Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Bayi Mungil Shera


__ADS_3

Hugo dan Richi turun dari mobil. Mereka sudah sampai di kediaman Harry dan Shera. Rumah sederhana dengan banyak macam bunga di halamannya.


"Wuah.. aku benar-benar suka dengan halaman Shera." Richi yang sejak dulu menyukai bunga pun menginginkan hal serupa untuk halaman rumahnya. Tapi sayang, dia tak suka berkebun. Richi hanya menyukai hasilnya.


"Nanti rumah itu juga bisa dibuat seperti ini." Sahut Hugo sembari menggenggam tangan Richi, membawanya masuk ke dalam rumah Harry.


Mereka disambut pelayan yang sudah tahu kedatangan keduanya.


"Richi."


Shera keluar dari kamar dan memeluk Richi.


"Selamat ya, Shera."


"Mau lihat anakku?"


Richi mengangguk cepat. Dia juga penasaran, seperti apa wajah anak Shera dan Harry.


Shera membawa Richi masuk kedalam kamar anaknya, diikuti Hugo dari belakang.


"Mana Harry?" Tanya lelaki itu.


"Sedang keluar sebentar." Shera membuka pintu dan langsung memperlihatkan ruangan lucu bernuansa angkasa dengan banyak bintang di atas langit-langit.


Mata Richi membulat melihat satu tempat tidur bayi di sudut ruang.


"Wah, sudah bangun rupanya, sayang." Shera menggendong bayi mungil itu dalam pelukannya, lalu memperlihatkan pada Richi.


"Ya ampun, dia mirip sekali denganmu." Richi memegang jari-jari mungil bayi Shera, dan dia terperangah saat bayi itu menggenggam jarinya.


"Shera, lucu sekali..."


Shera tertawa melihat reaksi Richi.


"Siapa namanya?" Tanya Hugo.


"Archer." Sahut Harry dari pintu. Dia lalu masuk dan memberi kecupan pada Shera. "Sudah lama datangnya?"


"Barusan. Selamat, akhirnya kau menjadi ayah." Hugo memberikan Harry pelukan.


"Lalu, kau kapan?" Lontaran Harry membuat Richi diam sementara Hugo hanya melirik geli kearah Richi.


"Kasihan sekali, berkali-kali kau ditolak Richi."


"Heyyy! Kami akan menikah, hanya menunggu waktu yang tepat." Sanggah Hugo. Tak ingin dikasihani seorang Harry.


"Menunggu waktu yang tepat, atau menunggu Richi mau menerimamu?" Ledek Harry lagi.

__ADS_1


"Apa kau bilang?"


"Bukan aku yang bilang, tapi Ayah."


"Arrgh, pak tua itu!"


"Sudahlah. Kalian bertengkar di dekat Baby Archer." Lerai Shera, tak ingin anaknya merasa bising karena dua orang tua itu.


Hugo diam menatap Richi yang nampaknya terus memperhatikan lucunya bayi mungil digendongan Shera. Wajah Richi berubah takjub dengan jari kecil yang menggenggam kelingkingnya.


"Mau gendong?" Tawar Shera.


"Ah, tidak. Aku tidak bisa menggendong bayi." Tolak Richi secara halus.


"Kita perempuan punya naluri, Chi. Kita tahu betul apa yang membuat bayi nyaman atau tidak." Kata Shera seraya menyerahkan Baby Archer ke tangan Richi yang reflek menampung.


Shera tersenyum puas melihat Richi yang masih kaku menggendong bayinya. Archer juga tampak tenang.


Hugo tak mau melepas kesempatan. Ia memotret Richi dari samping yang perlahan mulai terbiasa dan santai. Tanpa gadis itu sadari, badannya bergoyang-goyang supaya Archer tertidur.


"Lucu, dia menguap." Richi berbisik seru pada Shera. Matanya tak lepas dari wajah bayi digendongannya.


"Sudah bisa, sih." Kata Harry manggut-manggut. Lalu dia memberi kode pada Shera yang langsung paham maksud suaminya.


"Kita bahas projek kita dulu. Bagaimana kelanjutannya?" Harry merangkul Hugo sembari membalik badan untuk pergi.


"Projek apa?!" Tanya Hugo tak paham. Harry menutup pintu membawanya keluar. Sementara di dalam, Shera mulai bercerita betapa indahnya kehidupan dirinya setelah mempunyai anak.


"Aku akan sering mengunjungi Shera. Aku sudah bilang padanya dan dia sangat senang." Celoteh Richi sepanjang perjalanan. Ia juga menceritakan saat Archer buang air dengan matanya yang masih terus terpejam, membuat Richi gemas setengah mati.


"Begitu, ya." Hugo hanya manggut-manggut mendengarkannya.


"Jadi.. apa kau mau mempunyai anak?" Tanya Hugo langsung menarik kesimpulan dari apa yang sudah Richi sampaikan.


"Tidak." Jawab gadis itu cepat, membuat Hugo menoleh heran.


"Aku tahu, Shera sengaja menceritakan hanya bagian yang senang saja. Padahal kulihat bawah matanya menghitam."


Hugo mengangguk paham. "Aku menurutimu, sayang. Kalaupun seandainya kau menikah denganku nanti, lalu belum ingin punya anak, aku akan menurut. Sebab kau yang hamil dan melahirkan, aku tak bisa menggantikan itu. Kau juga tak bisa membagi rasa sakitnya padaku. Jadi, aku takkan menuntut apapun."


Richi menatap Hugo sembari melipat bibir yang hendak tersenyum. Dilihatnya lekat-lekat wajah Hugo yang tengah menyetir mobil. Hugo sudah lebih dewasa sekarang.


"Ke-kenapa kau menatapku begitu?" Hugo melirik Richi sekilas. Pandangan gadis itu terasa aneh. Apa karena ucapannya juga aneh?


"Tidak. Aku.. hanya.." Richi sampai kehilangan kalimat yang ia ingin ucapkan tadi. Lalu mengganti kalimat baru yang langsung muncul di kepalanya.


"Apa?" Tanya Hugo.

__ADS_1


"Aku hanya semakin mencintaimu."


Hugo tersenyum. Lalu dia meraih tangan Richi untuk dia genggam sepanjang perjalanan. Lagi-lagi, dia merasa bersyukur sudah bertemu dan bisa dicintai oleh seorang Richi.


"Besok kau tak perlu mengantarku ya, Hugo. Karena aku akan pergi bersama Clair."


"Kemana?" Tanya lelaki itu dengan tatapan menyidik.


"Aku pernah bilang kan, kelompok yang bernama Foldcury. Istri bosnya meminta bantuan padaku. Aku sudah bertemu dengannya beberapa kali dan dia benar-benar sangat cantik dan masih muda. Kukira umur kami hanya terpaut 2 tahun." Richi menyipit, mengingat wajah perempuan yang menjadi muridnya itu.


"Kau tak cerita apapun." Kata Hugo sembari meliriknya sekilas, lalu fokus lagi ke depan jalan.


"Masa, sih? Intinya, mereka itu kelompok yang benar-benar besar dan terstruktur. Aku saja terheran melihat gedung mereka."


"Kau kenal dari siapa? Lalu, kenapa minta bantuanmu kalau sebesar itu?"


"Evan, dia anggotanya. Sebagai balasan, aku meminta mereka melindungi dan membantu Valiant jika dalam kesulitan. Emm.. Mereka sangat menghormati nona Jia, jadi tak ingin jika laki-laki yang menjadi gurunya. Aku tak sengaja mendengar pembicaraan anggota mereka, kalau ketuanya buta dan mereka penuh masalah. Sebab itulah yang membuat Nona Jia mau tak mau turun tangan." Jelas Richi pada Hugo.


"Kalau dia saja tidak bisa memegang pistol, bagaimana caranya menyelesaikan masalah?" Tanya Hugo sambil terus menatap kedepan.


Richi diam sebentar. Dia juga merasa demikian, apalagi saat Jia memegang pistol. Sangat kaku dan masih dengan takut-takut.


"Justru itu, aku bertekat untuk membuat gadis polos itu punya kepribadian yang berbeda."


Richi mengulas senyum miring. Dia sudah merencanakannya, membuat wanita itu menjadi tak kenal takut dengan berbagai resiko yang menghadang nantinya.


(Novel: Menikahi Lelaki Tunanetra)


...🦋...


Satu bulan kemudian...


Richi berdiri di balkon gedung. Dia menatap kebawah, dimana deretan mobil berjejer dan para tamu mulai terlihat berdatangan dan memasuki gedung.


Richi terkesiap saat merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia tersenyum ketika mendapati harum maskulin Hugo terciup di hidungnya. Tangannya naik membelai pipi Hugo yang tengah mencium bahunya.


"Dari belakang saja sudah sangat cantik." Bisik Hugo di telinga Richi, membuat gadis itu mengulas senyum.


Richi menikmati pelukan Hugo yang semakin erat. Rasanya sangat nyaman, apalagi hangat napas Hugo kini sangat terasa di puncak kepalanya. Lelaki itu terus mengecupnya.


"Kau sudah siap?" Tanya Hugo.


Richi membalikkan badan menghadap Hugo. Ia membenarkan posisi dasi kupu-kupu yang melekat di kerah leher lelaki itu. "Sangat siap.."


Hugo menghela napas. Melihat merahnya bibir Richi selalu membuatnya ingin terus mengecupnya. Apalagi gaun indah yang melekat di tubuh gadis itu, membuat Hugo berdebar dan tak ingin beralih pandang.


"Ayo."

__ADS_1


Hugo menggenggam tangan Richi, lalu mengajaknya untuk bersiap karena acara akan segera dimulai.


TBC


__ADS_2