
Sejak tadi Wiley tak melihat Richi saat ia dan Marry tengah mengobrol santai dengan David. Pria paruh baya itu melihat Ricky duduk sembari bermain ponsel, tapi tak mendapati anaknya.
"Mana adikmu?" Tanya Wiley pada Ricky.
"Ada di dalam." Jawabnya sembari berdiri. "Tidak kusarankan ayah melihat kedalam." Ucap lelaki itu kemudian pergi.
Dibilang begitu, Wiley malah menjadi penasaran. Apa yang dilakukan kedua orang itu? Bukankah Hugo masih belum sadar?
Wiley membuka pintu ruangan Hugo. Dia mematung mendapati anak gadisnya sudah merebahkan tubuh dan memeluk Hugo yang belum sadarkan diri. Ingin melayangkan protes, namun dia tahu bagaimana keduanya berjuang untuk hidup dan cinta mereka. Dia tahu apa yang sudah Hugo berikan untuk putirnya.
"Aah, sepertinya aku harus pergi sebentar. Aku tidak perlu mengkhawatirkan Hugo. Iya, kan?" Kata David yang ternyata ikut berdiri dibelakang Wiley. Ia pun berlalu meninggalkan ruangan anaknya dengan senyuman lebar tersungging di bibirnya.
Sementara Marry mengusap lengan suaminya yang masih memperhatikan brankar berisikan dua orang yang tengah tertidur itu.
"Dia sudah dewasa, sayang."
"Tidak. Dia belum dewasa. Dia masih menjadi gadis kecilku dan selamanya begitu. Selama ini aku hanya tahu dia bermain bersama Hugo, bukan tidur bersama."
Marry terkekeh pelan. "Memang beginilah, sayang. Bukankah dulu kau juga menculikku dari ayahku?"
Wiley menatap Marry. Dia mendesah pelan mendengar kalimat istrinya itu.
"Selama ini kau selalu berdoa supaya putrimu mendapatkan laki-laki yang tepat. Kau tahu kalau anak itu mampu menjaga putrimu, kan? Dia terlalu sering menunjukkannya." Tutur Marry, memberikan pengertian untuk suaminya.
"Ya. Itu benar. Tapi.." Wiley menghela napas. "Aku merasa ditikung. Putriku satu-satunya..."
Marry tergelak. "Richi tidak akan meninggalkanmu. Kau ayah yang paling dicintainya. Ayo." Marry menarik suaminya untuk keluar, memberikan ruang untuk putri kesayangannya itu.
Beberapa jam berlalu, Hugo membuka matanya. Lelaki itu langsung tahu siapa yang mendekapnya. Richi, terus memeluknya seolah tak ingin ditinggalkan.
"Hei.." bisik Hugo dengan suara serak. Richi mendongak, mendapati lelaki itu tersenyum lemah menatapnya.
"Hugo, kau sudah sadar." Mendadak Richi menangis sedih. Dia terus teringat dengan perjuangan Hugo untuknya. Sejak tadi dia terus berdoa supaya Hugo lekas sadar.
"Kenapa nangis? Hm?"
Richi terisak. Dia menutup wajahnya lalu tersedu-sedu.
Hugo agak khawatir. Hampir dua tahun bersama Richi, hampir tidak pernah ia melihat gadis itu menangis. Lalu sekarang gadis itu menangis lagi padahal mereka sudah selamat.
"Sayang.." Hugo ingin menggerakkan tubuhnya, tetapi rasanya masih berat.
"Aku.. aku takut kau mati.."
Hugo bernapas lega. Dia pikir Richi menangis karena apa.
Hugo membuka masker oksigen yang menutup mulut dan hidungnya supaya bisa lebih mendekap Richi.
"Kenapa dibuka?"
__ADS_1
"Kenapa? Oksigenku ada disini." Jawabnya sembari merapatkan tubuh Richi dengan tangan kanannya. Richi reflek merintih saat lukanya tersentuh.
"Ke-kenapa?" Tanya lelaki itu panik.
"Tidak.." Richi kembali merebahkan kepalanya dilengan kanan Hugo dengan memposisikan lukanya agar tak terhimpit.
"Hugo.."
"Hmm.." lelaki itu memejamkan mata, meletakkan hidungnya diatas kepala Richi. Walau tubuhnya berluka tembak, namun Hugo merasa terus bersyukur lantaran ia masih dan Richi masih diberi kesempatan untuk hidup.
"Terima kasih.."
"Untuk apa."
"Semuanya.." Richi mengusapkan tangannya ke tubuh Hugo yang tak dilapisi kain. Tubuh lelaki itu terasa hangat.
"Kau mengorbankan dirimu demi aku. Kau sampai seperti ini."
"Aku tidak bercanda soal memberikan semua nyawaku untukmu."
Richi mendongak, ditatapnya wajah Hugo yang masih terlihat pucat. Ingin sekali ia merawat Hugo. Tapi dirinya pun masih kesulitan dan menahan sakit.
"Ada berapa nyawamu?"
"Hmm.." Hugo tampak berpikir. "Satu."
"Kalau begitu setelah ini, jagalah baik-baik. Aku ingin kau terus ada di sisiku, aku mau aku tetap ada bersamamu."
"Aku sangat mencintaimu, Hugo. Jadi, berhentilah bersikap seperti kemarin."
"Aku tidak bisa janji untuk itu."
"Hugoo.."
"Aku tidak bisa membiarkanmu dalam kesulitan. Aku sangat mencintaimu, Richi. Kebahagiaanmu menjadi prioritas bagiku. Untuk apa aku melanjutkan hidup kau kau tidak ada?"
Richi menatap Hugo dengan matanya yang basah. Tentu ia merasa beruntung memikili laki-laki sepertinya.
"Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku, kan?"
Richi tidak bisa menjawab karena itu benar. Dia juga akan melakukan hal yang sama. Dia pun akan membunuh Erine kalau saja.. Ah, Erine.
"Hugo, soal Erine.."
Richi kembali mengingat saat dimana lelaki itu menembakkan pistolnya tepat ke leher Erine hingga darahnya menyembur begitu banyak. Sangat mengerikan.
"Aku tidak bermaksud membunuhnya. Hanya saja, dia ingin mencelakaimu. Itu sebabnya aku tak punya pilihan lain selain membuatnya mati."
Richi tertegun. Hugo memang sangat melindunginya.
__ADS_1
"Dia secinta itu padamu."
Hugo bergeming. Dia tidak peduli soal itu. Yang ia inginkan untuk terus di sisinya hanyalah Richi.
"Entah kenapa.. aku jadi merasa bersalah. Kalau saja kau turuti permintaannya, aku yakin, aku bisa menangkapnya tanpa harus terbunuh."
Hugo menunduk, menatap kekasihnya. "Sebenarnya, aku memberinya waktu. Aku berharap dia berubah pikiran dan menyesal. Itu sebabnya aku terus menahan jariku untuk tidak menekan pelatuk. Tapi saat dia terus membidikmu dan menjadikanmu sasaran pelurunya, tak ada pilihan bagiku selain membuatnya mati. Karena jika hanya sebatas luka, aku yakin dia masih terus mengusikmu."
Richi terdiam lagi. Memang dia melihat jeda yang cukup lama diantara keduanya, sampai Erine yang memulai dan Hugo langsung menembak Erine tepat di titik vital. Hugo hanya ingin melindunginya.
"Kau menyesal, karena dia mati?" Tanya Hugo pada Richi.
Gadis itu mendongak lagi, menatap Hugo yang terus melihat kedalam matanya. "Aku.. tidak sangka kalau dia akan mati dalam keadaan seperti itu. Dia anggota Valiant dan termasuk unggul di timnya. Aku.." Richi tak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebab Hugo ada benarnya. Erine akan terus mencelakainya jika hanya diberi hukuman ringan.
"Dia yang memilih melakukan itu. Jadi, tidak perlu merasa bersalah." Kata Hugo. Dia mengelus rambut lembut Richi.
"Hugo.." Richi menaikkan kepalanya. Sejak tadi dia terus tidur di lengan kanan Hugo.
"Apa lenganmu sakit?"
"Tidak."
Mata gadis itu menyipit. Tiga tembakan di lengan kiri, apa mungkin tidak terasa sakit Richi memilih bangkit. Dia tidak ingin membuat Hugo menahan denyutannya.
"Hei, kenapa bangkit?"
"Tanganmu pasti pegal."
"Tidak. Kesini." Pinta Hugo, merentangkan tangan kanannya untuk Richi kembali merebahkan diri disampingnya.
Richi pun merebahkan tubuhnya lagi disebelah Hugo. Mereka diam beberapa waktu dengan tangan Hugo yang bergerak mengelus rambut Richi.
"Richi.."
"Hm." Gadis itu kembali mendongak.
"I love you so bad. And i will always love you.."
Richi mengangkat kepala, mendekatkannya ke bibir Hugo dan mengecupnya. Hugo membalas ciuman itu sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan demi sentuhan yang mereka saling berikan sampai bibir pucat itu kembali merona.
...** Sekian dan Terima Kasih **...
Halo. Untuk cerita Hugo dan Richi kita akhiri sampai disini, ya. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan. Tapi ini udah final, sih.
Nanti aku akan upload sedikit bab tambahan, ya. Tentang mereka yang menikah dan kehidupan setelahnya.
Heii. Makasih banyak untuk semua pembaca yang udah nyempetin waktu buat baca tulisanku yang ngga seberapa ini. Buat gift, vote, dan like-nya. Thanks a lot, Penn!!
Btw aku masih sibuk kerja bgt padahal kmren udah mikir buat karya baru. Tapi masih ada Syahdu. Kalian baca Teman Tidur Kontrak, kan?
__ADS_1
Tunggu aku up extra bab, ya🥰🥰🥰