
"Bel, jaga ucapanmu." Tegur Hugo dan Bella hanya mengangkat bahu, tak peduli.
Hugo duduk disebelah Richi, dimana kursi itu adalah milik Emerald yang tengah memesankan minuman untuk mereka.
"Apa belum ketemu juga?" Tanya Hugo lagi.
"Belum." Jawab Richi. Dia menopang dagu, memikirkan bagaimana orang gila itu bisa tahu rencananya padahal dia hanya bercerita pada teman-temannya.
Emerald datang membawa nampan berisi minuman. Dia meletakkannya di atas meja.
"Oh, ada tambahan rupanya. Maaf, aku memesan sesuai permintaan." Tukas Emerald yang melihat Hugo hadir.
"Tidak masalah." Jawab Hugo sekenanya.
"Coffee choco frape ditambah machiato diatasnya, sesuai kesukaanmu." Emerald meletakkan minuman itu di depan Richi. Itu adalah yang pernah Richi pesan bersamanya waktu itu, Emerald masih memgingatnya.
Wajah Richi berubah melihat frape machiato yang meninggi diatas cup. "Wuaah, thank you, kak. Tau aja kesukaanku." Richi langsung meraih dan menyeruput minumannya. Sementara Hugo mengerutkan dahi. Dia tidak tahu minuman itu kesukaan Richi.
"Sama-sama. Yang penting mood-mu membaik." Jawab Emerlad dan mendapat jempol dari Richi.
Gadis itu tampak asyik menyeruput minumannya, bersamaan gelak canda yang lain di atas meja, kecuali Hugo.
Lelaki itu diam menatap Richi yang tampak asyik sendiri. Sesekali dia menyahuti candaan Clair tanpa mempedulikan Hugo disebelahnya.
"Chi.."
Panggilan Hugo tidak terdengar di telinga Richi. Dia masih saja tertawa karena guyonan teman-temannya.
"Richi.."
Gadis itu menoleh, menunggu Hugo berbicara tapi lelaki itu hanya diam menatapnya.
"Chi, aku disini." Kata Hugo saat Richi mulai ikut bercanda lagi.
"Aku tahu, lalu?"
Hugo menghela napas. "Aku sudah mempercepat jadwal latihanku bersama Erine demi bertemu denganmu. Tapi kau seperti tak menganggapku."
"Wait, what?" Richi mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil setelah berhasil mencerna perkataan Hugo. Mempercepat jadwal latihan bersama Erine? Sebenarnya siapa yang kekasihnya disini. Erine, apa dirinya? Perkataan Hugo seperti dirinya adalah orang kedua yang harus ditolong setelah Erine sialan itu. Lelucon, pikir Richi. Dia berdiri dan menyandang tasnya.
__ADS_1
"Mau kemana, Rel?" Tanya Bella.
"Pulang. Kita bertemu di tempat biasa nanti. Kak Emer, terima kasih banyak sudah menyempatkan untuk membantu. Aku pulang dulu."
"Hati-hati di jalan." Kata Emerald sambil melambaikan tangan. Richi pergi tanpa memperdulikan Hugo. Lelaki itu pun ikut bangkit dan mengekori Richi.
"Chi, kenapa pulang? Aku baru sampai." Tanya Hugo mengikutinya dari belakang.
"Sudah selesai." Jawabnya santai.
Hugo menahan tangan Richi. Dia menatap gadis itu dengan geram. "Chi, Jangan kekanakan. Aku sudah luangkan waktu, tapi kau malah seperti ini!"
"Hah?" Richi melepaskan tangan Hugo. "Kekanakan katamu? Aku sudah bilang, kan, aku tidak butuh bantuanmu."
"Astaga, Chi. Sudahlah.."
Richi berjalan saja, dia tidak memperdulikan Hugo.
"Oke, aku minta maaf. Aku memang belakangan terlalu sering membantu mereka. Tapi setidaknya kau lihat aku, Chi. Aku juga ingin membantumu!"
"Kau tahu, aku sampai tidak sempat makan karena harus melakukan banyak hal sekaligus. Aku-"
Richi langsung menarik kerah baju Hugo, merapatkan wajah dan menatapnya dengan tajam. "Kau mengatakan semua hal seolah aku nomor dua dan Erine sialan itulah yang paling wajib kau bantu sampai tidak bisa kau tinggalkan. Kukatakan sekali lagi padamu, Hugo Erhard. Aku tidak butuh bantuanmu." Tegas Richi lalu melepaskannya dengan kesal. Richi berjalan cepat berharap Hugo tidak lagi mengejarnya.
Richi pula kesal setengah mati. Bisa-bisanya Hugo memperlakukan kedua kembar itu bagai pacarnya yang wajib ditolong dan tidak boleh melewati satu latihan pun. Sungguh, perkara orang gila itu saja membuat Richi frustrasi, ditambah Hugo yang bukannya ada disampingnya malah sibuk dengan urusan orang lain membuat Richi kesal setengah mati.
"Itu dia! Perempuan yang menyebarkan video itu!" Richi merasa ada yang menunjuknya. Dia menoleh ke samping, dimana beberapa siswa berseragam Apollo berjalan menghampirinya.
Richi ingat, mereka orang-orang yang pernah menemui dirinya dan Hugo waktu itu. Hanya saja, Hugo lah yang menghajar mereka sampai mereka pergi dan berjanji akan kembali untuk membalas dendam terus menerus sampai mereka puas. Ternyata janjinya di tepati hari ini.
"Kau kan, yang menyebarkan video itu!" Tukas salah satu dari mereka.
"Jelas dia! Memangnya siapa lagi!"
"Hei kau, perempuan sialan. Sekarang kau sendiri, tak bisa berlindung dibalik tubuh pacarmu itu!"
"Hajar saja dia! Dia sudah mempermalukan Apollo."
Richi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ada saja tingkah orang-orang yang membuatnya tambah kesal.
__ADS_1
"Hei, siapa yang mempermalukan Apollo. Video itu tersebar sendiri." Kali ini Richi mencoba bernegosiasi dahulu karena dia tengah malas bertarung walau hatinya sangat kesal.
"Kau pikir kami percaya?!"
"Ya, Gara-gara kau, Apollo jadi bahan olokan orang-orang!"
"Aah, kalau itu aku tidak tahu." Jawab Richi angkat bahu.
"Sialan! Cepat serang diaa!"
"Hei, sebentar! Jangan pakai emosi, dong. Ayo bicara baik-baik dulu." pekik Richi pada ketujuh orang itu.
"Bicara baik-baik katamu?? Kami malu karena video itu!"
"Kalau malu, seharusnya kau menghajar Gary sialan itu. Kok, jadi aku yang salah padahal teman kalian yang kalah!"
"Tapi kau yang menyebarkan Video itu!" Pekik mereka lagi.
"Bukan aku! Aku juga tidak tau soal itu!" Jawab Richi.
"Halah, bacot!"
Richi menghela napas. Diskusi membuat otot lehernya malah terasa sakit. Richi terima saja tantangan mereka. Toh, dia sudah tahu kemampuan orang-orang itu.
"Ya sudah, kalau memang mau melawanku. Tapi tolong rekam, ya. Kalau kalah, kalian harus upload video itu supaya tambah malu." Richi malah tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa dia merasa puas. Dan tentu saja tertawa Richi berdampak serius. Orang-orang itu nampak mulai naik pitam.
"Bangsat! Cepat serang diaa!!"
Suara motor menderu kencang membuat langkah orang-orang itu terhenti dan..
BRUK!
Satu tubuh ambruk terkapar. Pengendara itu menabrakkan motornya pada salah seorang siswa Apollo itu.
Richi menyipitkan mata untuk melihat siapa lelaki yang memakai helm itu. Jelas itu bukan Hugo karena dia mengenali motor Hitam Hugo. Tapi, dia siapa?
Mata Richi membulat saat orang itu membuka helmnya. Dia adalah siswa Meteroid yang ia dan Bella tak sengaja lihat di lampu merah. Laki-laki yang tampan itu, kini berdiri menatap siswa Apollo dengan tatapan mata yang dingin namun cukup menakutkan. Membuat beberapa siswa itu mundur kebelakang.
Nampaknya mereka mengenal lelaki itu karena samar-samar Richi mendengar mereka menyebut satu nama yang belum pernah ia dengar. Aron? Siapa dia. Batin Richi.
__ADS_1
TBC