Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Robek


__ADS_3

Mata Olivia membelalak. Apa yang dilakukan Daren? Apa dia gila??


"Mmmpp.."


"Jangan berisik." Bisik Daren. "Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk hati-hati dalam bersikap, kau tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan, kan? Untuk apa kau berpura-pura menjadi kekasih orang lain?"


"Mmppp.." Olivia berusaha keras menurunkan tangan Daren dari mulutnya.


"Haah." Dia membuang napas setelah berhasil membuka mulut yang disekap Daren.


"Kau gila, hah? Apa urusannya padamu?" Tukas Olivia.


"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan itu bisa jadi panjang!"


"Lalu? Urusannya apa denganmu? Kau urusi saja dirimu itu!"


"Hei, aku yang membawamu kemari!" Pekik Daren.


"Tapi Aron yang membawaku masuk kemari! Sudahlah, pembasanmu tidak penting." Olivia yang ingin keluar, ditahan oleh Daren. Dia menahan tubuh Olivia ke tembok.


"Aku belum selesai."


"Apa? Kau mau apa lagi dariku? Sudah puas mempermainkanku waktu itu, lalu mempermalukanku sekarang? Mengajakku kesalon demi membuatmu tertawa riang karena aku berhasil dipermalukan di depan tadi? Di olok-olok oleh kekasihmu itu? Kau dan Camilla ternyata sangat serasi, sama-sama gila dan brengsek."


Olivia berhasil mengeluarkan apa yang sudah ia tahan sejak tadi dan tentu membuat Daren tak bisa berkata-kata lagi, karena seperti itulah Daren di mata Olivia.


Olivia mendorong tubuh Daren dan keluar dari bilik. Dia langsung melangkah keluar toilet. Langkahnya terhenti saat Camilla berdiri di depan jalannya.


Tak lama, Daren keluar dari toilet, tempat dimana Olivia pun baru keluar dari sana. Tentu saja itu membuat Camilla tampak kaget.


"Apa yang kalian lakukan di dalam sana?" Tanya Camilla.


Olivia enggan berhadapan dengan gadis itu. Dia pergi melewati Camilla begitu saja, tanpa mau melihat wajahnya.


"Daren, katakan apa yang terjadi? Apa kau punya hubungan dengannya??"


Daren pun tak menjawab, membuat Camilla kesal dan berbalik mengejar Olivia.


"Hei gadis supir! Kau melakukan apa di dalam toilet bersama Daren??"

__ADS_1


Langkah Olivia terhenti. Perkataan Camilla membuat beberapa orang disekitar mereka saling berbisik.


Camilla terus melangkah sampai dia mendekat pada Olivia.


"Kau merayunya, ya? Apa itu yang biasa gadis miskin lakukan untuk menarik perhatian tuan muda?"


Aron yang menyadari situasi Olivia, berlari kecil menghampiri gadis itu. "Kau tidak apa-apa, Liv?" Tanyanya pada gadis yang matanya menatap tajam pada Camilla.


Semua perkataan gadis gila itu sudah sangat melampau. Olivia mengepalkan kuat tangannya, ingin dia menghajar Camilla.


"Apa? Aku benar, kan? Jadi, kau merayu Daren??" Mata Camilla menatap kepalan tangan Olivia.


"Oh. Kau mau menghajarku lagi?" Camilla mendekatkan wajahnya. "Silakan pukul saja disini." Katanya sembari menunjuk pipinya. Dia berani menantang Olivia karena tahu, perempuan itu takkan melakukan itu apalagi di depan orang banyak.


Aron menahan tangan Olivia yang mengepal sejak tadi. "Jangan, Liv. Tahan. Kau tahu kan, kita dimana." Bisik Aron.


"Kenapa? Tidak berani? Atau takut ketahuan kalau ternyata begitulah kelakuan orang kelas rendah?"


"Diam kau, sialan."


Mata Camilla membulat. "Apa kau bilang?"


Camilla meraih segelas minuman berwarna merah di tangan salah seorang tamu. Dengan cepat dia menyiramkan air dalam gelas itu ke wajah Olivia, membuat baju putihnya ikut memerah.


Daren membawa Olivia keluar dari ruang pesta. Dia terus membawa gadis itu menjauh. Olivia yang sempat syok, akhirnya tersadar dan cepat-cepat menarik tangannya dari Daren.


"Lepas!" Olivia menatap kesal pada lelaki di depannya itu.


Tanpa kata, Olivia berjalan cepat menuju lift. Dia ingin pergi. Tempat yang katanya kelas-kelas tinggi itu memang bukan tempat yang tepat untuknya. Apalagi baik Daren maupun Camilla benar-benar sudah mempermainkannya.


"Olivia!"


Dia tidak mendengarkan teriakan Daren. Gadis itu terus berjalan dan masuk ke dalam lift. Dengan cepat Olivia menutup pintu lift sementara Daren sudah tak sempat masuk, pintu langsung tertutup hingga membuatnya harus terus memencet tombol, tapi sudah terlambat.


Pintu lift tak terbuka, dia cepat-cepat menuruni tangga, mengejar Olivia yang pasti sudah benci padanya.


Daren sudah berhasil turun sampai ke lobi dan mendapati Olivia sudah keluar dari gedung itu dengan langkah cepat.


Daren berlari mengejar perempuan itu. "Olive, tunggu!"

__ADS_1


Olivia tak mendengarkannya. Dia terus melangkah cepat.


TIIINNN!!


"Mau mati, ya!" Pekik pengemudi mobil saat Olivia tak memperhatikan sekitarnya. Olivia mematung. Dia sendiri juga terkejut dengan suara klakson mobil itu. Terasa aneh karena dia hanya berjalan dengan pikiran yang tak berada di tempatnya.


"Olivia!" Daren menarik tangannya, membawanya menjauh dari tempat itu. Olivia yang sejak tadi merasa terbodoh, mengekor dibelakang Daren.


Laki-laki itu membawanya ke taman kecil. Mereka duduk di bangku itu. Daren menyerahkan sapu tangan kepada Olivia. Gadis itu dengan lesu menerimanya, mengelap sisa air yang ada di dagu dan lehernya.


"Maaf.."


Kata itu keluar dari mulut Daren. Dia mengakui kalau dirinya salah. Dia hanya ingin melihat Olivia tampil cantik. Dia juga tidak tahu kalau Camilla sampai tidak membawa kartu undangan yang membuat gadis itu tidak bisa masuk. Juga kejadian ini, benar-benar bukan seperti apa yang dia harapkan.


"Maaf sudah membuatmu seperti ini."


Tidak ada jawaban dari Olivia. Gadis itu hanya diam menatap kosong ke depan. Kini baju yang ia pakai pun sudah kena noda merah.


"Kau boleh menghukumku. Kalau kau mau menghajarku, kau boleh melakukan itu." Lanjut Daren lagi.


Udara diluar terasa dingin. Angin malam mulai berhembus perlahan dan membuat kulit Olivia meremang. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Kalau sudah selesai, aku akan pergi." Balas Olivia dengan nada dingin, tanpa menatap Daren karena dia sudah mulai enggan berhadapan dengan lelaki itu.


"Aku harap kau masih bekerja denganku. Aku akan memberimu hadiah sebagai permintaan maafku."


Terdengar helaan napas yang dibuang Olivia dengan kasar. Lelaki itu hanya tahu hadiah atau uang untuk menenangkan hati atau permintaan maaf. Dia mengira sakit hati bisa disembuhkan hanya dengan materi.


"Aku akan mengembalikan baju ini secepatnya." Olivia berdiri, dia berniat berhenti bekerja pada Daren.


TRING...


Ponsel Olivia berdering. Dia dengan segera mengangkatnya saat membaca penelepon adalah Clair.


"Ada apa?" Tanya Olivia. Suara gemuruh terdengar dari seberang.


'Cepat ke pusat kota. Dachi Moon ada disana.' Suara Clair terdengar seperti tengah berlari. Nampaknya dia sudah bergerak kesana.


"Ada apa?" Tanya Daren ikut berdiri.

__ADS_1


Olivia tak menjawab. Dia berlari menuju satu pagar. Dia melompat melewati pagar itu untuk keliar dari taman, hingga aksinya itu membuat suara sobekan kain terdengar di telinga Daren.


Daren menatap Olivia yang berlari kencang. Tanpa ia sadari, dress yang ia kenakan robek dibagian belakang.


__ADS_2