
Hugo duduk di bangku sebelah ranjang Richi. Dia dengan perlahan menggenggam tangan gadis yang masih belum siuman itu.
Dia diberi kesempatan oleh orang tua Richi untuk melihat kekasihnya. Walau pada awalnya ditentang keras oleh Ricky, tetapi bisa diatasi berkat Marry yang mendukung Hugo. Ayahnya itu, walau sudah berkata begitu tetap saja tidak membela saat Ricky lagi-lagi ingin menghajarnya. Untunglah ada Ibu Richi.
Hugo menghela napasnya. Ternyata memiliki kekasih yang hebat seperti Richi tidak mudah. Dua laki-laki yang ia hadapi begitu kuat. Walau yang satu sudah mengizinkan, tetap saja dia juga seperti akan menjegal kaki Hugo. Hugo memaklumi itu, jika dia mempunyai anak dan adik perempuan seperti Richi, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama kepada laki-laki yang mendekatinya.
"Chi, kau beruntung sekali punya keluarga yang seperti itu." Hugo mengelus lembut jari-jemari Richi.
"Aku semakin merasa bahwa kau adalah perempuan yang sangat berharga dan membuatku semakin tidak ingin kehilanganmu."
Hugo mengelus lembut rambut Richi, wajahnya yang begitu cantik ternyata menurun dari Ibunya.
Tadi Hugo melihat Marry yang menggulung rambutnya, sama seperti yang dulu Richi sering lakukan dan wajah mereka terlihat sangat mirip.
Ingin sekali dia mengecup kening Richi, kalau bukan karena Ricky yang sesekali mengintip, dia pasti sudah melakukannya.
"Hah, aku merasa seperti penjahat yang terus diintai oleh kakakmu."
Hugo lalu tersenyum menatap wajah Richi. "Hei, cepatlah sadar, aku merindukanmu. Kalau kau tidak bangun, aku akan terus merasa bersalah, jadi kumohon, kau harus bangun. Ya?"
Pintu terbuka, Ricky berdiri di depan pintu sambil bersedekap. "Sudah habis waktu!"
Hugo tak menoleh ke belakangnya. Dia menghela napas, seperti inilah rasanya memiliki kekasih yang ada peliharaannya di belakang, selalu merusuh.
Hugo bangkit, dia keluar dan mendapati Marry masuk ke dalam ruangan dan Ricky yang sudah menghilang entah kemana.
"Maafkan Ricky ya, Hugo. Dia memang seperti itu, tetapi aslinya baik, kok. Dia begitu karena Richi pernah mengalami hal buruk semasa kecil. Dia sangat protektif semenjak itu." Ucapnya sembari duduk di sebelah putrinya.
Hugo mengangguk, dia tahu hal buruk apa yang dimaksud Marry.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya masuk, Bu. Saya permisi dulu." Hugo menundukkan kepalanya pada Marry dan bergerak keluar ruangan.
Marry tersenyum lalu menatap putrinya. "Tuan putri pandai memilih kekasih, ya. Dia sangat sopan. Ibu jadi penasaran bagaimana cara kalian dekat." Ucap Marry sembari mengelus lembut tangan anaknya. Dia terkekeh sendiri mengingat anaknya yang sulit membuka hati pada laki-laki. Tapi melihat Hugo yang benar-benar menyayangi Richi, membuatnya sedikit Lega. Apalagi David, ayah Hugo, adalah laki-laki yang setia pada pasangannya.
"Sayang, anak itu sudah pergi?" Wiley masuk dan langsung duduk disebelah istrinya.
"Namanya Hugo, sayang. Dia anak yang baik, dia juga mencintai putrimu dengan tulus, kau bisa lihat itu, kan?"
"Belum tentu, namanya juga laki-laki. Apalagi mereka masih belasan tahun." Sanggah Wiley.
"Kau juga menyukaiku di umur belasan tahun." Tukas Marry lagi.
"Aku berbeda. Aku ini punya kesungguhan yang besar."
"Memangnya dia tidak? Lihatlah bagaimana cara dia memperlakukan Richi. Dia mirip dengan ayahnya."
Wiley melirik istrinya. "Jadi karena dia mirip ayahnya, kau suka?"
Terdengar helaan napas kasar Marry. "Wiley, kau ini."
"Ha, lihat. Kau menyebut namaku begitu."
"Kalau begitu, berhentilah membahas masa lalu. Yang penting sekarang aku sudah bersamamu hingga 25 tahun." Omel Marry.
"Iya, iya. Cerewetmu itu lho, tidak pernah berubah. Untung Richi tidak nurun."
__ADS_1
Marry mendelik. "Iya, cerewetnya nurun pada Ricky. Sana nasehati anakmu itu, susah sekali diatur. Persis Ayahnya. Nasehati supaya baik-baik pada Hugo."
"Biarkan saja, anak laki-laki memang harus begitu. Apalagi Hugo itu, harus diospek kalau mau bersama putriku. Jadi, kubiarkan saja Ricky melakukannya. Hehehe."
"His, kau ini. Untung aku tidak punya kakak! Kalau tidak, sudah kupastikan jalanmu berat untuk menikahiku."
"Ada juga tidak masalah. Aku pasti bisa menghadapinya."
"Berantem terus.."
Kedua orang tua itu menoleh, Richi sudah membuka matanya dan mendapati kedua orang tuanya malah bertengkar di depannya, persis anak-anak.
"Sayang, kau sudah sadar? Ayah, cepat panggil dokter."
Wiley memencet tombol di dekat ranjang Richi.
"Sayang, ada yang sakit?" Tanya Wiley.
"Agak perih, yah." Richi menunjuk perutnya.
Tak lama, beberapa dokter dan perawat datang dan langsung memeriksa tubuh Richi.
"Wah, tidak disangka cepat sekali sadarnya." Ucap sang dokter.
"Katanya perutnya terasa perih. Coba beri obat yang paling bagus, sudah aku katakan kan, lukanya harus cepat kering." Cetus Wiley pada para dokter yang tertunduk itu.
"K-kami sudah memberi obat yang paling bagus. Maaf tuan, perih yang dirasa Richi adalah reaksi biasa. Nanti perlahan tidak akan terasa lagi."
"Ck, sudahlah." Ucap Marry memukul pelan tangan Wiley, membuatnya kehilangan sedikit ketegasannya di hadapan para dokter. "Terima kasih, dokter." Ucap Marry lagi.
Dokter itu menunduk dan meninggalkan ruangan. Ricky masuk dan langsung melipat tangannya di dada, menatap Richi yang sejak tadi melihat ke arah pintu.
"Lihat dirimu, kau jadi bodoh kalau bersama laki-laki itu. Memangnya kau tidak bisa langsung menembak si gila itu? Kenapa malah mengorbankan diri seperti itu? Memangnya apa hebatnya dia? Apa yang sudah dia lakukan padamu sampai kau mengorbankan dirimu? Kalau kau mati bagaimana???" Ricky mengeluarkan amarahnya pada Richi yang bahkan tidak bertenaga untuk membalasnya.
"Kalau mati ya kubur." Jawab Richi asal. Dia enggan bertengkar karena perutnya yang masih terasa perih.
"Lihat, begitu jawabannya, Bu." Tukas Ricky geram.
"Kau juga, adikmu baru sadar malah marah-marah!" Omel Marry.
Richi menghela napas, bisa-bisanya disaat seperti ini pun pertengkaran tetap menyala.
"Dengar ya, aku tidak suka pada laki-laki itu apalagi sudah membuatmu begini!"
"Ricky, itu bukan salahnya. Richi sendiri yang berlari melindunginya. Dia juga tidak ingin hal ini terjadi." Ucap Marry.
"Tetap saja dia salah!"
"Aku mau tidur." Sahut Richi dan semua diam. Gadis itu memejamkan matanya, dia hanya pura-pura sebab kesal dengan Ricky yang malah menghakimi Hugo seperti itu.
"Ricky, ikut ayah sebentar." Wiley keluar dan diikuti Ricky. Sementara Marry mengusap lembut kepala Richi.
"Bu." Richi membuka matanya saat suara pintu tertutup terdengar.
"Iya, sayang?"
__ADS_1
"Bisa panggilkan Hugo kemari?"
Marry tersenyum cerah. "Dia ada urusan penting, nanti akan kembali kemari, kok. Sekarang istirahat saja, ya."
Richi mengangguk lemah. Dia sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana Ricky tahu rencananya, bagaimana dan apa misi Valiant kesana, juga kenapa Hugo dan kelompoknya juga ikut? Ah, dia sangat penasaran dengan Harry, apakah dia ditangkap? Richi memejamkan matanya, memilih tidur saja dari pada memikirkan itu.
...🦢...
Shera tengah duduk bersandar di ranjangnya. Dia ditemani oleh seorang perawat yang membantunya memotong buah.
Gadis itu sebenarnya bertanya-tanya, kemana Harry yang menjanjikan banyak hal saat dirinya tertembak. Dia juga bisa melihat kepanikan Harry waktu itu. Tetapi sudah seharian dia sadar dan Harry tidak juga muncul, membuat Shera mulai merasa muak.
Dia memasukkan potongan buah kemulutnya. Kini dia menyadari bahwa perasaan dan pengorbanan yang ia berikan pada Harry ternyata sia-sia.
Pikirannya mulai terbuka, dia teringat perkataan Hugo, lelaki itu menasehati Shera untuk berpikir dengan benar dan jangan libatkan perasaan dahulu dan membuka mata, melihat kesungguhan laki-laki itu.
Waktu itu, Shera menangis setelah datang ke Penthouse Harry dan mengatakan bahwa perempuan yang belakangan dia temui bukanlah perempuan baik. Namun Harry malah menamparnya hingga pipi gadis itu bengkak. Bukan sekali dua kali Harry melakukan kekerasan, namun tak sekeras saat dia mengatakan hal itu pada Harry. Nampaknya Harry benar-benar marah jika perempuan itu disinggung dan itu membuat Shera semakin terluka.
Dia keluar dari Penthouse Harry dan menghubungi Hugo sambil menangis, lelaki itu mau menemui dan menghiburnya.
"Laki-laki yang sudah bermain tangan, tidak layak dipertahankan, Shera."
Ucapan Hugo kini berdengung di telinganya. Dulu dia selalu menampik itu karena perasaannya yang amat dalam pada Harry.
Kemarin, Harry menyuruhnya menembak Hugo sedangkan dia bersembunyi di suatu tempat.
"Kau benar-benar mencintaiku kan, Shera?" Ucapnya lalu memberi sebuah pistol di tangan Shera. "Cobalah kau halangi dia, Hugo ingin membunuhku. Maka jadilah tamengku."
Shera menggelengkan kepalanya. "Dia tidak mungkin melakukan itu, kau saudaranya."
"Kita tidak tahu apa yang terjadi, kau dengar suara tembakan itu?" Harry menggenggamkan pistol di jari Shera. "Buktikan jika kau memang mencintaiku dengan seluruh jiwamu." Ucapnya.
Shera berjalan perlahan, dia menatap pistol di tangannya sambil menangis. Harry, dia tega menyuruhnya melakukan hal itu.
Namun bodohnya, Shera benar-benar melakukannya. Dia juga takut jika Harry mati, dia takkan sanggup menjalani hari-harinya.
"Apa anda mau susu, Nona?" Perawat itu membuyarkan lamunan Shera.
Dia menggeleng, lalu mengunyah lagi buah yang dikupas perawat dengan perlahan.
Shera tidak menyesali perbuatannya. Anggap saja ini adalah pengorbanannya yang terakhir untuk Harry. Dia merasa selama ini semua ucapan Hugo benar. Dengan pikirannya yang jernih, Shera akhirnya mengalah dan menyerah pada perasaan yang sudah dua tahun ada di hatinya.
Dia akan berusaha sembuh dan meninggalkan Harry. Dia akan ikut orang tuanya dan tinggal diluar negeri. Dia sudah memutuskan itu.
Selesai makan, Shera meminta perawat untuk keluar karena dirinya ingin sendiri.
Dia sedang mengatur kehidupannya, dia akan pindah sekolah dan ikut kedua orang tuanya, dia menerima saja perjodohan yang orang tuanya rencanakan bahkan sejak ia bayi.
Mungkin benar, orang tuanya yang lebih tahu tentang kehidupan ini. Kehidupan yang sangat berat bahkan sebelum ia menginjak kata dewasa yang sesungguhnya.
Shera menitikkan air matanya. Sungguh, dia merasa hidupnya sangat berat. Padahal dia menikmatinya selama ini. Entah mengapa, sekarang terasa sangat sulit dihadapi.
Shera membaringkan perlahan tubuhnya. Dia hanya perlu beberapa hari lagi untuk benar-benar pulih supaya bisa pindah secepatnya dari kota ini.
Ah, perempuan itu. Apa dia selamat?
__ADS_1
Sejenak Shera mengingat lagi. Dia merasa bersalah pada Hugo dan kekasihnya. Shera memejamkan matanya sembari berdoa supaya gadis itu selamat dan Hugo bisa terus mencintainya. Perempuan itu, hidupnya sangat beruntung dicintai oleh laki-laki seperti Hugo. Batinnya, lalu ia meneteskan air matanya lagi karena teringat akan nasibnya sendiri.
TBC