Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Pertandingan Basket


__ADS_3

Richi berjalan cepat dengan tangan yang masih menyembunyikan bibir. Dia buru-buru masuk kedalam toilet dan langsung menyambar cermin padahal masih ada Sarah dan Joy disana.


"Errrghhh.." Richi kesal melihat bibir bawahnya yang sedikit memerah dengan lebam kebiruan ditengahnya. Hugo benar-benar akan diberi pelajaran nanti! Amuknya kesal dalam hati.


Richi yang masih sibuk memperhatikan bibirnya, mendapat perhatian dari dua orang yang terpaksa mundur saat Richi langsung menyerobot berdiri di depan cermin yang cukup lebar tadi. Dan sepertinya, mereka paham kenapa bibir gadis itu bisa memerah.


"Morning kiss, right?"


Richi melihat Sarah dari cermin dan mengabaikannya. Gadis itu merogoh isi tas dan mengaplikasikan lipmate di bibirnya. Nyaris menutupi kemerahan itu.


"Eemm.. bisa kita mengobrol? Kapan-kapan."


"Maybe.." jawab Richi dengan malas. Dia masih sibuk dengan bibir dan lipmate-nya.


"A-apa.. kau berteman dekat dengan Hamlet?" Tanya Sarah lagi.


"Apa kelihatannya begitu?"


"Ya, kalian terlihat akrab sampai dia mengunggah fotomu di sosial medianya. Padahal Aron Hamlet jarang dan hampir tidak pernah mengunggah foto siapapun disana."


"Wah, pasti karena aku sangat spesial, ya." Celetuk Richi dengan senyum seadannya, lalu keluar dari toilet. Dia tahu, Sarah ingin mengajaknya berteman setelah menyadari siapa dirinya sebenarnya.


Baru melangkah keluar, Richi harus dibuat terkejut dengan deretan orang-orang yang ia sudah kenali wajahnya. Mereka berkerumun dengan Andrew di depannya.


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di depan toilet wanita?"


"Kami.. ingin memberi salam pada ketua." Sahut Andrew, membuat Richi melongo saat mereka menunduk di depan Richi.


"Aku mendengar kalau markas Blackhole diserang oleh Valiant. Dan tadi malam, aku juga mendengar kalau kau menyekap Virgo dan kekasihnya. Jadi.. apa boleh kami meminta sesuatu?"


"Meminta untuk membebaskan mereka? Aku menyekap kriminal. Dan kekasihnya adalah anggota Valiant."


"Eline.. Valiant?" Andrew sampai mengulang kalimatnya setelah mendengar pernyataan Richi barusan.


"Dengar ya, Andrew dan siapapun kalian. Aku tidak akan melakukan tindakan apapun pada kalian. Aturannya hanya satu, selagi aku tidak melihat kerubutan di depan mataku, maka kalian aman." Tukasnya kemudian melangkah pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang memberinya jalan dan hormat.


Richi tersenyum lebar. Beginilah seharusnya. Para berandalan kampus harus tahu siapa yang tertinggi untuk dihormati dan Richi sudah mendapatkan itu.


Dia menuju loker, mengambil baju olahraga yang baru ia beli. Baju lamanya sudah kotor penuh darah saat menghajar berandalan di gor waktu itu.


"Hari ini basket, kan? Kesukaanmu." Kata Evan yang baru datang dan mengambil barang di lokernya yang tak jauh dari Richi.


"Kau tahu darimana?" Tanya Richi sembari menutup lokernya.

__ADS_1


"Bukannya itu sangat terlihat jelas? Hampir semua unggahanmu di media sosial adalah basket."


Richi terkekeh. Iya juga, pikirnya. Merekapun berjalan bersama menuju lapangan basket.


"Ah, ada sesuatu yang ingin kukatakan. Lebih tepatnya meminta bantuanmu."


Richi menaikkan alis, menunggu kalimat Evan selanjutnya.


"Sebenarnya Foldcury sedang dalam masalah dan istri bosku meminta tolong kami untuk mengajarinya menembak. Bisa kau membantu kami?"


Richi menghentikan langkah, matanya menyipit. "Istri bosmu..? Latihan menembak?"


"Begini, hm.. darimana ya, aku memulainya." Evan menggaruk pelipisnya. "Jadi.. bosku tengah dalam masalah dan dia sulit bergerak. Istrinya menurutku cukup pintar tetapi dia tidak bisa bela diri dan menembak. Jadi aku perlu kau untuk membantu. Kami akan berikan apapun yang kau mau."


"Kau tidak salah berucap? Apapun yang kumau?"


Evan mengangguk pasti. Sebab memang itulah yang ia dengar dari Sean, seniornya.


"Kau tahu aku kan, Evan? Aku tidak meminta materi."


"Aku tahu. Aku sudah mengerti kau dan kekuatanmu. Kau tinggal bilang ya atau tidak, itu saja."


"Dimana tempatnya?" Tanya Richi lagi.


"Kau mau membantu? Serius?"


Evan tampak senang lalu berjalan lagi sambil bercerita panjang lebar. Dia menjelaskan lebih dulu siapa istri bosnya.


"Baiklah. Namanya Kanazya Laurels, kami memanggilnya nona Jia. Dia wanita hebat yang menerima bos kami dengan segenap jiwa. Dia baik sekali."


Richi sampai menarik kerah belakang baju Evan untuk berbelok sebab pemuda itu masih mengoceh tanpa melihat jalan.


~


Sarah dan Joy duduk di tepi lapangan basket, memperhatikan satu-satunya perempuan yang bermain basket tanpa lelah bersama teman laki-lakinya.


Hari ini cukup ramai karena penggabungan dua kelas. Ada juga empat orang perempuan dari kelas lain duduk tak jauh dari mereka tengah seru mengobrol.


"Aku menyerah, kuakui dia nyaris sempurna." Kata Sarah, mengibaskan jarinya ke wajah karena gerah setelah bermain basket.


"Aku juga berpikir begitu. Setelah melihat videonya berkelahi di gor waktu itu, membuatku merinding." Sambung Joy.


"Aku merasa menyesal, untung saja dia tidak menghajarku waktu aku menekannya. Ah.. kalau tidak, mungkin aku sudah seperti senior perempuan bernama Augy itu. Sampai sekarang lehernya tidak bisa kekiri dan kanan. Katanya Richi yang menghajarnya."

__ADS_1


"Mungkin itu sebabnya Erine takut padanya, kan?" Tanya Sarah dan Joy mengangkat bahu.


"Omong-omong soal Erine, kemana dia sekarang?" Tanya Sarah lagi.


"Entahlah. Nomornya tidak bisa dihubungi. Kurasa dia marah padaku."


"Atau lebih tepatnya malu." Sambung Sarah.


"Haa itu Hugo, itu Hugo!" Seru empat perempuan yang duduk di belakang mereka, membuat Sarah dan Joy menoleh kearah mereka memandang.


"Ya ampun, tampan sekali. Apa benar itu Hugo Erhard?? Astaga, kudengar memang dia berkuliah disini tapi tak kusangka dia datang!" Seru yang lain.


Hugo datang dengan kaos tipis dan jeket jeans biru. Sejak matanya mendapatkan Richi, dia terus menguncinya tanpa beralih ke tempat lain.


Hugo duduk dibangku depan tak jauh dari Sarah dan Joy.


"Haah. Tampan sekali pacar orang." Gumam Sarah yang ingin sekali menghampiri, tapi takut dengan pawangnya.


"Aku ingin berfoto! Aku ingin berfoto!" Seru salah satu dari mereka.


Hugo mendengar itu, namun ia mengabaikan, tak ingin melihat supaya tidak terjadi ramah tamahan pada perempuan yang tidak disukai Richi.


"Aaah. Dia cool sekali.." Seru mereka semua.


Bola bergulir kearah Hugo. Lelaki itu berdiri dan mengambilnya.


Richi menyipitkan mata melihat siapa yang menahan bola disana. Ternyata Hugo.


"Cepat lempaar!" Teriak Richi.


Hugo memantulkan bola sekali, lalu matanya bersiap menembak keatas ring dari jarak yang cukup jauh dan.. BLAR!


Tepuk tangan dari empat perempuan terdengar meriah. Juga beberapa laki-laki yang melongo melihat tembakan dari jarak jauh itu.


"Hugooo! Keren sekaliii!" Teriak orang-orang itu.


"Berisik sekali, mereka sadar tidak, kalau ada kekasih Hugo disini?" Celetuk Sarah.


"Chi.. dia.. Hugo Erhard, kan??" Tanya Andreas.


Richi hanya diam. Matanya melihat langkah Hugo yang mendekat kearahnya.


"Hai. Ayo, bertanding." Ajak Hugo pada orang-orang yang baru ia temui itu.

__ADS_1


"Menang kalah tetap aku traktir." Sambungnya lagi, dan mendapat sorakan meriah dari teman-teman Richi tanda setuju.


"Kecuali kau!" Hugo menunjuk Richi. "Taruhan kita berbeda." Katanya dengan lantang, membuat semua orang kini memperhatikan dua orang yang saling tatap dengan status keduanya yang sulit ditebak. Apakah mereka beteman, atau justru bermusuhan.


__ADS_2