Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Dejavu


__ADS_3

Richi duduk menopang dagu menghadap jendela. Seperti biasa, dia menikmati angin yang menerpa wajahnya.


"Woi, Richi!"


Richi membuka matanya, dia tahu itu suara Frans.


Frans masuk dan mengetuk-ngetuk meja Richi sebab gadis itu tak menoleh sedikitpun.


"Kau kenapa? Galau?"


"Tidak sama sekali". Ucapnya masih terus menghadap jendela.


Frans menarik kursi dari meja sebelahnya. "Hei, kau tak biasanya begini. Barusan juga ketua osis melihatimu terus dari jendela sana. Dia pergi tuh, kau tidak angkat teleponnya, ya?" Richi tidak bergeming.


"Kau melihat kesana terus, tidak berniat lompat, kan?" Tukas Frans yang melihat jendela terbuka lebar. Pasalnya, jendela itu menghubungkan langsung ke taman belakang sekolah di bawahnya.


"Chi, ayo ke kantin". Frans mengguncangkan bahu Richi.


"Aku sedang suntuk, nanti saja."


"Ha, benar dugaanku. Kau galau. Pasti karena Hugo." Tukas Frans lagi.


"Tidak. Sama sekali tidak".


"Benar kau dan Hugo putus? Tapi serius, memangnya kalian benar-benar pacaran? Lalu Camilla itu bagaimana, ya? Apa benar kata orang-orang kalau kau itu selingkuhan?"


"Hisss!" Richi berbalik dengan wajah berang ke Frans. "Tidak ada kaitannya kesana. Nanti aku turun, kok. Duluan saja, sana!" Usirnya.


Frans berdiri. "Gini, nih. Perempuan kalau lagi sedih, jadi berimbas kesemuanya. Tapi bagus juga, ternyata kau benar-benar perempuan. Hehe".


Frans berlalu, dia menggeleng pada Eric yang menunggu di luar.


Richi menarik ponselnya dari saku roknya, sepertinya ada sesuatu di laman sekolah sampai-sampai Frans mengatakan hal demikian.


Benar, Hugo membuat kode seolah dirinya single sekarang.


Dia memosting foto kakinya yang berselonjor di lapangan basket yang basah karena hujan malam tadi. Dia menulis, kalau dirinya sedang menikmati kesendirian.


'Apa kak Hugo sendirian sekarang?'


Komen salah satu siswi. Seperti tak biasa, Hugo meresponnya. 'Ya, begitulah'


'Hugo, jadi kau sudah putus?'


'Hard to say' Balasnya.


'Hugo, apakah aku ada kesempatan?^^'

__ADS_1


'Tentu' responnya.


Hampir semua komentar ia balas, dan semua balasannya sekaan menandakan bahwa ia kini sendiri.


Richi sedikit kaku saat membaca satu komentar.


'Hugo, bagaimana Richi?'


'Tidak lagi' balasnya lagi.


Richi memandang getir, padahal mereka bahkan tidak pacaran sama sekali.


Richi menyimpan ponsel dan beranjak dari tempatnya. Hugo telah mengumumkan bahwa dirinya kini tak lagi dengan Richi, seperti yang ia inginkan dulu walau sekarang perasaannya berbeda.


Di depan berisik, Richi keluar dan mendapati Hugo tengah bersama banyak perempuan di depan kelasnya. Padahal dulu tidak begitu, batin Richi.


"Hugo, bukankah itu Richi?" Seseorang menunjuk pada Richi yang baru saja keluar.


"Ya, memangnya kenapa? Baiklah aku pergi dulu, jangan lupa datang." Ucapnya ramah pada gadis-gadis itu.


Hugo berjalan ke arahnya. Wajah itu berubah dingin, dia yang selalu tersenyum jahil, bahkan berjalan saja dan tidak melihat ke arahnya lagi.


Hugo melewatinya, tanpa menoleh dan menyapa. Richi bahkan masih bisa menghirup parfum yang biasa ia pakai karena jarak Hugo yang sangat dekat dengannya.


Richi menunduk, melanjutkan jalannya lagi. Dia yang meminta itu pada Hugo dan lelaki itu benar-benar mengabulkan apa yang ia minta.


~


"Kau tidak makan?" Tanya Eric. "Mau kuambilkan?"


Richi mengangguk dan Eric beranjak mengambilkan makanan Richi.


Hugo dan teman-temannya datang, mereka duduk di meja tepat belakang Richi.


Suara tawa Hugo dan yang lain terdengar, Richi bergumam dalam hatinya, lelaki itu sama sekali tidak merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Dia bahkan bisa tertawa dan bermain seperti biasa. Hugo, benar-benar tidak memandangnya sebagai perempuan. Kini dia merasa keputusannya amat tepat, karena dia tidak ingin membuat hatinya semakin jauh mendalam.


Eric datang dan meletakkan nampan makanan di depan Richi.


Gadis itu mulai makan walau dia kurang berselera.


"Hei, bagaimana gadis yang kau tembak?" Tanya Frans lalu Eric mendesah tanda ia ditolak dan mendapat tawa lebar dari Frans.


Sementara di belakang, Richi mendengar percakapan mereka dengan jelas.


"Hugo, kau serius mengadakan pesta? Aku pikir kau sudah tidak tertarik lagi". Ucap Axel.


"Ya, aku kan suka pesta". Sambungnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Camilla? Kau serius putus?" Tanya Isac lagi.


"Ya, sudah dua bulan, bukankah harus cari lagi?" Ucapnya lalu tertawa.


"Lalu, Richi?"


Richi menghentikan kunyahannya. Begitu juga Frans dan Eric yang mendengar nama teman mereka disebut.


"Kalian kan tahu, kenapa bertanya." Jawab Hugo santai.


Richi melengos, mereka berbicara begitu apakah tidak tahu bahwa Richi duduk di dekat mereka?


Axel lalu tertawa, "Haha, aku masih ingat ucapanmu bahwa kau bahkan tidak memandangnya, kan? Ternyata kau memegang ucapanmu ya, Hugo."


"Ah, aku ingat itu. Katanya, Richi tidak masuk kriteria perempuan, haha" sambung Isac.


Axel mengoceh lagi. "Aku tahu, tidak mungkin seleramu berubah dari gadis anggun ke gadis tang.. aduh".


Daren menendang kaki Axel yang duduk di depannya supaya tidak melanjutkan ucapannya tanpa Axel sadari perempuan yang menjadi topiknya tengah duduk dibelakangnya.


Sementara Richi, hanya diam dan melanjutkan makan, berpura seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa.


"Kau baik-baik saja?" Bisik Eric disebelahnya dan Richi mengangguk sambil tersenyum samar.


Padahal, Hatinya benar-benar tidak baik-baik saja.


~


Richi masuk ke dalam toilet, mencuci mukanya yang terasa sangat kusam. Hari ini dia sangat lesu. Entah mengapa sulit sekali berpura-pura ceria. Padahal dulu dia juga sering punya masalah dan dia bisa saja menyembunyikan itu.


Lalu sekarang, seluruh hati, perasaan dan pikirannya bekerja sama seolah tidak bisa digerakkan untuk sedikit saja tersenyum. Wajahnya sangat terlihat murung, dia selalu saja ingin menangis. Seperti ada hal buruk yang selalu menghantuinya.


Richi keluar dari toilet, baru saja kakinya melangkah keluar, tubuhnya tertabrak tubuh besar yang sempat memberi sedikit rem.


Hampir saja mereka berdua terjatuh. Tubuh Richi di tahan oleh Hugo. Tak berlangsung lama, Hugo langsung mengangkat tangannya, "Sorry" Ucapnya.


Richi tertegun, ini seperti dejavu. Bukankah awal semua terjadi juga seperti ini? Namun bedanya adalah Richilah yang pergi darinya waktu itu. Dan sekarang...


Hugo melanjutkan larinya tanpa memperdulikan Richi. Begitu juga gadis-gadis yang mengejar Hugo, mereka berlari saja melewati Richi yang masih diam di tempatnya melihat Hugo yang menjauh.


Seperti itulah, seharusnya Richi senang karena waktu seolah mengubah kejadian dulu seperti yang ia harapkan.


Richi tersadar dari lamunan saat ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya.


"Sudah saya periksa, Nona." Ucap orang diseberang. "Alamatnya akan saya kirim segera. Hari ini, perempuan itu ada jadwal les bahasa mandarin."


Richi memutuskan teleponnya. Hari ini, dia akan memberi sedikit pelajaran pada Carina.

__ADS_1


TBC


__ADS_2