
"Hugo, ceritalah. Kau kan sudah berjanji" rengek Richi di dalam mobil Hugo, saat mereka sudah pulang. Hugo tak mau membahas disana, oleh sebab itu Richi menagihnya saat mereka berdua.
"Iya, baiklah." Hugo menatap ke depan jalan. Pikirannya mulai menerobos ke masa lalu yang tidak pernah ia pikirkan lagi.
Dulu, saat usia Hugo baru menginjak 2 tahun, David Erhard menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang bukan karena cinta, namun belas kasih.
Dia adalah Joanna Cecillia, wanita yang hanya duduk di kursi roda. Jo lumpuh sejak usia 6 tahun karena kecelakaan.
Lalu dia bertemu laki-laki yang menjanjikan kebahagiaan saat usia Jo 17 tahun dan ternyata pria itu meninggalkan Jo saat usia anak mereka 3 tahun, dialah Harry Draw.
David Erhard menemukan Joanna saat wanita itu terjatuh dari kursi rodanya di dekat lokasi perkantoran yang akan dibangun David.
David membantunya, Joanna menangis karena mengejar suaminya yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa kabar.
David yang kasihan karena Joanna tidak bisa bekerja sementara masih mempunyai anak kecil, membuatnya tergerak untuk menikahinya.
Saat itu, Joanna setuju lantaran dia tidak punya pilihan lain. Dan saat tahu David juga memiliki anak seusia Harry, membuatnya sedikit terenyuh, Hugo Erhard, piatu sejak kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ibu.
David membiarkan Joanna mengurus anaknya dan Harry bersamaan karena wanita itu menyukai anak kecil. Joanna juga tidak meminta apa-apa selain sesuatu yang dibutuhkan Harry, dan hal itu yang membuat David semakin mengagumi Joanna.
Hingga Harry dan Hugo bertumbuh besar bersama, David tidak pernah membedakan keduanya. Apa yang Hugo punya, Harry juga punya.
Waktu itu, saat usia Hugo 9 tahun, Hugo menghajar Harry karena hal kecil, Harry tidak mau membagi mainannya pada Hugo padahal Hugo hanya meminjamnya.
Harry menangis dan mengadu pada Joanna yang terkejut melihat hidung Harry berdarah. Melihat Joanna yang panik dan menangis, Hugo merasa bersalah. Dia langsung meminta maaf kepada Harry, karena takut Joanna tidak menyayanginya lagi. Walau Hugo sudah tahu bahwa Joanna bukan ibu kandungnya.
Setelah melihat kelemahan Hugo, Harry terus menerus membuat Hugo terpojok dengan dalih dia akan ditinggalkan Ibunya apabila tidak mau mengalah.
Hugo tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sayangnya pada Joanna, dia mengalah saja. Hingga pada usia 12 tahun, Hugo berhasil meraih medali emas untuk pertandingan Tinju dan Joanna memeluknya dengan kasih sayang yang dapat dia rasakan ketulusannya, membuat Harry cemburu.
"Kau bangga sekali." Harry bersandar di tembok, dia melihat Hugo tersenyum cerah setelah memamerkannya pada Joanna sambil memegangi medali yang menggantung di lehernya.
"Jelas, ini usahaku". Jawab Hugo masih dengan senyuman lebarnya.
"Usaha untuk merebut Ibuku?"
"Apa?"
__ADS_1
"Dengar, ya. Sampai kapanpun dia tetap Ibuku. Bukan ibumu." Tukas Harry.
"Aku tidak pernah berniat mencurinya darimu. Dia Ibumu, tetapi dia ikut andil dalam membesarkanku. Sama halnya dengan Ayahku yang membesarkanmu lewat biaya yang dia habiskan untukmu."
Harry terdiam di tempatnya dan Hugo melanjutkan langkahnya, meninggalkan Harry dengan wajah kesalnya.
Beberapa bulan kemudian, Ayah kandung Harry, mendatanginya sepulang dia sekolah dan ingin membawanya pergi semenjak dia tahu bahwa Harry adalah anak yang pintar dan berprestasi.
Harry pulang dengan wajah yang basah karena menangis, Hugo mendengar keluhannya pada Joanna bahwa dia tidak ingin ikut bersama ayahnya. Dia lebih suka dengan Ayahnya yang sekarang, David.
Mendengar itu, Hugo tersenyum miring. Ternyata Harry juga menyayangi Ayahnya. Tentu saja, Ayahnya bahkan tak pernah memarahinya dan hanya memarahi Hugo, apalagi jika Hugo yang bersalah.
Hugo masuk, dia mengatakan pada Harry, jika tidak ingin ikut ayah kandungnya, dia bisa tetap tinggal disini. Hal itu membuat Harry terhenyuh. Bagaimana pun dia sudah berbuat seenaknya pada Hugo dengan mengancamnya memakai nama Ibunya, namun ternyata Hugo bukan mengancam balik saat tahu dirinya tengah terpuruk, melainkan merangkul Harry supaya tetap bersamanya dirumah itu.
Hingga pertengkaran keduanya berakhir, Harry dan Hugo bisa kompak sampai akhirnya Joanna meninggal dunia.
"Lalu, kenapa Harry pindah, Hugo? Apakah yang sekarang adalah ayah kandungnya?" Tanya Richi penasaran.
"Sudah sampai di rumahmu, besok kita lanjutkan." Ucap Hugo yang sudah menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Richi.
Hugo menghadapkan tubuhnya pada Richi. "Aku akan menjalankan misimu malam ini, jadi aku harus bersiap. Lihat, sudah pukul 5."
Richi menghela napas. "Baiklah, besok kau harus menceritakannya padaku."
Hugo mengangguk. "Chi, kau tidak apa-apa aku mendekati Shera?"
"Tidak. Aku juga menjalankan hal yang sama, kan?"
"Aku percaya padamu, tetapi tidak percaya pada Harry. Aku bisa melihat dia benar-benar menyukaimu."
Richi tertawa lepas. "Bagus, kan. Justru itu lebih mudah buatku."
"Lalu, kalau gadis itu benar-benar menyukaiku, bagaimana?" Tanya Hugo dengan tatapan serius.
"Ya kalau kau mau, tidak masalah."
Mendengar jawaban Richi, Hugo mengerutkan alisnya. "Jadi kau tidak apa-apa kalau aku bersama dia? Kau tidak marah?"
__ADS_1
"Marah? Untuk apa, itu tandanya kau memang laki-laki yang tidak setia." Jawabnya simpel, tersenyum, lalu keluar dari mobil Hugo yang masih terheran-heran dengan jawaban Richi. Dia ingin sekali keluar dan mencium gadis itu. Bisa-bisanya berkata sebegitu ringannya, batinnya.
...🐯...
"Kau yakin? tidak cemburu? Aku akan membatalkannya jika kau tidak suka." Tanya Hugo lagi melalui teleponnya dengan Richi. Lelaki itu sudah berada di parkiran museum baru dengan setelan jas abu-abu dan kemeja hitamnya.
"Masuklah sekarang, Hugo. Tunjukkan pesonamu sebagai laki-laki tampan Oberon. Sudah ya, aku mau baca Novel."
Richi memutuskan sambungan teleponnya dan mulai membaca novel di kamarnya.
Sementara Hugo melengos kesal dengan jawaban Richi yang tak peduli padanya.
"Dia benar-benar tidak peduli!" Pekiknya pada layar ponselnya.
Hugo keluar dari mobilnya, lalu melihat Harry bersama Shera baru saja masuk ke dalam museum.
Diapun ikut masuk, dan mendapat sambutan dari orang-orang yang mengenalnya sebagai anak dari David Erhard.
"Tuan Hugo Erhard, benar?"
Hugo menyambut tangan beberapa pria disitu dan ikut tersenyum mendengar ocehan para pejabat kota itu pada Hugo yang enggan menanggapi, karena dirinya datang untuk misi yang lain.
Mata Hugo menangkap Bella, gadis itu berdandan cantik dan sedang berusaha sendiri supaya Harry meliriknya.
Selang beberapa lama, Shera memisahkan diri, dia meninggalkan Harry bersama teman bicaranya yang lain. Melihat kesempatan itu, Hugo menjalankan misinya.
Ia pamit pada orang-orang di hadapannya, berjalan mengikuti arah Shera melangkah.
Shera masuk ke dalam toilet, lalu Hugo mengambil jarak, ke tempat Shera akan melangkah.
Tak berapa lama, Shera keluar dan Hugo menghadang langkahnya.
Shera terbelalak, dia sepertinya masih mengenal Hugo.
"Oh, kau?"
Hugo tersenyum, Shera masih mengingat dirinya.
__ADS_1