
Sudah tiga hari berlalu. Richi tak juga bisa dihubungi. Saat Hugo datangi pun, Richi selalu tak ada di rumah. Ia cari ke kafe Clair pun tidak ada. Entah dimana gadis itu, sampai membuat Ricky curiga pada Hugo yang terus menerus datang namun tak mendapati Richi di rumah.
Hari ini, Hugo menunggu tak jauh dari rumah kekasihnya. Dia sudah berada di dalam mobilnya sejak pagi dan belum ada kendaraan yang ia kenali keluar dari gerbang tinggi itu.
Hugo sampai membeli makanan di dalam mobil. Menunggu sendirian membuatnya lelah, tapi dia tidak masalah asal bisa bertemu Richi.
Hugo terkesiap saat melihat sebuah motor berwarna merah keluar dan melaju kencang di jalanan. Buru-buru dia menurunkan rem tangan dan mengejar motor merah yang ia yakini adalah Richi.
Matanya menyipit dan terus menatap ke depan supaya tidak kehilangan jejak Richi. Dia menyesal karena jika tahu Richi bawa motor, dia juga akan bawa motor. Karena ia sedikit kesulitan mengejar Richi dengan mobil.
Setelah beberapa menit fokus dengan jalanan, Hugo menepikan mobil saat Richi berhenti di sebuah jejeran toko. Hugo menebak, pasti gadis itu hendak ke toko buku dan membeli novel. Ternyata benar, gadis itu masuk ke dalamnya.
Setelah Richi tak lagi terlihat, Hugo pun keluar dari mobilnya dan langsung menuju kasir.
"Permisi, nona." Hugo meletakkan beberapa lembar uang di atas meja kasir.
"Ini untuk membayar buku-buku yang dibeli gadis itu nanti. Bilang saja bukunya sudah dibayarkan oleh seseorang." Hugo menunjuk pada gadis yang menutupi kepalanya dengan hoodie hitam dan memakai celana jeans panjang.
"Kalau uangnya lebih, ambil saja buat nona."
Kasir itu mengangguk, Hugo pun mendekati kekasihnya.
Dia mengamati Richi dari rak sebelah. Gadis itu tengah fokus membaca sampul belakang buku dan mengamati jejeran buku-buku lain tersusun di atas rak.
Rindu, itu yang ia rasakan saat melihat wajah Richi begitu dekat dari balik susunan buku-buku.
Hugo terus memperhatikan kekasihnya. Gadis itu berusaha meraih buku di rak paling atas. Hugo tergerak untuk menolong, tetapi ia menahan langkahnya saat melihat seorang laki-laki berbadan tinggi membantu Richi.
"Terima kasih." Ucap gadis itu.
"Sama-sama. Kau suka baca buku itu juga?" Tanya lelaki itu basa-basi dan tentu saja membuat Hugo mengepalkan tangannya. Apalagi lelaki itu terlihat sok menyambungkan obrolan.
"Ah, iya." Jawab Richi sembari melepas sebelah earphone yang sejak tadi menempel di telinganya.
"Wah, sama. Aku baru menyelesaikan volume tiga." Ucapnya menunjuk Buku yang digenggam Richi.
"Oh, ya? Kau sudah baca?"
"Aku juga tengah membaca volume empat."
"Serius? Bukannya belum keluar?" Tanya Richi antusias.
"Aku membelinya saat edisi terbatas waktu di eropa. Tapi, novelnya juga memakai bahasa spanyol."
"Ah, begitu rupanya."
Obrolan menjadi panjang, tentu saja membuat Hugo memanas. Dia ingin segera mendatangi lelaki itu, berani-beraninya dia mendekati Richi.
__ADS_1
Namun saat melangkah dengan tatapan yang terus tertuju pada lelaki itu, Hugo malah menabrak pegawai yang tengah mengangkat banyak buku. Tentu saja kejatuhan buku itu membuatnya tak bisa berkutik lantaran harus cepat-cepat menyusun buku-buku itu kembali.
"Maaf, maafkan saya. Saya tidak melihat." Ucap pegawai itu.
"Tidak, saya yang salah." Aku Hugo sambil terus mengutip buku-buku yang berserakan.
Setelah itu, Hugo berdiri dan mencari kekasihnya. Gadis itu terlihat berjalan ke arah pintu keluar bersama lelaki itu. Sontak membuat Hugo berlari mengejar. Namun sayang, lelaki itu baru saja menutup pintu mobilnya dan berjalan meninggalkan area pertokoan.
Hugo mematung di depan pintu. Tangannya mengepal pertanda ia kecewa. Apakah Richi semudah itu, bertemu laki-laki lalu mau saja diajak pergi begitu saja?
"Ehem!"
Deheman seseorang membuat Hugo membalikkan badan. Dia terkesiap melihat Richi berdiri dibelakangnya dengan menenteng satu kantong buku yang ia beli tadi.
Hugo menatap lagi ke arah mobil hitam yang berlalu pergi, lalu melirik ke tempat dimana motor Richi terparkir. Ya, motornya masih disana.
Dia menatap lagi ke arah kekasihnya yang sudah berwajah datar dengan tatapan tanpa kedip.
Merasa bersalah, Hugo menundukkan kepala.
"Ikut aku." Richi berjalan dan masuk ke dalam restoran sebelah toko buku.
Hugo yang mengikuti dari belakang hanya mengernyit dahi, kenapa malah masuk ke restoran? Pikirnya.
Richi, seperti biasa, memilih meja sudut dan menghempaskan tubuhnya di sofa yang tersedia. Dia memanggil pelayan dan memesan dua makanan, tanpa bertanya pada Hugo, apa yang ingin ia pesan.
Richi tidak bertanya, juga tidak bicara apapun. Dia hanya duduk memejamkan mata dengan earphone yang masih menempel di telinganya.
"Chi.."
Tidak ada sahutan. Richi hanya diam.
"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu kecewa. Kalau kau mau menghajarku, hajar saja aku."
Richi tidak menyahut. Dia membuka mata saat mendengar suara pelayan mempersilakannya makan.
Richi menggeser satu piring makanan ke depan Hugo. "Kau belum makan, kan?"
Hugo tidak menyentuh makanannya. Dia menatap Richi. "Itu tadi siapa.."
"Tidak tahu." Jawabnya sembari mengangkat bahu.
"Tapi obrolan kalian berdua tadi, tampak sangat seru."
"Memang."
Hugo membuang wajah. Dia kesal. Apalagi Richi tak seperti biasa yang menghindari laki-laki.
__ADS_1
"Kau pikir, kau punya hak untuk marah sekarang?"
Hugo menyandarkan tubuh, lalu melipir ke bahu Richi.
"Aku harus apa supaya kau tidak marah." Tanyanya dengan nada yang manja.
"Makan. Aku tahu mengintaiku tiga hari di depan rumah membuatmu kehabisan tenaga."
"Hah." Hugo langsung duduk tegak. "Kau tahu?'
"Kau pikir, kau berpacaran dengan siapa?"
Hugo nyengir. Dia tak sangka malah ketahuan. Dia pikir, apa yang dia lakukan sudah aman.
"Kau benar sudah memaafkanku, kan?"
"Hmm."
"Kalau kau mau menghajarku, tidak apa. Ini, pukul saja disini. Aku tahu kau sangat ketakutan karena aku." Hugo mendekatkan pipinya pada Richi, membuat gadis itu memundurkan kepalanya, lalu dengan cepat mengecup pipi Hugo dengan lembut, membuat lelaki itu langsung menoleh padanya.
"Aku tidak bisa marah padamu lama-lama. Sudahlah, aku tahu kau melakukannya bukan karena sengaja. Cepat habiskan makanan." Richi menyuapkan makanan ke mulutnya, dia mengunyah dengan tenang.
"Tapi.." Lagi-lagi Hugo berucap. "Kau kenapa sangat bisa tidak mengubungiku selama tiga hari? Dua jam tanpa kabarmu saja aku sudah resah." Hugo memberitahu kegundahannya. Baginya, Richi sangat kuat menahan selama berhari-hari tidak komunikasi dengan dirinya.
Richi pun hanya diam. Dia juga tidak paham kenapa bisa santai saja walau tanpa komunikasi dari Hugo. Baginya, dia yakin kalau Hugo pasti tengah menunggu dan tidak akan berpaling darinya.
"Nanti malam, mau tidur di rumahku?" Ajak Richi menutupi rasa bersalahnya.
●●●
Hey, aku mau curhat.
Kemarin seseorang kasih rating buruk (B1) di novel ini selama dua hari. Alias dua kali. Tapi dia tetap baca sampai akhir, sampai aku bingung, kenapa kasih bintang satu selama dua hari, tapi terus dibaca sampai akhir🥲
Tanpa bilang apa-apa, hanya tertulis: kecewa. Jadi aku pengen tanya sama kalian semua, apa novel ini buruk? Jujur itu membuatku agak-agak gundah ehhehe. Nggak ya, maksudnya ngga ada salahnya kalian kasih aku kritik yang membangun, dengan tata bahasa yang baik. Supaya aku tahu salahnya ada dimana, dan aku dapat ilmu baru.
Aku ini penulis Amatiran guys. Baru aja nulis beberapa bulan lalu disini. Nggak pernah belajar menulis novel sebelumnya. Tidak ikut pelatihan-pelatihan. Jadi pasti banyak kekurangannya, apalagi nggak ada pembimbingnya. Mohon maaf apabila banyak terdapat kekurangan, atau pengulangan kata yang kadang akupun keblinger kalo kebaca ulang.
Novel ini juga menuju tamat, dimana nanti semua karakter memasuki masa perkuliahan dengan masalah baru dan selesai dengan tugasnya masing-masing.
Lalu, aku akan fokus di satu novel, yaitu Syahdu, yang alur dan jalannya sudah sangat jelas di pikiranku (tinggal dituangkan aja ke tulisan hehe)
Jadi, jangan lupa bilang sama aku kalau ada yang buat kalian kecewa, jangan cuma kasih rating buruk:( kan kalian bacanya juga ngga bayar guys. Maaf ya bukan bermaksud apa-apa.
Eh iya, jangan lupa kasih vote dan rate, ya. Thank you so much buat kalian yang udah ngikutin semua novel2ku. Semoga kalian terus suka dengan karyaku.
Mudah-mudahan besok aku udah bisa up 3 bab ya^^
__ADS_1