Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Ke Pantai


__ADS_3

Baru pertama kali Olivia duduk dikursi penumpang. Biasanya dia dibalik kemudi jika bersama Daren. Tapi tadi, lelaki itu membukakan pintu depan dan tentu membuat Olivia merasa dirinya dispesialkan oleh lelaki itu.


"Mau jalan-jalan sebentar?"


Olivia melirik sekilas. Ingin menjawab 'mau' tapi malu.


"Aku ingin berlama-lama denganmu sebentar."


Setelah pura-pura berpikir, Olivia mengangguk. Tentu Daren langsung menarik garis senyum.


Dia menepikan mobil saat tiba di sebuah kafe tengah kota.


"Kita makan dulu disini, ya. Aku tahu kau belum makan siang."


Olivia mengangguk saja. Dia keluar dari mobil dan mengikuti Daren duduk di meja sudut.


Setelah memesan makanan, Olivia mulai merasa canggung. Tapi tidak dengan Daren. Lelaki itu tersenyum sejak tadi pada Olivia.


"J-jangan liatin aku gitu, dong." Olivia merasa agak terganggu dengan tatapan Daren yang tak berkedip. Lelaki itu malah tertawa. Memang begitu terlihat gurat kebahagiaannya.


"Haha. Sorry. Aku masih sulit mencerna ini. Akhirnya kau mau duduk bersamaku."


"Jangan salah sangka. Aku hanya ingin ucapin terima kasih dan.. anggap saja karena kau mau pergi." Jawab Olivia meluruskan.


Karena mau pergi, katanya? Daren berpikir sebentar. Apa kalau dia meminta sesuatu yang lain Olivia akan mengabulkannya?


"Emm.. Liv. Kalau aku meminta sesuatu sebelum pergi, apa kau akan mengabulkannya?"


Olivia mengangkat alis. "Apa memangnya?"


Daren tampak ragu. Dia takut Olivia jadi marah dan malah pergi. Tapi, ada rasa ingin mencoba dari pada menyesal.


"Apa.. kau mau.. terus menemaniku sampai aku pergi?"


Daren tampak gugup. Dia memilin jari dibawah meja. Dia melihat wajah Olivia yang hanya diam sambil menatapnya. Mungkin gadis itu tengah berpikir.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya.."


"Baiklah." Jawab Olivia.


"A-apa? Kau mau? Benarkah? Kau mau?" Daren rasanya ingin melompat sekarang. Apalagi Olivia mengangguk. Itu artinya Olivia membuka kesempatan untuknya, kan?


"Aahh. Aku sangat senang. Berarti nanti malam kau mau menemaniku?" Tanya Daren dengan semangat.


"Kalau malam ini, tidak bisa. Sebentar lagi aku akan bekerja."


"Begitu, ya."


Seorang pelayan membawakan makanan mereka. Sejenak keduanya hening tanpa suara dengan perlahan menyantap makan mereka.

__ADS_1


"Liv, kau bekerja dengan Clair?" Tanya Daren mencoba membuka topik baru.


"Bukannya kau sudah tahu."


Ah. Makanan yang baru Daren telan terasa nyangkut di kerongkongannya. Tapi, sebentar...


"Jadi selama ini.. kau tahu aku mengikutimu?"


Olivia menghela napas panjang. "Kemarin pedagang di dekat rumahku bilang, katanya seseorang terus mengikutiku dengan jeep merah. Siapa lagi kalau bukan kau."


Daren merasa malu karena ketahuan. Tapi, sudah sampai disini, Olivia tidak lagi menjauh darinya. Tentu saja ini menjadi kesempatan emas dan tidak akan ia lewatkan satu haripun tanpa Olivia.


...🌼...


Hugo berdiri dengan wajah dongkol. Dia bahkan tak peduli saat Isac memanggil-manggil namanya.


Bagaimana mungkin ini terjadi? Pikirnya. Bukankah Richi mengajaknya ke pantai berdua menginap di villa? Tapi...


BUK!


Sebuah hantaman bola mengenai kepala Hugo. Tangannya mengepal kuat. Kehadiran teman-temannya di pantai ini saja sudah membuatnya kesal setengah mati. Ditambah timpukan bola yang keras membuat otaknya semakin stres.


"SIAPA YANG MELAKUKANNYAA!!" Teriak Hugo pada teman-temannya yang tertawa-tawa.


"Hahaha. Tuh, orangnya datang." Sahut Axel yang mengambil bola dan kembali ke lapangan.


"Hugo, aku tidak sengaja. Maaf, ya. Aku baru belajar main voli."


Hugo menatapi wajah Richi yang sangat cantik dengan anak rambut yang berserak di wajahnya. Juga titik-titik pasir di dahinya karena dia sempat jatuh saat bermain tadi. Menggemaskan. Tapi dia masih dongkol!


"Hm."


Richi mendongak, dia menutup dahinya karena terik matahari menghalanginya menatap wajah Hugo yang lebih tinggi darinya.


"Kau kenapa, Hugo?"


"Tidak apa-apa."


"Lalu, kenapa berdiri saja disini? Ayo, kita main voli. Seru, lho.."


"Kau saja. Aku masih mau disini." Hugo menunduk saat air ombak mengenai kakinya.


"Ada sesuatu, ya? Apa aku ada salah?" Tanya Richi sembari memegang lengan Hugo yang terlipat di dada.


"Kenapa, Hugo?" Tanya Richi lagi saat beberapa detik dia tak menjawab.


Hugo mendesah kasar. Yah, dia tidak bisa marah. Apalagi Richi ini membuatnya gemas sekaligus kesal.


"Kenapa mengajak mereka?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Aku kan, inginnya ini menjadi acara kita berdua." Keluh Hugo.


"Ooooh. Jadi kau marah gara-gara itu?" Richi manggut-manggut.


"Aku kan, tidak bilang pergi berdua. Lagi pula kalau cuma kita berdua, mana seru. Tuh, lihat. Ramai begitu, seru, kan? Axel dan Isac juga bawa tenda. Katanya mau tidur di pinggir pantai. Aku tidak kepikiran, padahal kayaknya seru. Terus, lihat. Olivia dan Daren jadi dekat begitu." Richi terus mengoceh sambil menunjuk teman-temannya yang tertawa-tawa sambil bermain.


Hugo merapikan rambut Richi yang berterbangan. Melihat keceriaan Richi jadi membuat kesalnya runtuh. Apalagi gadis di depannya itu sebenarnya kurang menyukai pantai. Tapi demi dirinya, dia jadi mau saja asal Hugo senang. Dan tentu membuat Hugo tak bisa kesal apalagi merajuk lama-lama. Bakalan rugi dia.


"Sini." Hugo menarik Richi ke dalam pelukannya. Dia mengeratkan dekapan dengan terus memandang ke arah ombak di tengah pantai.


"Maaf ya, aku egois."


Richi melingkarkan tangannya di pinggang Hugo lalu mendongak, "Aku yang tidak tahu kalau kau inginnya cuma berdua. Tapi, Hugo. Aku tidak yakin kalau ayah akan mengizinkan jika berdua."


Hugo menunduk melihat Richi. Dia menghela napas. "Benar juga. Sainganku berat. Ada dua pula."


Richi terkekeh. "Bukannya hubungan kalian semakin membaik, ya."


"Yaa, begitulah."


"Ayah bangga lho. Katanya kau hebat bisa berteman dengan bom."


"Oh, ya? Kapan jenderal bilang begitu?"


"Dia tidak bilang langsung. Tapi aku mendengarnya saat ayah dan kak Ricky mengobrol di taman."


Hugo tersenyum. Ada rasa senang di hatinya karena dipuji oleh calon mertua.


"Ayahku juga sebenarnya terus menanyakanmu. Dia menyuruhku mengajakmu makan malam dengannya. Tapi selalu kutolak."


Richi malah tersenyum. Dia tahu, hubungan ayah dan anak itu kurang akrab. Nampaknya Richi memang perlu masuk sedikit diantara mereka supaya bisa lebih akrab.


Dari tempat lain, Daren yang baru saja berhenti bermain voli, duduk disebelah Olivia. Matanya terus menatap ke arah Richi dan Hugo yang masih berpelukan sambil mengobrol di pinggir pantai. Rasanya sangat menyenangkan, apalagi jika Olivia mau.


Diliriknya Olivia. Gadis itu duduk tenang dengan menyedot air kelapa muda di pangkuannya.


Sudah tiga hari mereka bersama dan belum terlihat juga Olivia menunjukkan perasaannya. Beberapa hari ini gadis itu juga tak banyak bicara walau setuju saja apapun yang Daren ingin lakukan.


Untunglah Richi mengajaknya ke pantai, dia jadi punya waktu lebih untuk terus berdekatan dengan Olivia. Kini dia mencari cara supaya gadis itu mau menunjukkan perasaannya yang Daren yakini, Olivia juga menyimpan rasa padanya.


Dia menghela napas saat teringat ucapan Hugo.


'Bukannya kau yang lebih jago soal ini dari pada aku? Kenapa malah jadi bodoh.'


Mengingat ucapan anak itu membuat Daren ingin melemparnya dengan batu sekarang. Tapi apa yang dikatakan Hugo benar juga. Kenapa dia tidak tahu harus berbuat apa disaat perasaannya menggebu pada Olivia.


Lanjut ntar lagi ya

__ADS_1


__ADS_2