Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Model


__ADS_3

Hari ini, Richi cukup malas berdandan. Dia sudah langsung memakai baju olahraga dan rambut cepol asal. Walau begitu, kehadirannya tetap dilirik banyak orang.


Richi bertemu Evan tepat saat ia hendak masuk ke dalam gedung. Mereka berjalan bersama sambil bercanda walau Richi merasakan banyak pandangan kini menatapnya dengan berbeda. Tapi dia tak peduli.


"Hei." Andreas menahan tangan Richi. Perempuan itu berhenti dan mendapati Andreas bersama beberapa teman yang lain disana.


"Ya?"


"Apa.. kau mendengar gosip?" Tanya Andreas langsung.


"Gosip tentang aku dan Virgo? Tentu." Jawab perempuan itu. Bahkan dia sudah bosan mendengar bisik-bisik yang lain tentang masalah itu.


"Bukan. Bukan yang itu." Andreas melirik kiri dan kanan, kemudian berbisik. "Soal.. kau menghajar Andrew dan kawanannya."


Evan menaikkan alis. "Apa?" Dia menatap Richi. Apa benar begitu? Bukankah dia tengah menyamar jadi perempuan anggun?


"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Richi. Sepertinya dia melupakan orang-orang yang melihatnya saat itu.


"Aku mendengarnya dari saksi mata. Katanya kau menghabisi mereka."


"Lalu, kau percaya?"


Andreas menatap Evan. Lelaki itu tengah terkikik geli.


"Ti-tidak." Jawabnya saat menyadari, bahwa gosip itu sepertinya tidaklah benar.


"Ya sudah." Richi kemudian melanjutkan langkahnya.


"Kau sudah menunjukkan taringmu, eh?" Tawa Evan, lalu berbelok menuju kelas sementara Richi menuju loker.


Dia mengambil beberapa catatan di dalam dan memasukkannya ke dalam tas. Hari ini ada dua mata kuliah. Pertama hanya akan mencatat di kelas, lalu kedua, latihan fisik di stadion olahraga.


Richi menutup loker, dia tak terkejut saat ternyata Virgo sudah berada dibalik pintu lokernya.


"Hai." Sapa lelaki itu. "Maaf, kemarin aku membatalkan kencan karena mengurus sesuatu. Kau tidak marah, kan?"


Richi menyandarkan bahu kirinya pada loker, menghadap Virgo dengan senyum terpaksa.


"Tidak, sama sekali." Richi menoleh ke arah dimana ada Andrew dan yang lain berdiri menghadap mereka. Andrew, dengan penyangga leher menatap dingin ke arah Richi.


"Aku mendengar kabar tak sedap soal teman-temanku." Ucap Virgo, sambil menatap Andrew.


"Ah, ada apa dengan mereka? Aku baru sampai, jadi belum mendengar gosip apapun." Jawab Richi dengan nada manisnya.


Virgo diam. Matanya menatap Richi cukup lama, sampai akhirnya ia mendesah pelan.

__ADS_1


"Yah, rasanya gosip itu memang sangat tidak masuk akal. Aku akan bicara pada Andrew lagi, kurasa dia mabuk kemarin. Aku juga akan mengecek cctv nanti."


"Kau sedang ada masalah, ya?" Tanya Richi berpura-pura.


Virgo mengangguk. "Begitulah. Aku akan menghubungimu nanti." Lelaki itu mendekatkan wajahnya, hendak mencium. Namun Richi dengan sigap menahan tubuh Virgo.


"Aku lupa, ada kelas pagi ini. Bye, Virgo." Richi berjalan cepat. Matanya terus menatap Andrew sampai ia melewati lelaki itu.


Andrew tersadar, dia melakukan kesalahan. Dia pikir dengan mengadukan ini pada Virgo, akan membuat lelaki itu ikut menghajar Richi. Tapi nampaknya sia-sia. Tak ada yang percaya perempuan anggun itu melakukan hal seperti apa yang ia alami.


"Kau lihat, bagaimana gadis sepertinya melakukan itu padamu? Kalaupun dia menghajarmu, bukankah kau sangat mampu mengatasinya?" Ujar Virgo pada Andrew.


"Tapi-"


"Itu tidak mungkin. Aku akan mengecek cctv." Kata Virgo lagi, melangkah pergi menuju ruangan pengawas.


Andrew mengepalkan tangan, untuk menoleh pun dia tidak bisa saat ini. Lehernya sakit karena tendangan perempuan itu. Sayang sekali, yang lain tak berani berbicara akibat ancaman Richi. Bahkan Augy tak bisa dihubungi karena trauma. Dia harus melakukan sesuatu untuk menghabisi gadis itu.


...🦋...


Joy dan Sarah menatap Richi. Mereka masih penasaran dengan apa yang baru mereka dapat kemarin. Saking sibuknya mengamati, mereka sampai tak mendengarkan penjelasan dosen di depan.


Sesekali mereka menatap poster seukuran halaman majalah yang diambil Sarah dari majalah lamanya. Mencocokkan wajah model perempuan itu dengan yang ada di dekat mereka.


"Apa benar ini dia?" Bisik Joy.


Richi menopang dagunya. Matanya tertutup, sesekali ia tertunduk karena sangat mengantuk. Cepol yang asal dan pakaian olahraga membuatnya tak semenarik biasanya. Tampilan Richi dinilai berantakan oleh Joy dan Sarah hingga membuat mereka ragu bahwa model yang bersama Aron adalah gadis itu.


"Apa ini kembarannya?" Bisik Sarah lagi.


Dia melihat Richi yang akhirnya meletakkan kepalanya diatas meja dan tertidur. Sama sekali tak memperdulikan penjelasan dosen di depan. Dia tadi malam sibuk memikirkan cara untuk memberantas Blackhole sebab dia sudah menemukan markasnya.


"Kalau dilihat style-nya selama ini sih, aku rasa... memang dia." Tutur Joy, dan Sarah berdecak kesal karena ternyata, orang yang dia ingin bully belakangan levelnya lebih tinggi dari dirinya.


~


"Hei, bangun."


Evan mengguncang bahu Richi sampai ia mengangkat kepala dengan wajah mengantuk.


"Cepat ke lapangan. Latihan akan dimulai."


Richi membuka matanya dan mendapati teman-temannya keluar dari kelas.


"Kau duluan saja, Evan. Aku mau ke toilet dulu."

__ADS_1


"Baiklah."


Evanpun pergi. Richi meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena posisi tidur yang tak begitu nyaman. Setelah itu, ia berjalan menuju toilet untuk merapikan rambut dan cuci muka, kemudian menuju loker untuk memasukkan lagi catatannya yang bahkan tak terpakai saat dikelas tadi.


"Richi."


Richi tak menoleh walau ia mendengar suara Sarah dibelakangnya. Ia terus memindahkan barang-barang dari tas ke loker.


"Kau... kenal dengan Aron Hamlet?"


Richi menghentikan aktifitasnya sesaat, lalu meletakkan tasnya ke dalam dan menutup loker.


"Tidak." Jawabnya saat berbalik badan.


Joy membuka poster di tangannya, memperlihatkan foto Richi dan Hamlet yang mesra, hampir berciuman.


"Ini kau, kan?" Tanya Joy.


"Terima kasih sudah memujiku seperti model tapi itu bukan aku." Jawabnya lagi.


Andreas yang ada disana, merebut poster dari tangan Joy.


"Hei, kembalikan!"


"Wah. Ini kau, kan? Ya, benar. Ini kau!" Andreas menatap poster dan Richi secara bergantian.


"Richi, kau seorang model, ya? Aku bisa melihat itu, sih. Kau memang secantik itu." Sambung Fred, ikut melihat poster ditangan Andreas.


"Tidak kusangka, ternyata kau pernah menjadi model." Kata Andreas, kemudian berlari membawa poster itu.


"Hei, kembalikan!!" Teriak Sarah, namun Andreas sudah menghilang.


Richi sampai hampir terkekeh melihat Sarah kesal lantaran posternya dibawa lari. "Terima kasih, kau sampai menyimpan fotoku dan marah saat orang lain membawanya pergi."


"Aku bukan marah karena kau! Tapi karena Hamlet!" Pekiknya pada Richi.


"Yah, akhirnya kau menyadari kalau itu dirimu." Tukas Joy.


"Mau mengelak bagaimana pun, kalian juga sudah sangat menyadari itu aku." Richi melangkah pergi meninggalkan dua orang itu.


"Hei, siang ini kami akan bertemu Hugo Erhard!" Teriak Sarah, ingin membuat Richi cemburu. Namun perempuan itu hanya melambaikan tangan cuek, tanpa menoleh lagi kebelakang.


"Ck! Sial!" Rampat Sarah kesal.


TBC

__ADS_1


**Nanti malam kita up lagi guys, ganti yang kemarin😆**


__ADS_2