
Hugo menarik ponselnya dari tangan Richi.
"Kau tidak boleh menghapusnya. Itu sudah menjadi hak milikku." Ucapnya sambil tersenyum jahil.
Richi tak merespon, kini pikirannya mulai mencoba menerawang ke depan. Memangnya hubungannya dengan Hugo mau dibawa kemana? Jika Hugo sudah berkata demikian, artinya Hugo serius dengan hubungan ini. Sementara dirinya hanya menjalani berdasarkan apa yang ia inginkan sekarang. Tidak berpikir jauh ke depan. Dia juga tidak ingin bergantung pada laki-laki apalagi mendalami perasaan, dia menjaga supaya ketika hubungannya dengan Hugo selesai, dia tidak terlalu memikirkannya.
"Hei, ada apa?"
Richi menggelengkan kepala, dia tidak ingin berpikir jauh-jauh. Yang penting sekarang ini berfokus pada misi dan visinya, urusan lainnya dijalani saja seperti biasa.
"Kalau begitu, sini.." Hugo menarik tangan Richi lalu meletakkan ibu jari gadis itu di sensor sidik jari ponselnya.
"Nah, sekarang aku sudah mendaftarkan sidik jarimu di ponselku. Jadi, kau bisa membukanya kapan saja kau mau." Hugo tersenyum, lalu menyerahkan ponselnya.
"Silakan, kalau kau mau memeriksanya karena curiga aku selingkuh. Asal tidak menghapus fotomu."
Richi tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak curiga apapun. Aku percaya padamu. Lagi pula kalau kau selingkuh, ya sudah mau di apain lagi."
Hugo mengernyitkan alis. "Aku merasa tidak diperjuangkan.." gumamnya dengan wajah cemberut.
Melihat itu, Richi terkekeh sendiri. Dia mengambil ponsel dari saku roknya.
"Ini tidak pernah dikunci, kau bebas memeriksanya juga jika curiga." Ucapnya sambil menunjukkan ponselnya.
Dengan cepat, Hugo merampasnya dan memeriksanya, membuat Richi menggelengkan kepala lalu mengunyah makanan lagi.
"Walau isinya tidak ada apa-apanya, kau tetap harus membuat kunci. Tapi kau juga harus simpan benda berharga di ponselmu." Hugo lalu berfoto selfie dari ponsel Richi.
"Sedang apa kau?" Tanyanya yang heran dengan gaya Hugo yang sok cool.
Mata Hugo terus berfokus pada ponsel Richi. "Apalagi, berfoto dan menyimpannya di ponselmu. Aku juga sudah mengirim beberapa ke ponselmu. Nah.. sekarang kemarikan tanganmu." Dia menarik tangan Richi, meletakkannya di sensor sidik jarinya.
"Aku sudah mendaftarkan sidik jariku juga diponselmu, jadi aku juga bisa membukanya, oke?"
Richi menahan tawa, bisa-bisanya Hugo melakukan itu tanpa izinnya. Hugo menyerahkan ponsel Richi.
Mata Richi membulat saat melihat wallpaper di ponselnya. "Kau ini!"
"Apa? Itu supaya orang-orang tahu kalau kau punya pacar!" Hugo menekan kalimatnya.
"Iya.. baiklah tuan muda Hugo.." dengan pasrah Richi meletakkan ponselnya. Dia mengulas senyum melihat foto dirinya dan Hugo yang tengah berdansa dengan topeng terpampang di layar ponselnya. Entah bagaimana Hugo mendapatkannya, yang pasti foto itu menjadi foto terfavorit dirinya sekarang.
"Oh ya, Chi, aku ingin tanya.."
"Apa?"
__ADS_1
"Kemarin, aku sempat melihat fotomu dengan tentara militer. Apa kau.." Hugo ragu melanjutkan pertanyaannya.
"Ayahku anggota militer. Jadi, aku dan kakakku sering diikut sertakan dalam latihan bertahan hidup."
Hugo mengangguk lambat. dia baru tahu karena selama ini yang dia sering dengar adalah ayahnya seorang pengusaha.
"Pantas saja saat pertama melihatmu bertarung, benar-benar seperti terlatih dan berpengalaman bertahun-tahun."
"Hm, aku banyak dilatih oleh senior disana. Latihan bertahan hidup di hutan itu keras. Bahkan kami diajari cara bertarung dengan raja hutan." Ucap Richi sambil mengingat dirinya yang pernah bertemu harimau di tengah hutan waktu itu.
"Benarkah? Lalu apalagi?" Tanya Hugo antusias.
"Tidur di atas pohon, mencari tumbuhan yang bisa dimakan, menahan napas, bertarung, berlari dalam air. Hah, banyaklah. Aku juga paling malas kalau dapat perintah latihan dari ayah. Tapi tidak bisa menolak." Suara Richi terdengar berat seperti menjadikan semua itu sebagai beban dalam dirinya.
"Keren. Aku dengar para tentara militer minum darah ular, apa benar?"
"Hanya sebagian. Tapi aku tidak, aku hanya mencari tumbuhan. Aku dan kakakku tetap disamakan dengan yang lain walau kami paling kecil. Keras sekali, kau akan nangis kalau kesana."
Hugo tertawa lebar. "Kapan lagi? Aku ingin sekali ikut."
"Lebih baik tidak usah. Aku juga akan menolak jika ayah memerintahkanku lagi."
"Kenapa kau bisa ikut? Bukannya itu khusus untuk prajurit negara?" Tanya Hugo bingung. "Sebenarnya, siapa ayahmu?"
Hugo terbelalak, ayah Richi pemimpin keamanan negara? Pantas saja Daren bilang keluarganya tidak bisa diakses.
"Berarti ayahmu berpangkat jenderal militer?" Tanya Hugo tak berkedip. Ayah Richi punya pangkat tertinggi, bukankah itu luar biasa, mengingat Richi tidak pernah memakai pengawal juga tidak terlihat seperti anak yang memanfaatkan status orang tuanya.
"Hehe, iya. Tapi tolong jangan beritahu siapa-siapa, oke?"
Hugo tak menjawab, pikirannya terbang ke situasi saat ia pertama kali datang ke rumah Richi, rumah yang amat besar juga ucapan Axel yang mengatakan kalau hadiah yang pernah ia kirim diperiksa ketat sebelum masuk ke rumah itu.
"Aku akan menelpon Harry dulu, sepertinya aku tidak bisa pergi bersamanya malam ini." Ucap Richi lalu mengambil ponselnya.
...🐼...
"Kau bodoh sekali ternyata."
Lexus tertunduk, dia tidak berani mengangkat kepala pada tuan besarnya yang mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
Tuan besar itu duduk di kursi kekusasannya, membelakangi Lexus yang datang tanpa kemajuan rencana.
"Tuan besar, ada informasi penting.." seorang perempuan dengan rok mini masuk ke ruangan itu.
"Sekelompok gangster mengirimkan video rekaman yang mereka sebut sebagai Darrel Valiant. Mereka mengetahui banyak tentang Darrel dan ingin sedikit penawaran, tuan."
__ADS_1
Lexus mengangkat kepalanya, melihat ke arah si wanita dengan tatapan kaget.
Wanita itu memberikan ponselnya pada tuan besar yang duduk menghadap jendela kaca.
Dia menonton rekaman yang diberikan oleh Blackstone. "Inikah dia? Benarkah?" Tuan besar memutar kursinya, melemparkan ponsel itu ke arah Lexus untuk memastikan. Karena dia sendiripun tidak tahu jelas wajah Darrel.
Dengan mata membulat, Lexus menonton potongan video Darrel menghabisi kesemua orang disekitarnya. Dia membeku, melihat Darrel memegang dua bilah pisau mengingatkannya pada kejadian dua tahun lalu.
"Be-benar dia, tuan besar." Ucapnya terbata. Dia mulai merinding, bagaimana mungkin kelompok kecil ini berani bermain bola api yang suatu waktu akan membakar hangus dan menjadikan organisasi mereka halus seperti abu.
"Mereka menawarkan video itu untuk tuan besar dan meminta perlindungan dari kita."
Tuan besar itu tertawa lebar. Suara beratnya mengisi seluruh ruang hingga menambah ketakutan Lexus.
"Mereka pasti ketakutan, makanya meminta perlindungan. Dasar tikus kecil! Berani sekali meminta itu dengan hanya memberi sepotong video! Katakan pada mereka, tangkap gadis itu dan aku akan memberikan apapun yang mereka inginkan!"
"Baik, tuan besar." Perempuan itu keluar ruangan, menyisakan Lexus yang masih tertunduk.
"Bagaimana kau yang pernah berada satu lingkaran dengan Valiant, malah tidak punya informasi apa-apa." Tuan besar menghisap rokoknya, menatap sinis pada Lexus.
"Kau takut dengan perempuan itu?"
Dengan cepat Lexus menggeleng. "Ti-tidak, tuan besar".
"Cepat tangkap Darrel sebelum kelompok itu, atau kau yang kubunuh. Aku perlu gadis itu untuk mengeluarkan Keen dari sarangnya." Katanya lagi sambil mengeluarkan asap dari mulutnya.
Lexus menundukkan kepala lalu keluar ruangan tuan besar. Telapak tangannya dingin, sudah berkali-kali ia mendapat peringatan namun dia tidak juga menanggapi permintaan tuan besarnya. Bagaimana mungkin dia berani berhadapan dengan Darrel. Saat tak sengaja bertemu Darrel saja sudah membuat sekujur tubuhnya merinding dan entah bagaimana kakinya spontan berlari.
"Hei, kau dipanggil tuan muda." Ucap wanita tadi tanpa melihat ke arah Lexus.
Dengan cepat dia turun ke lantai 7 menemui tuan mudanya.
Dia melihat Saver di dalam, berdiri menunduk sementara Harry duduk dengan kaki yang berselonjor di atas meja.
"Aku dengar yang namanya Darrel sudah ditemukan." Ucapnya lalu meneguk minumannya.
"Benar, bos. Apa bos ingin melihatnya?"
"Tidak perlu. Aku sudah muak mendengar namanya yang ditakuti itu. Segera tangkap dan bunuh saja. Gara-gara fokus ingin mendapatkan gadis sialan itu, rencanaku banyak terulur!" Harry menoleh pada ponselnya yang bergetar. Melihat nama yang tertera di layar, dia mengulas senyum lebarnya.
"Ah, yang kutunggu-tunggu akhirnya menelepon." Lalu matanya menatap tajam pada kedua saudara kembar itu.
"Sana keluar!" Bentaknya dan kedua orang itu langsung menutup ruangan, membiarkan bos mereka menelepon yang entah siapa sampai membuat senyuman lebar di bibirnya.
TBC
__ADS_1