Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Balas Dendam


__ADS_3

Gary berjalan mundur di tangga sesekali terjatuh, matanya tak lepas melihat takut ke bawahnya.


Richi diam, berdiri tegak diatas pria yang tengah mengerang karena tak kuasa menahan sakit luar biasa pada perut dan telapak tangan yang tertancap pisau yang berdiri tegak. Tangan sebelahnya memegangi pergelangan kaki Richi yang menginjak tangannya, memohon supaya diringankan siksaannya.


Gary, dengan tubuh gemetar dan wajah yang mengalirkan darah menatap ke bawah tangga dan Richi secara bergantian.


"Aa-ampun.. aampun.." ucapnya terbata.


Lalu seseorang muncul, menaiki tangga secara perlahan dengan tatapan dinginnya.


"Hugo.." gumam Richi. Dia melihat kekasihnya dengan tubuh tegak dan luka tusukan di tangan kanan, darah mengalir hingga ujung jarinya.


Melihat itu, Richi terenyuh. Hugo ternyata menemukannya dan melawan banyak orang dibawah demi menyelamatkan dirinya.


Gary berlari terseok memegangi kaki kanannya ke sudut ruang. Melihat dua orang mengerikan itu membuatnya ketakutan akan cara dia meninggalkan dunia.


Hugo berhenti di anak tangga terakhir. Dia melihat Richi berdiri tegak dan berlumur darah, baju hingga wajahnya. Dia menyembunyikan keterkejutannya, walau tahu, dia tetap masih bertanya-tanya apakah itu semua adalah perbuatan kekasihnya?


Dia melirik sekitar, lantainya sudah penuh dengan darah. Orang-orang tergeletak dengan berbagai luka tusukan dan goretan pisau. Hugo menatap pria yang dipijak Richi, ia terus berusaha meraih pisau yang tertancap di telapak tangan kirinya.


Menyadari arah tatapan Hugo, Richi melihat ke bawahnya lalu berjongkok, menarik paksa pisau itu hingga menimbulkan jeritan luar biasa dari lelaki itu.


Hugo melangkah ke arah Gary, dia penasaran kenapa lelaki itu disisakan Richi sebagai orang terakhir.


"Aku saja." Ucap Richi lalu dia bergerak ke arah Gary yang semakin bergetar melihat Richi berjalan dengan pisau ke arahnya.


Sementara Hugo berkeliling memperhatikan tempat, berusaha mencari tahu tempat apa yang tengah mereka singgahi.


Gary berdiri dengan tergopoh, membuka lemari, mencari sesuatu dengan tangannya yang bergetar hebat. Dia lalu membuka laci, mendapatkan sebuah senjata dan langsung mengarahkannya kepada Richi.


"Mundur.." Ucapnya dengan nada bergetar. Richi terhenti melihat pistol di tangan Gary.


"Aku bilang mundur!" Teriaknya sembari memegang senjata dengan kedua tangannya.


TAK!


Pistol terjatuh, Hugo melempar bola biliar dengan kuat ke tangan Gary. Lalu dengan langkah panjangnya, dia berlari dan menggeser pistol ke belakang dengan kaki kanan.


BRUK! Wajah Gary terbentur lemari karena tendangan tajam dari Hugo.


Terlihat pecah, sudut bibir Gary mengeluarkan darah.


Richi mengambil pistol yang sengaja ditendang Hugo dekat kakinya kemudian dia berjalan mendekati Gary.


"Ja-jangan.. a-ampun.." Gary merangkak mundur, dia sudah tidak kuat berlari sebab kakinya yang tertancap pisau terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


Gary tersendat, dibelakangnya adalah sofa kekuasaan berwarna hitam, entah milik siapa, namun di atasnya berjejer pajangan dinding yang mencurigakan.


"Duduk". Titah Richi dan dengan cepat Gary merangkak naik dan duduk di sofa itu.


Richi menarik kursi, duduk di hadapan Gary dengan memutar-mutarkan pisau ditangan kanannya dan menggenggam pistol di tangan kirinya. Dia Menatap Gary tanpa ekspresi. Ditelinganya masih berdengung kalimat-kalimat pelecehan yang Gary ucapkan padanya beberapa menit yang lalu.


"A-ampun... A-ampun.. a-aku janji.. aku janji.. a-akan menja-di bu-budakmu.." ucapnya terbata.


Tawaran Gary tak membuat ekspresi wajah Richi berubah. Dia tidak butuh budak apalagi bodoh dan tak kuat seperti Gary.


Richi mencondongkan tubuhnya mendekat, namun badan Gary mundur ketakutan, dia tak berani memandang kedepan, melihat banyak bercak darah di wajah Richi. Apalagi kini tatapannya yang berubah seperti harimau yang akan menerkam mangsanya.


"Aaaaaaakkkhhh!!"


Hugo tersentak, dia menoleh pada Gary yang menjerit hingga urat di lehernya muncul keluar. Richi menancapkan pisau di pahanya.


Hugo hanya menghela napas, dia tahu Richi pasti melakukan itu karena lelaki di depannya sudah melakukan kesalahan besar. Dia fokus lagi, membaca buku tebal yang menarik perhatiannya.


"To-tolong.. Hu..Hugo.. tolong a-aku" Matanya penuh harap menatap Hugo yang berdiri tak jauh darinya. Namun nampaknya Hugo tak mau menoleh.


"Aneh sekali, meminta tolong pada kekasih musuhmu" gumamnya tetap fokus pada bukunya.


"A-aku kenal baik dengan ayahmu.. arghh.." dia merintih. "A-ayahmu.. berusaha.. untuk.. bekerja sa-sama.. dengan ayahku.. A-ku.. a-kan bu-juk a-ayahku.. su-supaya.. AAAARRRKKHHH..!" Dia menjerit, Richi menyentuh ujung pisau dengan jari telunjuknya, sedikit menekannya ke bawah.


"Lama.." gumam Richi sambil menopang dagu, memutar-mutar ujung pisau yang menancap di paha Gary hingga membuatnya terus mengerang kesakitan.


"Ada cctv, ya. Dimana ruangannya?" Hugo tak menggubris ucapan Gary. Dia mengadah, melihat ada kamera pengawas di atasnya.


"Aku.. a-akan..beritahu.. asal.. kau.. membebaskanku.."


Hugo tak juga merespon, dia menyelidiki tempat, bisa saja ada pintu rahasia disitu.


"Aah.. ini rupanya.." Hugo mendorong lemari hingga berputar ke arah kanan.


"Ja-jangan.. ma-suk.. ja-jangan.. AAARRRGHHH!" Richi menarik pisau dengan kasar, membuat mata Gary melotot tajam.


"Kauu.. kau bunuh saja aku!!" Pekiknya menatap Richi.


"Aku belum puas." Jawabnya santai sembari memutar lagi pisau yang berlumur darah itu.


BRUK! terdengar perkelahian dari dalam ruangan yang baru dimasuki Hugo. Nampaknya ada orang yang bersembunyi di dalam.


"Ampunnn!" teriak seorang pria.


"Hapus! Cepat!" terdengar suara Hugo dari sana, namun Richi enggan menoleh ke belakangnya. Dia hanya fokus pada Gary yang telah melecehkannya.

__ADS_1


"Jelaskan, bagaimana kau tahu aku disini." Richi memandang tajam pada Gary.


Hugo keluar dengan menyeret pria pengawas kamera pengintai. "Jelaskan!" Hugo menghempaskan pria yang diseretnya.


"A-ampun tuan.. Bos Gary menyuruh kami menculik gadis itu lalu ingin memperkosanya beramai-ramai."


"Tutup mulutmu!! AAAAKHHH!" teriak Gary lalu mendapat tusukan di pahanya yang lain.


"Apa kau bilang!" Tangan Hugo mengepal, wajahnya berubah geram dan darahnya mendidih.


"Be-betul tuan.. bos Gary me-merencanakan itu.."


Hugo dengan keras menghantam dan membanting tubuh pria itu hingga terpelanting ke belakang.


Mata Hugo menyorot tajam pada Gary yang sejak tadi sudah ringkih.


"Ampuni.. aku.. ampuni aku.."


Gary ketakutan melihat perubahan wajah Hugo yang lebih menakutkan dari gadis di depannya. Dia mengenal Hugo karena ketua basket yang hebat dalam tinju dan anak pengusaha kaya raya.


Selama bertemu Hugo, dia melihat Hugo tak banyak bicara namun disenangi banyak orang. kini, melihat perubahan wajah Hugo membuatnya merasa kematiannya ada pada Hugo.


Gary menjatuhkan diri ke lantai, dia bersujud menangis dan tak menghiraukan sakitnya. Dia takut mati, dia benar-benar ketakutan seperti orang gila. Dia menyentuh kaki Richi, memohon sambil menangis.


"Ampuni.. ampuni.. aku .."


BRUK! dia terhempas ke samping. Hugo menendangnya sekuat tenaga hingga Gary tak bergerak lagi. Namun masih terdengar erangan dari mulutnya.


Dengan cepat Hugo menarik kerah bajunya, dan saat akan meninju wajahnya, Richi memperingatkannya.


"Kau sudah pernah membunuh, Hugo?" Richi bertanya sebab tinjuan Hugo sekali saja pasti membunuh Gary.


Ucapan Richi membuat kepalan tangan Hugo berhenti. Dia belum pernah melakukannya.


Hugo menjatuhkan tubuh Gary, dadanya naik turun akibat emosi yang tidak tersalurkan.


Richi mengeluarkan peluru pada pistol, mengamankannya supaya Gary tak memakainya lagi.


"Ayo." Ajak Richi lalu berdiri dan menyimpan pisau di saku belakangnya.


Suara sepatu ramai menaiki tangga, Richi dan Hugo menoleh, beberapa pria berjeket hitam naik ke atas dan mulai mengerang geram saat melihat apa yang di depan mereka.


"Kakak!!" Dengan mata yang separuh tertutup, Gary masih mengenali siapa yang datang. Wajah Gary lega, merasa tertolong karena kedatangan kakak dan pasukannya.


Richi memiringkan kepalanya, menatap siapa yang dipanggil kakak oleh Gary.

__ADS_1


"Kau rupanya." Ucapnya lalu tersenyum miring.


Tbc


__ADS_2