
Camilla mengangkat kepalanya, dan berhenti menangis.
"Bantu aku, Daren. Aku tidak mau putus dari Hugo.." Rengeknya lagi.
"Tapi dia tidak mau kembali".
Lagi, Camilla menangis mendengar ucapan Daren.
"Astaga, Camilla. Ayolah. Berhentilah menangisi laki-laki yang tidak menyukaimu. Lebih baik kau menemukan lelaki yang sayang padamu". Tukas Daren.
Camilla mengusap pipinya. "Aku tidak peduli, yang aku mau adalah Hugo. Apapun ceritanya, aku mau kembali pada Hugo."
Daren melengos, gadis di depannya amat menyukai Hugo. Padahal jelas sekali Hugo tidak menyukainya.
"Mil, Hugo tidak menyukaimu, dia.."
"Aku tidak peduli, Daren. Sudah berkali-kali aku katakan, yang penting dia menjadi pacarku. Hugo saja tidak pernah membentakku, apalagi berkata kasar padaku walau dia tidak menyukaiku, kan!" Bentak Camilla dengan keras kepala, membuat Daren mengepalkan tangannya walau ia tahu yang diucapkan Camilla benar.
"Terserahlah." Katanya sambil buang muka, mendengarkan lagi ocehan Camilla tentang Hugo.
"Lihat saja, aku akan membalas Richi!" Bentaknya lalu menangis lagi~
...🍒...
"Bu.."
"Hm.."
Richi diam, dia ingin bertanya pada Mary tetapi ragu.
"Mau bicara apa, sayang?" Mary menurunkan majalah yang ia baca.
"Em.. soal ayah Hugo."
"Iya? Kenapa?"
Richi meremas jarinya. "Apa benar Ibu mantan kekasih tuan David?"
"Ya, zaman SMA. Dulu Ibu satu sekolah dengannya." Jawabnya lalu melirik putrinya. "Cie, ada yang mulai jatuh cinta.."
"Engga, kok." Elak Richi dengan cepat. "Ini cuma penasaran. Bu, ceritalah.." ucapnya lalu pindah posisi duduk tepat disebelah Mary.
"Haha, cerita apanya! Tidak ada yang seru."
"Tapi aku penasaran.." rengeknya pada Mary lalu memeluk lengannya.
"Baiklah, baik. Ibu dulu satu sekolah tapi beda kelas dengan David. Dia adalah ketua osis, dan Ibu perempuan yang banyak sekali ditaksir oleh lelaki."
"Ketua Osis?" Richi teringat Emerald. Padahal, dia ingin tahu kisah Ibunya lantaran banyak yang mengatakan, apabila salah satu orang tua kita, ternyata pernah punya hubungan dengan orang tua dari orang yang kita sukai, artinya anaknyalah yang akan melanjutkan kisah cinta itu. Walau Richi adalah tipe perempuan yang tidak mempercayai mitos begini, khusus yang ini, dia penasaran.
Mary mengangguk.
__ADS_1
"Ternyata kita berbeda ya, Bu." Ucapnya dengan lemas.
"Beda apanya, kita sama. Lihat, rambutmu indah mirip dengan rambut Ibu. Ayahmu suka sekali dengan rambut Ibu. Kalau David, dia malah menyukai perempuan berambut pendek."
"Apa? Jadi dia tidak suka pada Ibu?"
Mary malah tertawa. "Awalnya sih, begitu. Tapi karena Ibu terus mendekatinya, akhirnya dia luluh". Senyum Mary penuh percaya diri, bahwa dia mampu membuat seseorang jatuh hati padanya.
"Astaga, jadi Ibu yang tergila-gila pada tuan David?"
"Ya, benar". Jawab Mary dengan senyuman lebar di bibirnya.
Richi menepuk jidatnya. Padahal, dia mengira tuan Davidlah yang mengejar-ngejar ibunya.
"Hah, memalukan". Gumamnya melepas pelukan di lengan Mary.
"Apa kau bilang?"
"Memalukan. Bisa-bisanya perempuan tergila-gila pada laki-laki sampai mengejar-ngejar seperti itu!" Jelasnya pada Mary.
"Hei, itu namanya perjuangan cinta!"
"Bukan seperti itu, Ibu. Biarlah laki-laki yang memperjuangkan kita. Untuk apa mengemis cinta pada laki-laki? Kita juga punya harga diri, tahu. Ibu buat malu saja." Ucapnya panjang lebar lalu mendapat tepukan di bahunya.
"Astaga! Siapa yang mengajarimu begitu, ha?"
"Aduh, Ibu. Sakit, tahu".
"Lihat dirimu. Kenapa sampai sekarang tidak merasakan cinta? Menunggu laki-laki yang mendatangimu? Sementara berdandan saja tidak mau! Anggunlah sedikit, Kalau seperti laki-laki setiap hari, mana ada yang mau padamu."
"Ah, Ibu bikin kesal saja!" Ucapnya lalu beranjak.
"Hei, mau kemana? Ibu belum selesai cerita."
"Aku tidak tertarik lagi, cerita apa itu. Bikin aku malu saja!" Omelnya sambil berjalan meninggalkan Mary.
"Apa? Richi, kau mulai kurang ajar pada Ibumu, ya!" Teriak Mary tanpa dipedulikan oleh Richi.
Gadis itu berdiri di depan kamarnya, walau dia teringat ucapan Ibunya.
Apalagi, Hugo seperti Ayahnya, menyukai perempuan berambut panjang. Itu sebabnya Mary selalu menentang keinginan Richi yang meminta rambutnya dipotong pendek.
'Anggun sedikit?' Haisshh.. Richi menghantukkan kepala di pintu kamarnya. 'Ibu keterlaluan sekali. Masa aku harus mengikuti jejaknya supaya Hugo menyukaiku? Ahh.. tidak, aku tidak mau. Aku akan menghapus perasaanku padanya!' Ucap Richi dalam hatinya.
Ricky mendekati adiknya yang menghantukkan kepala ke pintu kamarnya.
"Aduh!" Teriak Richi memegang telinganya yang diselentik oleh Ricky.
"Kenapa kau? Frustrasi?"
"Eh, kak. Kemana saja? Aku mencarimu, tahu!" Pekiknya saat setelah dua hari tidak menemukan kakaknya di rumah.
__ADS_1
"Apalagi! Tentu saja ikut latihan militer! Beruntung Ayah tidak mengajakmu karena memikirkan sekolahmu." Ucapnya dengan menggebu.
"Kenapa? Bukannya itu hal biasa?"
"Ya, ya. Pelatih gila itu memberi tantangan Sludge Run!"
"Apa?" Richi menahan tawanya. Bagaimana tidak, latihan itu amat gila. Latihan berlari di dalam lumpur yang dalam, tebal, dan berbau amis busuk. Instruktur akan memberikan waktu untuk melewati itu. Jika tidak dapat keluar dari sana, maka hukuman yang lebih besar akan menanti.
Richi mengendus-endus. "Pantas saja agak bau busuk!"
"Diam kau!" Pekiknya pada Richi yang tertawa terbahak-bahak.
"Ah, kak. Ada yang ingin aku katakan padamu."
"Apa?"
Richi melihat kanan kiri. "Aku khawatir Stripe menyusun satu rencana."
"Rencana apa, ketuanya sudah mati!"
"Aku tidak yakin.." Richi sejenak berpikir. Tidak mungkin dia mengatakan bertemu Saver di kilang waktu itu.
"Karena perempuan yang aku hajar kemarin, aku melihat tato Stripe di pahanya."
"Perempuan?"
Richi mengangguk. "Aku yakin mereka masih ada, kak. Dan mereka memperluas anggota dengan merekrut perempuan".
Ucapan Richi membuat Ricky berpikir. Bagaimana tidak, dia sudah menghancurkan Stripe sampai akarnya. Lalu siapa dibalik semua ini?
Richi pula tidak mengatakan dari jauh hari bahwa ia bertemu anggota Stripe di Wallpox.
"Apa menurut kakak, Saver masih hidup?"
"Lexus bisa saja masih hidup. Kalau Saver, aku tidak yakin. Aku jelas sakali membunuhnya." Ucap Ricky dengan yakin.
"Baiklah, aku selidiki sekarang. Jika memang mereka masih berkembang, kita harus habisi malam ini juga!"
Tukas Ricky lalu mendapat anggukan dari Richi.
~
Richi memandang dirinya di cermin. Dia menguraikan rambutnya.
Ucapan sang Ibu nampaknya menjadi pikirannya karena Hugo menyukai penampilan yang anggun.
Richi melirik jam, malam ini adalah pesta topeng di salah satu gedung milik Hugo.
"Pesta topeng, tidak akan ada yang mengenaliku. Apa aku pergi saja?" Gumamnya perlahan sambil mengamati dirinya di depan cermin.
Pintu Richi terbuka, Ricky memasang wajah seriusnya. "Cepat bersiap, aku sudah menemukan markas mereka. Satu jam lagi, berkumpullah di tempat biasa. Hubungi rekanmu!" Tukasnya lalu menutup pintu.
__ADS_1
Richi terdiam, beralih memandang kertas undangan di atas meja yang diberikan Daren padanya tadi siang.
TBC