Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Belajar Bersama


__ADS_3

"Aku tidak sangka Komander Keen akan memberi kita banyak bonus. Ungtungnya itu hari pertama kita ikut beraksi." Eline tersenyum ceria sembari memegangi stik biliar di tangannya.


"Mau kau apakan uang sebanyak itu?" Tanya Eddy bersiap membidik bola biliar berwarna putih di atas meja.


"Aku akan belanja dan bersenang-senang. Aku akan menghabiskan uang itu untuk kebutuhan dan perawatanku." Sambungnya Eline. "Kalau kau, apa mau kubantu habiskan?" Tanya Eline pada kembarannya yang rambut hitamnya digerai begitu saja.


TAK! Bunyi bola biliar itu nyaring dan masuk ke dalam lubang di sisi meja.


"Aku bisa menghabiskannya sendiri." Jawan Erine sembari menyodok bola dengan stik biliar.


"Aku dengar lelaki bernama Hugo itu tidak mengambil uangnya." Sambung Eddy, membuka topik baru.


"Benarkah? Bodoh sekali. Tahu gitu, mending kubujuk dia supaya memberikan saja jatahnya padaku." Sahut Eline.


"Dia memberikannya ke panti asuhan. Kau mau menyerobotnya??" Eddy merebut stik yang dipegang Eline.


"Wah, patut diacungi jempol."


"Kudengar dia memang orang kaya raya, juga pewaris tunggal Lovvi Group." Jelas Eddy.


"Woaa.. Pemilik perusahaan terbesar, ternyata. Aku mengira juga begitu, sih, terlihat dari gayanya." Kata Eline mulai duduk melihat kedua kembarannya bermain.


"Kau tidak cemburu?" Tanya Erine pada Eddy.


"Yah, mau kukejar bagaimana pun, Darrel tidak akan mau denganku. Aku cukup sadar diri setelah melihat kehebatan laki-laki itu. Sudah kuduga, tidak mungkin Darrel asal-asal memilih laki-laki." Tukas Eddy.


"Kupikir malah dia tidak akan pernah berpacaran. Tidak disangka laki-laki yang Darrel dapat justru membuat Erine terpesona." Kekeh Eline melirik kembarannya yang mulai tak suka arah pembicaraan mereka.


"Aku tidak tertarik padanya!" Sanggah Erine.


"Kau tidak bisa membohongiku! Saat melihatnya berkali-kali mengalahkanmu dalam menaklukkan bom, kau menatapnya dengan mata yang bersinar-sinar."


"Diam kau!"


Eline tertawa lebar. "Aku benar, kan? Memangnya ada laki-laki yang membuatmu terpikat seperti itu? Lihatlah Hugo, tubuhnya yang atletis, wajah tampan, jago menaklukkan bom, hebat menembak, bela diri, apalagi? aah, dia juga ketua tim basket di Oberon. Bukankah kau menyukai laki-laki seperti Hugo?"


Erine tak mendengarkan, dia fokus membidik bola diatas meja biliar.


"Benar juga, Rin. Semua ciri-ciri Hugo, masuk ke dalam tipe laki-laki kesukaanmu, kan? Kau bilang, takkan suka jika laki-laki itu bukan penakluk bom sepertimu." Lanjut Eddy.


"Kapan aku bilang begitu." Sanggah Erine.

__ADS_1


"Ini gara-gara kau, Eline. Kalau kau dengarkan aku untuk masuk ke Oberon, pasti kita bertemu Hugo." Sambung Eddy.


"Aku mana tahu dia disana. Aku cuma Nggak mau satu sekolah dengan Darrel!" Gurutu Eline.


"Tapi, aku bisa membantu Erine jika dia mau. Sudah kubilang, kalau Erine yang melawan Darrel, pasti akan menang!"


"Aku tidak suka yang seperti itu." Bantah Erine dan langsung meletakkan stik biliar pada raknya.


"Tidak usah. Sudah jelas kau akan kalah melawan Darrel. Kau tidak ingat kejadian dua tahun lalu? Aku saja masih bergidik jika mengingat itu." Kata Eddy.


"Tapi, Rin, aku benar-benar akan membantumu. Kau dan Darrel, jelas masih cantikan kau."


"Kau ini kenapa, sih? Selalu saja ingin menyaingi gadis itu." Sungut Eddy.


"Entahlah. Aku hanya merasa, dia perempuan beruntung yang memiliki ayah jenderal dan kakak hebat seperti Keen. Dia, jelas tidak hebat. Hanya saja orang-orang menghormatinya karena Keen dan Ayahnya."


"Ah, terserah padamu. Tapi ingat, jangan coba-coba memulai peperangan dengan Darrel. Keen sudah banyak membantu kita dan kau harus tahu itu."


TingTong!


Bel rumah mereka berbunyi. Wajah Eline langsung berubah ceria seketika.


"Ah, itu dia. Hugo sudah datang!" Pekik Eline.


"Mengajari Erine."


"Apa? Aku? Kau gila ya, Eline!"


"Supaya kau hebat seperti dirinya. Aku hanya menolongmu. Sebentar, aku akan bukakan pintu." Kata Eline langsung bangkit menuju pintu rumah mereka.


"Dia sangat serius." Tukas Eddy.


Erine menggelengkan kepalanya heran dengan adiknya itu. Padahal Erine sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa soal Hugo. Entah darimana Eline menebaknya, yang jelas, apa yang Eline lakukan sangat memalukannya.


Daripada malu, Erine memilih untuk pergi saja. Kegilaan Eline memang sulit dikontrol. Siapa juga yang mau belajar dengan laki-laki itu.


Saat Erine berjalan ke arah pintu, Eline dan Hugo sudah di depannya.


"Ini dia, Erine. Supaya menghemat waktu, pergilah ke halaman belakang untuk belajar." Kata Eline sembari memberi kode dengan matanya pada Erine supaya mau saja belajar karena dia memaksa.


"Kita langsung praktik? Memangnya kalian punya bom?" Tanya Hugo.

__ADS_1


"Oh haha. Kami membawa semua bom saat di gudang bawah tanah waktu itu. Aku pikir, Erine pasti perlu praktik lagi." Jelas Eline tersenyum lebar pada kembarannya yang berwajah datar.


"Ee.. kalian sangat bersiko." Kata Hugo yang merasa aneh dengan keluarga itu.


"Ya, aku tahu. Tapi, bom itu sedang tidak aktif. Silakan aktifkan saja kalau mau." Tukas Eline.


"Tidak perlu diaktifkan. Kita hanya akan membedahnya sedikit. Bisa kita mulai?" Kata Hugo pada Erine.


"Tentu bisa, Hugo. Silakan, lewat sini." Eline mendorong tubuh kembarannya ke arah belakang rumah mereka. Dengan malas Erine melanjutkan langkahnya dengan Hugo yang mengikutinya dari belakang.


...🦋...


Richi duduk di atas meja bersandar tembok. Dia meletakkan buku diatas lututnya yang menekuk. Matanya yang sejak tadi menatap luar jendela membuat Clair dan yang lain bertanya-tanya, kenapa gadis itu tidak belajar dan malah melamun menatap air hujan yang menempel di kaca tembok.


"Kalau kau tidak suka, kau bisa langsung mengatakannya, daripada mengusik pikiranmu." Kata Clair yang seolah tahu apa yang sedang Richi pikirkan.


"Benar, Rel. Dia bisa kok, belajar dengan orang lain saja. Tidak harus Hugo, kan?" Sambung Olivia ikut-ikutan.


"Biarkan saja. Aku juga ingin lihat seperti apa kesetiaan Hugo." Sahut Bella yang mempunyai pemikiran sama dengan Richi.


"Tidak bisa begitu, Bells. Namanya cinta harus dijaga dan diperjuangkan." Kata Clair.


"Lah, Hugo saja tidak menjaga, kenapa harus Darrel." Sanggah Bella.


"Tapi, bisa dimulai dari salah satu pihak, kan? Jika suatu hari Darrel yang didekati laki-laki lain, pasti Hugo membatasi pergerakan Darrel bersama laki-laki itu." Jelas Olivia pada Bella.


"Kau tahu betul ya, Liv. Memangnya kau bagaimana?" Richi melemparkan pimbicaraan pada kisah Olivia.


"Kok aku?"


"Apa kabar tuan Daren? Sepertinya kau tidak lagi bekerja dengannya. Apa karena menjaga perasaanmu sendiri?" Richi terkikik melihat ekspresi Olivia.


"Aku masih bekerja, hanya tengah ambil libur saja!" Sahutnya cepat.


"Apa dia tidak menghubungimu, Liv?" Tanya Clair.


"Untuk apa dia menghubungiku. Tidak ada apa-apa diantara kami, tahu!" Pekiknya kesal.


"Memangnya yang bilang ada apa-apa diantara kalian, siapa?" Balas Richi meledek.


"Nggak tahu, ah!" Olivia membuka bukunya. Dia mulai pura-pura belajar padahal pikirannya sedang tidak di tempat.

__ADS_1


Sementara Richi, senyumannya yang tadi meledek Olivia mulai memudar. Setelah dipikir-pikir lagi, Hugo, sedang apa ya, dia? Tidak mungkin dia tergoda, kan. Erine pun, bukan tipe perempuan yang menggoda. Lain hal kalau Eline. Ah, entahlah. Richi mulai membuka lagi buku pelajarannya. Dia harus belajar karena besok sudah ujian kenaikan kelas.


TBC


__ADS_2