
Richi masuk ke dalam mobil, dibantu Simon untuk menaruh barang-barang yang ia terima hari ini. Mobilnya penuh, walau Richi sendiri tidak begitu peduli dengan barang-barang itu, yang dia penasarankan adalah apa yang ada di punggungnya sejak tadi pagi.
"Simon, geser kaca depanmu". Titahnya pada Simon, lelaki itu langsung mengerti dan membalikkan kaca di depannya.
Mobil berjalan, Richi dengan cepat membuka kaosnya dan melihat apa yang ada di punggungnya, yang membuat orang tidak ada menempel stiker dibelakang tubuhnya.
Matanya terbelalak, "Hugo sialan!" Gumamnya lalu mencoba mencabut stiker itu, tetapi tidak bisa karena ternyata stikernya sudah menempel sempurna.
Stiker besar dengan berwarna merah mengkilap lalu dengan gambar kepala anjing dengan tulisan 'Jangan ada yang menempel disini🐶! *Hugo'
Lalu stiker kedua, membuat Richi menarik seutas senyum. Stiker itu berbentuk setengah hati, ada huruf R disana. "Apa maksudnya.."
Mobil berhenti tiba-tiba membuat tubuh Richi terdorong dan terbentur kursi di depannya.
"Aaaw! Simon, ada ap.."
Sebuah mobil hitam menghadang jalan mereka, beberapa laki-laki bersetelan jas hitam keluar dari mobil.
"Simon, siapa itu?"
"Nona jangan keluar, biar ini urusan saya".
Melihat orang-orang di depannya, Richi yakin dengan mudah Simon menghabisi mereka.
Simon keluar dengan santai, membenarkan posisi jasnya, dan menghadap mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, Richi tidak peduli.
Dia merogoh tas yang tadi sempat ia lihat isinya, sebuah kaos hitam oversize. Dia memakainya dan membuka ponsel.
Laman sekolah ramai hari ini, anak-anak memposting diri mereka, ada yang senang karena cintanya diterima adapula yang sedih karena ditolak. Lalu Hugo, lelaki itu menulis sesuatu di berandanya.
Hugo memotret gambar dari sisi dada kirinya, yang memfokuskan apa yang Richi gambar tadi.
'Yang membuat kaosku terlihat buruk'. Tulisnya disana. Richi terkikik, apalagi membaca komentar orang-orang yang mendewakan Hugo.
"Siapa yang menggambar hal tak senonoh itu pada Hugoku, jahat:("
"Apa itu? Dasar gila yang membuatnya haha"
"Hugo, apakah itu dari Hater?"
"Lucuuuuu"
"Kenapa Hugo tidak memberiku spidol khusus biru:("
BRUK!!
"Iyewhh" pekik Richi dengan jijik saat seorang laki-laki jatuh di kap depan dengan cipratan darah di kaca mobilnya.
Di depan, Simon tengah sibuk menghajar tujuh orang itu sendirian.
Setelah selesai, Simon menuju mobil.
__ADS_1
"Sepertinya kau senang karena sekian lama tidak menghabisi orang". Celoteh Richi yang melihat wajah puas Simon.
"Maaf Nona menunggu lama".
"Kau masih berurusan dengan mafia ya, Simon." Ucap Richi saat Simon menutup pintu mobil.
"Sepertinya seseorang menyewa mereka untuk mengerjai Nona". Ucap Simon dengan santai menyalakan wiper dan air membersihkan kaca dari darah yang menempel.
"Siapa?"
"Mereka tidak mau bicara, saya akan menyelidikinya nanti".
"Tidak perlu, aku tahu siapa." Ucapnya berbohong karena takut jika itu dari Stripe, bisa bahaya apalagi kalau Ricky tahu.
"Masalah ini, jangan sampai tahu siapapun termasuk Ricky. Mengertikan, Sim?"
"Baik, Nona." Turutnya.
Sampai di rumah, Richi langsung turun dari mobil. Sementara Simon memerintah penjaga untuk menyelidiki dulu semua barang bawaan Richi.
"Nona, baju yang anda pakai, sebaiknya kami periksa dulu". Kata Simon saat melihat Richi akan melangkah menuju pintu.
"Simon, apakah masuk akal di benang pada baju ini ada cctv atau perekam suara?"
"Masuk akal, Nona".
Richi membuang napas dengan kasar, dia membuka kaos itu di depan para penjaga.
"Hei, tundukkan kepalamu!" Titah Simon saat melihat pengawal mulai menaikkan wajah saat Richi belum memasuki rumahnya.
...🦇...
Emerald menjemput Richi ke rumahnya. Karena berulang kali lelaki itu mengatakan bahwa acara malam nanti bukan pesta dansa atau seperti tahun-tahun yang lalu, maka Richi pun keluar tidak dengan baju pesta, namun celana jeans dan jeket kulit dengan inner putih, dipadukan dengan ketsnya.
Berbeda dari Richi, Emerald tampil dengan setelan jas dan dasi.
Richi masuk ke dalam mobil Emerald yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Kau terlihat tidak bersemangat". Kata Emerald saat melihat Richi sedikit muram.
"Tidak, aku semangat kok" Ucapnya dengan tersenyum.
"Eh?" Richi terheran saat tersadar Emerald tampil sangat rapi dan tampan dengan pakaiannya.
"Kenapa?"
"Bukannya kakak bilang malam ini nonformal?"
"Benar".
"Tapi kok..," Richi menunjuk pakaian yang menempel di tubuh Emerald.
__ADS_1
"Aku akan tampil untuk kata sambutan, jadi harus rapi. Juga, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Katakan saja sekarang". Ucapnya menunggu.
Emerald tertawa, "tidak bisa, harus malam nanti." Ucapnya lalu menjalankan mobil keluar menuju Oberon.
Setelah sampai, Richi takjub melihat Oberon yang penuh lampu dan dekorasi yang indah.
"Wah, tidak sangka sekolah kita bisa indah juga kalau malam".
Emerald tersenyum, "Siapa dulu Osisnya". Sahutnya dari belakang Richi dan disambut tawa oleh gadis itu.
Oberon sudah ramai, acara tahunan yang selalu ditunggu kebanyakan anak-anak Oberon tidak mungkin dilewatkan begitu saja.
"Chi, aku ada urusan sebentar, setelah itu aku akan bersamamu sampai acara selesai". Ucapnya pamit lalu pergi menuju ruang Osis.
Richi melihat orang-orang datang dengan pasangannya, terlihat bahagia.
Dia memilih duduk di tepi taman yang kini dihiasi lampu-lampu yang terlihat hangat.
Richi merentangkan tangannya di sandaran bangku, melipat kaki dan menatap ke deretan lampu-lampu itu.
"Konser Avril pasti sudah dimulai, kan.." gumamnya dengan sedih. Padahal itu acara yang hanya bisa dimasuki dua ratus orang saja, bukan konser lapangan besar yang membuat tubuh bisa saja terpijak-pijak di lapangan itu.
Richi menghembuskan napas, jika dia pergi ke konser, kemungkinan besar dia bisa melihat Avril dari jarak dekat. "Sayang sekali, Avrilku.." lirihnya.
'Tes. Teman-teman, acara akan dimulai, mari berkumpul di lapangan Oberon.'
Mendengar itu, anak-anak segera menuju lapangan besar Oberon.
"Chi, kenapa bengong? Ayo, kesana". Ajak Emerald, dia menarik tangan Richi lalu menggandengnya menuju lapangan.
Sementara di sudut lain, Hugo bersandar pada tiang penyangga, memperhatikan dua orang yang tengah bergandengan tangan.
"Kau itu sebenarnya sedang sedih atau senang, ha?" Matanya menatap Richi yang tadi ia lihat bersedih, lalu tersenyum cerah saat Emerald datang dan menggandeng tangannya.
Semua orang bertepuk tangan saat Emerald naik dan menghantarkan pidatonya. Dia terlihat tampan apalagi kharismatik membuat banyak perempuan menyukainya.
Semua lampu dengan tiba-tiba padam, membuat beberapa siswi menjerit karena gelap gulita.
Sedangkan Richi yang berada di belakang hanya berdiam, menunggu lampu itu nyala kembali.
Namun seseorang mendekap mulutnya, membuatnya terkejut.
"Sst, ini aku". Bisik Hugo saat Richi mulai memberontak.
"Ikut aku sebentar". Hugo menarik Richi, keluar dari gerbang sekolah.
"Ada apa?" Tanya Richi dengan panik saat Hugo baru melepas dekapan tangannya dari mulut Richi.
Hugo menunjukkan tiket di tangannya, "Mau nonton konser?" Tanyanya dengan senyum lebar.
__ADS_1
TBC