Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
Kepergian Daren


__ADS_3

Diajak menginap di rumah Richi? Tentu Hugo sangat senang sampai-sampai segala macam hal mulai melayang indah di pikirannya. Tapi semua menghilang saat dia menyadari, bahwa kekasihnya itu mempunyai kakak dan ayah yang sangat ketat terhadapnya.


"Enggak, deh." Jawabnya kemudian. "Aku takut sama jenderal."


Richi malah terkikik, lalu mulai berpikir lagi, kemana kira-kira tempat yang tepat.


"Emm.. kemana, ya?"


Melihat inisiatif Richi, Hugo meraih tangan gadis itu. "Tidak perlu kemana-mana. Seharusnya aku yang saat ini memohon padamu supaya memaafkanku." Ucapnya kemudian mengelus rambut Richi yang mulai panjang.


"Aku sangat sayang padamu, Chi. Kalau aku salah, lebih baik kau hajar aku sampai kau puas. Setelah itu kembali manis seperti ini. Itu lebih baik dari pada kau mendiamkanku berhari-hari."


"Justru aku sedang menyelamatkanmu dari emosiku. Aku takut kau tidak bisa berjalan kalau aku menghajarmu saat perasaanku tidak baik."


Hugo melupakan hal itu. Padahal ia pernah mendengar itu dari Clair sebelumnya, sampai membuat Lexus dan saudara kembarnya trauma sampai sekarang.


"Sebenarnya dari pada itu, kau bisa menggunakan opsi lain."


Hugo mengangkat alisnya. "Opsi lain?"


"Jangan buat aku marah. Dengarkan saja aku, Hugo. Selama ini aku tidak pernah mengaturmu, tidak pernah melarangmu melakukan ini itu. Larangan itu hanya untuk diriku, yang tidak suka air laut, maka jangan ajak aku masuk ke dalamnya. Bukan berarti kau tak boleh menyentuh laut. Peraturan itu hanya untukku sendiri. Apa kau mengerti maksudku?"


Hugo mengangguk lambat, lalu menarik Richi kedalam dekapannya. "Maafkan aku, ya. Kalau ada lagi yang tak kau suka, bilang padaku."


"Aku tidak suka berpelukan di depan umum.."


Hugo langsung melepaskan pelukannya. "Untuk saat ini mungkin kau tak suka. Suatu hari nanti, kau akan marah kalau pelukan itu kulepas."


Senyuman Richi mengembang. "Aku tunggu itu, ya." Bisiknya pada Hugo. Dia langsung fokus lagi pada makanannya. Begitu juga Hugo yang ikut mengunyah makanannya. Syukurlah, akhirnya dia dan Richi kini baik-baik saja.


~


Lain hal dengan Olivia. Dia terus memeluk Daren sejak tadi. Rasanya tak mau lepas, apalagi setengah jam lagi Daren akan lepas landas ke negara yang ia ingin tuju untuk belajar.


Daren mengelus lembut kepala Olivia. Dia senang dengan eratnya hubungannya kini dengan gadis yang sudah membuatnya resah beberapa waktu lalu.


Setelah mengungkapkan perasaannya secara tidak sengaja, akhirnya dia dan Olivia menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Padahal kemarin Olivia masih malu-malu, tapi sekarang dia sudah terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Daren.


"Mau aku belikan sesuatu dari sana?" Tanya Daren. Dia membiarkan saja Olivia melingkarkan tangan di pinggangnya.


Olivia menggeleng, lalu mendongak melihat Daren. "Kapan pulangnya?"


Daren tertawa. "Belum tahu. Kau menungguku, kan?"


"Kalau terlalu lama, aku tidak bisa menunggu." Jawabnya dengan cemberut. Membayangkan Daren akan pergi saja sudah membuatnya tersiksa.


"Jangan dekat-dekat dengan perempuan manapun!" Olivia mulai memberi perintah.


"Siap, ibu peri."


"Aku bukan ibu peri."


Daren menahan tawanya. Melihat Olivia manyun membuatnya gemas.


"Iya, baiklah ratuku."

__ADS_1


Barulah senyuman mengambang di pipi Olivia. Sedetik kemudian dia memasang wajah tegas. "Aku serius, Daren. Kalau sampai aku tahu kau akrab dengan perempuan disana, tamatlah riwayatmu."


Daren malah terkekeh. "Aku tidak berani mengkhianati ratu. Aku takut dipenggal."


"Jangan bercanda!"


"Aku serius, sayang. Aku akan sering berkunjung. Selama disana, aku akan sering-sering meneleponmu. Jadi, kau tak perlu takut dan bisa mengawasiku kapanpun kau mau."


Olivia mengangguk setuju.


"Tapi, kenapa kau tidak diantar keluargamu?" Tanya Olivia. Menoleh kesana kemari mencari anggota keluarga Daren yang tak terlihat satupun.


"Aku yang meminta tak diantar karena aku cuma ingin bersamamu sebelum pergi."


Mendengar itu semakin membuat Olivia mengeratkan pelukannya.


"Kalau gitu, bisa aku masuk sekarang? Lima belas menit lagi pesawatku akan terbang."


Dengan berat hati Olivia melepaskan pelukannya.


"Aku akan menonaktifkan ponselku selama empat jam. Setelah sampai, aku akan mengabarimu, oke?"


Olivia mengangguk saja. Matanya sudah mulai berair. Seperti ini saja sudah membuatnya tersiska, apalagi harus berhubungan jarak jauh bersama Daren.


"Aku akan sering-sering menghubungimu. Baik-baiklah disini dan jangan melawan pada Bibi."


"Kau selalu mengatakan itu, apa jangan-jangan kau pacar ibuku!" Sentaknya sambil menghapus air mata yang sudah mengalir.


Daren tertawa pelan. Dia mengelap lembut pipi Olivia. "Terima kasih sudah jujur soal hatimu sebelum aku pergi. Aku akan menjaga perasaanku padamu."


Gadis itu hanya memperhatikan Daren yang memakai ransel dan bersiap menggeret kopernya.


Setelah itu, Daren melangkah pergi. Tak lupa dia melihat Olivia disela pemeriksaannya menuju ruang tunggu keberangkatan. Tanpa ia sadari, Olivia mengalirkan air mata. Padahal baru saja mulai bersenang-senang dengan cinta pertamanya, tapi orang itu malah pergi.


Olivia melambaikan tangan. Kini Daren perlahan menghilang di tengah keramaian orang. Sedih, tapi dia harus kuat dan sudah membicarakan ini pada Daren, kalau mereka akan terus berhubungan sampai Daren kembali ke negaranya.


Walau sampai saat ini, mereka masih merahasiakan hubungan mereka dari Bunda Olivia, juga tentu saja keluarga Daren yang tak boleh sampai tahu tentang ini.


...🚀...


Malam itu, Hugo tengah berkumpul bersama Axel dan Isac di salah satu lounge hotel mewah tengah kota. Sebenarnya dia sudah mengajak Richi. Tapi jelas gadis itu menolak dan lebih memilih membaca novel di kamar.


Tapi tak seperti Hugo yang dulu, kini dia merasa bosan. Berbeda dengan Axel dan Isac yang tengah berbincang seru dengan teman-teman yang lain. Hugo memilih keluar ruangan, mencari tempat yang pas untuk menelepon kekasihnya.


Setelah menyudut, Hugo mengeluarkan ponsel dan mengarahkan ke wajahnya.


Tak lama, ponselnya terhubung dengan Richi melalui video call.


"Hai." Sapanya.


'Ada apa menelepon?'


Hugo langsung memasang wajah jengkel. Baru saja menyapa, tapi ucapan gadis itu sungguh membagongkan. Ada apa, katanya?


"Aku menelepon karena rindu. Memangnya kau tidak rindu padaku, hah? Kau benar-benar, ya. Pacarin saja novelmu itu!"

__ADS_1


'Hei, Hugo. Kenapa malah marah-marah. Aku kan, cuma bertanya.'


Wajah Hugo malah cemberut, membuat Richi menahan tawa.


'Kau tidak bergabung dengan teman-temanmu?'


Tak ada jawaban. Hugo bahkan tak melirik ke arahnya.


'Kau sedang PMS?'


Hugo mulai menatapnya tapi dengan wajah datar.


'Hugo, you're so handsome.' Puji Richi yang melihat gaya rambut Hugo yang tanpa poni dan memakai baju hitam turtle neck dipadukan dengan leather jecket hitam.


"Jangan menggodaku supaya aku tidak marah."


'Serius. Kau sangat tampan malam ini dengan outfit itu. I love it.'


Kuping Hugo naik. Dia bahkan tak bisa menahan gigi taringnya untuk tidak muncul.


"Benarkah?" Tanyanya lagi meyakinkan. Selama pacaran, Richi tak pernah memujinya.


'Iya. Saaangat tampan. Can i kiss you?'


Hugo terbelalak mendengar itu. Dia sampai menoleh kesana kemari untuk memastikan tak ada orang yang mendengar ucapan Richi.


"Hei, kau.. jangan memancingku."


'Siapa yang memancingmu. Kau dimana? Kenapa saat tak bersamaku malah dandan seperti itu? Mau menggoda gadis-gadiskah?'


"Bicara apa kau, hah? Siapa yang dandan? Aku masih bersama Isac dan Axel. Tapi aku bosan makanya menghubungimu."


'Ooooh. Ya sudah, sana nikmati malammu.'


"Kau tidak mau menyusulku? Apa mau kujemput?"


'Hugo..'


"Iya, iya. Baiklaah, aku mengerti. See you tomorrow, baby."


Dia menyimpan ponsel setelah Richi menyudahi panggilan. Sejenak ia diam mengingat ucapan Richi barusan. Tampan, katanya? Hugo tersenyum cerah sambil berjalan kembali ke tempat semula.


Tapi, langkahnya terhenti saat melihat asap keluar dari salah satu ruang gedung itu.


Awalnya, Hugo mengira itu api yang bisa menyebabkan kebakaran. Tapi setelah dicek, ternyata dia melihat seorang perempuan berjongkok dengan bersandar di tembok, tentu saja sebatang rokok terapit diantara kedua jarinya.


"Ehm!"


Gadis itu terkesiap dan langsung memadamkan rokoknya.


"Hugo. Apa yang..." ucapannya menggantung. Dia tertegun melihat tampilan Hugo yang sangat tampan malam ini.


"What are you doing there, Erine?"


TBC

__ADS_1


__ADS_2