
Richi sedang berjalan menuju kantin. Saat itu, dia terhenti lantaran ada kaki panjang yang menekan pada tembok dan menghalangi jalan gadis itu.
Sesosok manusia yang ingin dihindari Richi, berdiri dengan satu kaki. Kaki satunya yang menghadang itu ingin sekali dia patahkan. Tangannya pula, masuk di kantong celana dengan gaya bengalnya seperti biasa.
Richi membuang napas dengan kasar. Matanya menatap wajah dingin Hugo yang seperti tanpa dosa itu.
"Aku mau makanan itu". Ucapnya tiba-tiba.
Sempat bingung, lalu Richi paham maksudnya.
"Kau kan tahu alamatnya". Jawab Richi kesal.
"Kan kau yang bilang, cuma kau yang bisa memesan itu".
Sejenak Richi terdiam. Lalu sedikit manggut. "Benar juga". Richi lalu memberi ide. "Kau pergi saja kesana. Lalu katakan, kalau kau memesan pesanan Darrel. Dia pasti akan buatkan yang sama persis juga minumannya".
"Tidak bisa".
"Sudah kau coba?" Tanya Richi dengan mata melotot.
Melihat anggukan Hugo, Richi seperti berpikir.
"Kapan kau mau makan itu?"
"Siang ini"
"Apa? Aku tidak bisa".
"Sore"
"Hm" ucapnya sambil menggeleng.
"Malam"
"No, i am busy today."
Hugo menatapnya dengan kesal. "Kau sibuk apa memangnya?"
"Should i tell you?" Jawab Richi cepat.
Hugo terdiam. Benar. Kenapa dia harus bilang? Hugo menurunkan kakinya dengan kasar. Lalu berjalan menuju kantin karena perutnya mulai lapar.
Setelah pulang sekolah, dari lantai dua, Hugo melihat ke bawah, Richi sedang berjalan santai dengan Emerald.
"Sibuk itu rupanya." Gumamnya pelan.
🦥🦥🦥🦥
"Kau kujemput jam berapa?" Hugo mengeraskan suaranya di dekat telinga Richi.
Richi tersentak. Cemilannya berserak di atas mejanya. Dia mendongak, Hugo berdiri menjulang di sampingnya.
"Kau ini!" Teriak Richi sambil melepas headset-nya dengan wajah kesal. Dia benar-benar terkejut.
Seisi kelas Richi menoleh. Tidak pernah mereka melihat Hugo memasuki kelas lain selain kelas dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku kan, cuma bertanya". Jawabnya santai memakan cemilan yang jatuh di atas meja.
"Tidak perlu. Aku datang sendiri. Jumpa saja disana". Ucapnya sambil membersihkan remahan di atas mejanya.
"Begitukah?"
"Iya, begitu!".
"Hm, begitu."
"Sudahlah. Sana keluar." Usirnya pada Hugo karena malas menjadi pusat perhatian.
"Baiklah". Jawabnya santai dan berlalu begitu saja.
"Hei, Richi. Kau kencan lagi dengannya?" Ucap Nella dengan suara pelan pada Richi yang merasa istirahatnya diganggu Hugo.
"Memangnya siapa yang bilang kami putus?" Jawab Hugo tiba-tiba yang sudah di ambang pintu. Dia, entah bagaimana bisa mendengar pertanyaan Nelli pada Richi.
Jawabannya membuat semua orang ternganga. Baik yang di dalam atau yang diluar kelas.
"Richi, kau serius?" Greta tiba-tiba muncul. Padahal anak itu tadi sedang di kantin.
"Haaahh. Terserah mulutnya sajalah!" Ucap Richi berang pada kelakuan Hugo yang lagi-lagi mempersulit hidupnya.
~
Setelah bel berbunyi, Richi langsung beranjak. Dia ingin membereskan satu masalah. Yaitu Hugo. Dia hanya akan memesan makanan, lalu pergi. Juga mengatakan pada Clair nanti, kalau lelaki sialan ini datang lagi, harap berikan saja apa yang dia mau. Begitu rencananya.
"Hei Rich".
Mata Richi menatap motor sport itu.
"Kau mau pergi sama denganku?" Hugo yang berada di atas motor itu membuka kaca helmnya.
Richi melirik Simon yang sudah menunggunya. Dia memberi kode supaya Simon pulang saja. Dari jauh, Simon menundukkan kepala lalu pergi.
"Kau serius naik ini ke sekolah?" Tanya Richi antusias.
"Kenapa? Tidak ada yang melarang. Hei, kau ingin sekali ya punya pacar bermotor ini?" Ucap Hugo tersenyum saat melihat ekspresi Richi yang terkesima.
"Hugo. Kau orang yang pelit, tidak?" Tanyanya pada Hugo. Dia membuang dulu semua rasa kesalnya terhadap lelaki ini, supaya keinginannya kali ini terkabulkan.
"Tentu saja, tidak. Jika kau sangat ingin punya pacar dengan motor seperti ini, kau sudah memilikinya." Ujar Hugo dengan senyum bangga. Ternyata Richi suka dengan lelaki bermotor sport, pikirnya.
"Hugo, aku memang suka dengan motor sport. Bukan dengan kekasih yang bermotor sport. Kau bisa minggir?"
"Apa?" Hugo terlihat kesal. "Mau apa kau?"
"Pinjam sebentar. Kau bilang, kau tidak pelit".
"Hah! Apa-apaan itu!"
"Atau begini saja. Aku yang memboncengmu. Bagaimana?" Usul Richi pada Hugo yang sedang kecewa dengan jawabannya.
"Apa? Yang benar saja aku dibonceng wanita." Tolaknya mentah-mentah. Apa kata orang? Pikirnya.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya kau yang bilang aku ini laki-laki? Ayolah, Hugo. Ya ya?" Mata Richi berbinar-binar memandang Hugo. Jurus yang ia lakukan pada kakaknya supaya keinginannya dilaksanakan.
Ekspresi Richi tidak mengubah wajah geram Hugo. Bagaimana tidak, dia sengaja memancing karena biasanya perempuan menyukai motor besar, tidak tahunya perempuan ini malah naksir pada motornya.
"Ya sudah." Hugo akhirnya mengalah. Dia turun dan menyerahkan helm pada Richi yang dengan senang hati Richi menerimanya. Dia menaiki motor Hugo dengan riang gembira.
"Naiklah". Ucapnya saat sudah siap dengan Helmnya.
Hugo mengerutkan alisnya. "Aku naik taksi saja" Ucapnya kesal.
"Hei hei. Kau ini. Naik saja. Aku bisa, kok" Ucap Richi serba salah.
Hugo diam di tempatnya. Dia ragu, juga mempertanyakan statusnya sebagai laki-laki bila dibonceng oleh perempuan, terlebih Richi.
"Tenang saja. Aku bisa. Aku punya surat izin mengemudi juga." Ujarnya lagi meyakinkan.
Richi membuka Helmnya. "Nah, kau saja yang pakai kalau malu". Ucapnya saat paham dengan benar apa yang diragukan lelaki itu.
Hugo melihat gadis di depannya. Rambutnya terurai. Lalu dia mengikatnya dengan asal.
Hugo pun dengan malas memakai helm kemudian naik. Dia kaku sebab tidak mungkin memeluk pinggang gadis itu.
Richi mulai menyalakan mesin, tangannya menarik kopling, dan kakinya menaikkan pedal.
Motor Hugo berhasil ditaklukkan Richi. Dengan kecepatan sedikit kencang, Richi menjalankan motor itu.
Hugo memandang gadis yang membelakanginya. Hatinya berdegub. Sedekat ini jarak mereka. Hugo bahkan bisa merasakan harum rambutnya yang mulai menyeruak keluar dari ikatannya karena tiupan angin.
Hugo membuka helm nya. Dia ingin merasakan sentuhan rambut Richi yang keluar dan melambai tertiup angin. Dia bahkan tidak tahu kapan hal ini akan terjadi lagi.
Hugo mengingat isi surat cinta untuk Richi. Gadis ini memang terlihat seperti laki-laki, tetapi dia tetap mempunyai sisi perempuan. Wangi rambutnya saja, benar-benar perempuan. Hugo tersenyum mengingat itu. Satu hal yang patut ia syukuri adalah mencuri surat itu.
"Hugo. Kau melepas helm mu?" Teriak Richi supaya Hugo mendengar karena deru motor dan angin yang begitu meraung di telinga.
"Ya. Panas" Teriaknya asal.
"Hugo, tanganku gatal. Rasanya ingin sekali menancap gasnya. Kau pegangan. Kita balap."
"Eh, Jangan!" Seru Hugo khawatir.
"Kenapa? kau takut ya?" Ledek Richi.
"Pokoknya jangan!" Teriak Hugo di teliga gadis itu. "Kau kenapa tidak beli motor saja?" Tanya Hugo yang mendongakkan badan dan wajahnya ke telinga Richi.
"Tidak di izinkan. Keluargaku agak sulit."
'Agak sulit?' Hugo berbatin. Dia lupa kondisi keuangan gadis ini.
"Kalau gitu pakai saja ini jika kau mau. Aku kan pacarmu." Ucapnya pelan pada Richi.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Kau terlalu cepat. Kurangi kecepatanmu" Teriak Hugo mengganti topiknya.
To Be Continued....
__ADS_1