Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Marry me, Richi!


__ADS_3

"Hugo, kita mau kemana?"


Richi melihat keluar jendela mobil, arah yang dia belum pernah datangi.


"Nanti kau akan tahu."


Tak lama, mobil berhenti. Hugo langsung turun dan mengeluarkan ponsel, menelepon seseorang.


"Ayo." Hugo menggenggam tangan Richi dan membawanya menuju satu rumah sederhana di pinggir jalan. Rumah bercat putih yang berdiri agak jauh dari tetangga-tetangganya. Halamannya luas dan banyak bunga-bunga tumbuh disana. Sepertinya dirawat dengan sangat baik.


"Ini rumah siapa?" Rasa penasaran Richi mulai timbul tetapi Hugo tidak menjawabnya.


Seseorang membuka pintu, mempersilakan Hugo dan Richi masuk.


Mata Richi membulat saat melihat Shera keluar dari salah satu ruangan.


"Hai, kalian sudah sampai ternyata. Ayo, duduk."


Richi dan Hugo duduk, mereka dihidangi teh hangat oleh pelayan di rumah itu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Hugo.


"Sudah lebih baik. Terima kasih sudah membantuku, Hugo."


"Aku senang bisa membantu. Kuharap lelaki sialan itu bisa berubah." Tukasnya dan Shera malah tertawa.


Richi yang tak paham juga enggan bertanya, sebab dia sudah dari tadi bersuara tapi Hugo tampak tak ingin menjawab.


"Kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Shera pada Richi.


"Siapa?"


"Hugo, kau tidak memberitahunya?" Shera bingung dengan jawaban Richi.


"Ah, aku lupa. Kondisi kami juga sangat genting sampai kami harus terus bertarung karena, kau tahu, tuan besarmu." Jelas Hugo pada Shera yang langsung mengangguk.


"Pasti banyak yang mencoba menangkap Richi, ya." Ucapnya lagi. "Baiklah, Richi. Aku akan menceritakannya padamu. Sebelumnya, aku minta maaf atas perlakuanku padamu. Aku tidak tahu kalau kau juga punya rencana."


Richi mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Harry sudah menceritakannya padaku. Waktu kau membantunya di panthouse, sebenarnya Harry menerima informasi yang terlambat, dia ingin menahanmu tapi pintu lift sudah tertutup. Dia lari mengejar, tapi terlambat karena kau sudah naik ke helikopter bersama para penjahat itu."


"Begitukah? Untunglah aku tidak menembaknya." Kata Hugo yang mengingat dirinya berada di puncak emosi saat itu.


"Ya. Tuan besar menyadari kalau Harry tidak bisa membunuh Darrel. Oleh sebab itu, dia membuat rencana sendiri."


"Lalu, kenapa kau menembaknya?" Tanya Richi.


"Aku hanya takut dia melukai kalian, kau tahu, Hugo memprovokasinya dengan sangat berlebihan. Harry itu emosionalnya sangat tinggi, jadi aku menghentikannya. Ya, walau agak berbahaya."


"Aku juga salah paham. Aku mengira Harry benar-benar menjebakku." Ucap Richi dengan nada menyesal. "Lalu, kenapa kau disana, Shera?"


"Aku juga mendapat laporan kalau Harry akan dibunuh disana."

__ADS_1


"Apa? Kenapa? Bukankah dia satu kelompok dengan mereka?" Tanya Richi tak percaya.


Shera tersenyum kecil. "Karena tuan besar takut rahasianya terbongkar. Harry satu-satunya yang tahu segalanya. Setelah dia melihat banyak bukti Harry jalan bersamamu, dari situlah tuan besar tidak mempercayainya. Saat dia menyuruh Harry membunuhmu, dia tidak melakukan itu. Itulah sebabnya tuan besar juga memerintahkan anak buahnya membunuh Harry. Aku kesana sebagai orang yang dipercaya tuan besar. Katanya, jika aku bisa membunuh Harry, maka aku akan selamat."


"Jadi kau masih dibawah tuan besar?" Tanya Hugo.


"Ya, aku masih memegang kepercayaannya. Aku bilang padanya, Harry sudah mati karena ledakan rumah itu."


"Shera, maukah kau memberitahuku siapa tuan besar itu?" Tanya Richi dengan sangat penasaran.


"Tentu, dia itu..."


"Shera, kenapa lama sekali?"


Suara Harry membuat semua menatap ke arahnya. Dia juga terdiam di ambang pintu mendapati Hugo dan Richi duduk di ruang tengah.


"Harry, kau sudah baikan?" Tanya Richi yang langsung tersenyum melihat kemunculan Harry.


Lelaki itu membalas senyumannya lalu berjalan perlahan ke arahnya.


"Kau baik-baik saja, kan? Apa Hugo menyakitimu?" Tanyanya bercanda sambil menatap Hugo.


"Maaf, Harry. Aku tidak tahu kalau kau ingin menolongku."


Harry duduk disebelah Shera, dia menggenggam erat tangan gadis itu.


"Tidak masalah. Seharusnya aku memang tidak perlu menyelamatkanmu." Tukasnya sambil melirik Hugo.


"Syukurlah kau tidak mati."


"Kalau begitu, kau akan berumur panjang."


Richi dan Shera hanya menggelengkan kepala melihat candaan aneh keduanya.


Harry menceritakan hal-hal yang dia ketahui pada Hugo dan Richi. Sebab setelah Shera menerimanya kembali, dia tidak ingin lagi terlibat karena akan membahayakan Shera jika tuan besar tahu gadis itu masih berhubungan dengannya.


"Kau bisa melakukannya, kan?"


Hugo mengangguk, dia akan membantu Harry untuk kali ini.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan, Harry?" Tanya Richi.


Harry menatap perempuan disebelahnya, mengeratkan genggamannya. "Aku akan menikah dengan Shera."


Richi melongo, benarkah? Bukankah terlalu cepat? Tapi dia tidak berani banyak tanya. Tanpa ia sadari, Hugo juga menatap ke arahnya, seolah cemburu dengan apa yang Harry lakukan pada kekasihnya.


...🐥...


Hugo duduk dan meletakkan nampan makanannya di depan Richi. Kini dia makan dengan lahap tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


Richi menghentikan suapannya. Dia melihat aneh ke arah Hugo.


"Kenapa dia?" Bisik Frans pada Erick yang langsung mengangkat bahu.

__ADS_1


"Ada apa, Hugo?" Tanya Richi penasaran.


"Aku tengah cemburu."


Erick dan Frans langsung menatap Richi.


"Cemburu pada siapa? Aku tidak melakukan apa-apa." Tutur Richi serius. Dia masih berpikir telah melakukan apa sampai Hugo seperti sekarang.


"Aku cemburu pada Harry. Dia sudah menentukan masa depannya." Ucapnya dan langsung menenggak air putih milik Richi.


"Setiap orang kan, punya kehidupan berbeda, Hugo. Dan kita berbeda dengan mereka." Jawabnya santai.


"Kau benar. Karena kehidupanku adalah menunggumu selesai sekolah militer." Hugo langsung menghabiskan makan siangnya.


"Tapi, bagaimana dengan sekolah mereka?" Tanya Richi penasaran.


"Kau tidak tahu, ya? Usia dibawah 18 tahun boleh menikah dengan surat izin dari orang tua mereka dan tetap bisa bersekolah. Tapi sepertinya Harry akan mengambil kelas ekselerasi supaya tamat dengan hanya mengandalkan kepintarannya saja." Jelas Hugo dan mendapat anggukan dari Richi.


"Begitu rupanya, aku baru tahu. Unik juga, ya."


"Jadi, apa kau mau menikah denganku?"


Bfftt!


Frans menyemprotkan air dalam mulutnya sementara Erick menganga dengan mulut penuh makanan.


"A-apa itu tadi.. la-lamaran??" Tanya Frans tergagap.


"Hugo.."


"Kau bilang tadi unik. Kalau dilihat dari wajahmu sepertinya kau mulai setuju." Ucap Hugo dan ikut berdiri saat melihat Richi bergerak dari tempatnya.


"Jadi bagaimana? Kau mau menikah denganku?" Suara Hugo terdengar ke satu kantin, sampai membuat orang-orang di dalam yang awalnya berisik menjadi senyap.


"Apa katanya tadi?"


"Hugo mengajak Richi menikah?"


"Mereka akan menikah?"


"Hugo melamar Richi?"


Richi berjalan saja namun Hugo mengikutinya dari belakang.


"Marry me, Richi ! Mau menikah denganku kan, Chi? Iya, kan?"


Richi berjalan cepat tanpa memperdulikan Hugo.


"Hei, tunggu. Jawab dulu aku. Hei, kau mau menikah denganku kan, Richi Darrel??" Teriak Hugo di lorong sekolah sementara Richi berlari karena malu atas kegilaan Hugo.


"Kau melamar Richi?" Tanya seseorang dari jendela kelas.


"Iya, doakan ya." Jawab Hugo dengan senyum mengembang dan berlari lagi menyusul kekasihnya. Sementara orang-orang dilorong itu menganga mendengar pernyataan random lelaki yang diidolakan banyak siswi di sekolah Oberon itu.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2