Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Holiday


__ADS_3

Olivia menjadi canggung saat Daren memaksanya untuk mengantar pulang. Padahal dia sudah menolak dengan mengotot, namun Daren pun tak mau kalah bertekak hingga akhirnya Olivia yang mengalah.


Kini mereka sudah sampai di depan rumah Olivia. Wajahnya sudah diobati Daren. Begitu pula kantong plastik di tangannya berisikan obat-obatan yang dibelikan Daren untuknya.


"Te-terima kasih.." ucap Olivia terbata. Rasanya aneh saat lidahnya mau tak mau harus mengatakan itu pada Daren.


"Masuklah. Obati luka-lukamu. Jangan sekolah dulu sampai sembuh. Kau juga tidak perlu bekerja dulu."


Olivia malah bengong. Bukankah Daren terlalu berlebihan? Hal semacam ini menurutnya bukanlah sesuatu yang besar. Olivia sudah sangat sering babak belur bahkan sang bunda pun tak lagi heboh seperti dulu ketika pertama kali mengetahui Olivia berkelahi saat SMP.


Olivia hanya mengangguk lalu bersiap membuka pintu mobil.


"Eh, tunggu."


Olivia terhenti saat menyadari Daren menarik ujung lengan bajunya.


"Kau ikut kan, ke Villa Hugo?"


Hah? Olivia bengong. Apa maksudnya? Suara Daren juga sangat merendah. Berbeda dari Daren yang biasa.


"Ke-kenapa memangnya?" Olivia bertanya dulu alasannya. Melihat perubahan Daren membuatnya berpikir, apa Daren.. mulai suka padanya?


"Kenapa lagi? Ya jelas kau akan menyetir!"


DOENG! Wajah Olivia seperti ditabok dengan keras. Bisa-bisanya dia mengira Daren menyukainya. Olivia ingin menggulung dirinya seperti trenggiling dan langsung masuk ke dalam kamar karena malu pada dirinya sendiri.


"Aku tidak ikut. Aku sekolah!" Jawabnya kesal.


"Sekolah apanya! Itu libur dua hari."


Eh? Benarkah? Tapi suasananya saat ini sudah tidak bagus! Nada bicara Daren pun sudah kembali normal. Ketus.


"Aku membantu Bunda. Sudahlah. Aku masuk!"


BRAK! Olivia membanting pintu mobil. Dia sendiri terkejut kenapa tangannya kelepasan seperti itu. Diapun tak ingin menoleh ke arah Daren yang bentuk wajahnya sudah tertebak di pikiran Olivia. Dari pada tuannya itu mengamuk, Olivia memilih berlari masuk ke dalam rumahnya.


Daren masih diam dibalik kemudi sampai Olivia menutup rapat pintu rumahnya.


"Tidak bisa ikut, ya? Tidak seru, dong." Gumamnya kemudian menjalankan mobilnya, keluar dari lingkungan rumah Olivia.


🦋


Semangat pagi dirasakan oleh beberapa orang di taman kota. Sengaja berkumpul disana supaya berangkat bersama.


Frans dan Erick tidak jadi ikut karena punya kegiatan keluarga. Hugo, Axel, Isac, dan Richi sudah di tempat. Mereka mengobrol seru menunggu yang lain sementara Daren duduk sambil bermain ponsel.


"Daren, lesu sekali. Kita akan pergi berlibur, masa kau tidak semangat?" Tukas Axel yang melihat wajah Daren yang biasa saja.


"Lesu dia, karena Olivia tak ikut." Sambung Hugo.

__ADS_1


"Benarkah, Daren?" Richi mulai tersenyum jahil.


"Tidak ada hubungannya." Jawabnya sambil memasukkan ponsel ke saku.


Clair dan Bella baru datang lengkap dengan ransel di pundak, kecuali Bella.


"Bells?" Richi melotot menatap koper yang diseret Bella.


"Kita tiga hari dua malam, kan? Aku perlu banyak peralatan tempur untuk itu." Jawabnya enteng.


"Tempur? Kau pikir kita akan berperang?" Tanya Isac heran.


"Kau takkan mengerti pertempuran versi Bella." Sahut Clair yang sejak tadi sudah kesal melihat barang bawaan Bella.


"Kalau sudah, ayo gerak." Daren berdiri dan menyandang tasnya.


"Aku bersama kekasihku." Hugo langsung merangkul Richi. "Kita berdua saja. Yang lain, di mobil Daren."


"Terserah saja." Jawab Daren.


"Hei, Hugo. Untuk apa kau bawa BMW X7 jika hanya kau dan Richi saja isinya!" Pungkas Axel.


"Bella dan Clair ikut dengan kita saja, yang lain bersama Daren. Bagaimana?" Richi memberi usul.


"Aah, maaf aku ketinggalan!" Olivia terbungkuk sambil bernapas berat karena berlari dengan ranselnya di punggung, tanpa ia sadari Daren terbengong melihat ke arahnya.


"Hei, kau bilang tidak ikut!" Pekik Daren.


Yang lain pada melirik. Jika sudah begini, tidak akan ada ketenangan. Kedua orang itu pasti akan terus beritegang.


"Kau di mobilku!" Titah Daren tiba-tiba.


"Gak. Aku bersama Richi." Tegas Olivia menentang tuannya.


"Hei, mobil kami sudah penuh."


"Tid.." belum Richi bicara, mulutnya sudah ditutup Hugo.


"Kau dengar? Cepat."


Dengan langkah berat, Olivia masuk ke dalam mobil Daren. Dia duduk di depan sementara Axel dan Isaac duduk dibelakang.


"Bukankah kita terlalu kejam?" Tukas Clair yang melihat mobil sudah berjalan.


"Sudahlah, ayo masuk." Hugo mengiring teman-temannya untuk masuk ke dalam mobil. Mereka bercerita banyak hal selama perjalanan.


"Bagaimana laki-laki itu?" Tanya Hugo dengan pandangan yang terus ke depan.


"Maksudmu, Albern?" Tanya Clair balik.

__ADS_1


"Dia kan, dipulangkan. Karena Komander tak mau ambil resiko jika ayahnya mengambil tindakan dengan menuduh kita menyekap anaknya." Sambung Bella.


"Apa kalian sudah mendapatkan rekaman cctv itu?" Tanya Hugo sembari melirik kedua gadis itu dari kaca depan.


"Tentu sudah. Itu yang paling penting."


Tanpa terasa, mereka sudah tiba di Villa yang Hugo janjikan. Richi terbangun begitu mendengar jeritan Bella yang tak kuasa melihat pemandangan disekitarnya.


Richi memandang sekitar. Bukit terhampar indah di hadapannya. Terlihat pula air terjun dari bukit itu. Disebelahnya, taman bunga yang sangat indah juga rumah kaca yang berdiri dengan megah.


"Kau suka?"


Tanpa Richi sadari, Hugo sejak tadi mencondongkan wajahnya di dekat Richi yang tak menyadari karena pemandangan yang amat menyenangkan matanya.


"Hugo, ini indah sekali. Aku sangat suka."


Richi tersenyum puas mendengar itu. Syukurlah, tujuan utamanya adalah membahagiakan Richi. Jika perempuannya sangat suka, maka itu sudah memenuhi tujuannya.


"Kau tidak ucapkan terima kasih padaku?"


"Tentu aku akan ucapkan. Terima kasih banyak, Hugo. Aku senang sekali."


"Itu saja?" Tanya Hugo lalu mengembungkan pipinya.


"Apa sekarang kau sudah sangat berani?" Tanya Richi dengan mata menyelidik.


Hugo tertawa lebar. "Aku bercanda. Ya sudah, ayo."


Saat Hugo hendak keluar, Richi menarik tangan Hugo dan cup..


Dia mencium pipi lelaki itu." I do love you, Hugo."


Setelah mengucapkan itu, Richi bergegas keluar menghampiri teman-temannya yang berfoto di depan memandangan air terjun yang terlihat cukup jelas.


Sementara Hugo terus melihati Richi dari dalam mobil. "I do love you, Richi Darrel." Gumamnya tanpa bisa menahan lukisan senyum di wajahnya.


Dia keluar dari mobil. Disana sudah ada penjaga Villa yang mengangkati barang-barang mereka ke dalam rumah. Udara dingin membuat Hugo melepaskan jeketnya dan merebahkannya di kedua pundak Richi.


"Kita masuk dulu, ganti baju dan makan. Hari semakin dingin." tukasnya pada Richi.


Gadis itu menurut. Dia masuk bersandingan dengan Hugo, diikuti dengan yang lainnya karena merasa udara sangat dingin. Berbeda dengan Olivia yang masih sibuk menangkap gambar dirinya sendiri dengan senyuman bahagia. Dia tidak pernah berlibur ke tempat seperti ini, tentu saja dia harus memanfaatkannya dengan sangat baik.


Lalu tiba-tiba dia merengut saat sosok makhluk ikut berdiri dibelakangnya.


"Ck. Bisa minggir?" Ketus Olivia pada Daren yang menghalangi pamandangan air terjun.


"Masuk. Semua sudah berada di dalam."


"Kau duluan sana." Tukas Olivia.

__ADS_1


"Kau tidak kedinginan, apa?!"


"Kenapa malah kau yang repot. Dasar orang tua!" Pekik Olivia kesal dan langsung menuju rumah sambil menggerutu.


__ADS_2