Sambung Olivia sambil terkikik.
"Kau bisa bawa mobil?" Tanya Richi pada Aron.
"Kau sedang menghinaku?"
Richi melemparkan kunci mobilnya pada Aron. "Ku traktir makan siang, mengganti yang kemarin."
"Aku menunggu disana." Richi melangkah pergi ke arah lain, dia masih malas melihat Hugo dan memilih pergi.
"Sepertinya kita juga harus pergi. Suara sirine mobil damkar mulai terdengar." Kata Clair pada yang lain. Merekapun beranjak menuju motor mereka.
Hugo berjalan mendekati Damian. Lelaki itu mundur dengan sisa tenaga. Dia tidak berani berhadapan dengan Hugo. Namun dia pun tersadar saat dibelakangnya, Ricky sudah berdiri menantinya.
"Kau menaruh kamera di kamar kekasihku? Kau ingin mati rupanya." Berang Hugo.
"A-aku..."
Tak mau mendengar ucapan Damian, Hugo langsung menghajar lelaki itu sampai ia benar-benar separuh sadar.
"Patahkan jari-jarinya supaya dia berhenti jadi hacker." Tukas Ricky dan mendapat anggukan dari Hugo.
"Ti-tidak.. tunggu.. a-ampun.. aa-aku AAAAAAAAAAAK!" Teriakan Damian terhenti karena dia sudah tak sadarkan diri.
...🦋...
"Yang tadi itu, siapa?" tanya Aron, dia menatap ke depan sesekali melirik kesebelahnya.
"Yang mana." Tanya Richi dengan malas. Dia tahu persis siapa yang dimaksud Aron.
"Yang tadi. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi dimana, ya? Hm.." Aron tampak berpikir. Dia tadi melihat Hugo ikut berang karena si hacker itu. Lalu, Richi mengajak pergi disaat kemunculan Hugo. Dia mulai mengerti, ada hubungan diantara Hugo dan Richi.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Richi, mengalihkan topik.
"Aku ingin makan eskrim."
"Kau ini persis anak kecil!"
"Memangnya cuma anak kecil yang boleh makan eskrim??" Tanya Aron sekaligus menjulurkan lidah pada Aron.
"Terserah padamu. Aku lapar dan mau makan."
"Oke. Aku akan cari tempat yang pas dengan pakaianmu." tukas Aron. Dia melirik Richi sambil mengangkat alis.
Richi mendesah pelan. Dia lupa kalau tengah memakai dress yang agak mewah untuk sekedar makan di kafe.
~
Aron memilih sebuah tempat makan di ruang outdoor di sudut kota. Richi belum pernah ke tempat itu sebelumnya. Kata Aron, tempat itu menyediakan makanan berat dan ringan termasuk aneka macam eskrim.
Untung cuaca sedang baik, sehingga duduk di tempat terbuka seperti itu tidak membuat mereka kepanasan.
"Nah, pakai jeketku. Bajumu terlalu seksi untuk perempuan tomboi sepertimu." Aron menyerahkan jeket kulitnya, kemudian keluar duluan dari mobil.
Richi langsung memakai jeket itu karena memang dress yang ia pakai hanya bertali satu.
"Kau jangan terkejut kalau tiba-tiba mendengar suara bom." Ucap Aron saat Richi menyamakan langkah dengannya.
"Kenapa?"
"Tempat ini dekat dengan lapangan bom."
Richi mengerutkan dahi. "Kau membawaku ke tempat seperti ini??"
"Tenang. Disini aman, kok."
Richi menghela napas. Baru bertemu Aron, dia sudah sering senam rahang karena kesal.
"Duduk disana. Aku mau ke toilet. Pesankan aku eskrim coklat satu ember." Kata laki-laki itu kemudian berlalu pergi.
Richi menggelengkan kepala melihat keanehan Aron itu. Richi ingin duduk, namun matanya menangkap Erine yang tengah bermain game di ponsel. Di mejanya juga ada Eline dan beberapa laki-laki yang nampaknya sedang tidak baik-baik saja. Seperti ada pertikaian kecil.
Tapi, ada yang membuat mata Richi menatap Erine lama. Yaitu dia memakai jeket yang Richi kenali. Jeket Hugo. Kenapa Erine bisa memakai jeket Hugo? Tanya Richi dalam hatinya.
"Hei, kami ini dari Valiant, kau tahu??" Pekik Eline dan langsung membuat Richi menatap mereka. Ada apa? Kenapa Eline memakai nama Valiant saat diluar, padahal itu dilarang. Tentu saja Richi langsung berjalan mendekat. Dia ingin tahu apa yang terjadi, kenapa mereka membawa-bawa nama kelompoknya.
"Kau pikir, aku percaya, hah? Tidak ada perempuan di dalam Valiant. Sial!" umpat laki-laki itu dengan geram.
Erine yang sejak tadi hanya diam, menendang meja yang langsung terhantam ke dada laki-laki di depannya. "Berisik! Gara-gara kau aku kalah." Kata perempuan itu. Lalu dia melipat kaki dan melanjutkan permainannya.
"Kalian tidak bisa sesuka hati seperti ini! Memangnya ini punya kalian?!" pekik lelaki itu.
"Bangsat, banyak omong!" Eline menendang laki-laki itu sampai ia tersungkur persis dibawah kaki Richi. Membuat kedua mata perempuan itu membelalak. Sementara Richi menatap kedua orang itu secara bergantian.
__ADS_1
"D-darrel..."