Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Darrel yang Sebenarnya (1)


__ADS_3

"Hei!"


Richi duduk disebelah Evan. Lelaki itu memegang sebuah buku tentang jenis bunga-bunga di seluruh dunia. Membuat Richi mengerutkan dahi melihat apa yang dibaca Evan.


"Tiga hari tidak melihatmu, kau malah babak belur begini."


Wajah Evan terdapat memar di beberapa bagian. Dia juga tidak hadir perkuliahan kemarin, membuat tanda tanya bagi Richi.


"Aku ada misi. Misiku diketahui musuh. Aku ditangkap lalu dibuang. Itu sebabnya aku tidak bisa ke kampus."


"Wah, untung kau masih selamat."


"Hm. Suatu keberuntungan." Sahut Evan lalu membuka kembali buku di tangannya.


"Apa jurusanmu berubah?" Tanya Richi lagi.


Evan menatap buku yang ia pegang. "Tuan Krishan memintaku menjaga toko bunganya."


"Siapa?"


"Maksudku, tuan Yohan."


"Oh, bosmu itu?"


Evan mengangguk, lalu fokus membaca buku yang ada di tangannya.


"Eumm.. Evan, aku ingin bertanya."


"Tanya saja." Sahutnya tanpa berpaling dari buku.


"Apa aku pernah menceritakan padamu tentang Blackhole?"


"Hmm.." Evan sejenak berpikir. "Entahlah aku lupa. Kenapa dengan kelompok itu?"


"Penculikan dan pemerasan pada anak. Mereka menyiksa jika anak-anak itu tidak menurut pada mereka."


"Aku tahu."


"Apa? Kau tahu?" Richi menarik kerah baju lelaki itu. "Hei, Evan. Katakan dengan jelas. Kau tahu tapi tidak membantu??"


Evan melepaskan cengkraman tangan Richi di bajunya.


"Mereka dulunya bekerja sama dengan Stripe. Sebagian dari mereka ikut andil menghancurkanmu dan komandermu."


Richi terbelalak sambil terus menatap Evan. Dia perlu penjelasan lagi.


"Yang kutahu sekarang ketua mereka sudah diganti. Dulunya dia Richard. Tapi mati saat melawan Keen."


Richi tentu saja tegang. Bagaimana dia bisa melewatkan itu? Apa Ricky juga tahu soal siapa yang sudah dia bunuh? Dan kapan itu terjadi?


"Keen.. yang membunuhnya?"

__ADS_1


"Iya. Tanya saja sama komandermu itu. Kurasa dia tahu banyak hal."


Richi diam sejenak. Otaknya memikirkan kakak sialan yang menghalanginya menghancurkan Blackhole, tapi ternyata dia sendiri pernah melawan kelompok itu? Lalu sejak kapan? Akh, Richi benar-benar ingin menemui kakaknya.


"Tapi, saranku, kau jangan langsung menyerang kelompok itu."


"Kenapa?"


"Mereka dibawah pimpinan orang-orang besar."


Richi menghela napas. "Semua kelompok memang begitu. Bukankah tuan Yohan pemimpin besar di kota ini? Begitu juga Valiant, kami dibawah naungan jenderal besar pasukan militer alias ayahku."


"Tapi ini beda." Evan mendekatkan wajahnya lalu berbisik. "Mereka dibawah naungan pimpinan kerajaan."


Alis Richi bertaut. "Maksudmu?"


"Hei, ayo latihan, cepat!" Teriak Andreas menitahkan teman-temannya untuk turun dan memulai pelatihan.


"Aku akan bertanya lagi padamu nanti." Tukas Richi dan berdiri menuju lapangan.


...🦋...


Richi bersiap keluar lapangan setelah dilihatnya Evan mendadak menerima telepon dari atasannya untuk segera pulang. Dia tak lagi mendapatkan informasi penting dari Evan. Ceritanya masih menggantung, kelompok apa sebenarnya Balckhole dan siapa yang ada diatasnya, kenapa Ricky melarang keras dirinya untuk mendobrak kelompok itu. Semua sangat menggantung di pikirannya.


Richi berjalan lambat, dia lagi-lagi memikirkan cara yang tepat untuk menghancurkan Blackhole dan membebaskan anak-anak itu.


"Minggir, dekan mau lewat!"


Richi hendak pergi, namun sesaat matanya terkunci pada sosok yang baru turun dari mobil.


Lelaki tua bersetelan rapi. Dia berjalan dengan postur tubuh tegak melewati Richi yang terus menatapnya. Sejenak Richi langsung teringat kenapa Virgo dan teman-temannya mendapatkan akses lebih hingga gudang yang berisikan perjudian dan miras bisa dengan rapi ada di dalamnya, juga pembullian yang tak pernah padam walau dilaporkan berkali-kali.


Jelas, itu karena lelaki tua itu. Laki-laki yang beberapa hari lalu Richi lihat keluar dari gang markas Balckhole pagi-pagi itu, ternyata dia adalah dekan fakultasnya.


Mahasiswa lain bubar setelah lelaki tua itu masuk ke dalam lift. Richi mengeratkan kepalan di tangannya. Ternyata dia dan Virgo punya hubungan, itu sebabnya Virgo selalu aman dan berlagak bos disini.


Richi tidak sabar, dia segera naik ke lantai atas, markas Virgo.


~


Virgo mengeraskan rahang. Matanya menatap ke layar ponsel dengan sorot tajam. Dia tengah menonton rekaman Richi yang menghajar teman-temannya di stadion terbuka. Dia tak pernah percaya dengan apa yang orang katakan sampai ia melihatnya sendiri.


"Kau percaya padaku sekarang?" Tanya Andrew. Dia berharap Virgo mampu membebaskannya dari Richi.


"Jadi, kau mau memberinya pelajaran karena kau tak suka dia berpacaran denganku?"


Andrew jelas kaget. Harapannya seketika luruh saat kini Virgo menatap berang kearahnya.


"Bu-bukan begitu maksudku..."


"Jadi, bisa kau jelaskan maksudmu?!"

__ADS_1


Andrew tertunduk. Begitu juga orang-orang di dalam markas gudang. Pada awalnya mereka berembuk supaya menyingkirkan Richi. Jelas mereka menolak dipimpin oleh junior kampus, perempuan pula. Tapi nampaknya Virgo malah tak mendukung mereka.


Senyum miring Virgo muncul menatap kekasihnya di dalam layar. "Baguslah. Ternyata dia orang hebat. Aku merasa tidak sia-sia memacarinya. Apa dia sama hebatnya dengan Erine?" Virgo tertawa lebar.


"Tapi, V, dia bisa saja menikammu dari belakang."


"Diam kau, bangsat!" Virgo melemparkan botol kearah Andrew yang langsung pecah di tebok belakang tubuhnya.


"Berani kau melakukan ini pada Richi!" Sentaknya lagi dan semua diam.


Dari luar, Richi berdiri di depan gudang, dimana Virgo ada di dalam. Suara bising terdengar, Richi tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya Virgo sedang mengamuk.


BRAK! Kebisingan yang Richi buat mengundang seluruh mata menatap kearah pintu yang tiba-tiba terbuka lebar.


Richi berdiri diambang pintu. Matanya langsung menangkap Virgo yang tengah memegang sebuah ponsel.


"Sayang, kau datang?" Sapa Virgo dengan senyuman penuh.


Richi memiringkan kepala, melihat Virgo melangkah kearahnya. Sejenak dia ingin memberi pelajaran, tapi wajah Virgo tak menunjukkan dendam.


"Aku sudah tahu siapa dirimu." Virgo menarik tangan Richi dan mengikutinya dengan bingung.


"Aku sudah lihat video saat kau menghajar anggotaku. Aku akan menghukum Andrew dan siapapun yang ingin membuatmu terluka."


Seketika otak Richi mendapatkan cahaya. Dia merasa jalannya untuk membebaskan anak-anak itu semakin mulus. Padahal tadinya dia ingin menghantam Virgo supaya tunduk padanya.


"Richi, kemarilah, duduk disini."


Virgo menepuk pahanya. Dia meminta gadis itu duduk di pangkuannya.


"Kita main kartu, kau suka?"


Ah, tidak. Richi tidak bisa berpura-pura menjadi pacar sialan itu. Dia harus membuat Virgo juga berlutut padanya.


"Richi, cepatlah. Kau tahu aku tidak suka dibantah, kan?"


Richi menurunkan ransel yang disandangnya. Dia bersiap memberi pelajaran jika lelaki itu masih melakukan sesuatu dengan sesukanya.


Gadis itu mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku celana olahraga, lalu membuka lipatan hingga membuat ujung pisau mengeluarkan kilauan.


Beberapa yang disekitar Richi mundur kebelakang, takut pisau itu menghunus mereka.


"Kau.. mau apa.." Mata Virgo masih berpusat pada pisau di tangan gadis itu.


"Kau... Tidak bisa melakukan ini padaku, sayang. Sudah kukatakan, aku ini Darrel, penguasa di kota ini." Virgo berdiri dengan tangan yang berada di saku celananya. Dia tersenyum menatap Richi seolah menyepelekannya.


"Kemarilah. Akan ku tunjukkan, siapa Darrel sebenarnya." Tukas Richi, lalu memutar-mutar pisau di tangannya. Mata gadis itu pula tak lepas dari Virgo.


TBC


** Up 3 bab setuju? Like dulu dong **

__ADS_1


*Yang Penasaran soal kisah cinta Tuan Yohan, pimpinan Evan, ayo singgah ke novel Menikahi Lelaki Tunanetra😆*


__ADS_2