Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Masa Kritis Hugo


__ADS_3

Ricky keluar menggendong adiknya yang sudah mengeluarkan banyak darah. Begitu juga Hugo yang terluka parah. Kehadiran mereka membuat semua perhatian teralihkan, terutama jenderal dan tim fox yang turut bersedih melihat sepasang kekasih itu sampai tak sadarkan diri. Keduanya dibawa dengan ambulan untuk menuju rumah sakit.


Yang membuat Valiant lebih terkejut adalah mayat Erine dan dua anggota lainnya. Walau begitu, mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi diantara mereka semua. Hanya saja, tindakan Erine kali ini benar-benar diluar nalar. Erine terlalu jauh melangkah hanya demi memuaskan keinginannya semata. Lalu apa yang gadis itu dapatkan? Tidak ada. Dia mati dalam keadaan mengenaskan.


Hugo mendapat pertolongan pertama saat di dalam ambulan menuju rumah sakit. Untungnya, persediaan darah yang sama dengan lelaki itu tersedia hingga bisa menyelamatkan Hugo yang sudah sangat lemah karena kehabisan darah.


Sama halnya dengan Richi, gadis itu pula langsung mendapat pertolongan pertama. Bersama Ricky disampingnya yang terus menggenggam tangan sang adik. Ricky terus mencium tangan Richi dengan harapan agar mereka dapat berkumpul kembali seperti sedia kala.


...🦋...


Richi membuka matanya. Pandangannya yang buram perlahan menjadi jelas dan menangkap peralatan medis disekelilingnya. Gadis itu langsung teringat wajah Hugo yang pucat dan penuh darah.


"Hugo!" Richi berusaha bangkit, tetapi perutnya terasa nyeri. Disebelahnya, Ricky tengah menahan kedua bahunya supaya tidak banyak bergerak.


"Hugo di ruang ICU. Dia.. baik-baik saja." Jawab Ricky, ia membantu adiknya untuk bersandar dengan perlahan.


"Tapi dia kehilangan banyak darah."


"Dia sudah mendapatkan banyak darah selama perjalanan ke rumah sakit." Jawabnya lagi, menenangkan Richi.


"Apa aku bisa lihat dia? Aku ingin bersama dia." Pinta Richi. Air matanya mulai menggenang mengingat perjuangan besar Hugo untuknya.


"Saat ini belum bisa." Lelaki itu melirik jam di atas dinding. "Satu jam lagi aku akan membawamu kesana."


Richi memperhatikan raut Ricky yang tak biasa.


"Ada sesuatu? Kau menyembunyikan sesuatu dariku."


Ricky menghela napas. Memang dia juga mengkhawatirkan Hugo. Dia tahu, Hugo menyelamatkan adiknya dan kini lelaki itu kritis.


"Dia.. belum sadar."


Richi menahan napasnya. Nyerinya tidak lagi terasa karena sakit di tempat lain yang lebih terasa, membuat air matanya menetes.


"Su-sudah berapa lama.. kami disini?"


"Satu hari. Hugo menjalani operasi yang cukup lama. Sama sepertimu, karena luka itu dekat dengan luka tembakmu yang dulu." Ricky mengelus kepala adiknya dengan curahan rasa sayangnya. Dia memang tidak mengerti perasaan Richi, tapi dia tahu rasa sakitnya jika orang yang dicintai tengah dalam keadaan seperti Hugo. Apalagi lelaki itu mengorbankan dirinya, tentu Richi juga merasa bersalah.


"Jangan merasa bersalah. Hugo melakukan itu karena keinginannya. Dia pasti menyuruhmu untuk diam saja, kan? Itu karena instingnya sebagai laki-laki ingin melindungi perempuan yang dia cintai." Kata Ricky berusaha bijak.


"Tahu dari mana kakak soal itu. Jelas-jelas kau tidak pernah punya kekasih!" Celetuk Richi sembari mengelap air matanya dengan tisu.


Ricky menghela napas kasar. Ingin dia mencekik adiknya itu kalau saja ini bukan rumah sakit.


"Heiii. Aku ini laki-laki dan punya naluri seperti itu, tahu!!" Pekiknya dengan kesal. Lalu dia kembali menghela napas, "Dia pernah mengatakan itu padaku."

__ADS_1


"Apa? Dia mengatakan apa padamu?" Richi penasaran.


"Sekitar beberapa bulan yang lalu. Katanya, dia merasa kesal lantaran tidak benar-benar bisa melindungimu. Waktu itu aku menertawakannya karena bangga kau lebih hebat dari dia. Tapi sekarang aku sadar kenapa dia mengatakan itu dengan raut serius. Dia pasti kesal setengah mati padaku, ya." Ujar Ricky menggaruk-garuk kepala.


"Dia.. bilang begitu?"


"Hm. Tapi dia salah. Karena sebenarnya dia bisa melindungimu, kan?"


"Tetap saja! Kalau kemarin aku tidak bersembunyi dibelakang Hugo, pasti Hugo tidak sampai kritis seperti sekarang!" Dada Richi naik turun, emosinya bergejolak. Ia marah pada dirinya sendiri.


"Sssshh.." Ricky menenangkan adiknya. "Kau menurutinya. Itu sudah benar. Karena dia akan merasa kecil kalau kau yang berada di depan. Walau Hugo mengorbankan dirinya sekalipun, lelaki itu pasti tidak menyesal."


Richi menghapus air matanya, dia sedikit tenang lantaran kalimat itupun keluar dari mulut Hugo kemarin.


"Hei, ceritakan padaku, kenapa kau bisa disekap Erine."


Ah, Erine. Richi langsung teringat saat terakhir perempuan itu meregang nyawa dengan mata yang terbuka dan mengalirkan air mata. Dia pasti sangat menderita bahkan disaat terakhirnya.


"Aku.." ingatan Richi langsung mengarah saat pertama ia meninggalkan Hugo, dan masuk kedalam gedung menuju toilet.


Waktu itu, Richi tidak langsung masuk lantaran terdapat tulisan bahwa toilet rusak di pintunya. Jadi, Richi turun kebawah untuk menuju toilet lainnya. Namun saat di lorong sepi, Richi disekap dari belakang dan kedua tangan kakinya langsung dibekap oleh dua orang. Saat itu, mulutnya dibekap obat bius. Lalu saat sadar, ia sudah babak belur dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Aku tidak menyangka Erine sampai melakukan itu padaku."


Ricky mengangguk-angguk. "Ayah juga tidak bisa berkata-kata melihat bom yang ada disana. Katanya, itu bom yang sangat dahsyat. Kalau meledak, tubuhmu bahkan tidak akan bisa disatukan."


Ricky bersandar di kursi, dia melipat tangan menatap adiknya. "Erine menargetkan Hugo?"


"Bukan. Dia menargetkan aku."


"Tidak, bodoh. Dia menargetkan Hugo. Dia sebenarnya punya penjinaknya."


Richi menganga. Jadi, benarkah yang dikatakan Erine waktu itu bahwa dia memegang kendalinya? Dia menyuruh Hugo memohon padanya, tetapi lelaki itu menolak dan berusaha sendiri.


"Ja-jadi.. kenapa dia tidak menonaktifkan bomnya??"


"Mana kutahu. Kau yang ada disana. Kau pikir saja sendiri."


Richi mencoba mengingat lagi. Waktu itu.. benar, Erine menawarkan kebebasan untuknya jika Hugo mau memohon dan menurutinya. Tapi Hugo menolak bahkan memilih mati dari pada harus memohon pada Erine.


Richi memejamkan mata. Secara teknis, Hugo memang sangat keren. Tapi kalau waktu itu dia salah kabel, bukankah itu namanya bunuh diri? Richi menggeleng, bukan saatnya berpikir begitu karena Hugo dan dia sudah keluar dan sekarang tengah sekarat di rumah sakit.


"Aaahhhh..!!" Keluh Richi saat dia sudah tahu jawabannya. Ternyata, Erine memang menargetkan Hugo. Tetapi Hugo membuatnya kesal dan marah. Sebab itulah dia benar-benar ingin membunuhnya dan juga Hugo.


Setelah satu jam berlalu, Richi menagih janji kakaknya untuk membawanya ke ruangan Hugo. Gadis itu melepas infusnya perlahan, dan tak mendapat protes dari Ricky lantaran dia tahu sekeras apa adiknya itu.

__ADS_1


"Bisa jalan?"


"Bisa." Richi dengan perlahan turun dari brankar, berjalan lambat sekali. Membuat Ricky berdecak lalu menggendong adiknya.


"Aaakk. Turunin!!"


"Lambat!" Katanya sembari berjalan keluar ruangan. Di depan, langkah Ricky tertahan lantaran ibu dan ayahnya ternyata sudah berada di depan kamar.


"Lho. Mau kemana?" Tanya Marry panik melihat Richi yang digendong kakaknya.


"Ke kamar Hugo, Bu. Ichi khawatir.."


Marry menatap suaminya. Mendengar penuturan anak gadisnya itu, membuatnya tak bisa melarang.


Akhirnya, merekapun pergi bersama ke ruangan Hugo.


"Kak, turunkan aku." Pinta gadis itu. Merasa risih sebab menjadi pusat perhatian.


"Jalanmu lambat!"


"Kau bisa mendorongku pakai kursi roda."


"Merepotkan. Kau diam saja. Mau ketemu Hugo, tidak??"


Richi mengalah saja. Lagi pula dia memang ingin segera bertemu kekasihnya itu.


"Kau semakin berat, ya. Kapan terakhir kali kau olahra- AAKHHH!" Lelaki itu mengerang, karena dadanya di tinju oleh Richi. Kalimat sensitif para gadis memang tak boleh diucapkan oleh siapapun itu.


Setibanya di ruangan Hugo, Richi diturunkan oleh Ricky, dan mendapati ayah Hugo juga berdiri melihat kedatangan satu keluarga itu.


"Hugo belum sadar. Kata dokter, paling lambat satu jam lagi dia akan siuman." Ujar David pada Richi tanpa diminta.


"David, senang bertemu denganmu." Wiley mengulurkan tangan dan disambut oleh David.


"Aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau hebat, membesarkan anak yang sangat luar biasa." Puji Wiley pada mantan pacar istrinya itu.


"Kau juga. Aku sangat menyayangi putrimu. Aku senang dia dan Hugo bersama."


Marry pun melangkah, memeluk David yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.


"Kuharap Hugo menjadi menantuku." Bisik Marry pada David yang tertawa lepas. Dia juga menginginkan hal itu.


Sementara Richi, tanpa permisi masuk kedalam ruangan Hugo. Lelaki itu masih tertidur disana.


"Hugoo.." bisik Richi di telinga kekasihnya. Air mata gadis itu berlinang melihat Hugo berbaring tanpa baju hingga terlihat balutan perban pada beberapa tempat di lengan kiri dan bahu Hugo.

__ADS_1


Richi naik keatas brankar. Dia membaringkan tubuhnya menghadap Hugo. Dipeluknya lelaki itu sembari menutup mata dan berdoa supaya Hugo kembali sadar dan mereka bisa bersama kembali.


__ADS_2