Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Ayo, Kencan!


__ADS_3

"Chi, minggu depan sudah Oberon's day, Lho." Ucap Emerald mulai membuka bukunya. Richi menemaninya mengerjakan tugas di perpustakaan.


Richi tak menyahut. Dia menatap susunan buku dan memilih satu untuk dibaca.


"Kau datang?"


Richi melirik Emerald sekilas dan menghela napas. Lelaki itu masih saja tidak mengerti. "Tidak, aku tidak minat". Jawabnya lalu duduk di depan Emerald.


"Kenapa? Bukannya itu hari yang di tunggu semua siswa?" Emerald menutup buku yang belum dibacanya.


"Aku tidak suka pesta, kak." Ucapnya lagi dan lagi, kemudian menyeruput kopinya di atas meja.


Emerald menopang dagunya. "Apa tidak mau datang bersamaku?" Wajah Emerald terlihat memelas.


Richi menggeleng. "Aku akan menggantinya di lain waktu. Nonton misalnya?"


Emerald tak bergeming. Kalau menonton, dia bisa melakukannya kapan saja. Tapi malam perayaan Oberon, itu setahun sekali. Dan tahun depan sudah tidak bisa ia lakukan karena dia sudah tamat sekolah.


Oberon's day adalah hari khusus murid-murid Oberon untuk memberikan hadiah kepada orang yang mereka suka. Pada hari itu, para murid memakai kaos putih logo Oberon dan yang menyukainya harus memberikan tanda apa saja di baju itu. Seperti coretan, tanda tangan, stiker, apapun yang menempel dan bertahan lama serta menjadi tanda kepemilikan tersendiri dari orang itu.


Emerald biasanya akan memberikan tanda berupa stiker yang dia buat sendiri supaya tidak serupa dengan orang lain. Stikernya pula akan berbeda untuk teman-temannya, juga orang yang ia sayang.


"Ayolah, sekali saja. Lagipula aku dengar tahun ini hanya pesta biasa dan akan mengundang band terkenal." Ucapnya lagi.


Richi memicingkan mata, melihat Emerald memohon padanya supaya datang bersamanya.


"Akan aku pikirkan." Jawabnya dengan senyuman lalu mulai mebaca bukunya.


Emerald menghela napas. Gadis di depannya tidak bisa bujuk, apalagi dipaksa. Anehnya, walau tahu tidak suka dengan pesta, Emerlad terus saja mengajaknya.


~


Anak-anak mulai sibuk bercerita tentang Oberon's day, hari yang membahagiakan karena mereka punya kesempatan yang bagus untuk mengungkapkan perasaan mereka lalu mengajaknya berkencan pada pesta perayaan di malam harinya.


"Kau bagaimana, Xel? Apa sudah ada yang akan kau kencani untuk Oberon's day?" Tanya Isac. Mereka tengah duduk melingkar di lantai lapangan basket.


"Ya, aku sudah punya rencana membawa seseorang." Jawabnya sambil mengangguk.


"Ada? Siapa? Kau bahkan tidak pernah bercerita." Isac merapatkan duduknya mendekat Axel karena rasa penasarannya.


"Kau lihat saja nanti, ya. Sebaiknya kau mulai cari pasangan." Saran Axel sambil menepuk-nepuk pundak Isac yang tampak tak rela Axel punya pasangan.


"Kau bagaimana, Daren?" Tanya Axel sambil tersenyum meledek. Lalu dia melirik Hugo yang memandang langit.


"Entahlah. Mungkin seperti tahun lalu lagi". Jawabnya santai. Tahun lalu dia sendirian. Walau begitu, Daren selalu mendapat banyak hadiah dan stiker tidak kalah dari Hugo.

__ADS_1


"Kau tidak menanyakanku?" Hugo mulai bersuara.


"Untuk apa? Tidak berguna. Kau selalu ganti pasangan." Jawab Axel cuek.


Hugo tertawa kecil.


"Kenapa tidak ajak Richi?" Usul Daren yang langsung direspon Hugo.


"Kenapa dia?"


"Sudah pasti dia pergi dengan Emerald. Mereka tambah mesra saja". Ucap Axel tanpa tahu wajah Hugo mulai berubah.


"Lagi pula bukan pesta dansa seperti tahun lalu, kok. Aku dengar dari anggota osis, acara kali ini berbeda. Akan ada Band dan game seru yang menyatukan antar pasangan" Jelas Isac pada mereka.


"Yang benar? Berarti para gadis tidak akan memakai gaun? Ah sayang sekali, padahal aku ingin lihat Richi." Sesal Axel yang mengingat Richi tampil cantik jika berdandan layaknya perempuan.


"Dia takkan datang ke acara seperti itu. Makanya, Emerald mengubah konsepnya". Daren terkikik dengan ide cemerlang ketua osis itu.


"Mengherenkan melihat orang-orang terlalu berlebihan dalam menyukai seseorang. Bukankah itu akan merepotkan diri mereka sendiri?" Ucap Hugo mengejek.


"Kau takkan tahu, Hugo. Itulah cinta. Tidak merasa direpotkan, justru kita senang melakukannya."


Jawaban Daren membuat Hugo bungkam.


"Kau takkan tahu jika tidak merasakannya." Sambung Axel.


Mereka menahan tawa saat melihat gelagat aneh Hugo.


"Siapa yang suka? Aku hanya menolong orang yang kesusahan!" Bentaknya membela diri.


"Benarkah? Apa Richi tipe perempuan yang membutuhkan pertolongan?" Axel terpingkal dengan ucapannya yang berhasil membuat Hugo mengerutkan dahi sebab mereka memang tidak membantu apa-apa. Justru Richi yang berhasil keluar sendiri.


"Kau juga terlihat tidak suka pada Emerald."


"Aku tidak punya urusan dengannya." Jawab Hugo cuek, lalu memutar-mutar bola di telunjuknya.


"Hugo, sebelum Emerald, ajak saja Richi". Usul Axel pada Hugo.


"Aku tidak tertarik padanya".


"Benarkah? Apa kau sudah memberinya hadiah?" Tanya Isac lagi.


"Untuk apa?"


"Bukannya dia menolongmu?"

__ADS_1


"Benar Hugo, beri dia sesuatu. Dia sampai merelakan kencannya terundur demi menyelamatkanmu".


Hugo mengernyitkan alis. "Dia tetap pergi kencan, kan?"


"Awalnya dia menolak untuk membantumu karena ada janji. Entah bagaimana tiba-tiba dia sudah di depan menghabisi penjaga gerbang".


Hugo terdiam mendengar penjelasan Axel.


"Mungkin dia menyuruh Emerald menunggunya, lalu datang menolongmu". Sambungnya lagi.


Benarkah? Richi menolongnya padahal tengah berkencan? Batin Hugo bertanya-tanya.


"Tapi aku yakin dia akan pergi dengan Emerald karena konsep pesta yang dibuat berbeda". Ujar Isac.


Hugo menimbang, apakah akan mengajak gadis itu. Tapi, dia ragu. Jika Richi menolaknya, bukankah itu hal yang memalukan?


✨️


Hugo berdiri bersandar di tiang penyangga. Dia memperhatikan Richi yang bermain basket bersama teman-temannya. Hatinya tergerak untuk mengajak perempuan itu datang ke acara Oberon's Day tetapi dia ragu.


Bola bergulir ke arah Hugo. Dia menghentikannya dengan satu kaki. Hugo melihat Richi yang berdiri menunggu Hugo melemparkan lagi ke arahnya.


Richi berlari pelan ke arahnya, Melihat wajah gadis itu malah membuatnya tergerak mengajaknya kencan.


"Awas kakimu" ucap Richi mengambil bola di kaki Hugo.


"Richi."


"Hm?" Richi meletakkan bola di pinggangnya.


"Ayo kencan".


Ucapan Hugo berhasil membuat mata Richi membulat. "Apa?"


"Ah, maksudku, apa kau.." Hugo tergagap, dia bingung memilih kata yang tepat untuk menutupi kalimatnya yang secara spontan keluar dari mulutnya.


"Maksudku, kau tidak berkencan? Bukankah hari ini terlalu indah untuk dilewatkan? Bukankah besok minggu?" Tergagap membuat Hugo terlalu banyak mengoceh demi menutupi getaran di jantungnya yang kian meningkat.


Richi mengerutkan alisnya. "Kau salah makan, Hugo?" Ucapnya lalu kembali ke lapangan dan bermain lagi.


Hugo menendang tiang. "Ah sial! Aku selalu saja kelepasan." Dia mengingat saat awal memintanya menjadi pacar pura-pura, bukankah dia juga kelepasan?


Hugo melangkah dan pergi dari sana, dia perlu menenangkan hatinya.


Richi terhenti setelah berhasil memasukkan bola ke ring. Matanya mengikuti Hugo yang berjalan cepat. 'Dia mengajakku berkencan? Apa aku salah dengar?' Batinnya.

__ADS_1


To be Continued....


__ADS_2