
Hugo menuju pintu besar rumah itu. Pintu terbuka padahal dia belum mengetuknya.
"Silakan, Tuan". Seorang pelayan perempuan dengan seragam hitam putih berdiri menyambutnya.
Hugo hanya berdiri.
Seorang wanita cantik dan anggun menemuinya. Wanita sedikit mirip Richi dibagian mata dan rambutnya yang di gulung ke atas.
"Silakan masuk. Jangan sungkan" Katanya sambil tersenyum.
Hugo yang canggung pun hanya mengikuti wanita itu.
Dia pun duduk.
"Teman Richi?" Tanyanya ramah.
"Iya, Ibu." Wajah Hugo sedikit bingung sebab Richi tadi menyebutnya Ibu, kan? Mungkin maksud Richi adalah wanita ini, dia mengikut saja. Takut lancang. Dia kan, teman Richi disini.
Mendengar jawaban lelaki itu, Mary sedikit bingung, lalu terseyum. 'Dia lucu sekali, mengikuti Richi memanggil ibu' batin Mary.
Tak lama, Richi keluar dengan gaya yang sama dengan Hugo. Dia tidak berdandan seperti apa yang Hugo minta.
"Ayo, cepat. Aku masih banyak urusan". Ajaknya langsung tanpa duduk.
"Aduh. Kau ini, tamunya belum dikasih minum. Tunggulah dulu. Kan, ibu belum berkenalan". Ucap Mary seyum-seyum melihat anaknya yang belakangan ini ditemui dua lelaki tampan sekaligus.
"Biarkan ibu bekenalan dulu. Siapa namamu?" Tanya Mary dengan tersenyum cerah.
"Hugo, Ibu".
Jeng! Richi langsung menoleh melihat Hugo dengan kerutan di dahinya. Matanya membulat heran.
'Dia panggil ibuku apa? Ibu? Ibu katanya?'.
"Wah, namamu bagus sekali. Gagah seperti orangnya." Mary mulai Terkesan. Anaknya bisa berkenalan dengan lelaki tampan dan mempesona seperti ini, bukankah hal yang bagus?
"Terima kasih, Ibu". Jawabnya dengan penuh kesopanan. Dia khawatir kalau tidak begitu, Richi bisa di pecat. Pikirnya.
Richi menggeleng kepala. "Sudahlah. Ayo cepat." Katanya sambil berlalu menuju pintu.
"Baiklah, Ibu. Saya permisi dulu". Hugo berdiri, sedikit menunduk lalu dia pergi mengikuti Richi.
Mary menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat anaknya sudah berani membawa dua laki-laki ke rumahnya. Apalagi yang satu ini. Mary membuatnya gemas.
Di depan mobilnya, Hugo berdiri melihat Richi.
"Kau mau berpakaian begitu?" Tanyanya melihat dari atas sampai bawah. Richi memakai celana jeans yang ada goretan sobek di bagian pahanya. Kemejanya oversize berawarna putih. Kancing kemeja sengaja dilepas pada bagian atas hingga memperlihatkan tank topnya berwarna hitam. Ber-kets, dan topi yang biasa ia pakai. Rambutnya yang panjang dia biarkan saja sebab masih sedikit basah.
"Kenapa? Bukannya kau juga sama?" Tanyanya sambil berkacak pinggang. Memperhatikan gaya Hugo yang juga memakai jeans biru dengan sedikit sobek di bagian lutut kiri kanan. Kemeja biru kasela yang dibuka seluruh kancingnya sampai memperlihatkan kaos putih di dalamnya.
__ADS_1
Hugo mendesah kasar. Dia membuka pintu mobilnya. Richi pun masuk disebelahnya.
Richi langsung menyetel suhu di mobil Hugo. Tangannya mengibas-ngibas karena panas.
Melihat itu, Hugo mengerutkan alis. Dia melihat Richi seperti biasa dengan mobil mewah seperti miliknya. 'Pasti tuan rumah sangat baik padanya' begitu batinnya.
Melihat Ibu tadi sangat ramah dan baik, pasti juga Richi bebas memakai apapun di rumah itu. Pikirnya lagi.
Hugo memasang seatbelt-nya. Lalu melajukan mobil keluar dari pekarangan rumah besar itu.
Supaya tidak terasa canggung, Hugo menyetel lagu di mobilnya. Terputar lagu Avril Lavigne - My Happy Ending.
Samar-samar Hugo mendengar Richi ikut mengalunkan lagu itu sambil jari di atas pahanya memukul-mukul pelan.
"Mau kemana?" Tanya Richi yang memandang keluar sambil manggut-manggut mendengarkan musik.
"Aku juga tidak tahu. Kau ada rencana? Karena aku harus mengirimkan foto sebagai bukti". Ucap Hugo tanpa menoleh. Dia fokus menyetir dengan kecepatan sedang.
"Aku ingin sekali ke suatu tempat. Tapi aku tak yakin kau suka". Ucapnya kemudian. Dia mengingat satu tempat yang sering ia kunjungi dulu.
"Kesitu saja. Kasih tahu alamatnya". Katanya karena malas berpikir. Dibalas manggut-manggut saja oleh Richi.
"Kau kenapa manggil ibu tadi?" Tanya Richi lagi. Yang dekat seperti Emerald saja tidak memanggil ibunya dengan seperti itu.
"Bukannya kau yang bilang tadi? Aku hanya mengikutimu." Ujarnya sambil menatap ke jalan.
"Pecat?"
"Bukannya tadi itu majikanmu? Kau tadi belanja untuk keperluan dapur majikanmu, kan". Wajah Hugo serius dengan prasangka yang bukan main itu.
'Dia menganggapku pembantu rupanya' Richi manggut-manggut lagi. Kalau orang lain, mungkin akan di smackdown-nya. Tapi karena ini Hugo, dia membiarkan saja dirinya dengan prasangkanya.
Richi mulai menggulung rambutnya. Dia mengambil penjepit rambut yang sejak tadi ia jepitkan di ujung baju.
"Aih" Penjepit itu terjatuh ke bawa kolong kursi saat dia mau menjepitnya di rambutnya.
Richi melepas seatbelt. Menunduk-nunduk sambil mencari benda kecil itu.
"Kau sedang apa?" Hugo melihat gerak-geriknya dari ekor matanya.
"jepit rambutku. Jatuh tapi entah dimana". Ucapnya sambil terus mencari.
Hugo hanya diam membiarkan gadis itu rusuh sendiri.
Setelah dirasa tidak ketemu juga, dia duduk lagi. Menggulung asal rambutnya yang dirasanya menganggu.
Musik di mobil masih memainkan lagu Avril Lavigne dengan judul Complicated. Richi tampak menyanyikan lagu itu dengan suara pelan sambil menatap jalan.
Hugo yang melihat hanya geleng-geleng saja. Dia menyukai penyanyi yang karakternya sama dengan dirinya. Batin Hugo.
__ADS_1
Sesampainya di tempat, Hugo sedikit ragu melihat kedai kopi kecil di sudut bangunan besar. Seperti kuno tapi terlihat bergaya.
Meong!
Kucing berekor panjang menghampiri Richi. Kucing itu menggesekkan tubuhnya di kaki Richi.
"Uwaa.. lucunya" Richi menggendong kucing berbulu putih itu. "Kau semakin gendut ya, Mouza". Katanya sambil mengelus lembut bulu kucing dan masuk ke dalam kafe itu.
Kring.
Suara lonceng di pintu berbunyi.
"Hai, Rel! Lama tak jumpa". Suara seseorang membuat Richi menoleh ke bagian bartender.
"Oh, halo, Clair" Sapa Richi balik.
"Kau bersama siapa kemari? Tumben sekali membawa orang lain. Apa dia pacarmu?". Tanyanya mendekat lalu melihat Hugo dari ujung kaki sampai kepala.
"Dia bukan pacarku." Richi meletakkan Mouza di lantai.
"Benarkah? Aku tidak percaya". Kata Clair yang pandangannya tak lepas dari Hugo.
"Duduklah. Aku akan buatkan seperti biasa. Kalau kau, mau pesan apa tuan...."
"Hugo". Sambungnya pada Clair lalu duduk.
"Aku akan memesan nanti" Ucapnya lagi.
"Baiklah" Clair meninggalkan tempat itu tak lupa mengedipkan mata pada Hugo.
Hugo memandang sekitar tempat itu. Kedai kopi dengan perpustakaan mini. Banyak buku-buku disana.
"Kita tidak bisa lama-lama disini. Aku akan memotretmu." Hugo mengeluarkan ponselnya.
"Aku tidak suka difoto. Kau foto saja tempat ini." Ucapnya sambil menuju rak buku bagian novel. Mengambil satu. Lalu membalik lembar demi lembar.
Clair datang membawa nampan berisi makanan. Dia melirik Richi yang sibuk membaca disana. Lalu ia duduk di depan Hugo. Mendongakkan dada dia atas meja supaya wajahnya bisa lebih dekat dengan Hugo.
"Tuan, apa anda kekasih Darrel?" Tanyanya pada Hugo.
"Siapa Darrel?" Hugo malah bertanya balik.
"Astaga. Dia yang datang bersamamu!" Ucapnya sambil menepuk pelan jidatnya. "Katakanlah. Kalian pasti berpacaran, kan?"
Hugo diam sejenak. 'Ah. Richi Darrel. Camilla pernah menyebutnya'. Batinnya. Dia menyandarkan punggung ke kursi dan melihat Richi yang masih asyik ditempatnya.
"Benar". Jawabnya singkat.
To Be Continued....
__ADS_1