Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Peraturan Virgo


__ADS_3

Richi ikut berdiri saat sorak sorai orang-orang mulai bergemuruh. Tapi Virgo, lelaki itu hanya tersenyum kecil atas kemenangan mereka. Ya, memang Richi akui dia hebat juga.


"Bagaimana aku tadi? Hebat, kan?" Katanya saat mendekat.


"Ya. Hebat sekali." Puji Richi terpaksa.


"Hei, cepat panggil si kutu!" Teriak Virgo pada teman-temannya dan tak lama, orang yang dipanggil si kutu itupun datang dengan membawa nampan berisikan bir.


Dia mendekat dan Virgo langsung menuangkan isi botol bir ke dalam gelas.


Richi merasa kasihan pada lelaki berambut keriting itu. Dia menjadi pesuruh Virgo dan teman-temannya. Sekilas Richi bisa melihat tatapan lelaki berambut keriting padanya, seperti menyesalkan keputusan Richi.


"Mari, kita rayakan hari pertama kita." Virgo menyerahkan segelas bir pada Richi.


"Maaf, aku tidak minum." Tolak Richi.


"Ah, ayolah. Ini hari pertama kita."


Richi menggelengkan kepala dengan senyuman. Berharap lelaki itu mengerti. Tapi, jika dia tetap memaksa, baku hantam pun tidak masalah, pikir Richi.


"Baiklah. Hari pertama, aku harus mengalah. Tapi, aku akan peringatkan kau sekali lagi." Virgo mendekat ke telinga Richi. "Aku tidak suka ditolak. Siapapun harus menuruti setiap perkataanku." Bisiknya pada Richi lalu tersenyum manis.


"Itu rumus yang harus kau hapal, sayang." Lanjutnya lagi.


Richi hanya diam, di mata orang-orang itu mungkin dirinya sedang ketakutan. Tapi di dalam jiwanya, Richi sangat ingin menghajar mereka satu persatu.


"Hari ini kami akan merayakan kemenangan dan kau harus ikut." Virgo ingin merangkul Richi, tetapi gadis itu menghindar.


"Ah, apa aku bau keringat? Hahaa. Baiklah, tunggu disini, aku akan kembali."


Virgo dan beberapa teman-temannya bergegas pergi membersihkan diri. Sementara Richi masih menatap si rambut keriting.


"Kalau kau ingin menghajarnya, hajar saja. Hahaha." Celetuk perempuan berambut merah itu.


"Ya, kau sudah ditunjuk sebagai kekasih V. Kau punya kuasa setidaknya untuk memerintah si kutu itu." Sambung yang lain.


Punya kuasa? Apakah orang yang menjadi kekasih Virgo juga punya kekuasaan? Richi jadi ingin membuktikannya.


"Hei, kutu! Cepat antar minumannya kemar." Seorang laki-laki memerintahnya dan yang disebut si kutu itu langsung datang membawa nampan berisi botol bir.

__ADS_1


"Ah lambat!"


PRANGG!!


Lelaki itu menendang si kutu sampai botol-botol bir pecah hingga percikan airnya mengenai sepatu putih Richi.


"Sialan! Lihat apa yang kau lakukan? Lihat sepatu kekasih V jadi kotor! Kau bisa mati kalau V tahu!"


Lelaki berambut keriting itu berlutut dan memohon maaf pada Richi.


"Maaf.. maafkan aku.." Lirih lelaki itu dengan segala ketakutannya dan tentu itu membuat Richi semakin merasa kasihan.


Tapi tidak hanya makian, kepala lelaki itu terhantam lantai saat seseorang menendang kepalanya dengan keras.


"Kau mau mati, hah? Biar kuhajar dia!"


"Stop!" Richi menghentikan perundungan di depan matanya tepat saat laki-laki itu sudah menaikkan kaki, ingin menendang si rambut keriting.


"Hentikan." Ucap Richi lagi, saat dengan jelas ia bisa melihat tatapan tajam teman Virgo itu padanya.


"Kau memintaku berhenti??"


Senyum miring di wajah Andrew terlihat. Dia kemudian tertawa pelan dan menatap Richi dengan tak percaya. Nampaknya gadis itu memang belum tahu, pikirnya.


"Andrew!" Perempuan berambut merah menarik tangan Andrew, memintanya berhenti karena banyak mata yang memandang ke arah mereka. Namun Andrew menepis tangan gadis itu.


"Biar aku beritahu. Aku ini orang kedua setelah V. Kau harus tahu kalau akupun tidak suka diatur! Walau kau pacar V, bukan berarti kau bebas mengaturku." Tegas, lelaki bernama Andrew itu menatap tajam pada Richi.


Perempuan berambut merah itu langsung berdiri diantara keduanya. "Maaf ya, Richi. Andrew memang suka marah-marah." Ucapnya sembari mendoronh jauh tubuh Andrew.


"Kita belum kenalan, ya? Aku Augy." Dia mengulurkan tangan, mengajak berkenalan. Richipun menyambut tangannya.


"Kalau kau ada kendala atau apapun, kau bisa mencariku. Aku dan yang lain sudah semester 7 dan sebentar lagi selesai. Walau kami lebih tua, kau tidak perlu sungkan, apalagi kau kekasih V. Kami sangat menghormati V dan juga pacarnya."


Richi hanya tersenyum menanggapi ucapan Augy sampai Virgo datang dan menendang punggung lelaki berambut keriting itu sampai ia tersungkur diantara pecahan kaca.


"Brengsek. Apa yang kau lakukan, hah?" Berang Virgo pada lelaki berambut keriting.


"Dia mengacaukannya. Lihat, sepatu pacarmu sampai berubah warna." Andrew tersenyum sinis. Nampaknya dia sangat suka dengan kekerasan.

__ADS_1


Melihat itu, Virgo semakin berang. Dia bersiap menghajar, namun Richi menyentuh bahunya dari belakang, sampai Virgo menoleh dan menatap Richi yang tersenyum lembut padanya. Ya, Richi masih ingat jelas kalau kelompok ini tidak suka diatur.


"Bisa kita pergi sekarang? Aku mulai lapar." Ucap Richi dengan lembut. Tak lupa ia mengelus lembut bahu Virgo, walau hatinya sangat ingin memaki.


Melihat senyum yang tulus seperti malaikat itu, Virgo melepas cengkramannya pada si kutu.


"Oke. Ayo kita pergi. Seperti biasa, aku yang traktir kalian!"


Sorak sorai dari yang lain terdengar meriah. Richi merasa lega akhirnya lelaki berambut keriting itu bisa bebas walau sebentar.


~


Richi duduk di halte dengan lemas. Sudah sore menjelang malam. Rasanya dia sial sekali hari ini. Richi mau tak mau harus mengikuti kegiatan Virgo sialan itu. Apalagi dia baru tahu ada peraturan gila yang dibuat Virgo untuk keuntungannya sendiri. Baru hari ini, bagaimana dengan besok? Richi sampai menyandarkan tubuhnya di bangku halte saking lemasnya.


Dia merasa kasihan, pasalnya sempat terdengar pembicaraan mereka di restaurant tadi bahwa sebenarnya banyak anak-anak yang mereka bully. Memang Richi belum genap satu minggu kuliah, wajar kalau dia belum tahu hal semacam ini ternyata ada dibangku perkuliahan.


Sekejab mata Richi langsung terbuka lebar saat melihat mobil Hugo berhenti di depannya. Lelaki itu turun dengan gagah, kacamata hitam dan setelan yang sama masih melekat di tubuhnya.


Ah, lega.. Richi merasa lega saat Hugo mendekatinya. Ternyata lelaki itu tidak meninggalkannya. Dia pun langsung memeluk pinggang Hugo saat lelaki itu sudah berdiri tepat di depannya.


"Kau lelah?" Tanya Hugo sambil mengelus kepalanya.


Richi mengangguk. "Kau bagaimana tahu aku disini?" Tanya Richi, dengan mata terpejam merasakan hangatnya perut Hugo.


"Aku kan, melacakmu melalui ponsel. Seharian kulihat kau disekitar kampus. Apa sudah makan?"


Richi menggelengkan kepala. Sejak tadi dia menolak makan bersama Virgo dan teman-temannya.


"Ayo, kita makan dulu. Setelah itu baru pulang."


"Bisa kita cari hotel saja. Aku sangat lelah..."


"Sekamar?"


Richi langsung mencubit pinggang Hugo, membuat lelaki itu tertawa. Mereka pun mencari hotel disekitar sana untuk sekedar beristirahat.


TBC


* Up nanti malam kalau kalian semangat bacanya😆

__ADS_1


__ADS_2