Sang Penakluk Yang Takluk

Sang Penakluk Yang Takluk
S2 - Salah Langkah (Lagi)


__ADS_3

**Gw upload krn lu pada protes nyangkut di tengah wkwkkw **


"Karena kau akan mati malam ini." Ucapnya dengan tawa jahat, sementara Richi hanya menghela napas karena nampaknya, lelaki itu belum juga mengampun.


Richi malah melangkah maju, matanya masih terfokus pada Virgo di belakang yang masih tertawa-tawa. Suara senjata dikokang pun terdengar dari kedua pistol yang mengarah padanya.


"Berhenti disitu, atau aku akan menembak kepalamu." Ancam salah satu lelaki itu.


Richi tersenyum miring. "Ternyata kau belum tahu siapa aku, ya, Virgo."


"Siapapun kau, tidak akan ada orang yang bisa menghadapi senjata api." Senyum miringnya berubah datar saat merasakan sesuatu di belakang kepalanya.


Dia perlahan memutar kepala dan mendapati seseorang berdiri dengan melengketkan mulut pistol di kepalanya.


"Jangan bergerak, atau kau akan pindah alam." Bisik Hugo padanya.


"K-kau.."


"Kau mengenalku?" Senyum Hugo mengembang.


"Tapi kali ini aku datang bukan sebagai model, melainkan kekasih Richi Wiley." Bisiknya lagi pada lelaki itu.


Mata Virgo membulat. Richi Wiley berpacaran dengannya? Virgo tiba-tiba teringat pada ucapan pacarnya bahwa kekasih Richi juga hebat. Apa artinya Hugo Erhard yang seorang model juga merupakan anggota Valiant?


Satu tembakan terdengar, membuat seseorang menjerit memegangi tangannya yang terkena senjata dari jauh. Lalu satu lagi juga mengalami nasib yang sama.


"Arrrkhhh tangankuu." Teriaknya, namun tak ada yang peduli.


Richi meraih kedua pistol yang terjatuh, sementara dua orang itu menjerit karena darah di tangannya yang tak berhenti mengalir.


"Bagaimana, Virgo. Apa kau masih mau main-main denganku?"


Virgo langsung berlutut. Dia memohon ampun sambil menangis sejadi-jadinya.


"Tolong jangan bunuh aku.. tolong.. ampunkan aku.. huhuuu."


Richi sampai memutar bola matanya karena kesal. Bisa-bisanya lelaki garang ini berubah letoy seketika.


"Astaga, apa aku perlu rekam ini untuk kusebar ke kampus?"


"Jangaann! Jangan, kumohoon jangan permalukan aku." Mendengar permohonan Virgo malah membuat Richi terkikik.


Clair, Bella, dan Olivia yang datang langsung mengangkat Virgo dan mendudukkannya di bangku tepi lapangan.


Keempat orang disekelilingnya memegang pistol yang diarahkan kepadanya.


Richi duduk disebelah lelaki itu sambil melipat kaki.


"Seru ya, Virgo. Kapan terakhir kali kau bermain tembak-tembakan?" Richi tersenyum manis, sementara Virgo sudah berkeringat dingin. Tubuhnya bergetar karena ketakutan dengan pistol yang ada di sekelilingnya.


"Kali ini, kita bermain tembakan asli." Richi mengangkat senjata di tangannya. "Kalau kau berbohong, ada lima peluru yang akan menancap di kepalamu."


Tubuh Virgo bergetar hebat. Beberapa kali juga terdengar dia menelan ludahnya sendiri.


"Sekarang, cepat ceritakan padaku soal Blackhole."

__ADS_1


"A-aku tidak tahu.. aku.."


Clair melengketkan senjata laras panjangnya ke tengkuk leher lelaki itu, yang semakin membuatnya ketakutan.


"Iya.. iya,, aku akan ceritakan.. ta-tapi.. ja-jauhkan itu da-dariku.." Ucapnya dengan gagap.


"Santai saja. Itu tidak akan melukaimu kalau kau berkata jujur." Richi merebahkan kedua tangannya di sandaran kursi. "Siapa ketua Blackhole?"


"A-aku."


"Kau lemah. Mana mungkin!"


Virgo menelan ludah. Ia tampak berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Richi.


"A-aku ketuanya. Ta-tapi.. ada satu orang.. yang mengawasi kami."


"Siapa? Benny Fernandez?"


Virgo langsung menoleh pada Richi dengan mata membulat.


"Aku benar? Jadi dekan kita adalah pengawas Blackhole?"


Virgo mengangguk cepat. Keringat bercucuran dari dahinya padahal cuaca malam sangat dingin.


"Lalu, hubungan dengan keluarga Wycliff?"


Lagi, Virgo menoleh kearahnya. Kini Richi bisa melihat leher lelaki itu naik turun.


"Ti-tidak ada-"


"Jangan berbohong. Aku sudah memperingatkanmu." Tukas Richi langsung.


"Aku.. aku akan mati jika memberitahumu soal ini.."


"Kau juga bisa mati disini kalau tidak memberitahu soal itu." Sahut Olivia yang juga merasa penasaran tentang keluarga Daren.


"Datanglah minggu depan. A-aku akan membawamu masuk sebagai pasukanku. Kau akan lihat, saat salah satu anggota keluarga kerajaan ada disana."


"Kalau kau berbong?"


"Tidak. Aku tidak akan menipumu. Aku akan membawamu masuk. Percayalah. Minggu depan semua akan terlihat jelas."


Richi berpikir sejenak. Dia sedikit ragu, sebenarnya. Tapi Richi memang harus tahu semuanya. Dia mengangguk pada teman-temannya yang langsung menurunkan senjata.


"Kalau minggu depan kau tidak menepati janjimu, ingatlah, aku akan menghabisimu dimana pun kau berada."


Virgo menunduk kemudian mengangguk-angguk.


"Sana pergi!"


Virgo langsung berlari kencang bersama dua orang yang tangannya terluka timah panas.


Richi dan yang lain menghela napas. Malam ini, mereka tidak menjalankan misi yang telah dibentuk untuk plan A dan malah plan C yang terjalani.


"Eh, masih jam segini. Kita jalan-jalan saja, bagaimana?" Tawar Bella sembari melirik jam di tangannya.

__ADS_1


"Iya. Katanya kota Ventown indah kalau malah." Seru Olivia.


Richi yang masih duduk menatap Hugo. Lelaki itu juga menatapnya.


"Pergilah. Pulang nanti bawa mobilku dan letakkan saja di depan kafe Clair."


"Yeaayyy." Serentak Bella dan Olivia senang. Lain hal dengan Clair yang berjalan mengikuti dua orang di depannya. Dia pasti kesal lantaran rencananya dengan Simon harus gagal karena misi. Tidak tahunya, misinya juga gagal.


Hugo duduk disebelah Richi saat teman-teman lain sudah pergi.


"Minggu depan itu.. acara teatermu, kan?" Tanya Richi pada Hugo disebelahnya.


"Iya. Aku sudah mengambil tiket duluan untukmu."


"Kenapa terlalu buru-buru?"


"Karena tiketnya sudah habis terjual."


"Masa?" Tanya Richi tak percaya.


"Kau tidak lihat, siapa yang main? Poster wajahku sudah terpampang dimana-mana." Jawabnya dengan sombong, Richi malah terkekeh.


"Terima kasih sudah membantuku malam ini, Hugo."


Lelaki itu menggenggam tangan Richi. "Aku yang berterima kasih, karena kau sudah mengajakku." Ucap lelaki itu kemudian meraih dagu Richi, mengecup bibirnya cukup lama.


"Besok, mau dinner bersamaku?"


Richi mengangguk cepat.


"Aku mauuu.."


"Kalau begitu, besok aku akan siapkan makan malam bersamamu di kota ini."


"Eh? Kenapa disini?"


"Karena disana sudah habis, semua tempat sudah pernah kita datangi."


Richi terkekeh. "Benar juga. Baiklah kalau begitu."


Hugo mendekatkan wajahnya ke telinga Richi. "Dandan yang seksi."


"Apaa!"


"Hahahah." Hugo tertawa lebar sambil menarik tubuh Richi ke dalam dekapannya.


...🍇...


Erine tengah menghapal dialognya di depan cermin. Beberapa kali ia tertawa senang dengan adegan lucu dan manis yang akan dia lakukan bersama Hugo.


Belakangan, Erine lebih sering menghabiskan waktu di kamar ketimbang luar rumah. Dia ingin fokus menghapal supaya lancar saat diatas panggung.


Dia kemudian duduk di tepi ranjang sembari memeluk naskah. Kata Eline, rencana kali ini akan berhasil. Dia mengenal karakter Richi, tentu hal seperti ini akan membuat gadis itu tersiksa batinnya. Dan Richi, sangat membenci sesuatu yang menyiksanya. Dengan begitu, lama kelamaan dia akan merasa Hugo terlalu sering menyakiti, dan dia pasti akan meninggalkan lelaki itu.


Suara bel rumah membuat khayalan Erine buyar. Dia membuka pintu kamar dan mendapati Eline berdiri membuka pintu. Disana, Virgo berdiri dengan lesu.

__ADS_1


"Eline, Erine.." dia jatuh berlutut. "Tolong aku.."


TBC


__ADS_2