Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Perkelahian Daren.


__ADS_3

Daren duduk dibelakang kemudi. Matanya terus menatap keluar jendela, melihat sosok Olivia yang tengah membeli buah di pinggir jalan.


Sudah lima hari dia terus datang menatap Olivia dari jauh. Walau waktu itu dia sudah mau bicara, nyatanya nomor Daren masih diblokir oleh Olivia.


Dia mengikuti Olivia yang menenteng sepedanya sambil berjalan perlahan. Gadis itu tampak diam tanpa ekspresi. Apakah dia sedang memikirkan sesuatu? Daren penasaran.


Langkah Olivia terhenti saat seorang laki-laki yang tengah duduk di bangku taman jalan menggodanya. Entah percakapan apa yang ada disana, tapi jelas raut Olivia tampak terganggu.


Lalu, datang seorang perempuan yang marah-marah pada lelaki itu. Nampaknya perempuan itu adalah kekasih lelaki yang menggoda Olivia. Karena lelaki itu berusaha menenangkan kekasihnya.


Perempuan itu beralih pada Olivia. Dia mendorong bahu Olivia hingga membuat sepedanya terjatuh. Buah-buahan yang Olivia beli pun ikut berhamburan. Wajah Olivia udah menahan marah. Namun dia memilih diam dan menegakkan lagi sepedanya.


Daren keluar dari mobil. Dia berjalan perlahan ke tempat Olivia. Pertengkaran pun mulai terdengar.


"Mengaku sajalah! Kau yang menggodanya, kan?" Pekik perempuan itu. Dia menunjuk-nunjuk Olivia yang berjongkok mengutip buah-buahan yang berserakan.


"Kau perempuan rendahan, bisa-bisanya kau menggoda laki-laki yang sudah mau menikah!"


"Sayang, sudahlah. Ayo, kita pergi saja. Malu dilihat banyak orang."


"Tidak bisa. Perempuan sepertinya memang harus diberi pelajaran, supaya dia kapok dan tidak melakukannya lagi pada laki-laki lain. Sampah!"


Olivia berdiri. Dibilang sampah, jelas dia tidak terima. "Aku sudah bilang, kan. Aku tidak menggodanya. Dialah yang menggodaku. Kau pikir laki-laki ini sangat tampan sampai aku merendahkan diriku untuk merayunya? Menyapa saja aku tidak sudi!"


Laki-laki itu terbelalak mendengar ucapan Olivia.


"Bangsat! Apa kau bilang?" Laki-laki itu melayangkan tangannya ke arah pipi Olivia. Tentu gadis itu langsung menangkap tangan dan memberikan bogem mentah ke mata si laki-laki.


Ceweknya menganga. Dia terkejut dengan aksi tiba-tiba Olivia.


"Laki-laki kok main tangan. Dasar pengecut! Banci! Babi ngepet! Kecoa! Kadal bunting!" Maki Olivia pada lelaki itu. Tidak terima ditonjok dan dimaki, dia berang dan berusaha memberi pukulan lagi. Tetapi lelaki itu harus menahan sakit karena tendangan keras Daren membuatnya terjungkang kebelakang.


"Beraninya kau menyentuh perempuan ini."


Olivia terperangah. Tiba-tiba saja Daren datang dan menghajar orang itu tanpa ia tahu apa yang terjadi.


"Bajingan! Siapa kau?! Jangan ikut campur urusanku!" Lelaki itu berusaha bangkit sembari memegang dadanya. Sementara mata sebelah kirinya sudah terlihat membiru.


"Ini kekasihku. Kau tadi menggodanya lalu menuduh dia yang menggodamu. Kau pikir kekasihku ini suka pada laki-laki sepertimu?"


Olivia menganga lebar. Apa katanya? Kekasih? Nampaknya Olivia mulai menyiapkan tenaga untuk membasmi hama satu lagi.


Mendengar ucapan Daren, perempuan yang memarahi Olivia tadi menghentakkan kakinya kesal dan beranjak pergi.


"Sayang. Sayang, tunggu. Jangan tinggalkan aku." Lelaki itu bangkit dan menatap pada Daren.


"Tunggu saja. Aku tidak akan tinggal diam! Kau lihat saja nanti!" Dia berlari ke arah pacarnya pergi.

__ADS_1


"Yaaa. Kutungguuu!!" Teriak Daren. Dia terkikik entah kenapa. Mungkin merasa lucu dengan laki-laki tadi. Tanpa ia sadari, tatapan tajam Olivia sudah mengarah padanya.


"Kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?"


Olivia tak menjawab. Tentu saja itu membuat Daren mulai mencari suasana lain.


Dia berjongkok dan mengutip buah-buahan yang masih berserak di sekitarnya.


Melihat tingkah Daren, Olivia mendesah. Terpaksa ia ikut berjongkok mengutip buah-buahan itu.


Setelah selesai, Olivia menegakkan sepedanya dan meletakkan buah dikeranjang.


"Sama-sama." Ucap Daren saat melihat Olivia menjalankan lagi sepedanya.


Gadis itu menoleh sebentar, lalu melangkah lagi.


"Hati-hati pulangnya, Daren." Sambung Daren bermonolog dengan suara keras, berharap Olivia mendekat.


"Aku senang kau menolongku, Daren." Ucapnya lagi dengan suara yang lebih keras.


"Aku mencintaimu, Daren!"


Seketika Olivia berhenti dan menoleh dengan wajah juteknya.


"Aku juga mencintaimu, Olivia." Daren menjawab ungkapannya sendiri dengan senyum yang ia rasa menawan.


"ITU DIA!"


Laki-laki tadi menunjuk Daren pada beberapa orang temannya. Sepertinya dia membawa gengnya untuk menghabisi Daren.


"HEY, SIALAN. JANGAN SOK HEBAT DISINI!"


Daren mengerutkan dahi. Lelaki yang berteriak itu berdiri paling depan, nampaknya dialah ketua geng.


Mereka berjalan mendekat, Olivia pun terus menonton itu, rasanya seru walau dia berpikir untuk membantu. Apalagi gerombolan itu datang karena permasalahnnya sejak awal dengan laki-laki si pengadu.


"KAMI INI VALIANT! KAU TAHU KAN, JANGAN MACAM-MACAM."


Hah? Olivia melongo. Valiant, katanya?


"SERAAANGGG!!"


Orang-orang itu menyerbu Daren. Dengan cepat Daren melawan mereka, delapan lawan satu.


Olivia pula tengah bimbang. Apakah dia ikut menbantu, atau pergi saja? Tapi jika dia pergi, pasti dia terlihat seperti perempuan tidak tahu diri.


Daren mulai kehilangan keseimbangan saat punggungnya berhasil ditendang dari belakang. Melihat itu, kesempatan salah seorang meninju wajah Daren. Untungnya lelaki itu cepat kembali seperti semula dan menghajar lagi orang-orang di depannya.

__ADS_1


"Hei, dari depan." Olivia menarik kerah baju salah seorang dari belakang. Saat lelaki itu menoleh padanya, dengan cepat Olivia meninju wajahnya.


Perkelahian terjadi begitu cepat semenjak Olivia mengikut sertakan diri. Gadis itu mencengkram kerah laki-laki yang mengaku mereka adalah Valiant.


"Sungguh aku malu kalau Valiant selemah ini." Lelaki itu menelan ludah saat sebelah tangan Olivia sudah mengepal diudara, bersiap meninjunya.


"Berani kau mengaku Valiant lagi. Habis kau!" Ucap Olivia sambil mengayunkan tangannya, menggertak lelaki yang langsung melepaskan diri dan lari bersama teman-temannya.


"Hah. Sial. Menghabiskan waktuku saja." Gerutu Olivia.


"Aku senang kau membantuku."


Olivia sampai lupa pada Daren. Dia menengok kebelakang dan melihat bawah bibir Daren sedikit pecah.


"Ada kotak p3k di mobil?"


Daren mengangguk, lalu Oliviapun mengambil kotak itu dari mobil Daren.


"Terima kasih." Sudut bibir yang tengah diolesi obat itu melebar. Dia tersenyum pada Olivia yang jaraknya amat dekat dengannya sekarang.


"Lain kali jangan begini."


"Aku tidak mungkin diam saat kau kesulitan." Jawab Daren.


"Maksudku, lain kali jangan buntuti aku."


Daren terdiam. Apa Olivia tahu bahwa dia sudah membuntutinya beberapa hari ini?


"A-aku tidak membuntutimu. Aku kebetulan lewat dan-"


"Tidak perlu menutupinya. Kebohonganmu sangat terlihat." Olivia membereskan barang-barang medis disitu.


"Maaf.." Terdengar suara pelan dari bibir Daren. "Aku.. aku sudah bilang, kan. Aku tidak bisa menahan diri jika itu berkaitan denganmu."


Olivia menutup kotak obat dan ingin berdiri, tetapi tangannya ditahan oleh Daren.


"Olivia, aku akan pergi ke negara L beberapa hari lagi. Ayahku menyuruh untuk belajar disana. Aku tidak bisa menolak itu. Kau tahu, kan?"


"Kau.. pergi?"


Daren mengangguk. "Aku berharap kau mau menemaniku, sampai aku pergi."


"K-kenapa tiba-tiba??"


"Memang seperti itu aturannya. Em.. mau kuantar pulang? Aku masih ingin bicara banyak padamu sebelum aku pergi."


Olivia mengangguk, tentu membuat Daren tersenyum senang dan membantu gadis itu melipat sepeda untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil Daren.

__ADS_1


__ADS_2