
Hugo tengah melatih Erine. Dia memperhatikan gadis itu meninju samsak. Eline yang sebenarnya juga ikut latihan, kabur dengan alasan ingin membeli sesuatu dan akan kembali secepatnya. Tapi sudah 30 menit dia tak juga muncul.
Erine meninju samsak dengan kuat, terlihat gurat serius di wajahnya. Nampaknya dia tengah menyalurkan emosinya.
Pukulan itu terhenti tatkala Hugo menahan tangannya.
"Kau tidak bisa belajar dengan emosi. Ilmu itu akan mendal dan kau hanya akan kehilangan banyak energi."
Erine menarik tangannya yang digenggam Hugo. "Aku mau istirahat."
Erine duduk dan menenggak air dalam botol. Napasnya terengah dan keringat sudah membasahi tubuhnya.
Hugo menghampirinya, duduk disebelahnya.
"Kau sedang ada masalah, ya?"
"Tidak."
"Tapi terlihat seperti itu."
"Tidak."
Hugo memangku kaki, kepalanya sedikit miring menatap Erine.
"Semakin kau berkilah, maka semakin terlihat."
Erine berdecak. "Urus saja masalahmu sendiri."
"Ternyata aku benar, kau tengah ada masalah."
Erine melirik Hugo sekilas dengan wajah juteknya.
"Erine. Padahal, kalau kau senyum sedikit saja, kau terlihat lebih baik."
Erine langsung beranjak dari duduknya menuju pintu keluar.
"Hei, mau kemana??"
"Cari angin." Jawab gadis itu dan ia berpapasan dengan Eline yang baru saja masuk.
"Kau mau kemana?" Tanya Eline, dan Erine hanya mengangkat bahunya.
Hugo tertawa kecil, memang Erine sangat mirip sifatnya dengan Richi. Itu membuat Hugo lebih mudah menanganinya. Latihan telah usai, Hugo memakai sleeveless Hoodie-nya, membuat dirinya sangat terlihat tampan.
"Kau mau pulang, Hugo?" Tanya Eline yang baru muncul dari pintu masuk.
Hugo membereskan barang-barangnya. "Aku berencana bertemu Richi."
"Oh, ngomong-ngomong soal Darrel, videonya tersebar sangat luas. Aku yakin dia tidak nyaman." Tutur Eline.
"Kau benar. Dia tidak suka yang seperti itu."
__ADS_1
"Aku tahu sebab Erine juga demikian. Dia mirip seperti Darrel."
Hugo mengangguk lambat. "Aku juga merasa seperti itu. Ada beberapa bagian yang dia mirip dengan Richi."
"Tentu, semua orang berpikir begitu, kok. Itu sebabnya dua orang itu perang dingin."
Hugo mulai penasaran. "Apa ada sesuatu diantara mereka?"
"Kurasa tidak. Itu mungkin karena mereka sering dibanding-bandingkan oleh anggota tim lain dan membuat kedua orang itu saling tidak suka." Jelas Eline. Dia kemudian menarik napas. "Kadang-kadang Darrel bersikap berlebihan. Aku jadi kasihan pada Erine. Aku juga yang memaksanya untuk ikut gabung lagi dengan Valiant, karena awalnya dia menolak."
Nampaknya Hugo mengerti kenapa Erine waktu itu menembak ke arah Richi saat pertengkaran dua saudara itu.
"Hugo, apa aku bisa meminta bantuanmu?"
"Apa?"
"Ini.. soal Erine. Dia, benar-benar butuh bantuan darimu. Sebenarnya, dia pernah disakiti laki-laki. Bantulah dia untuk bisa berdamai dengan masa lalunya, Hugo. Kau mengerti sifatnya karena mirip Darrel, kan? Aku yakin kau bisa." Tutur Eline dengan wajah yang sangat memohon pada Hugo.
~
Richi bersama Bella menuju lokasi Clair. Dia duduk tenang dibelakang Bella yang mengendarai motornya dengan santai.
Saat di lampu merah, tak sengaja mereka berdampingan dengan beberapa siswa yang juga tengah menaiki motor. Jika dilihat dari seragamnya, mereka siswa Meteroid.
"Weeee.." Sorak siswa-siswa itu saat melihat Bella dan Richi berhenti dan yang membuat mereka semakin bersorak adalah Bella yang mengendarai motor besarnya.
"Hai, gadis-gadis cantik." Sapa seorang yang berbadan gendut, mengendarai motor besar berwarna hitam bersama temannya yang ikut menggoda dibelakangnya.
"Waah, memang bukan kaleng-kaleng nih, siswi Oberon. Nggak salah dijuluki queen of beauty." Sambung yang disebelahnya lagi.
"Tapi, Rel. Ada yang tampan, tuh." Mata Bella mengarah pada laki-laki di jajaran nomor 3, dia tampak cuek dan fokus menatap ke depan dengan motor hitamnya.
"Bener, Bell. Ganteng."
Bella malah terkikik. Aneh rasanya mendengar Richi memuji cowok begitu.
Tapi, lihatlah. Laki-laki itu berperawakan tinggi dan berhidung mancung. Apalagi dengan gayanya yang cuek itu menambah daya tarik bagi Bella, si pecinta lelaki dingin.
Dalam hitungan detik, lambu merah akan berakhir. Para siswa itu mulai menggeber motornya.
"Hai, yang dibelakang. Kamu cantik sekali. Jalan sama abang, yuk." Ujar yang dibelakang si gendut.
"Dih, najis." Sahut Bella yang tak suka Richi diganggu.
"Bagaimana kalau kita lomba. Yang kalah aku cium, yang menang akan aku kabulkan permintaanmu apapun itu. Bagaimana? Hahaha." Tawa si gendut membuat yang lain ikut tertawa kecuali lelaki dingin itu.
"Memang tidak ada yang beres nih, siswa Meteroid." Bisik Bella pada Richi.
"Apa sedang mengatai Olivia?"
Mendengar itu, Bella terkikik lagi. Benar, dia lupa kalau sahabatnya itu juga siswa Meteroid. Entah apa yang membuat Olivia bisa menyasar ke sekolah itu.
__ADS_1
Bella langsung melajukan kecepatan motornya padahal lampu hijau belum muncul, membuat para siswa itu langsung buru-buru mengejar namun mereka sudah kehilangan jejak gaDis yang membuat mereka penasaran.
~
Richi turun dari motor Bella. Dia merapikan rambut yang berantakan karena Bella membawa motornya dengan sangat kencang.
Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam kafe Clair dan mendapati Olivia sudah menutup laptopnya, bersiap untuk pergi.
"Lho, mau kemana?" Tanya Bella.
"Si Daren sialan itu memintaku datang. Hufff, sial. Malam ini dia memintaku menyetirkannya ke pesta dan dia datang bersama mantan Hugo itu." Jawab Olivia.
"Camilla, maksudmu?" Tanya Richi.
"Kau cemburu?" Tanya Bella lagi dan sukses membuat mata Olivia melebar.
"Tidak, sialan. Kau pikir kau menyukainya??"
Bella dan yang lain malah tertawa. Richi duduk, memesan makanan yang selalu ia pesan pada Clair.
"Hei, bagaimana soal hacker itu?" Tanya Bella.
"Ah, iya. Aku mendapatkan perangkatnya dan itu pernah masuk ke web Oberon."
"Apa maksudmu dia siswa Oberon?" Tanya Bella lagi.
"Tidak heran, karena pasti dia juga yang mengapload videoku." Tutur Richi.
"Aku semakin penasaran. Siapa, sih?" Bella menanyakan pertanyaan yang tak satupun orang-orang itu bisa menjawabnya.
"Sepertinya aku menyadari sesuatu." Tukas Richi. "Selama ini aku terlalu mengacuhkannya, tapi.. Sudah dari dulu dia mengunggah fotoku."
"Yang benar??" Tanya Olivia dan Bella serentak.
"Ya, aku selalu melihat foto-fotoku bertebaran di laman sekolah. Diambil dari sudut yang selalu berbeda. Aku pikir itu hanya iseng, tapi setelah kupikir-pikir lagi, mungkin dialah orangnya."
"Berarti kita harus memperhatikan orang-orang sekitarmu saat di sekolah, Rel." Kata Bella.
"Kalau begitu, berarti dia menyukaimu." Sambung Olivia, membuat Richi mengerutkan dahinya.
"Jika dia mengambil dan terus menyebarkan fotomu, artinya dia menyukaimu, kan? Jika dia melakukan kejahatan, seharusnya sudah dari dulu itu terjadi." Jelas Olivia, mendapat anggukan serius dari Bella. Sementara Richi masih diam, berpikir tentang masalah kecil yang mampir di hidupnya.
Ponsel Richi berdering, Frans yang menelepon.
'Ri, cepat cek laman sekolah sekarang.'
"Ada apa?" Tanya Richi.
'Pokoknya cek sekarang!'
Frans menutup teleponnya. Richi langsung memeriksa laman sekolah dan dia langsung berdiri dengan mata yang membulat sempurna.
__ADS_1
"Orang ini memang gila!" pekik Richi yang terus menatap layar ponselnya, yang menampilkan foto-foto dirinya dengan rambut panjang dan gaun hitam. Richi nampak elegan di foto itu. Tapi, itu foto yang tak seorangpun punya termasuk Hugo. Foto itu tersimpan rapi. Lalu, kenapa orang itu bisa menemukannya?
Di foto itu, wajah Richi tampak jelas dengan make up tipis dan rambut panjangnya. Tentu, foto-foto itu mendapatkan banyak reaksi dari para siswa Oberon.