
Richi langsung menutup sisi wajahnya dengan tangan kirinya.
"Maafkan saya, permisi dulu.." Richi berlari kecil menjauh dari lelaki itu sambil terbungkuk menutup separuh wajahnya.
"Hei, tunggu." Teriaknya memanggil gadis yang tak sengaja bersenggolan dengannya.
Dia menatap gadis yang berjalan cepat itu. Mengerutkan alis, seperti mengenalnya.
"Ada apa, Hugo?". Seorang gadis cantik berbalut dress merah hingga lutut menghampiri Hugo yang terlihat sangat kesal. Rambut gadis itu lurus tergerai indah hingga atas pinggangnya. Wajah gadis itu sangat cantik. Sepertinya dia sengaja menggerai rambutnya karena Hugo menyukainya.
"Hah. Sudahlah!". Desahnya kesal.
Hugo menghentak-hentakkan sepatunya agar genangan air di atasnya turun. Ia ingat tadi menghirup harum semerbak rambut gadis itu. 'Wangi apa ya. Seperti pernah tercium. Tapi dimana' batinnya.
"Ayo, Hugo. Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang". Ajakan Camilla membuyarkan lamunannya. Ia mengikuti Camilla yang menggandeng tangannya mesra.
Hugo diajak Camilla datang ke acara ini dengan sedikit paksaan.
Camilla sendiri bersekolah di Uranus High School, yang selalu menjadi saingan basket Oberon, sekolah Hugo sendiri.
Awal berkenalan dengan Camilla, saat itu adalah acara persahabatan antar sekolah dengan mengadakan pertandingan basket.
Saat bermain, Hugolah orang yang paling menonjol. Selain wajahnya yang tampan, lelaki itu bermain dengan sangat keren. Sesekali ia menyeringai hingga taring kanannya terlihat. Garang sekali.
Tak heran siswi sekolah saingannya pun ikut histeris saat ia berulang kali memasukkan bola ke ring.
Camilla terang-terangan mendatangi Hugo yang sedang rehat di kantin sekolah mereka. Ia datang dan memperkenalkan diri. Hugo menyambut dengan gembira. Sebab Camilla merupakan gadis yang cantik dengan rambut panjang yang selalu ia gerai.
"Ichi, kau ini kenapa." Tanya Mary yang heran melihat anaknya menutup wajah dan berbalik kesana kemari mengintip Hugo supaya tidak melihatnya.
"Hei, rambutmu ini mengibas orang!" Sang Ibu mulai geram.
"Aahh, iya iya bu" Richi terhenti saat sang ibu menjewer kupingnya.
Emer diminta Mamanya untuk mengantar Richi saat ia merengek supaya mendapat izin pulang duluan oleh ibunya. Untunglah Emer yang berbesar hati untuk mengantarnya, sebab itu juga menjadikan Mary senang. Sudah tahu apa tujuannya, kan.
"Mau singgah Coffee Shop sebentar?" Ajak Emer di mobil. Rasanya, ia tak rela kalau Richi pulang begitu saja.
"Ah. Aku ingin sekali, kak. Tapi aku kurang nyaman dengan pakaianku." Ucapnya sambil menarik-narik dressnya yang membubung ke atas.
Emer menepikan mobilnya. Membuka jas kemudian menutupkannya ke bagian yang di risihkan oleh Richi.
Sejenak Richi terenyuh. Lelaki seperti ini mirip yang ada di novel-novel. Batinnya.
Emer menjalankan lagi mobilnya. Dia memandang lurus kedepan. Richi mencuri pandang. Perlakuan kecil lelaki disebelahnya benar-benar membuatnya penasaran. 'Beruntung sekali yang menjadi pacarnya' pikirnya lagi.
"Ayo". Ajak Richi tiba-tiba.
__ADS_1
Emer terlihat bingung. Ia mengerutkan dahinya.
"Ke coffee shop" Ucap Richi lagi tanpa menoleh Emer. Entah mengapa tiba-tiba Richi merasa malam ini terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja.
"Oke". Sahutnya dengan senyum merekah di bibirnya.
Emer dan Richi masuk ke dalam Coffee Shop. Richi melihat orang-orang memandang ke arah mereka. Dia membenarkan posisi bajunya. Menyisir rambut dengan jarinya.
"Kak, kenapa orang-orang ini melihati kita?" Bisik Richi yang merasa diperhatikan dari ujung kaki sampai kepala.
"Wajar, coba lihat pakaianmu". Jawabnya sedikit menunduk untuk membalas bisikan Richi.
Ah, benar. Mereka datang ke kedai kopi dengan balutan dress dan jas.
"Abaikan saja. Mau pesan apa?" Emer melihat menu di depan kasir.
"Mas, Coffee Choco Frape tambah machiato, ya." Pintanya pada si barista.
"Tambah machiato? Memangnya enak?" Bisik Emer.
"Hihi, aku sukanya begitu, kak". Jawabnya dengan berbisik pula. Entah apa tujuannya.
"Hei lihat, bukankah itu ketua osis?" Bisik seorang cewek di sudut ruangan kepada teman-temannya. Yang lain, ikut memandang ke arah yang di tunjuk.
"Benar. Itu kak Emerald."
"Si tampan kita hihi"
"Cantik sekali dia"
"Mereka serasi, ya"
"Ah, irinya".
"Dressnya bagus, ya"
"Lihat rambut panjangnya itu"
Mereka sibuk berbisik penasaran, bersama siapa ketua osis tampan mereka berkencan. Baru juga pulang dengan prestasi yang membanggakan. Lalu sekarang, para gadis ini disuguhkan dengan pemandangan tak terduga. Bisa melihat Emer dan seorang gadis yang begitu cantik berkencan, bukankah hal yang luar biasa untuk dipandang?
Mereka juga tidak ada yang berani menghina pasangan Emer. Sebab si gadis yang sebagai pasangan Emer malam ini memang sangat mempesona.
🍭🍭🍭🍭
Richi berjalan menuju kelas dengan memakai jeket hitam. Dia juga memakai topi baseball warna hitam berlist putih, lantaran rambutnya yang dibuat bergelombang oleh Sun --ART yang suka berdandan-- menjadi buntalan besar di atas kepalanya saat di ikat.
"Richiii.." Panggil Greta dari belakangnya. Mempercepat langkah agar jalan mereka beriringan.
__ADS_1
"Apa kau tadi malam pergi ke acara kak Emer?"
Richi mengangguk.
"Ah, sayang sekali. Aku sudah ada janji". Sesalnya yang tak dapat hadir di acara Emer tadi malam.
Richi tahu itu. karena dia sempat bertemu Ayah Ibu Greta disana.
"Bagaimana kau kenal kak Emer?" Tanya Richi. Sebab dia pun baru berkenalan beberapa hari lalu.
"Wajar saja kau tak tahu. Dia dari kecil sekolah di luar negeri. Aku yang rajin datang ke acara pesta saja baru tahu tahun lalu. Apalagi kau yang tak pernah datang". Jelasnya pada Richi yang memang selalu menolak jika di ajak ke acara kerabat Ayahnya.
Richi mengangguk. Masuk akal, pikirnya.
Setelah memasuki lapangan dalam sekolah, mereka melihat para siswi berkerumun di depan mading sekolah.
Sambil berjalan, sayup-sayup Richi mendengar obrolan para siswi tersebut.
"Ah iya siapa ya?" Tanya siswi itu.
"Baru satu hari sekolah, kan?"
"Ah iya, sudah berkencan saja".
"Kak Emer tampan ya?"
Mendengar itu, Richi ikut mengangguk setuju.
Greta berhenti tepat diantara gerombolan.
"Hei, ada apa itu?" Tanya Greta penasaran pada salah satu gadis disitu.
"Oh, itu Foto kak Emer sedang kencan." Jawab gadis itu.
"Siapa ya perempuan yang bersama kak Emer di kafe itu?" Terdengar lagi suara gadis yang bertanya-tanya.
Set!
Kaki Richi terhenti. Dia mundur beberapa langkah kebelakang. Mencuri pandang dari celah-celah segerombol siswi itu.
Jeng Jeng!
Dia melihat foto-foto dirinya dan kak Emer yang sedang memesan minuman di Coffee Shop tadi malam.
Richi menganga di tempatnya. 'Gilaa, siapa yang mengambil foto itu??' Tanda tanya besar muncul di atas kepalanya.
"Richi. itu kau, kan." Bisik Greta pada Richi yang masih menegang ditempatnya.
__ADS_1
"Kau ini diam-diam mengerikan, ya. Sudah Hugoku kau ambil. Lalu malamnya kau berkencan dengan kak Emer? ckckck" Greta menggelengkan kepalanya. Merasa takjub sekaligus penasaran, Kenapa tiba-tiba ia mau duduk berdua dengan seorang laki-laki.
To Be Continued.....