Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Hacker


__ADS_3

"Chi, bisa tidak, apapun yang terjadi, apapun yang kau lalui, atau yang kau alami, kau bilang padaku, beritahu aku, supaya aku tidak menjadi orang terakhir yang tahu soal ini. Aku kekasihmu, kan?"


Richi sedikit menunduk mendengar ucapan Hugo. Perkara yang seperti itu, dia tidak bisa memaksakan dirinya untuk melapor ataupun menceritakan segala hal pada Hugo mengingat dirinya bukan orang yang gampang mengadu.


"Kau bersama banyak teman-teman kita, hanya aku yang tidak ada. Mereka semua tahu apa yang terjadi tapi aku.." Hugo memberi jeda untuk mengambil napas, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya. "Aku tidak tahu apa-apa sampai lima menit terkahir ini. Aku orang yang pertama ada di hatimu kan, Chi. Aku, kan?"


Richi diam sesaat. Dia tidak tahu harus bicara apa karena, yah, memang seperti itulah dirinya. Menganggap hal-hal seperti itu bukanlah perkara penting untuk diceritakan. Apalagi dia menghajar orang-orang itu juga karena emosinya pada Hugo, dan dia menyelesaikan itu dengan baik.


"Hugo, aku-"


Bunyi bel tanda mulainya ujian pun berdering kencang. Richi menahan ucapannya. Dia tidak bisa membahas masalah sepele ini sekarang karena akan ada hal yang lebih penting, yaitu ujian kenaikan kelas.


"Masuklah, Hugo. Ujian akan dimulai." Richi memposisikan tubuhnya ke depan. Membiarkan Hugo yang masih berjongkok di sebelah kursinya.


Melihat siswa yang mulai memasuki kelas, Hugo pun berdiri. Dia menatap Richi sebentar, kemudian keluar dari kelas Richi.


Melihat tubuh tinggi itu menghilang, Richi menghembuskan napasnya. Memang sulit jika ia harus menuruti permintaan Hugo untuk lebih perhatian dan tidak cuek. Karena bagi Richi, dia lebih suka menjadi dirinya sendiri. Lagipula, perhatian dan kepedulian itu selalu muncul sendiri, tanpa dibuat-buat, Richi akan sendirinya mencari Hugo jika laki-laki itu menghilang satu harian, atau panik saat Hugo terluka.


Tapi...


Richi tampak berpikir. 'Apa aku menang terlampau cuek?' Pertanyaan dalam benaknya harus ia pendam karena seorang guru masuk, dan ujian pun dimulai.


~


Richi berjalan di koridor sekolah menuju kantin untuk membeli air mineral. Dia melangkah perlahan sambik berpikir, apa memang yang ia lakukan pada Hugo sangat keterlaluan? Padahal dia merasa biasa saja. Tapi, ini kali kedua Hugo memintanya untuk lebih terbuka soal apapun yang terjadi atau yang ia rasakan setiap hari. Kadang Richi sampai bingung, apa yang harus ia katakan? Dia sendiri tidak tahu.


Dia melamun sepanjang jalan sampai tak sengaja bahunya tertabrak seseorang.


"M-maaf.." ucap laki-laki berkacamata. Richi mengangguk tanpa terlalu memperhatikannya.


Dia berjalan lagi. Nampaknya hubungan dia dan Hugo akan ada masalah jika Richi tidak bisa melakukan apa yang Hugo inginkan darinya.


"Maaf, Richi."


Richi berbalik, laki-laki berkacamata itu yang menegurnya.

__ADS_1


"Ini, ponselmu terjatuh."


Richi melihat ponselnya di tangan lelaki itu.


"Tadi terjatuh saat aku menabrakmu. Maafkan aku." Katanya dengan gagap.


Richi menerima ponselnya dan lelaki berkacamata itu menunduk dan pergi.


Richi melihat layar ponsel yang menampilkan fotonya dengan Hugo. Benar, itu ponselnya. Tapi, seingatnya dia tidak membawanya tadi.


"Rel, aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini." Bella menarik tangan Richi dan duduk di bangku koridor.


"Clair bilang, dia sudah menyelidiki cctv taman tapi aneh, karena di menit kau berkelahi, videonya tidak ada."


Richi mengerutkan dahi. "Kenapa bisa begitu?"


"Perkiraan Olivia, cctv itu sempat di hack dan menghilangkan bagian anak-anak berandal itu datang dan merusuh. Olivia juga sudah mencoba untuk mengembalikan potongan video itu tapi gagal." Jelas Bella.


"Apa selama ini kau tidak merasa curiga?" Tanya Bella lagi.


Bella mendesah pelan. Richi mana mungkin bisa tahu, dia sendiri sering tidak peduli dengan sekitarnya walau terkadang insting tajam Richi muncul.


"Bells, coba minta Clair mencari salah satu dari anak-anak berandal itu."


"Untuk apa?" Tanya Bella.


"Bisa saja kehadiran mereka sebenarnya diatur oleh orang yang menyebar videoku."


Bella mengangguk-angguk dan langsung menelepon Clair. Apa yang Richi katakan agak masuk akal. Biar Clair yang mengurusnya. Apalagi dia ditemani Simon, pasti tidak keberatan, kan.


~


Richi menghampiri kelas Hugo usai ujian selesai. Dia ingin meluruskan apa yang terjadi diantara mereka. Tapi baru saja sampai di depan, di berpapasan dengan Bella.


"Hugo ada?" Tanya Richi sambil mendongak, melihat ke dalam kelas.

__ADS_1


"Hugo sudah keluar sejak tadi. Apa dia tidak ke kelasmu?"


Richi menggeleng perlahan. Keluar? Ah, berarti Hugo tengah menemui Erine dan Eline, karena dia bilang, kedua orang itu memaksanya melatih tinju untuk mereka.


Hah. Bella mendengar napas Richi yang terbuang kasar. Dia memperhatikan raut Richi yang agak kusam. Wajar saja, setelah videonya tersebar, akun sosial media Richi jadi ramai dan dia membenci itu. Belum lagi orang-orang akan mengenalnya baik disekolah maupun diluar. Kalau di sekolah, Richi tidak begitu peduli karena dia sudah dikenal saat digosipkan pacaran dengan Hugo sejak awal.


Tapi jika diluar, apalagi sekolah lain, tentu saja memberatkan Richi.


"Kau tengah stres, ya? Apa gara-gara sikembar gila itu? Kenapa tidak terus terang saja pada Hugo. Bilang kau tidak setuju kalau dia mengajari mereka." Terang Bella pada Richi.


"Mana bisa begitu. Terlihat bodoh hanya gara-gara seperti itu kau melarangnya membantu orang lain."


"Membantu apanya? Aku saja bisa mencium bau tak sedap dari mereka. Masa kau tidak?" Tegas Bella.


Ya, Richi memang merasakan juga. Tapi, akan lebih aneh lagi kalau dia melarang. Tidak bersikap profesional dan mencampur adukkan urusan pribadi dengan kelompok.


"Sebenarnya aku lebih setuju sih, kalau Hugo membantu mereka." Tukas Bella tiba-tiba. "Aku setuju dengan pendapat awalmu, kalau kedua perempuan itu pasti punya rencana dan menjadikan Hugo sebagai alat. Tapi, dari situ juga kau akan melihat bagaimana Hugo bertahan. Iya, kan?"


"Sebenarnya terdengar kurang ajar, kan?"


"Yaa, agak, sih." Jawab Bella ragu. "Jika aku diposisi Hugo dan mengetahui kalau kekasihku membiarkanku begitu untuk mengujiku, aku juga tidak akan senang. Kesannya, aku ini tidak diperjuangkan, tidak diinginkan. Tapi, Kau hanya perlu berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi saja, kan?"


Bella, perempuan itu sering gonta-ganti pasangan. Pikirannya dengan Richi sering bertentangan, tapi tentang ini, mereka sepakat.


"Boleh juga." Jawab Richi sambil tersenyum dan melangkah pergi, diiringi Bella disebelahnya.


Ponsel Bella bergetar, dia langsung mengangkatnya.


"Iya, Clair?"


Bella diam sebentar, matanya menatap pada Richi seketika. "Oke, kami kesana!"


"Ada apa?"


"Rel, ada info penting dari Olivia dan Clair mengenai hacker itu. Ayo, kesana." Bella dan Richi berlari kecil menuju markas kecil mereka di kafe Clair.

__ADS_1


__ADS_2