
"Kau sudah selesai?" Tanya Hugo dan Richi hanya menatapnya dengan diam.
"Sudah. Aku hanya mencuci tanganku." Jawab gadis dibelakang Richi. Dia lalu melangkah melewati Richi dan mendekat ke arah Hugo.
Richi menahan napasnya, hampir saja dia menjawab. Padahal jelas mata Hugo menatapnya, tetapi dia ternyata bertanya pada gadis itu. Dia sampai menunggunya di depan toilet.
"Hugo, lihatlah tanganku agak luka...." oceh gadis itu.
Richi membuang wajahnya, lalu berjalan meninggalkan dua orang itu.
Hugo menatap kepergian Richi, kekasihnya yang sangat cantik walau dilihat dari belakang tubuhnya. Apalagi dress merah yang dipakainya sangat indah dikulit mulusnya. Kenapa Harry bisa pandai memilih dress, batinnya.
Richi berhenti, matanya melihat Harry yang sedang berbicara dengan Bella dan itu membuatnya merasa lega sebab dia ingin sekali keluar dari ruangan ini.
Richi berbalik badan, dia melewati Hugo yang diam saja ditempatnya. Kesempatan bagus untuk menghirup udara segar diluar, pikirnya.
~
Mata Camilla mencari sosok Hugo kesana kemari, dia melihat Harry juga tidak sedang bersama Richi.
"Kemana, Hugo?" Bibirnya bertanya tanpa ia sadari Daren sejak tadi memperhatikannya.
"Kau mencarinya?" Tanya Daren lalu meletakkan anggur yang dari tadi hanya dia genggam.
"Ah, bukan. Aku hanya..." Camilla menggantungkan kalimatnya saat matanya menangkap Hugo masuk dengan pasangannya.
"Oh, itu dia.." jawabnya dengan senang setelah berhasil melihat sosok Hugo.
Daren menatap tajam pada Camilla yang tersenyum menatap Hugo, dia meneguk minumannya, ternyata Camilla membawanya kemari hanya supaya bisa melihat Hugo. Mungkin saja dia sudah mengajak Hugo kemari, namun lelaki itu menolaknya.
"Kau masih belum menyerah rupanya". Ucap Daren seraya menuang lagi minumannya.
"Bukan begitu, Daren. Aku hanya bertanya saja. Tidak ada apa-apa." Jawabnya lalu melihat Daren yang tak berhenti minum.
"Padahal aku sangat menyukaimu, Mil." Ungkapnya lirih sambil menatap gelas berisi minuman keras dan Camilla menatapnya, merasa menyesal telah mempermainkan lelaki di depannya.
Sementara Richi menghirup udara segar di jendela kaca yang terbuka lebar. Pemandangan dibawah juga bagus, dia mungkin berada di lantai 10 sekarang.
Richi mengusap kedua bahunya yang mulai terasa dingin, dia memilih masuk lagi kedalam. Namun tangannya ditarik ke dalam satu ruangan dan pintu dengan cepat ditutup.
Dia sempat terkejut dan mendapati wajah kusut Hugo di depannya.
Richi melepas paksa tangannya yang dipegang Hugo, perasaan marahnya semakin bertambah sebab lelaki ini datang dengan perempuan lain.
"Kau tidak memakai gelangku." Ucap Hugo sambil menatap tangan kiri Richi.
"Kau juga bergandengan tangan begitu mesra dengannya. Kau diperkenalkan sebagai apa, pacarnya?" Tanya Hugo dengan nada sendunya.
Richi hanya diam, dia tahu Hugo agak mabuk, tercium alkohol dari napasnya.
__ADS_1
"Lalu setelah ini, apa?"
"Apa lagi, pergi ke hotel dan tidur dengannya." Jawab Richi dengan melipat tangan di dada dan menatap tajam ke arah Hugo.
Rahang Hugo mengeras mendengar itu dari Richi.
"Kenapa? Bukannya kau yang bilang aku seperti itu?"
"Aku hanya kesal karena kau terlalu dekat dengannya, bahkan seperti kaulah pacarnya."
Richi melengos, dia enggan berdebat sekarang. Bisa-bisa dia mengeluarkan amarahnya pada Hugo.
"Kau tidak cemburu padahal aku membawa perempuan. Padahal aku berdansa dengannya, tapi kau.."
"Can we just stop it??!" Potong Richi yang malas berdebat.
"Coba kau tunjukkan saja perasaanmu padaku, seolah hanya aku yang punya perasaan padamu. Harry itu mencintaimu, aku tahu!"
"Astaga, Hugo. Sudahlah. Aku lelah. Sudah berapa kali aku jelaskan ini padamu, kau tak mengerti juga." Tekak Richi pada Hugo dengan nada yang lebih tinggi.
"Aku tidak bisa melihatmu mesra dengan Harry sialan itu!" Ucap Hugo dengan nada tinggi pula.
"Aku melakukannya bukan karena cinta, kau tahu itu, kan!"
"Tapi kenapa.."
"Stop, Hugo. Aku sudah lelah karena harus berpikir dan mengikuti lelaki itu, ditambah kau juga tidak mengerti situasiku. Kalau memang tidak bisa, sudahi saja sampai sini."
"Apa kau bilang?"
Richi melepaskan tangannya dari Hugo, tanpa berkata-kata lagi, dia keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal.
Hugo mengejar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara kaki yang mendekat. Dia memilih masuk lagi ke dalam ruangan tadi.
"Richi, kau darimana?" Harry berdiri di depannya, Richi terlihat mengatur napasnya.
"Apa kau marah karena aku memaksamu? Maafkan aku, ya. Aku hanya ingin berdansa denganmu."
"Bisa kita pergi saja dari sini?" Pinta Richi, lalu Harry mengangguk dan merangkul gadis itu keluar dari gedung.
Dibalik pintu, Hugo mengepalkan keras tangannya. Dia kesal setengah mati, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Ponsel Hugo bergetar, dia melihat nama Daren dilayar ponselnya.
"Hugo, cepat kemari. Daren mabuk!" Camilla menghubungi Hugo dari ponsel Daren sebab kalau dari ponselnya, Hugo takkan mau menjawabnya.
Hugo masuk lagi dan mendapati Daren sudah tergeletak di atas sofa.
"Syukurlah kau cepat datang. Tolong antar Daren ya, Hugo. Aku tidak bisa mengantarnya."
__ADS_1
Hugo melihat malas ke arah Camilla. Gadis itu langsung cabut pergi.
Hugo merasa kasihan pada Daren sebab perasaan lelaki itu benar-benar tak terbalas.
Hugo mengambil ponsel Daren dan menghubungi seseorang.
"Iya, tuaann.." sahut diseberang dengan malas.
"Cepat kemari. Tuanmu butuh bantuan!"
"Siapa ini? Kenapa tidak lapor polisi saja. Aku tidak bisa membantu karena aku bukan.."
"Cepat kemari. Aku tunggu di parkiran gedung A. Awas saja kalau tidak datang!" Hugo lalu menutup dan meletakkan ponsel di saku jas Daren.
Dia memapah tubuh Daren menuju parkiran. "Hah, sial. Kau kenapa sampai mabuk, ha? Bukannya kau kuat alkohol!" Tukas Hugo sambil memapah tubuh berat Daren.
Tak lama, Olivia datang separuh berlari menuju mobil Daren.
"Antar dia. Aku sedang sibuk." Ucap Hugo pada Olivia yang melihat Daren tergolek di kursi belakang.
"Apa? Dia mabuk, ya?"
"Bawa dia pelan-pelan. Kau tahu apa yang terjadi kalau tuanmu itu lecet sedikit saja, kan!" Ancamnya lalu beranjak pergi menuju mobilnya.
Olivia mengerutkan alisnya. "Bisa-bisanya karaktermu mirip dengan Richi!" Gumamnya sambil melirik tajam pada Hugo yang mulai menjauh.
Dia lalu membawa mobil Daren walau tidak tahu kemana arahnya.
"Aku bawa kau kemana, hei!" Pekiknya pada Daren yang tak sadarkan diri.
"Hah, bisa gila aku. Tidak mungkin kau kuantar pulang dengan kondisi begini. Bisa-bisa aku yang dipenggal!"
Olivia berpikir keras. "Ah sialan! Kenapa si gila itu malah memberimu padaku!"
"Apa kau bilang."
Olivia menjerit kaget, dia lalu menepikan mobil dan melotot tajam ke depan. 'Suara siapa itu? Apa Daren?' Batinnya.
Dia lalu menengok ke belakang pelan-pelan, dan mendapati Daren sudah duduk menyandar, matanya sedikit terbuka.
Olivia meringis, 'sejak kapan Daren bangun? Apa dia mendengar semua cakapku?' Batinnya lagi.
"Tu-tuan.. kemana saya akan membawa anda.." tanya Olivia dengan hati-hati.
"Pulang". Jawabnya berat.
"Ta-tapi saya takut dihukum, tuan.."
Daren mengerjap, pandangannya kabur dan matanya berat. Dia memilih tidur lagi dan membiarkan saja kemana Olivia membawanya, gadis itu takkan mungkin berani macam-macam.
__ADS_1
"Ah, jawab dulu. Jangan tidur.." pekik Olivia. "Ck! Sudahlah, ke rumah saja!" Ucapnya lalu menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
TBC