Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Tangga Seribu (1)


__ADS_3

Richi melongos dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Niatnya latihan hari ini adalah megalihkan pikirannya dari sesuatu yang belakangan mengganggu, tidak tahunya malah bertemu Hugo dan pacarnya disini.


Yang bikin Richi lebih kesal, kenapa dia malah menanggapi apa yang diminta Camilla. Padahal biasanya dia tidak peduli dengan apa yang diucapkan orang-orang walau menghinanya sekalipun.


Richi duduk tegak, dia berpikir kenapa tadi dia malah menodongkan senjata ke arah Camilla dan membuat gadis itu semakin memeluk Hugo.


"Aku pasti gila. Memangnya kenapa aku peduli." Gumamnya pelan.


Suara banyak tembakan terdengar, Richi berdiri dan melihat dari jauh. Disana Hugo dan Daren tengah menembak. Richi memperhatikan keduanya yang berlomba menembak pada titik patung.


"Lumayan juga" ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


~


Daren melirik ke belakang. Camilla, Axel dan Isac tengah duduk dan bersantai. Sementara dirinya dan Hugo sedang berlatih.


"Aku jadi semakin yakin, keluarga Richi pasti negarawan." Tukas Daren tiba-tiba.


"Kenapa kau mengatakan itu?" Tanyanya sambil memasukkan peluru ke dalam pistol.


"Dilihat dari caranya menembak, seperti dilatih anggota khusus, juga dia dengan mudah menembak dengan senjata Rusia tadi." Jelasnya pada Hugo. "Dia seperti tak punya kekurangan."


"Ya, dia berlatih sejak usia 3 tahun. Jadi sudah pasti menjadi hal wajar jika dia sehebat itu". Sambung Hugo lalu memasang Headphone dan membidik lagi.


"Hugo, Ajari aku.." Camilla datang lalu memilih satu senjata.


"Bantu aku, ya. Coba kau ajari aku dari belakangku". Ucapnya lalu tersenyum manja.


"Aku letih, kau berlatih saja pada Daren, ya." Hugo meletakkan headphone lalu melangkah menuju Axel dan Isac. Melihat itu, Camilla menghentakkan kakinya dengan kesal.


🐨


Malam hari, sesuai dengan apa yang ia katakan, Hugo sudah berada di rumah Richi. Lelaki itu berhasil masuk setelah penjaga memeriksanya dengan teliti.


Pintu terbuka, seorang pelayan mempersilakannya masuk.


"Silakan duduk, Tuan. Saya akan memanggilkan nona Richi".


Pelayan itu meninggalkan Hugo yang duduk sendirian.


"Permisi, Nona. Teman Nona ada di ruang tamu." Ucap pelayan itu pada Richi yang membaca novel di taman belakang rumahnya.


"Siapa? Emerald?" Tanyanya dengan alis berkerut.


"Bukan, Nona. Katanya, dia teman sekolah Nona."


Pelayan itu pergi, Richi juga bangkit dari duduknya dan bergerak menuju ruang tamu.


Dia mendengar suara tawa Ibunya dari ruangan itu. Dengan penasaran dia mempercepat langkahnya.


"Hugo?"


Hugo menyengir, dia duduk berhadapan dengan Ibu Richi yang sejak tadi mengajaknya bercerita.


"Ada apa?" Richi berdiri di belakang sofa Ibunya.

__ADS_1


"Apa kau tidak lihat ponselmu?" Tanyanya dan Richi langsung merogoh ponsel di saku celana pendeknya.


Richi menggeleng sambil menunjukkan layar ponselnya yang artinya dia tidak menerima apapun.


"Sudahlah, ganti baju saja sana. Hugo pasti ingin mengajakmu jalan-jalan." Kata Mary dengan senang hati.


Richi melirik Hugo dengan tatapan penuh curiga.


"Hei, cepat. Kau membuat Hugo menunggu lama." Bentak Ibunya yang membuat Richi langsung bergerak menuju kamarnya.


Hugo melihat gadis itu berjalan dengan rambut terurai panjang hingga menutup pinggangnya, membuatnya tidak bisa menahan senyum.


"Wah, kau benar-benar menyukai Richi, ya". Goda Mary yang membuat Hugo langsung kaku.


"Saya hanya berteman, Ibu". Jawabnya dengan gugup.


"Lebih dari itu juga tidak apa-apa". Ledeknya lagi dan semakin senang melihat senyum samar Hugo.


"Bagaimana kabar David, apa dia baik-baik saja?" Pertanyaan Mary membuat Hugo menaikkan wajahnya.


"Eh? Ibu kenal dengan Ayah saya?"


"Tentu saja, kami kan..."


"Kecoaaa!" Teriak Richi dari depan ruang tamu secara tiba-tiba dan membuat beberapa pelayan mendatanginya.


"Maaf, Nona. Dimana kecoanya?"


"Disitu, coba cari!" Tunjuknya, lalu berjalan cepat menuju Hugo.


Para pelayan dengan cepat mencari di berbagai sudut.


"Ada kok, cari saja. Hugo, ayo cepat!" Richi menarik tangan Hugo.


"Saya permisi Ibu." Ucap Hugo pada Mary.


Richi mendorong tubuh Hugo keluar dari rumahnya. Dia cepat-cepat masuk ke dalam mobil lalu membuang napas lega.


"Hei, kenapa datang, sih!" Tukas Richi saat Hugo baru masuk mobilnya.


"Memangnya kau tidak cek ponselmu? Kan sudah ku kirim pesan supaya menemaniku malam ini."


"Apa? Memangnya ada?" Richi mengecek ponselnya lagi.


"Ada tidak?"


"Tidak!"


Hugo dengan cepat merampas ponsel Richi lalu membuka pesan yang ia kirim.


"Ini apa?" Tunjuknya di depan wajah Richi.


"Oh, jadi itu kau".


Hugo menyimpan nomornya di ponsel Richi dan menuliskan namanya.

__ADS_1


"Nah, langsung simpan ponselmu jangan lihat apapun". Hugo menyerahkan ponsel Richi dan menjalankan mobilnya.


Semakin dibilang begitu, Richi semakin penasaran dan benar saja, Hugo menulis namanya sendiri di ponsel Richi.


"Hugo ganteng?" Richi mengerutkan alisnya saat membaca nama yang disimpannya sendiri di ponsel Richi. "Percaya diri sekali!" Ucapnya lalu mengganti namanya.


"Kau menggantinya? Kenapa diganti? Kau ganti jadi apa?" Tanyanya penasaran sambil sesekali melirik ponsel Richi.


"Mau tau saja".


Hugo melirik pakaian Richi.


"Kenapa kau tidak pakai dress?"


Richi melirik Hugo. "Supaya apa?"


"Hmm.." Hugo tampak berpikir. "Ya supaya terlihat anggun."


Richi membuang wajahnya dengan kesal. "Seharusnya kau pergi saja dengan pacarmu. Minta dia pakai apa yang kau mau. Kenapa malah mengaturku!" Ucap Richi berang tanpa melihat Hugo.


Lelaki itu terdiam. Dia tahu, dia salah bicara, tetapi tidak tahu cara supaya gadis itu berhenti marah.


"Ja-jadi, ini mau kemana?" Tanya Hugo gugup.


"Terserahmu saja." Ucapnya tanpa menoleh. Richi tampaknya benar-benar kesal.


"Kau segitunya marah padaku, ya. Padahal kalau kau tidak mau terlihat anggun, kau tinggal bilang saja, kan."


Richi tersentak, Hugo benar. Padahal banyak orang yang menyuruhnya merubah penampilan, tetapi dengan enteng dia menjawab tanpa beban. Dan sekarang, kenapa dia malah marah-marah dan mengungkit Camilla segala?


"Jadi, coba kasih tahu aku tempat untukmu biar kau merasa lebih baik". Ucap Hugo lagi.


Richi sejenak berpikir tempat yang ia ingin datangi, lalu ia mengetik satu alamat di head unit mobil dan secara otomatis layarnya mengarahkan jalan ke suatu tempat.


"Baiklah, kita kesana." Ucap Hugo dengan senyuman karena ternyata Richi tidak sulit dihadapi.


Sesampainya disana, Richi langsung menatap deretan tangga yang ia sempat gagal naiki bersama Emerald waktu itu.


"Jadi, ada apa di atas?" Tanya Hugo yang ikut menatap anak-anak tangga itu.


"Aku juga tidak tahu. Makanya, ayo ke atas".


Richi bergerak naik, lalu berhenti di anak tangga kedua. "Siapa yang lambat panggilannya adalah keong". Ucapnya lalu berlari menaiki tangga.


"Apa! Hei, licik sekali". Teriak Hugo lalu mengejar Richi dengan cepat. Kakinya yang panjang langsung menaiki 2 tangga sekaligus, walau begitu Richi masih di depannya. Gadis itu cepat sekali.


"Hei, tidak adil!" Teriak Hugo yang hanya mendapat tawa dari Richi.


"Arghh!" Hugo berhenti di tempatnya dan Richi langsung menoleh saat mendengar rintihan Hugo. Dia melihat laki-laki itu tengah membungkuk sambil memegang dada kanannya.


"Hugo, kau kenapa?" Richi cepat-cepat turun dan panik karena mereka sedang berada di tengah-tengah ketinggian yang seperti bukit.


Hugo meringis lalu melihat ke arah kanan, pemandangan yang indah terpampang disana. "Itu.." tunjuknya ke kanannya, dan Richi menoleh. Dia sudah melihat pemandangan itu, tetapi masih saja takjub.


"Hugo, kau.. eh?"

__ADS_1


Hugo tertawa dari atas, dia sudah jauh melangkah. Dengan kesal Richi berlari lagi menyusul Hugo.


"Licik sekali kauu!" Teriak Richi mengejar Hugo yang terkekeh melihat Richi yang gampang ditipu.


__ADS_2