Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Pantai


__ADS_3

Hugo tertawa lebar melihat reaksi Richi.


"Aku bercanda. Kau lihat saja nanti".


Ucapnya lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


~


Richi duduk di tepi pantai, dia membuka baju seragam dan menyisakan kaos dalam hitamnya. Dia memperhatikan cuaca yang agak mendung di ujung sana, nampaknya ada bagian yang hujan di kota ini.


Hugo datang dengan dua botol soda di tangannya. Dia duduk bersebelahan dengan gadis itu.


"Kau mau mandi?" Tanya Hugo sambil menyodorkan sekaleng soda.


"Aku tidak suka laut".


"Ada pengalaman buruk?" Tanya Hugo, mengambil lagi kaleng di tangan Richi lalu membuka penutupnya.


Richi tersenyum dengan perhatian kecil Hugo. "Ya, dulu kecil". Jawabnya lalu meneguk sodanya.


"Kakakku membawaku ketengah, lalu kami tenggelam tapi dia berhasil berenang ke tepi sedangkan aku tergulung ombak."


"Lalu?"


Richi bergidik, "aku bahkan tidak ingin mengingatnya, rasanya seperti akan mati. Untunglah ayah segera menyelamatkanku."


"Pasti juga menjadi pengalaman buruk kakakmu."


Richi mengangguk, setelah itu memang Ricky dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena tidak mampu menjaga adiknya. Lalu setelah itu, Ricky menjaganya dengan mengirim orang untuk selalu mengikutinya.


"Aakh" Richi menahan roknya yang hampir terbuka tertiup angin.


Melihat itu, Hugo membuka seragamnya lalu membentangkannya di pangkuan Richi.


Richi tersenyum apalagi aroma khas Hugo masih menempel disana.


"Hugo.."


"Hm?" Hugo menoleh ke arah Richi disebelah kanannya, kini dia hanya memakai kaos yang senada dengan kaos Richi.


"Kenapa kau berkelahi dengan Keen, Ketua Valiant?"


Hugo mengangkat alisnya. "Kau ingin tahu?"


Richi mengangguk cepat.


"Sudah berlangsung lama, tapi kau tidak juga tahu, artinya Keen pun merahasiakannya darimu".


"Lalu, kenapa kau tidak beritahu aku?"


Hugo menarik sebelah garis senyumnya. "Nanti kau akan tahu. Lagi pula, karena dia aku terus berlatih. Ingin sekali aku melawannya lagi. Aku penasaran, kenapa dia bisa hebat. Apa sekarang masih hebat, atau lebih hebat?"


Richi menahan tawa. Kalau saja Hugo tahu bahwa Ricky Keen Wiley itu kakaknya, apa yang akan terjadi? Apa dia masih mau melawan?


"Lebih baik tidak usah, kalau aku boleh memberimu saran."


"Kenapa?" Tanya Hugo dengan alis berkerut.


"Dengarkan saja aku."


Hugo tergelak. "Baiklah, Nona Darrel." Ucapnya sambil mengelus puncak kepala Richi.


Hugo lalu berdiri. "Ayo," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ikut saja".


Richi menyambut tangah Hugo sambil berdiri. Dia mengikat baju Hugo di pinggangnya lalu mengikuti genggaman tangan Hugo yang membawanya menuju air pantai.


Richi menahan tangannya, "aku tidak mau mandi".


"Siapa yang mau mandi? Kita hanya di pinggir saja".


Richi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hugo lalu berjongkok. "Naik." Titahnya.


"Apasih..eehh". Richi tersentak saat Hugo tiba-tiba meraih kakinya dan menggendong Richi dibelakangnya sambil berlari menyusuri tepi pantai.


"Aaahh Hugoo.." Teriaknya sambil menggenggam erat leher Hugo hingga lelaki itu berhenti dan terbatuk.


"Akh, Chi, jang-an ku-at-ku-at..." Ucapnya terbata karena lengan Richi yang amat kuat.


Richi langsung melepasnya dan menepuk bahu Hugo. "Turun, Turun, Turun." Pekiknya lalu Hugo menurunkannya.


"Ah, dasar. Tidak ada manis-manisnya." Keluh lelaki itu sambil memegangi lehernya.


"Aku terkejut, tahu."


Hugo menepuk-nepuk pelan puncak kepala Richi. "Maaf, ya." Ucapnya dengan lembut, membuat Richi meluluh dan mengangguk saja.


...🐳...


Daren baru saja akan keluar dari sebuah toko kue, dia dikejutkan dengan suara teriakan perempuan yang nampaknya mengejar perampok.


Tepat saat Daren membuka pintu toko, perempuan itu menendang laki-laki yang ia kejar dari tadi hingga laki-laki itu tersungkur ke depan.


Dengan cepat dia menarik kerah belakang lelaki itu. "Kembalikan ponselku!"


Lelaki itu memutar tubuhnya dan hendak menerjang gadis di depannya. Dengan sigap gadis itu menangkis dan menghantukkan kepala lelaki itu ke lututnya hingga lelaki itu terjatuh dan meringis.


"Sialan, berani sekali kau mencuri barangku. Mau kupatahkan tanganmu?"


Lelaki itu spontan lari dengan ketakutan, sementara gadis itu langsung meletakkan ponsel di telinganya.


"Sialan, gara-gara kau menelpon ponselku dicuri. Iya iya, aku tahu. Aku akan datang. Jangan tertawa kau, Clair. Sialan, mati kau nanti." Ucap gadis itu dengan orang yang ia telepon sambil berjalan pergi.


Sementara Daren mematung di tempatnya. "Gadis itu...."


Daren berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, memberikan bingkisan isi kue itu kepada Camilla yang dari tadi menunggunya.


"Lama sekali, Daren." Omel Camilla.


"Iya, sorry ya". Ucapnya sambil matanya masih melihat ke belakang, meyakinkan pandangannya yang melihat Via tadi.


"Daren, apa Hugo benar-benar tidak akan kembali padaku?"


Daren menjalankan mobilnya. "Tidak, dia sedang fokus untuk ujian kenaikan kelas bulan depan." Jawabnya asal.


"Tidak masuk akal. Daren, bantulah aku.." Rengeknya lagi dan lagi.


Daren menepikan mobil, menatap Camilla disebelahnya.


"Aku tidak bisa membantumu lagi bersama Hugo. Dan tidak akan pernah."


"Apa? Kenapa, Daren? Apa kau tidak mau berteman lagi denganku?" Pekik Camilla.


"Benar, aku tidak mau berteman, karena aku berharap lebih padamu. Aku sudah berusaha menutupi tetapi aku tidak akan melakukannya lagi."


Daren lalu menarik napas panjang. "Mil, aku tahu kau pasti sadar aku menyukaimu."

__ADS_1


Camilla memalingkan wajahnya.


"Aku tahu kau menyukai Hugo, bukan aku. Tapi Mil, bisakah kau lihat aku sedikit saja? Hugo bahkan tidak peduli padamu. Akulah yang peduli dan benar-benar menyukaimu." Ungkapnya pada Camilla yang hanya menatap luar jendela.


Camilla tak menjawab, dia memilih diam sebab apa yang dibilang Daren benar hanya saja dia tak ingin membahasnya.


"Mill, katakan sesuatu. Apakah aku mempunyai harapan padamu? Sedikit saja, mil."


Daren beralih lagi ke kemudi depannya karena Camilla tidak menjawab bahkan tidak melihatnya. "Baiklah, Mil. Aku paham berada dimana posisiku sekarang". Ucapnya lalu menjalankan mobilnya lagi.


...🍍...


"Terima kasih, Hugo." Ucap Richi sembari membuka seatbelt-nya.


"Aku juga mau turun."


"Tidak perlu. Aku ada urusan yang kau tidak boleh tahu."


"Aku mau makan, aku lapar." Ucapnya lalu keluar dari mobilnya.


"Hugo, kau makan di rumah saja." Richi mengikuti dari belakang.


"Aku mau menunggumu dan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, aku akan naik taksi atau minta jemput supirku."


Hugo berhenti dan berbalik menatap Richi, "kau merahasiakan sesuatu dariku, ya?"


"Tidak, aku hanya...."


Deru motor sport berwarna kuning menghentikan kalimat Richi.


"Hah, sial." Ucapnya saat menyadari siapa yang datang.


Bella membuka helmnya. "Hugo?"


Dia turun dan tersenyum lebar. "Sedang apa kau disini?"


"Aku.." Hugo melirik Richi yang sudah memasang wajah malas.


"Ayo, masuk. Hari mulai hujan nampaknya." Ucapnya lalu menggandeng tangan Hugo masuk ke dalam kedai diikuti Richi dibelakangnya.


Sementara Clair yang duduk dengan Olive terheran melihat Bella yang nampak akrab dengan Hugo.


"Rel, kau belum pulang ke rumah?" Tanya Olive yang melihat Richi masih memakai rok sekolahnya.


"Ah, iya.. aku.."


"Aaah.. Jelas sekali, dia pasti habis jalan-jalan dengan tuan Hugo." Sambung Clair dengan tatapan centilnya.


"Apa?" Bella melirik Richi dan Hugo yang sama-sama masih dengan seragam.


"Hei, Angsa. Kau jangan ganggu mereka." Ucap Clair lagi pada Bella yang tangannya masih menempel di lengan Hugo.


"Sudahlah, ayo mulai rapatnya." Kata Richi mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu dulu! Kalian.. pacaran?" Tanya Bella dengan serius sementara Hugo dan Richi hanya diam.


"Mau pacaran atau tidak, yang jelas tuan Hugo itu sangat sangat menyukai Nona Darrel." Sambung Clair lagi.


Bella melirik Hugo. "Yang benar, kau menyukai Darrel?"


Hugo langsung mengangguk-angguk dengan wajah tanpa dosa.


"Lalu kau?" Tanya Bella pada Richi yang menatapnya dengan tajam membuat Bella menciut dan berwajah masam.

__ADS_1


"Wah.. cinta segitiga Bella dan Richi sepertinya terulang kembali". Ucap Olive pada Clair di depannya.


TBC


__ADS_2