
Hugo malah tertawa. "Kau ini, sudah seperti laki-laki beneran." katanya sambil terkekeh menatap Erine yang membuang wajahnya.
"Kau katakan saja, Erine, bagaimana tipe laki-laki yang kau mau. Aku akan mencarikannya untukmu."
"Tidak perlu." Jawab perempuan itu. Dia menenggak lagi minumannya.
"Wah. Kau benar-benar sudah pindah selera, ya?"
"Aku bilang, aku normal!" Pekik Erine.
"Oh, ya? Coba lihat ke arahku dan bilang kalau kau normal. Tatap mataku." Hugo mendekatkan wajahnya.
"Apa, sih? Gila, ya! Aku nggak mau!"
"Nah, kan! Kau tidak normal." Ledek Hugo.
"Kau yang tidak normal!"
"Kalau kau normal, kau akan berani mengatakannya dengan mata bertatap."
"Justru karena aku normal-lah aku tidak mau menatapmu!" Sentak Erine.
"Kenapa?"
"Karena aku-" Erine menghentikan kalimatnya. Matanya menangkap wajah Hugo dengan tawa kecil yang merasa senang meledek dirinya.
"Karena kau, apa? Kau tidak normal, kan? Hahaha."
Erine yang kesal langsung beranjak dari tempatnya dengan wajah bertekuk.
"Hei, kenapa pergi. Aku belum selesai hahaa."
Erine tak menghiraukan Hugo. Dia malas melayani keisengan Hugo yang selalu membuatnya kesal.
Sementara Hugo, dengan sisa tawa yang ada, membuka ponselnya yang bergetar. Itu Clair, dia memberi alamat dimana Dachi Moon itu berada.
Membaca itu, Hugo langsung berlari kencang ke arah dimana motornya ia parkirkan. Hugo tanpa berpikir panjang, langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.
Eline yang baru saja datang mendapati tempat yang tadi Hugo duduki kosong, namun jeketnya tertinggal disana. Eline pun mengambilnya, dia berencana akan mengembalikan jeket Hugo sekaligus mendapat kesempatan untuk bertemu lelaki itu lagi.
~
"A-aku mempersiapkan ini untukmu." Ucap Damian. Dia berdiri dibelakang Richi, menatap gadis itu dari belakang.
__ADS_1
"Tunggu. Aku mencium bau bensin. Kau menciumnya?" Tanya Damian.
"Tidak."
"I-ini.. karena gudang. Ja-jadi kurasa... ah, sudahlah lupakan."
Damian menatap kagum dengan postur tubuh Richi yang sangat seksi dengan gaun merah sepaha. Dari belakang saja Richi sangat memukaunya.
"Kau.. cantik sekali." Pujinya pada Richi.
Gadis itu hanya diam. Telinganya sudah muak mendengar ocehan Damian dan ingin segera memberinya perhitungan. Tapi, ada yang kurang. Richi belum menemukan apapun di tempat itu.
Damian menggeser kursi, mempersilakan Richi duduk.
"Maaf, hanya i-ini yang bisa kuberikan." Ucapnya dengan senyuman. Dia duduk di hadapan Richi dengan tatapan yang tak lepas dari perempuan itu sedetik pun.
"A-aku membeli ini semua. Kau suka steak, kan?" Damian terus mengoceh, sementara Richi hanya diam dengan pikirannya yang berbicara.
"Kau tahu, aku sudah lama memimpikan ini dan akhirnya terjadi juga. Aku me-"
"Bisa ambilkan aku air putih?"
"Ah, iya, baik." Damian beranjak dari tempatnya menuju ke tempat dimana ia menyimpan air putih. Dia berjalan bersenandung penuh senyuman. Dalam hatinya sangat bahagia. Bisa mengobrol dan makan berdua bersama Richi, yang sering ia khayalkan akhirnya bisa ia dapatkan. Apalagi Richi datang dengan memakai dress yang ia pinta. Gadis itu pula sangat cantik, sungguh membuat hatinya menginginkan lebih dari sekedar makan bersama gadis pujaan.
"Ini minuman..nya.." Damian diam. Richi tak ada di tempatnya. Kemana gadis itu?
Spontan Damian menjatuhkan gelasnya dan berlari ke ruangan pribadinya.
Richi berdiri mematung diantara ribuan fotonya yang menempel di dinding. Mulai dari dirinya bermain basket, hingga foto-fotonya tidur dengan piyama maupun celana pendek.
Richi menengok ke atas dan dia hampir terjatuh jika saja dia tak segera menegakkan tubuh karena lututnya yang bergetar. Sejujurnya, dada Richi bergemuruh hebat melihat foto-foto tak pantasnya juga ada di atas sana. Foto Richi hanya mengenakan bra dan pose lainnya terpampang cukup besar di atas asbesnya.
Nampaknya Damian sengaja berbaring di kasur ujung ruang itu sembari menatapi foto-foto Richi di atas kepalanya. Sungguh menjijikkan. Richi ingin menangis melihat itu semua.
Kini Richi berjalan mendekati layar yang sangat lebar memperlihatkan aktifitas di rumahnya dari sudut manapun. Dari layar inilah Damian memantaunya. Tak lupa ia menempelkan foto Richi dengan senyuman termanis yang entah dari mana ia dapatkan.
"Ri-richi..."
Damian datang dengan panik. Dia melihat Richi menatap layar monitornya sembari membuka-tutup pemantik api di tangan kirinya.
"A-aku.." Damian mulai gelisah. Richi pula tak bergerak dari tempatnya, kecuali tangannya yang terus memainkan pemantik.
"Kau.. menyukaiku sampai seperti ini?" Tanya Richi yang membelakanginya.
__ADS_1
"A-aku.. sangat mengagumimu." Ucapnya gugup. Dia menelan ludah, takut gadis itu mengamuk. Tetapi sudah beberapa detik berlalu, gadis itu masih diam saja.
"A-apa kau marah?" Tanya Damian.
Richi membalikkan badan. Dia menyembunyikan kedua tangan yang bergetar dibelakang tubuhnya.
"Kenapa aku harus marah?"
Damian kembali tersenyum. "Syukurlah. Aku pikir kau akan marah. Aku akan menunjukkanmu ini." Damian mengulurkan tangan. Dia memperlihatkan tato bertuliskan Dachi di ruas jarinya.
"Ini aku yang menamainya sendiri. Dachi adalah singkatan nama kita berdua. Bukankah keren?"
Richi membuang wajah. Rasanya sudah cukup berpura-pura karena dia sangat muak dan merasa jijik pada laki-laki itu.
"Aku ada hadiah untukmu."
"Benarkah?" Mata Damian berbinar. Mendapat hadiah dari Richi? Bukankah itu hal yang sangat luar biasa?
"Ya. Sayangnya, aku meninggalkannya di mobil. Tolong ambilkan, ya. Kau harus berlari, dalam dua menit harus sampai sini."
"I-iya. Aku akan mengambilnya dengan cepat. Kau tunggu saja."
Damian langsung berlari senang keluar dari gedung. Richi dengan sengaja menyuruhnya demikian supaya Damian tidak menyadari bensin yang sudah ia sebarkan di depan gudang.
Tak menunggu lama setelah Damian keluar, Richi mengambil satu jeriken bensin lagi dan menuangkannya keseluruh ruang pribadi lelaki itu. Dia menyiramnya hingga ke tembok yang tinggi supaya semua foto-foto itu terbakar hangus. Dan yang paling penting adalah perlengkapan Damian sebagai hacker. Itu harus terbakar habis.
Richi keluar. Dia membawa satu foto dirinya dari dalam ruangan itu.
"Richi, ada dimana hadiahnya?" Teriakan Damian terdengar. Tapi Richi tidak memperdulikannya.
Gadis itu membakar fotonya, lalu melemparkan foto yang sudah berapi itu ke tempat yang sudah tersiram bensin dan..
BUR! Api langsung menyala tajam, menjalar ke seluruh tempat yang sudah ia sirami bensin. Seketika tempat itu dilahap api yang tingginya melebih atap gudang.
Damian yang merasa ada sesuatu yang berkobar dari kaca mobil, langsung menengok keluar dan matanya membulat sempurna.
"TIDAAAAKKK!!" Teriak lelaki itu sambil berlari menatap gedung yang terbakar hebat.
"TIDAAAKKK! APA YANG KAU LAKUKAAANN!" Teriaknya hingga menjatuhkan diri ke tanah. Damian menangis, dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyewa gudang dan membeli peralatan khusus untuk memantau Richi.
Tapi apa yang dilakukan gadis itu sungguh membuatnya sakit. Bagaimana bisa dia percaya? Padahal dia sangat tahu Richi sangat licik dalam menghadapi orang yang ingin dia basmi. Tapi kenapa Damian masih bisa tertipu??
"Tidaak.. Tidaak.. barang-barangkuu.." Damian memukul-mukul tanah. Dia menjerit menangisi sesuatu yang berharga dari dalam sana.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan?" Tukas gadis itu dengan menatap kosong ke depannya.